lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Keindahan laut, pantai, sungai, dan perbukitan membuat Pangandaran menjadi salah satu tujuan wisata unggulan Jawa Barat. Namun, di balik bentang alam tersebut tersimpan ancaman yang tidak boleh diremehkan. Berdasarkan data pemerintah, 10 ancaman bencana mengintai wilayah Kabupaten Pangandaran.
Kondisi itu bukan alasan untuk panik. Justru, masyarakat harus mengenali ancamannya, memahami jalur penyelamatan, dan mengetahui tindakan yang harus dilakukan saat keadaan darurat. Informasi kebencanaan tidak cukup berhenti di ruang rapat. Ia harus sampai ke rumah, sekolah, hotel, tempat wisata, perahu nelayan, hingga warung-warung di tepi pantai.
FPRB Pangandaran Mulai Diinisiasi
Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB menginisiasi pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Pangandaran. Kegiatan berlangsung selama dua hari, Selasa–Rabu, 14–15 Juli 2026, di Hotel Horison Palma, kawasan Pantai Barat Pangandaran.
Agenda resmi BPBD Jawa Barat mencatat kegiatan tersebut diselenggarakan berdasarkan undangan BNPB Nomor Und-85/D-II/BP.02.02/07/2026. Unsur pemerintah, masyarakat, relawan, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media dilibatkan untuk memperkuat kolaborasi pengurangan risiko bencana.
Pembentukan forum itu menjadi peg penting karena Pangandaran menghadapi ancaman yang sangat beragam. Dalam kunjungan kerjanya ke Pangandaran pada 12 Juni 2026, Kepala BNPB Suharyanto menyatakan wilayah ini memiliki indeks risiko bencana alam sangat tinggi.
Berdasarkan pemaparan Pemerintah Kabupaten Pangandaran dalam pertemuan tersebut, Pangandaran berada di peringkat ke-16 secara nasional dan peringkat kelima di Jawa Barat dalam Indeks Risiko Bencana Indonesia.
Dari 11 jenis ancaman bencana yang diidentifikasi secara nasional, sebanyak 10 di antaranya terdapat di Pangandaran. Satu-satunya ancaman yang tidak dimiliki daerah ini adalah erupsi gunung api. Data tersebut disampaikan dalam rilis resmi BNPB.
Ancaman yang perlu diwaspadai masyarakat antara lain gempa bumi, tsunami, banjir, banjir bandang, tanah longsor, kekeringan, cuaca ekstrem, gelombang ekstrem, abrasi, serta kebakaran. Karakter ancamannya berbeda-beda sehingga cara penyelamatannya juga tidak selalu sama.
Kenali Ancaman, Jangan Menunggu Bencana Datang
Gempa bumi dan tsunami menjadi ancaman paling serius bagi kawasan pesisir. Pantai selatan Jawa berhadapan dengan zona pertemuan lempeng yang dapat memicu gempa besar. Dokumen Rencana Penanggulangan Bencana Jawa Barat 2022–2026 menempatkan tsunami sebagai bencana berisiko tinggi dengan kecenderungan meningkat.
Pangandaran pernah mengalami tsunami besar pada 17 Juli 2006. Peristiwa itu menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang luas. BNPB bahkan menyebut tragedi tersebut sebagai salah satu peristiwa penting yang ikut mendorong lahirnya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
Pelajaran sederhananya: apabila masyarakat di pantai merasakan gempa kuat atau berlangsung cukup lama, jangan menunggu sirene maupun pesan berantai. Segera menjauh dari pantai dan bergerak menuju tempat yang lebih tinggi melalui jalur evakuasi.
Ancaman Pangandaran juga tidak hanya datang dari laut. Wilayah perbukitan berhadapan dengan potensi longsor, terutama setelah hujan deras berlangsung lama. Permukiman di sekitar aliran sungai harus mewaspadai banjir dan banjir bandang. Sementara itu, nelayan, wisatawan, serta pengelola aktivitas pantai perlu mengikuti informasi resmi mengenai gelombang dan cuaca ekstrem.
Pemerintah daerah sebelumnya mengungkapkan kawasan wisata pantai masih membutuhkan tambahan sekitar enam hingga tujuh perangkat sistem peringatan dini atau EWS. Pangandaran juga membutuhkan Gedung Pusat Pengendalian Operasi atau Pusdalops serta gudang logistik yang lebih representatif.
Kebutuhan tersebut penting karena kawasan pantai bukan hanya menjadi tempat tinggal masyarakat, tetapi juga pusat perputaran ekonomi dan lokasi berkumpulnya wisatawan. Pada masa liburan, jumlah orang yang harus diselamatkan dapat meningkat tajam. Sebagian wisatawan bahkan belum tentu mengetahui jalur evakuasi terdekat.
Hotel, restoran, objek wisata, sekolah, pasar, kantor pemerintahan, serta tempat ibadah perlu memiliki informasi jalur evakuasi yang terlihat jelas. Pengelola tempat wisata juga harus memastikan pegawai memahami cara mengarahkan pengunjung ketika terjadi gempa, tsunami, kebakaran, atau cuaca ekstrem.
Masyarakat dapat ikut memperkuat kesiapsiagaan dengan menyimpan nomor darurat, mengenali titik kumpul, menyiapkan tas siaga, serta memastikan anggota keluarga memahami rencana penyelamatan. Dokumen penting, obat-obatan, air minum, makanan ringan, senter, peluit, dan pengisi daya portabel dapat disiapkan dalam satu tas yang mudah dibawa.
Keberadaan 10 ancaman bencana tidak boleh membuat Pangandaran kehilangan pesonanya. Sebaliknya, kesiapsiagaan yang baik dapat membuat masyarakat dan wisatawan merasa lebih aman. Daerah wisata berkelas bukan hanya indah saat dikunjungi, tetapi juga siap melindungi manusia ketika alam menunjukkan kekuatannya.
Baca informasi ini, pahami risikonya, lalu sebarkan. Dalam keadaan darurat, satu informasi yang benar dapat menjadi jalan pulang bagi banyak orang. (AS)
Kuis Piala Dunia 2026
Tebak dua tim finalis dan skor akhir. Tiga tebakan akurat dan tercepat berhak mendapatkan hadiah uang tunai. Total hadiah jutaan rupiah.
