RINGKASAN:
Banjir di Pasar Kordon berkaitan dengan pengelolaan sampah yang belum optimal; sosialisasi 3R berbasis gotong royong di wilayah hulu diperlukan untuk mendukung pencapaian SDGs
1. LATAR BELAKANG MASALAH
Banjir masih menjadi persoalan yang berulang di Kota Bandung. Selain dipengaruhi oleh curah hujan, kondisi ini juga tidak bisa dilepaskan dari aktivitas manusia, terutama dalam pengelolaan lingkungan yang belum berjalan optimal. Salah satu yang paling terlihat adalah penumpukan sampah yang menyumbat saluran air, sehingga memperbesar potensi genangan hingga banjir. Penelitian ini secara khusus mengambil kawasan Pasar Kordon, Kecamatan Buah Batu, Kota Bandung, sebagai lokasi kajian untuk melihat kondisi tersebut secara langsung di lapangan.
Data menunjukkan bahwa persoalan banjir di Kota Bandung bukanlah kejadian yang bersifat insidental. Pada tahun 2021, sekitar 30 kelurahan tercatat terdampak banjir, dan pada tahun 2024 meningkat menjadi sekitar 33 kelurahan (BPS Kota Bandung, 2021; 2024). Angka ini menunjukkan bahwa banjir tidak hanya berulang, tetapi juga mulai meluas. Hal ini diperkuat oleh kajian risiko bencana yang menyebutkan bahwa sekitar 23 kecamatan di Kota Bandung berada dalam kategori kerentanan banjir tinggi (FITB–PPMB ITB, 2021).
Di sisi lain, persoalan sampah sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan banjir juga menunjukkan tren yang meningkat. Data Open Data Kota Bandung mencatat bahwa produksi sampah naik dari sekitar 28.695 ton pada tahun 2017 menjadi 37.701 ton pada tahun 2022 (Open Data Kota Bandung, 2022). Jika dilihat dari jenisnya, sebagian besar sampah sebenarnya masih memungkinkan untuk dikelola sejak dari sumber. Sampah organik seperti sisa makanan dan daun mencapai sekitar 716 ton per hari, diikuti plastik sekitar 268 ton per hari, serta kertas sekitar 211 ton per hari (Open Data Kota Bandung, 2023). Artinya, potensi pengelolaan sampah dari hulu sebenarnya cukup besar, meskipun belum dimanfaatkan secara optimal.
Gambaran tersebut juga terlihat di tingkat lapangan. Berdasarkan hasil wawancara di kawasan Pasar Kordon, pengelolaan sampah masih didominasi pola pengumpulan dan pengangkutan ke TPS dan TPA tanpa pemilahan yang konsisten. Dalam kondisi tertentu, masih ditemukan pembuangan sampah sembarangan, terutama ketika pengawasan terbatas. Di sisi lain, petugas seringkali harus membersihkan sampah yang menumpuk, termasuk di saluran air. Warga juga mengungkapkan bahwa banjir tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi di sekitar pasar, tetapi juga oleh pendangkalan sungai serta sampah kiriman dari wilayah lain. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan yang terjadi tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan dan bersifat lebih luas.
Selama ini, pengelolaan sampah masih banyak bertumpu pada pendekatan hilir, yaitu menangani sampah setelah dihasilkan. Pendekatan ini memang membantu dalam jangka pendek, tetapi belum menyentuh sumber persoalan. Pemerintah sendiri telah menekankan pentingnya perubahan arah kebijakan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan bahwa pengelolaan sampah perlu dimulai dari sumbernya, bukan semata-mata bergantung pada TPA (KLHK, 2024). Di tingkat daerah, keterbatasan kapasitas juga terlihat dari pembatasan kuota pembuangan sampah ke TPA Sarimukti yang berada di kisaran sekitar 981 ton per hari (Pemerintah Provinsi Jawa Barat, 2024).
Dalam konteks ini, nilai-nilai Pancasila menjadi relevan sebagai landasan dalam melihat persoalan lingkungan. Gagasan gotong royong sebagai inti dari Pancasila—yang dalam berbagai kajian bahkan disederhanakan sebagai Ekasila—menekankan pentingnya keterlibatan bersama dalam menyelesaikan persoalan publik (Riyadh, 2020). Pendekatan ini menjadi penting, terutama ketika pengelolaan sampah tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah, tetapi membutuhkan partisipasi aktif masyarakat.
Sejalan dengan itu, pengelolaan sampah dari hulu juga memiliki keterkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya pada aspek inovasi dan infrastruktur (SDGs 9), penanganan perubahan lingkungan (SDGs 13), serta penguatan kemitraan (SDGs 17) (Buletin Universitas Indonesia, 2023). Dengan demikian, upaya yang dilakukan di tingkat lokal tidak hanya berdampak pada lingkungan sekitar, tetapi juga menjadi bagian dari agenda pembangunan yang lebih luas.
Berdasarkan uraian tersebut, permasalahan ini perlu dikaji lebih lanjut untuk memahami pengelolaan sampah sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan banjir di kawasan Pasar Kordon. Selain itu, diperlukan perumusan solusi yang tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga dapat dilakukan secara nyata, salah satunya melalui penguatan sosialisasi prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) berbasis partisipasi masyarakat dalam kerangka nilai Pancasila dan perspektif SDGs.
2. CARA PENGAMBILAN DATA
Data dalam penelitian ini diperoleh melalui dua pendekatan, yaitu studi literatur dan wawancara langsung. Studi literatur dilakukan dengan menelusuri serta mengolah data dari berbagai sumber resmi, seperti Open Data Kota Bandung, BPS Kota Bandung, dan laporan kajian risiko bencana dari institusi terkait.
Selain itu, wawancara dilakukan dengan warga dan pengelola di kawasan Pasar Kordon untuk memperoleh gambaran kondisi nyata di lapangan, khususnya terkait pengelolaan sampah dan kejadian banjir. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif dengan mengaitkan temuan lapangan, kebijakan yang ada, serta nilai-nilai Pancasila dan kerangka SDGs.
3. ANALISA
3.1 Penjelasan Masalah
Permasalahan banjir di Kota Bandung tidak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan, terutama pengelolaan sampah yang belum berjalan optimal. Di kawasan Pasar Kordon, Kecamatan Buah Batu, kondisi ini terlihat cukup jelas. Banjir tidak lagi sekadar kejadian sesaat, tetapi cenderung berulang dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan.
Secara data, tren tersebut memang terlihat. Pada tahun 2021, sekitar 30 kelurahan di Kota Bandung terdampak banjir, dan pada tahun 2024 meningkat menjadi sekitar 33 kelurahan (BPS Kota Bandung, 2021; 2024). Kondisi ini juga didukung oleh tingkat kerentanan wilayah, di mana sekitar 23 kecamatan masuk dalam kategori kerentanan banjir tinggi (FITB–PPMB ITB, 2021). Di sisi lain, volume sampah terus meningkat, dari sekitar 28.695 ton pada tahun 2017 menjadi 37.701 ton pada tahun 2022 (Open Data Kota Bandung, 2022). Padahal, sebagian besar sampah tersebut sebenarnya masih bisa dikelola sejak dari sumbernya, seperti sampah organik sekitar 716 ton per hari, plastik 268 ton per hari, dan kertas 211 ton per hari (Open Data Kota Bandung, 2023).
Gambaran di lapangan menunjukkan kondisi yang tidak jauh berbeda. Dari hasil wawancara di kawasan Pasar Kordon, pengelolaan sampah masih didominasi pola pengumpulan dan pengangkutan tanpa pemilahan yang konsisten. Sampah dari aktivitas pasar umumnya langsung dikumpulkan, sementara pada waktu tertentu masih ditemukan pembuangan sampah sembarangan, terutama ketika pengawasan tidak optimal. Petugas di lapangan juga kerap harus membersihkan sampah yang menumpuk, termasuk di saluran air. Di sisi lain, warga menyebutkan bahwa banjir tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi di sekitar pasar, tetapi juga oleh pendangkalan sungai serta sampah kiriman dari wilayah lain. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan yang terjadi tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan.
Dalam praktiknya, persoalan ini tidak hanya soal teknis, tetapi juga berkaitan dengan perilaku dan kebiasaan masyarakat. Pengelolaan sampah masih sering dianggap sebagai urusan pihak tertentu, bukan tanggung jawab bersama. Jika dikaitkan dengan nilai Pancasila, kondisi ini menunjukkan bahwa semangat gotong royong belum sepenuhnya berjalan. Padahal, dalam berbagai kajian, Pancasila bahkan disederhanakan menjadi Ekasila yang menempatkan gotong royong sebagai inti nilai (Riyadh, 2020).
Jika dilihat dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, kondisi ini juga menunjukkan adanya jarak antara kondisi yang ada dengan tujuan yang ingin dicapai, terutama dalam aspek mitigasi lingkungan (SDGs 13), inovasi dan infrastruktur (SDGs 9), serta kolaborasi (SDGs 17) (Buletin Universitas Indonesia, 2023). Dengan demikian, permasalahan banjir yang berkaitan dengan pengelolaan sampah tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyangkut aspek yang lebih luas, sehingga pendekatan yang ada saat ini belum sepenuhnya mampu menjawab akar persoalan.
3.2 Kajian Kebijakan Alternatif
Upaya penanganan sampah di Kota Bandung sebenarnya sudah dilakukan melalui berbagai kebijakan dan program. Namun, jika dilihat lebih dekat, pendekatan yang digunakan masih cenderung berfokus pada hilir, yaitu mengelola sampah setelah dihasilkan melalui pengangkutan dan pembuangan ke TPA. Pendekatan ini memang cukup membantu dalam jangka pendek, tetapi belum menyentuh persoalan yang ada di sumbernya.
Ketergantungan pada TPA menjadi salah satu titik lemah yang cukup terlihat. Kapasitas yang tersedia tidak lagi sebanding dengan volume sampah yang terus meningkat. Pemerintah sendiri telah menegaskan perlunya perubahan arah. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan bahwa pengelolaan sampah seharusnya dimulai dari sumber, bukan terus bergantung pada TPA (KLHK, 2024). Di tingkat daerah, keterbatasan ini juga terasa, salah satunya melalui pembatasan kuota pembuangan ke TPA Sarimukti yang berada di kisaran sekitar 981 ton per hari (Pemerintah Provinsi Jawa Barat, 2024).
Jika dikaitkan dengan kondisi di lapangan, situasi ini semakin terlihat jelas. Pengelolaan sampah masih berjalan dengan pola kumpul–angkut–buang, sementara upaya pengurangan dari sumber belum berjalan konsisten. Akibatnya, kebijakan yang ada cenderung bersifat reaktif, lebih banyak menangani dampak yang sudah terjadi daripada mencegah sejak awal. Kondisi ini membuat persoalan sampah terus berulang dan pada akhirnya ikut berkontribusi terhadap risiko banjir.
Upaya untuk mendorong pengelolaan dari hulu sebenarnya sudah mulai diperkenalkan, seperti pemilahan sampah, bank sampah, dan pengurangan penggunaan plastik. Namun dalam praktiknya, pelaksanaan di lapangan masih belum merata. Di beberapa tempat berjalan cukup baik, tetapi di banyak wilayah lainnya masih terkendala oleh keterbatasan fasilitas, rendahnya partisipasi, serta belum konsistennya penerapan aturan.
Di sisi lain, pengelolaan sampah juga belum sepenuhnya terhubung dengan upaya mitigasi bencana, meskipun keterkaitannya dengan banjir cukup jelas. Jika dilihat dari nilai Pancasila, kondisi ini menunjukkan bahwa semangat gotong royong belum sepenuhnya menjadi dasar dalam pelaksanaan kebijakan. Partisipasi masyarakat masih terbatas, sementara pengelolaan sampah seringkali dianggap sebagai tanggung jawab pemerintah semata.
Dengan demikian, kebijakan yang ada saat ini masih menghadapi berbagai keterbatasan, baik dari sisi pendekatan, kapasitas, maupun implementasi. Hal ini menunjukkan perlunya alternatif kebijakan yang tidak hanya berfokus pada penanganan di hilir, tetapi juga memperkuat pengelolaan dari hulu secara lebih menyeluruh.
3.3 Usulan Kebijakan Alternatif
Melihat keterbatasan pendekatan yang masih bertumpu pada hilir, diperlukan upaya yang lebih menekankan pengelolaan sampah dari hulu. Namun, pendekatan ini tidak cukup hanya melalui sosialisasi yang bersifat informatif. Dibutuhkan model sosialisasi yang lebih komprehensif, yang tidak hanya meningkatkan kesadaran, tetapi juga mendorong perubahan perilaku sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Dalam konteks ini, tim penyusun sebagai mahasiswa dapat berperan sebagai relawan dalam menginisiasi sosialisasi 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di kawasan Pasar Kordon. Sosialisasi yang dilakukan tidak berhenti pada pemahaman teknis, tetapi dikembangkan menjadi edukasi yang lebih aplikatif dan berkelanjutan. Materi yang disampaikan mencakup pemilahan sampah, pengolahan sederhana, hingga pemanfaatan sampah sebagai produk bernilai ekonomi.
Lebih jauh, pendekatan ini dapat diperkuat dengan menghadirkan praktik nyata, seperti menghadirkan pelaku usaha berbasis pengelolaan sampah sebagai narasumber, membuka akses informasi terkait permodalan, serta memperkenalkan peluang pemasaran, termasuk melalui pemanfaatan platform digital. Dengan cara ini, masyarakat tidak hanya memahami pentingnya pengelolaan sampah, tetapi juga melihat secara langsung manfaat yang dapat diperoleh.
Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama, sementara relawan berperan sebagai penggerak dan penghubung berbagai sumber daya yang ada. Hal ini sejalan dengan nilai Pancasila, khususnya gotong royong, yang menekankan kerja sama dalam menyelesaikan persoalan bersama. Selain itu, pendekatan ini juga mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan, terutama dalam aspek inovasi berbasis masyarakat (SDGs 9), mitigasi lingkungan (SDGs 13), serta penguatan kemitraan (SDGs 17) (Buletin Universitas Indonesia, 2023).
Dengan demikian, alternatif kebijakan yang diusulkan tidak hanya berfokus pada perubahan teknis dalam pengelolaan sampah, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat melalui pendekatan yang lebih menyeluruh. Sosialisasi 3R yang dikembangkan secara lebih aplikatif dan terintegrasi diharapkan mampu menjadi langkah awal yang realistis dalam mengurangi permasalahan sampah sekaligus menekan risiko banjir..
3.4 Rencana Kerja
Agar sosialisasi 3R tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, pelaksanaannya diarahkan pada langkah-langkah yang bisa benar-benar dijalankan di lapangan, khususnya di kawasan Pasar Kordon:
- Memahami kondisi lapangan lebih dulu
Kegiatan diawali dengan melihat langsung bagaimana sampah dikelola, di mana titik penumpukan terjadi, dan siapa saja yang terlibat, sekaligus membangun komunikasi dengan pengelola pasar dan warga.
- Sosialisasi yang langsung praktik, bukan sekadar penjelasan
Relawan tidak hanya menyampaikan materi 3R, tetapi mengajak pedagang dan warga untuk langsung mencoba memilah dan mengelola sampah dengan cara yang sederhana.
- Menghadirkan contoh nyata yang bisa ditiru
Kegiatan diperkuat dengan menghadirkan pelaku usaha berbasis pengelolaan sampah, agar masyarakat bisa melihat langsung bahwa sampah juga bisa memberi nilai tambah.
- Pendampingan pengolahan dan pemanfaatan sampah
Relawan ikut mendampingi proses sederhana, mulai dari pengolahan sampah organik hingga pemanfaatan sampah anorganik yang masih bisa digunakan atau dijual.
- Membuka akses informasi yang sebelumnya terbatas
Informasi tentang peluang permodalan, jejaring usaha, hingga cara memasarkan produk dikenalkan secara bertahap agar masyarakat punya gambaran yang lebih luas.
- Pemanfaatan media digital secara sederhana
Relawan membantu mengenalkan cara promosi dan pemasaran melalui platform digital yang mudah diakses, sehingga hasil olahan sampah bisa memiliki nilai ekonomi.
- Pendampingan berkelanjutan, bukan sekali datang lalu selesai
Kegiatan tidak berhenti pada satu waktu, tetapi dilanjutkan dengan kunjungan berkala untuk melihat perkembangan dan menyesuaikan langkah di lapangan.
- Mendorong keterlibatan bersama sebagai kunci utama
Seluruh proses dilakukan dengan melibatkan masyarakat secara aktif, sehingga semangat gotong royong tidak hanya menjadi konsep, tetapi benar-benar terlihat dalam praktik.
4. KESIMPULAN
Permasalahan banjir di Kota Bandung, khususnya di kawasan Pasar Kordon, tidak bisa dilepaskan dari cara kita mengelola sampah yang masih belum berjalan optimal. Selama ini, penanganan lebih banyak dilakukan di hilir, sementara volume sampah terus meningkat dan kapasitas pengelolaan terbatas. Di lapangan, kondisi ini terlihat cukup nyata—sampah masih mudah menumpuk dan pada akhirnya ikut memperbesar risiko banjir. Padahal, sebagian besar jenis sampah sebenarnya masih bisa ditangani sejak dari sumbernya.
Karena itu, pendekatan dari hulu menjadi penting, terutama jika melibatkan masyarakat secara langsung. Semangat gotong royong yang menjadi bagian dari nilai Pancasila bisa menjadi kekuatan utama di sini. Melalui sosialisasi 3R yang dilakukan secara lebih aplikatif dan didukung peran relawan, upaya pengelolaan sampah tidak hanya berhenti pada kesadaran, tetapi bisa berkembang menjadi kebiasaan bahkan peluang ekonomi. Pendekatan seperti ini juga sejalan dengan arah pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam menjaga lingkungan, mendorong inovasi, dan memperkuat kerja sama (SDGs 9, 13, dan 17), sehingga diharapkan mampu memberi dampak yang lebih nyata dalam mengurangi risiko banjir..
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik Kota Bandung. (2021). Kota Bandung dalam angka / data kejadian banjir Kota Bandung 2021. Bandung: BPS Kota Bandung.
Badan Pusat Statistik Kota Bandung. (2024). Kota Bandung dalam angka / data kejadian banjir Kota Bandung 2024. Bandung: BPS Kota Bandung.
Buletin Universitas Indonesia. (2023). Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Depok: Universitas Indonesia.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2024). Pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya. Jakarta: KLHK. Diakses dari: https://kemenlh.go.id
Open Data Kota Bandung. (2022). Data produksi sampah Kota Bandung tahun 2017–2022. Bandung: Pemerintah Kota Bandung. Diakses dari: https://data.bandung.go.id
Open Data Kota Bandung. (2023). Data komposisi jenis sampah Kota Bandung. Bandung: Pemerintah Kota Bandung. Diakses dari: https://data.bandung.go.id
Pemerintah Provinsi Jawa Barat. (2024). Kuota pembuangan sampah ke TPA Sarimukti dibatasi. Bandung: Pemprov Jawa Barat. Diakses dari: https://jabarprov.go.id
Riyadh, M. (2020). Pancasila, Trisila, dan Ekasila dalam pemikiran Soekarno. (Tulisan/kajian ilmiah).
Tim Riset Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) – Pusat Penelitian Mitigasi Bencana (PPMB), Institut Teknologi Bandung. (2021). Laporan kajian risiko bencana gempa bumi dan banjir Kota Bandung. Bandung: ITB.
Wawancara dengan Pak Sahra, pengelola sampah Pasar Kordon, Kecamatan Buah Batu, Kota Bandung, 2026.
Wawancara dengan Pak Asep, warga/aktivis lingkungan Pasar Kordon, Kecamatan Buah Batu, Kota Bandung, 2026.
Tim Penyusun:
- Mohamad Zagar Satrio Yudhanto / 104012500230
- Muhammad Reihan Arsya Dhinanta / 104012500464
- Shofiq Ahmad Firdaus / 104012500017
- Zaskia Oktavia Ramadhanty / 104012530028
- Jasmin Putri Nugrahani / 104012500109
- Radisya Imana Mayra / 104012500047
- Indah Rosnauli Hasibuan / 104012500494
- Muhammad Nawfal / 104012500331
- M. Ramzy Maulana / 104012530011
- Aditya Narendra Bima / 104012500050
- Zaskia Septi Anjani / 104012500342
- Dhafin Chandra Kirana / 10402500061
- Avisa Fayola Setiawan / 104012500417
- Trilia Adriana / 104012500294
- Maike Tegar Pola Anggara / 104023500151
- Alya Rahmah Wijaya / 104012500425
- Saira Rizkya Salman / 104012500485
- Nafidz Alfarisi / 104012500181
- Dara Mushoppa Lailata Sari / 104012500030
- Ahmad Faiz Alwan / 104012530051

