lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Hujan deras yang mengguyur Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, tak menyurutkan antusiasme masyarakat untuk menyaksikan Kirab Budaya Mahkota Binokasih dalam rangkaian Milangkala Tatar Sunda 2026, Minggu (3/5/2026) malam.
Sejak sore hingga malam hari, ribuan warga telah memadati sepanjang jalur kirab. Meski hujan turun cukup lebat, mereka tetap bertahan di lokasi.
Sebagian memilih berteduh di emperan toko, balai warga, hingga pinggir jalan, sambil menunggu iring-iringan kirab melintas.
Keramaian terpantau di sepanjang Jalan Veteran hingga kawasan Situs Astana Gede Kawali. Suasana berlangsung semarak namun tetap tertib dan khidmat.
Warga tampak antusias, sesekali mengabadikan momen saat rombongan kirab melintas di hadapan mereka.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memimpin langsung prosesi kirab dengan menunggangi kuda putih di barisan terdepan.
Di belakang, Kereta Kencana yang membawa Mahkota Binokasih artefak sakral peninggalan Kerajaan Sunda mengikuti dengan pengawalan.
Iring-iringan kirab dimulai dari Taman Surawisesa Kawali, melintasi Jalan Talagasari, Jalan Paronggol Raya, hingga Jalan Walahir, sebelum berakhir di Situs Astana Gede Kawali. Sepanjang rute, berbagai kesenian tradisional dari perwakilan 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat ditampilkan, mulai dari tari-tarian hingga musik khas Sunda.
Meski diguyur hujan, sorak sorai warga tetap terdengar. Antusiasme tidak surut, bahkan semakin terasa ketika rombongan kirab melintas.
“Dari sore sudah menunggu. Hujan juga tidak jadi masalah, karena ini momen langka. Anak-anak juga senang bisa melihat langsung,” ujar Rina (32), pengunjung asal Panumbangan.
Asep (45), warga Kawali yang rumahnya dilalui jalur kirab, mengaku bangga daerahnya menjadi bagian dari kegiatan budaya berskala besar tersebut.
“Jarang ada acara seperti ini lewat depan rumah. Walaupun hujan, kami tetap menunggu. Ini kebanggaan bagi warga Kawali,” katanya.
Hal senada disampaikan Yani (38), warga lainnya yang sengaja berdiri di depan rumah bersama keluarga untuk menyaksikan kirab.
“Baru kali ini seramai ini. Apalagi ada gubernur langsung. Kami sekalian abadikan momen ini,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa Milangkala Tatar Sunda bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk mengingat kembali jati diri dan nilai-nilai budaya Sunda.
“Budaya adalah identitas. Kalau kita ingin kuat ke depan, maka akar budaya harus tetap dijaga,” ungkapnya.
Suasana malam di Kawali semakin hidup dengan penampilan berbagai kesenian tradisional, termasuk penampilan Emka 9 dan seniman Sunda Kang Godi Suwarna, yang menambah kekayaan nuansa budaya dalam kegiatan tersebut.
Baca Juga : Kasus NV Disorot Aktivis Desak Pembenahan Perlindungan Anak Usai Hardiknas
Milangkala Tatar Sunda 2026 sendiri digelar di sejumlah daerah di Jawa Barat sepanjang Mei, sebelum mencapai puncak acara di Kota Bandung.
Rangkaian Milangkala Tatar Sunda 2026 yaitu 2 Mei: Binokasih Mulang Salaka (Sumedang), 3 Mei: Kawali Mulang Ka Diri (Ciamis), 4 Mei: Kampung Naga Mapag Bagja (Tasikmalaya), 5 Mei: Kirab Budaya Cianjur, 6 Mei: Kirab Budaya Bogor, 8 Mei: Kirab Budaya Depok, 9 Mei: Kirab Budaya Karawang, 10 Mei: Kirab Budaya Cirebon dan 16–17 Mei: Puncak Kirab Budaya (Bandung).
Di tengah guyuran hujan, semangat warga yang tetap memadati jalur kirab menjadi gambaran kuat bahwa tradisi dan budaya masih hidup dan dijaga dengan penuh kebanggaan oleh masyarakat. (NID)
