Kapalnya Karam, Semua Temannya Tenggelam, Ia Terdampar Sendirian

lintaspriangan.com, INSPIRATIF. “Memangnya apa salahku pada-Mu?” Bibir laki-laki itu terus menggumamkan pertanyaan pada Tuhannya. Kepalanya menunduk, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh airmata. Lalu ia mendongak, melihat kobaran api yang masih saja bersemangat melahap gubuk miliknya. Gubuk yang sudah lumayan membuatnya aman dan nyaman. Gubuk yang ia bangun dengan sangat susah payah selama hampir empat bulan, di sebuah pulau terpencil tempat ia terdampar.

“Hhh… Apa salahku pada-Mu?!” kali ini dengan nada geram, sembari menggeleng-gelengkan kepala.

Laki-laki itu bernama Hari. Sudah sekitar lima bulan ia terdampar di sebuah pulau antah-berantah. Seonggok kayu yang mengapung di lautan membawanya ke pulau ini. Ia beruntung sendirian, karena tujuh orang temannya tak selamat, semuanya tenggelam, bersamaan dengan kapal mereka yang karam.

Sejak terdampar, Hari sempat pasrah. hatinya memilih menyerah daripada berjuang agar nyawanya bisa bertahan. Ia tak peduli dengan perutnya yang keroncongan. Tubuhnya mengigil saat diterpa hujan. Atau beberapa kali ia bertemu ancaman dari hewan liar. Ia memilih diam, dan berharap segera dijemput ajal. Tapi anehnya, ia tak kunjung mati.

Boleh jadi, ia masih bertahan lantaran masih ada secercah harapan yang terselip dalam hati. Setiap saat ia membayangkan wajah istrinya. Wanita yang paling ia cintai itu baru saja mendapat kabar tentang kehamilan pertamanya, beberapa hari sebelum Hari pergi melaut bersama teman-temannya. Ya, saat pergi melaut, istrinya tengah hamil bulan ketiga.

“Hati-hati ya, Mas. Jangan lupa berdoa, Sekarang harus lebih hati-hati, kan kita mau punya bayi,” kata istri tercintanya ketika Hari pamit untuk pergi melaut.

“Tenang sayang, ini kan bukan kegiatan baru. Sudah berapa kali kami melaut, sudah cukup pengalaman,” jawab Hari menenangkan istrinya.

Dialog pendek itulah yang selalu menyelimuti benak Hari. Mungkin karena harapan inilah dia belum mati. Dia ingin sekali bertemu lagi dengan istrinya. Apalagi, ia akan menimang buah hati, darah dagingnya sendiri.

Lagi-lagi Hari terlihat menggelengkan kepala. Wajahnya semakin basah. Air mata kerinduan, sekaligus kemarahan. Ya, ia marah pada Tuhan. Kenapa Tuhan tak henti-hentinya “menzalimi” dirinya. Kapalnya sudah karam, semua temannya meninggal, dan ia terdampar sendirian. Lalu, setelah membangun gubuk selama berbulan-bulan, malam tadi semua kelelahan itu habis terbakar. Ia tertidur lelap di atas pasir pantai, ketika api unggun yang ia buat, merembet hingga membakar gubuk yang ia dirikan.

Nanar matanya melihat gubuknya sudah menjadi abu. Gubuk itu membuat Hari nyaman, dan punya semangat untuk menanam harapan. Berbeda dengan sekitar satu bulan pertama saat terdampar. Karena tak punya tempat tinggal, ia benar-benar merasa tersiksa. Gubuk itu yang membuat angin laut tidak terus-terusan menghantam tubuh Hari. Gubuk itu juga yang membuat Hari tak harus kuyup ketika hujan. Bahkan gubuk ini pula yang membuat Hari aman dari sekelompok serigala dan babi hutan yang sesekali mengancam. Gubuk yang ia bangun berbulan-bulan, lalu jadi abu hanya dalam waktu setengah malam.

Ia masih bertanya, kenapa Tuhan begitu zalim padanya. Ia berusaha keras mengingat, doa besar apa yang pernah ia perbuat. Lalu untuk kesekian kalinya, kepalanya lagi-lagi menggeleng. Pertanda ia tak menemukan alasan, kenapa Tuhan masih terus menyiksanya. Ia terus bertanya-tanya hingga fajar tiba, hingga sebuah suara menyapa dia…

“Assalamu’alaikum… Apakah Kamu baik-baik saja?”

Hari tertegun sejenak. Perlahan ia menoleh ke arah suara. Rupanya, gubuknya yang terbakar membuat Hari terlalu hanyut dalam kesedihan dan amarah yang mendalam, hingga ia tak menyadari ada beberapa orang yang menghampirinya.

“Ka… kalian siapa? Dari mana?” tanya Hari, sedikit terbata. Maklum, sudah sekitar setengah tahun ia tak bertemu manusia.

“Kami nelayan. Tadi malam, dari kejauhan kami lihat ada api yang berkobar besar. Kami kira ada kapal yang terbakar, jadi kami langsung menuju ke sini”.

“Allohuakabar…”. Hati Hari memekik takbir.

Hari tak kuasa lagi menjawab pertanyaan orang yang tadi menjelaskan. Seketika tubuhnya ambruk dalam sujud. Bibirnya berulang-ulang menggumamkan takbir. Rasanya ia ingin melesat ke angkasa, menerobos lapisan langit-langit, untuk memohon ampun kepada-Nya. Terutama karena amarah dan prasangka buruk pada-Nya.

“Ternyata Dia membakar gubukku, karena akan mengantarku pulang,” batin Hari, seraya tak berhenti menggumamkan takbir dan hamdalah.

Pagi itu juga, Hari berkemas. Sekelompok nelayan kemudian mengantarnya menyeberani lautan, Beberapa hari kemudian, Hari tiba di rumahnya, tepat di saat istrinya tengah melahirkan anak pertema mereka.

JEJAK HEROIK JABAR

Membuka Jejak Pejuang Tionghoa di Cirebon

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ada satu kalimat pendek dalam arsip...

Taktik Buaya Mangap Pejuang Cirebon Bikin Belanda Kocar-kacir

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jembatan-jembatan menuju Bantarjati tampak seperti sedang...

Selama 5 Bulan, Markas Belanda Digempur Pejuang Cikatomas

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ketika malam turun di wilayah selatan...

Pesantren Langkaplancar yang Berubah Menjadi Markas Laskar

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jauh dari pantai yang kini menjadi...

Dari Perlindungan 1947 hingga Harmony Award 2025

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Bensin telah diletakkan di dekat rumah-rumah warga...

PRIANGAN TIMUR

Kekeringan Pangandaran, 130 Ribu Liter Air Bersih Sudah Disalurkan

lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Dampak kekeringan di sejumlah wilayah Kabupaten...

Mal Pelayanan Publik Tasikmalaya Kembali Buka 18 Agustus Usai Libur HUT RI

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Mal Pelayanan Publik Tasikmalaya atau Bale Rancage dijadwalkan...

Agustusan Disbudpora Ciamis Lanjut dengan Golewang dan Ngubek Balong

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Agustusan Disbudpora Ciamis berlanjut pada Selasa, 18...

Pawai Alegoris Banjar Digelar Pagi Ini, Mulai Pukul 07.00 WIB

lintaspriangan.com, BERITA BANJAR. Pawai Alegoris Banjar dijadwalkan berlangsung di sepanjang...

Berkah Kemerdekaan, 228 Napi Ciamis Dapat Remisi pada HUT Ke-81 RI

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Sebanyak 228 narapidana di Lembaga Pemasyarakatan...

JAWA BARAT

Citilink Bandung Balikpapan Dijadwalkan Mulai Terbang 18 Agustus dari Husein

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Penerbangan langsung Citilink Bandung Balikpapan dijadwalkan mulai...

HUT ke-81 RI, Keliling Bandung Naik Bandros Cuma Rp81

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Peringatan HUT ke-81 RI di Kota...

ASN Bogor Jatuh ke Sungai Cisadane, Hari Ketiga Pencarian Radius Diperluas

lintaspriangan.com, BERITA BOGOR. Pencarian terhadap Bayu Zulkarnain, aparatur sipil...

Kabid Poldagri Jabar: Demokrasi Bukan Hanya Topik di Tahun Politik

lintaspriangan.com, BERITA JABAR. “Tema HUT ke-81 Republik Indonesia, ‘Indonesia Berdaulat, Adil,...

Neverland Bandung Digelar Hari Ini di Husein Sastranegara, Gate Buka 14.45 WIB

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Neverland Bandung digelar di Pangkalan TNI AU...

Hari Pramuka Cianjur Dipusatkan di Sekretariat Kwarcab Hari Ini

lintaspriangan.com, BERITA CIANJUR. Peringatan Hari Pramuka Cianjur ke-65 dipusatkan di...

Bandara Husein Bandung Layani Jet Mulai 14 Agustus, Garuda Buka Lagi Rute Denpasar

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Bandara Husein Bandung mulai kembali melayani penerbangan...

Pemkot Bekasi Buka Pemilihan Mitra Stadion Patriot Candrabhaga

lintaspriangan.com, BERITA BEKASI. Pemerintah Kota Bekasi membuka pemilihan mitra kerja...

Olahraga

Popular Categories