Seragam yang Tak Harus Seragam, Antarkan Kesbangpol Kabupaten Tasikmalaya Jadi Juara

lintaspriangan.com, BERITA PRIANGAN. Malam telah turun di Komplek Gedung Bupati Tasikmalaya. Cahaya putih berkelana di atas arena berwarna biru, membentuk lingkaran-lingkaran terang di tengah gelap. Dari tepian panggung, Merah Putih dan bendera hijau bergerak masuk. Di belakangnya, barisan berpakaian putih, gading, dan krem perlahan memenuhi arena.

Mereka tidak datang dengan busana yang rumit. Tidak pula menggantungkan pesona pada kostum berbiaya tinggi. Batik Sukapura hadir sebagai outer dan vest, dipadukan dengan kemeja putih, iket kepala putih, serta bawahan berwarna krem. Sederhana, tetapi ketika cahaya panggung menyentuhnya, seluruh barisan seolah berpendar.

Malam itu, Jumat, 24 Juli 2026, kontingen Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Tasikmalaya tampil dalam Karnaval Batik Sukapura 2026, bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-394 Kabupaten Tasikmalaya.

- Advertisement -

Penampilan tersebut akhirnya mengantarkan Badan Kesbangpol Kabupaten Tasikmalaya meraih Juara II Lomba Karnaval Batik. Prestasi itu diraih pada kategori kontingen, bukan kategori Maskot Karnaval yang menjadi perlombaan tersendiri.

Kemenangan itu terasa istimewa karena tidak lahir dari kemewahan. Kesbangpol membangunnya melalui ketepatan memilih warna, keberanian mengolah Batik Sukapura, kekompakan seluruh pegawai, dan kesediaan para pimpinan untuk turun ke arena.

Seragam yang Tidak Harus Seragam

Ada kecermatan sederhana di balik pilihan warna kontingen Kesbangpol.

Karnaval berlangsung malam hari. Di tengah arena yang dilingkupi temaram, warna hitam dan gelap mudah kehilangan detail ketika terlepas dari sorot lampu. Kesbangpol mengambil jalan berbeda. Putih, gading, dan krem dijadikan kanvas agar setiap gerak tubuh tetap terbaca dari kejauhan.

Di atas palet terang itulah Batik Sukapura ditempatkan. Warnanya yang lebih pekat membentuk kontras tegas, memperjelas siluet sekaligus menguatkan identitas Tasikmalaya yang mereka bawa.

Batik Sukapura tidak berhenti sebagai lembaran kain yang dikenakan apa adanya. Motifnya tetap dipertahankan, sementara cara pemakaiannya diberi artikulasi baru. Ada yang menjadikannya vest pendek, outer panjang, panel asimetris, hingga aksen di bagian pinggang.

Setiap pegawai diberi keleluasaan mengembangkan modelnya sendiri. Hasilnya, tidak ada keseragaman yang kaku. Potongan busana berbeda-beda, tetapi seluruhnya tetap bertemu dalam satu langgam warna dan satu identitas visual.

Mereka seragam tanpa harus menyeragamkan kreativitas.

Di antara pakaian laki-laki dan perempuan, perbedaan model itu justru melahirkan harmoni. Busana perempuan bergerak lentur bersama rok panjang dan hijab bernuansa lembut. Pada barisan laki-laki, iket putih, peci, vest, dan aksen batik di pinggang membentuk tampilan yang lebih kukuh.

Satu maskot berornamen besar dengan bentangan warna emas-tembaga berdiri sebagai pusat visual. Kehadirannya memberi daya dramatik, tetapi kesan utama kontingen tetap datang dari barisan pegawai yang terang, bersih, dan mudah dikenali.

Tidak ada pretensi untuk terlihat paling mahal. Yang tampak justru reka busana yang dipikirkan secara matang: sederhana bahannya, terang warnanya, jelas identitasnya.

Saat Pimpinan Memilih Menari Bersama

Musik medley mulai mengalun. Gerak tari yang berakar pada kesenian daerah menghidupkan barisan.

Para perempuan mengambil ruang di bagian depan. Barisan laki-laki menopang formasi dari belakang. Tangan-tangan terangkat dalam tempo yang sama, tubuh berayun, lalu kaki bergerak mengikuti irama.

Koreografinya tidak dibangun dengan tingkat kesulitan yang berlebihan. Geraknya bersahaja, tetapi dilakukan secara rampak. Kesederhanaan gerak membuat seluruh peserta dapat terlibat dan menjaga keselarasan hingga akhir.

Di satu bagian, barisan merendahkan tubuh dan berlutut. Kelompok di belakang tetap berdiri, menciptakan lapisan visual yang membuat panggung tidak terasa datar. Beberapa saat kemudian, mereka bangkit bersamaan, membuka tangan, lalu memberi jalan kepada maskot menuju pusat formasi.

Tidak ada pegawai yang disisihkan menjadi latar pasif. Hampir seluruh anggota kontingen bergerak sejak formasi dibuka hingga penampilan ditutup.

Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Tasikmalaya tidak memilih berdiri di tepi arena sambil menyaksikan bawahannya menari. Ia ikut bergerak bersama. Istrinya turut berada dalam barisan. Sekretaris Badan pun larut dalam koreografi yang sama.

Pada bagian inilah penampilan Kesbangpol menemukan pesonanya.

Batas antara pimpinan dan pegawai ditanggalkan. Tidak ada pangkat yang meminta ruang lebih lapang. Tidak ada jabatan yang memperoleh gerakan khusus. Mereka mengikuti irama yang sama, menjaga formasi yang sama, serta menghadapi kemungkinan salah langkah bersama-sama.

Kesbangpol juga tidak menyerahkan panggung kepada penari profesional dari luar. Seluruh orang yang menari merupakan pegawai dan keluarga besar Badan Kesbangpol Kabupaten Tasikmalaya.

Pilihan tersebut tentu membawa risiko. Penari sanggar mungkin dapat menyajikan gerak yang lebih pelik dan terukur. Namun, Kesbangpol memilih kejujuran penampilan. Mereka berlatih, menghafal gerak, menyamakan langkah, lalu membawa hasil ikhtiar itu ke hadapan dewan juri.

Kekompakan mereka bukan tempelan. Ia terlihat ketika tangan terangkat serentak, ketika seluruh barisan merendahkan tubuh, dan ketika para pimpinan tidak ragu menari bersama pegawai.

Penilaian Lomba Karnaval Batik mencakup kesesuaian tema, kreativitas busana dan properti, kekompakan penampilan, serta penggunaan Batik Sukapura. Seluruh unsur itu bertemu dalam sajian Kesbangpol: warna yang diperhitungkan, batik yang dieksplorasi, koreografi yang melibatkan semua orang, dan identitas daerah yang tetap dijaga.

Juara II akhirnya menjadi penanda bahwa panggung tidak selalu ditaklukkan oleh mereka yang mengenakan busana paling gemerlap. Gagasan yang jernih, kreativitas yang diberi ruang, dan kekompakan yang sungguh-sungguh dapat menemukan jalannya sendiri menuju podium.

Bagi keluarga besar Badan Kesbangpol Kabupaten Tasikmalaya, kemenangan itu menyimpan cerita yang lebih panjang daripada angka dua pada peringkat juara. Di baliknya terdapat latihan, keberanian tampil, kesediaan menanggalkan rasa canggung, serta kehendak untuk tidak membebankan kerja kepada segelintir orang.

Malam itu, kekompakan tidak tinggal sebagai slogan dalam apel pagi. Ia memperoleh bentuk pada barisan yang tertata, keringat yang jatuh, dan langkah yang dijaga agar tidak meninggalkan siapa pun.

Kesbangpol sehari-hari bekerja merawat persatuan. Di arena Karnaval Batik Sukapura, mereka memperagakan maknanya: berbeda potongan busana, tetap satu warna; berbeda jabatan, tetap satu gerakan; berbeda usia, tetap satu irama.

Mereka menari bersama. Podium kemudian memberikan jawabannya.

[abiba_quick_ads id="38307"]

JEJAK HEROIK JABAR

Membuka Jejak Pejuang Tionghoa di Cirebon

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ada satu kalimat pendek dalam arsip...

Taktik Buaya Mangap Pejuang Cirebon Bikin Belanda Kocar-kacir

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jembatan-jembatan menuju Bantarjati tampak seperti sedang...

Selama 5 Bulan, Markas Belanda Digempur Pejuang Cikatomas

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ketika malam turun di wilayah selatan...

Pesantren Langkaplancar yang Berubah Menjadi Markas Laskar

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jauh dari pantai yang kini menjadi...

Dari Perlindungan 1947 hingga Harmony Award 2025

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Bensin telah diletakkan di dekat rumah-rumah warga...

PRIANGAN TIMUR

Nanang Permana Dorong Petani Muda Ciamis Berinovasi, Semangka Berpotensi Hasilkan Rp60 Juta

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Budidaya semangka yang dikembangkan petani muda...

Petani Muda Ciamis Sulap Lahan Kering Jadi Kebun Semangka, Potensi Panen 3 Ton

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Lahan kering yang selama ini...

Tabligh Akbar HSN 2026 di Ciamis Hadirkan Ustaz Abdul Somad dan Das’ad Latif

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Dua penceramah nasional, Prof. KH. Abdul...

Khitanan Massal Tasikmalaya Digelar di RSUD Dewi Sartika, BAZNAS Bantu 25 Peserta

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Kegiatan khitanan massal Tasikmalaya berlangsung di...

Bantuan Pendidikan Tasikmalaya Capai Rp603 Juta, 739 Mahasiswa dan Santri Jadi Penerima

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya bersama Badan Amil...

JAWA BARAT

Majalengka Creative Festival 2026 Masuki Hari Terakhir, UMKM hingga Karya Digital Dipamerkan

lintaspriangan.com, BERITA MAJALENGKA. Majalengka Creative Festival 2026 dijadwalkan memasuki...

Festival Nyawang Bulan Bandung Digelar 24 Oktober 2026, Hadirkan Kuliner Tradisional dan Kesenian Sunda

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Festival Nyawang Bulan Bandung edisi Oktober...

Pawai Jampana Bandung 2026 Digelar Hari Ini, Libatkan 30 Kecamatan dengan Rute 1,3 Kilometer

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Pawai Jampana Bandung dijadwalkan berlangsung pada...

Kebakaran Gunung Ciremai Belum Padam Total, Petugas Buat Sekat Bakar dan Siapkan Pemadaman Udara

lintaspriangan.com, BERITA KUNINGAN. Kebakaran Gunung Ciremai di kawasan Taman...

Tangisan Anak Surili di Tengah Karhutla Ciremai, Petugas Selamatkan Primata Langka

lintaspriangan.com, BERITA KUNINGAN. Di tengah kebakaran hutan dan...

Perizinan Dapur MBG di Depok, Data PBG dan Pengawasan SPPG Perlu Dibuka

lintaspriangan.com, BERITA DEPOK. DEPOK — Perizinan bangunan dapur program...

BMKG Peringatkan Banjir Rob Jawa Barat hingga Awal November 2026, Ini Wilayah yang Berpotensi Terdampak

lintaspriangan.com, BERITA JABAR. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)...

Motor Trail di Lahan Kosong Bekasi Bikin Heboh, Siapa Pemilik Sebenarnya?

lintaspriangan.com, BERITA BEKASI. Deretan sepeda motor trail yang terparkir...

Olahraga

Kategori Populer