Dari Freeport ke Karangjaya: Negara Sibuk Melarang, Rakyat Sibuk Bertahan

lintaspriangan.com,ย OPINI.ย Di negeri yang sering kita banggakan sebagai โ€œkaya rayaโ€, ada satu pemandangan yang berulang, seperti adegan lama yang tak pernah diganti: rakyatnya justru sibuk mencari cara untuk bertahan hidup. Bukan untuk menjadi kaya, bukan untuk mengejar kemewahan, tapi sekadar agar dapur tetap menyala.

Ironi itu terasa nyata kalau kita berani menengok dua dunia yang berbeda, tapi berada di tanah yang sama.

Di Papua, ada satu nama yang sudah puluhan tahun jadi simbol kekayaan sekaligus perdebatan: tambang Grasberg yang dikelola Freeport. Cadangannya bukan main, sekitar 26 juta ons emas dan lebih dari 30 miliar pon tembaga. Salah satu yang terbesar di dunia. Tapi sejarahnya juga mencatat hal yang tak kalah besar: selama puluhan tahun, Indonesia hanya memegang porsi kecil. Di awal kontrak, kepemilikan kita bahkan tak sampai 10 persen. Royalti emasnya? Sekitar 1 persen. Sisanya mengalir ke luar negeri, dianggap sah secara hukum, rapi dalam kontrak, dan nyaris tak tersentuh.

Sekarang, mari kita geser pandangan ke Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya.

Tidak ada alat berat seharga triliunan. Tidak ada investor global. Tidak ada laporan cadangan tambang kelas dunia. Yang ada hanya warga, sekop, linggis dan harapan yang ukurannya tidak lebih besar dari kebutuhan sehari-hari. Mereka menggali, bukan untuk menumpuk keuntungan, tapi untuk menyambung hidup.

Namun di sini, ceritanya sama sekali berbeda.

Tambang itu ditutup. Aktivitas dihentikan. Alasannya jelas: tidak berizin.

Negara hadir, tapi dalam bentuk yang berbeda. Bukan sebagai pembina, bukan sebagai penunjuk jalan, apalagi pelindung. Di sini, negara tegas, datang untuk menghentikan.

Kisah yang hampir sama muncul di sungai. Warga di hilir melihat dasar sungai yang makin dangkal, aliran yang tak lagi lancar, dan air yang setiap musim hujan membawa kecemasan. Mereka tahu risikonya, banjir bukan lagi ancaman jauh, tapi sesuatu yang bisa datang sewaktu-waktu. Tapi yang sering luput dibicarakan: mereka sebenarnya bukan penyebab utama. Mereka adalah bagian dari rantai paling bawah, yang menanggung akibat dari kerusakan di hulu, dari alih fungsi lahan, dari eksploitasi yang tak terkendali, dari pengawasan yang longgar atau mungkin abai.

Dalam kondisi seperti itu, mereka bergerak. Turun ke sungai, mengangkat pasir, membersihkan aliran. Tidak ada proyek besar, tidak ada kontrak, tidak ada anggaran miliaran. Hanya refleks bertahan dari kemungkinan bencana yang mereka rasakan sendiri.

Aparat, politisi bahkan media, tiba-tiba datang dengan suara lantang, ketika rakyat di sekitar hilir sungai menjual pasir yang mereka keruk dari sungai.

Namun pertanyaannya sederhana: ketika kerusakan di hulu berlangsung bertahun-tahun, di mana mereka? Mengapa yang paling cepat hadir justru larangan di hilir, sementara penyebab di atas sana seperti tak tersentuh?

Dan seperti pola yang berulang, yang datang kepada warga bukan solusi menyeluruh, melainkan bayang-bayang pelanggaran.

Di titik ini, kita memang tidak bisa pura-pura naif. Negara punya alasan. Tambang tanpa kontrol bisa merusak lingkungan. Penggunaan merkuri bisa mencemari air. Keselamatan kerja di tambang rakyat sering jauh dari standar. Semua itu nyata, bukan dibuat-buat.

Tapi masalahnya tidak berhenti di sana.

Masalahnya justru muncul ketika negara hanya berhenti di kata โ€œtidak bolehโ€, tanpa benar-benar melanjutkannya dengan โ€œini caranya supaya bolehโ€.

Konstitusi kita sebenarnya tidak memberi ruang abu-abu. Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 menyebut dengan tegas bahwa bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kalimatnya sederhana, tidak perlu dewan profesor untuk menafsirkan kalimat ini. Negara diberi mandat untuk mengelola, bukan menjauhkan rakyat dari sumber penghidupannya.

Sayangnya, dalam praktik, jalan menuju legal sering terasa seperti lorong yang gelap. Izin pertambangan rakyat memang ada di atas kertas (itupun katanya). Tapi di lapangan, prosedurnya berlapis, waktunya tidak pasti, dan sering kali tidak jelas harus mulai dari mana. Warga sudah mencoba audiensi, sudah mencoba bertanya, tapi yang mereka temui bukan kepastian, melainkan kebingungan yang berulang.

Akhirnya, pilihan yang tersisa jadi sederhana sekaligus pahit: berhenti bekerja, atau terus bekerja dalam status yang rawan dianggap melanggar.

Di sisi lain, sejarah menunjukkan pola yang berbeda ketika yang datang adalah korporasi besar. Regulasi bisa disiapkan, kepastian bisa diberikan, bahkan dalam kondisi negara yang belum stabil sekalipun. Kontrak bisa ditandatangani, konsesi bisa dibuka, dan operasi bisa berjalan puluhan tahun.

Sementara ketika rakyat kecil mencoba mengelola yang ada di sekitarnya, mereka justru dihadapkan pada prosedur yang hampir mustahil ditembus. Biadab!

Ini bukan sekadar soal izin. Ini soal bagaimana negara memilih untuk hadir.

Tulisan ini tidak sedang mengajak membiarkan tambang liar tumbuh tanpa aturan. Justru sebaliknya. Tambang rakyat, kalau dikelola dengan benar, bisa menjadi sumber ekonomi lokal yang kuat. Bisa dilegalkan, dibina, diawasi, bahkan ditingkatkan teknologinya agar lebih aman dan ramah lingkungan.

Tapi untuk sampai ke sana, negara tidak cukup hanya menjadi pengawas yang tegas. Ia harus menjadi penuntun yang hadir.

Karena pada akhirnya, pertanyaan paling sederhana tetap menggantung di udara:
Jika rakyat tidak boleh mengelola, dan negara tidak benar-benar memfasilitasi, lalu siapa yang sebenarnya menikmati kekayaan alam ini?

Dari Freeport ke Karangjaya, dari gunung emas hingga pasir sungai, garis ceritanya ternyata tidak jauh berbeda. Rakyat tidak kekurangan kemauan untuk bekerja. Yang sering hilang adalah ruang untuk melakukannya dengan benar.

Dan selama negara lebih sibuk melarang daripada membimbing, cerita ini akan terus berulang.

Rakyat akan tetap bekerja, dengan cara yang mereka bisa.

Bertahan, meski sering tanpa kepastian.


DIKI SAMANI
Ketua Aliansi Bangun Daulat Rakyat

Berita lainnya:

Jadilah Aisyah, Meski Suamimu Bukan Muhammad

lintaspriangan.com,ย OPINI. Di banyak pengajian, kita cukup sering mendengar penceramah memaparkan topik sebagaimana di bawah ini: โ€œBapak-bapak ingin istrinya seperti Aisyah?Maka...

Fenomena Periodisasi Kepala Sekolah di Kota Tasikmalaya

lintaspriangan.com,ย OPINI. Periodisasi kepala sekolah di Kota Tasikmalaya bukanlah hal baru. Kebijakan ini telah dilaksanakan sejak terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan...

Jadi Indonesia Itu Bahagia, Miskin atau Salah Ukur?

lintaspriangan.com, OPINI. Indonesia sedang mengalami kondisi langka: satu negara, tiga perasaan, dan semuanya sah secara statistik. Dalam satu laporan...

Terbaru

KPID Jabar dan Kampus Tingkatkan Kompetensi Jurnalis serta Mahasiswa di Priangan Timur

Lintaspriangan.com. BERITA TASIKMALAYA. Ketua KPID Jawa Barat, Dr. Adiyana...

Tinggal 2 Hari Lagi! Rekrutmen Koperasi Merah Putih Segera Ditutup

lintaspriangan.com,ย BERITA NASIONAL Program rekrutmen Koperasi Merah Putih tahun 2026...

Di Tangan Bupati Herdiat, Ternyata Begini Kondisi Ketahanan Pangan Ciamis

lintaspriangan.com.ย BERITA CIAMIS. Pagi di Lakbok selalu dimulai dari sawah....

Terlindungi: Bocoran UTBK 2026 Hari Pertama: PK Sulit, Ini Tips Menghadapinya

lintaspriangan.com,ย BERITA NASIONAL. Bocoran UTBK 2026 pada hari pertama pelaksanaan...

Kewaspadaan Bencana Banjir Berbasis Nilai Pancasila: Penguatan Sosialisasi 3R di Pasar Kordon Kota Bandung dalam Perspektif SDGs

lintaspriangan.com,ย KAJIAN. RINGKASAN: Banjir di Pasar Kordon berkaitan dengan pengelolaan sampah...

Konten Lokal Belum Diminati, KPID Jabar Libatkan Pers Mahasiswa

lintaspriangan.com. BERITA TASIKMALAYA. Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID)...

Wakil Wali Kota Tasikmalaya Sebut Pers Lokal Kunci Angkat Potensi Daerah

lintaspriangan.com. BERITA TASIKMALAYA. Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd. Diky...

Tenda Aksi di Depan Balai Kota Tasikmalaya Dibongkar Satpol PP

Lintaspriangan.com. BERITA TASIKMALAYA. Tenda milik Komunitas Rakyat Peduli Lingkungan...

Cek, Nih! Bocoran UTBK SNBT 2026 dari Peserta yang Tes Hari Ini

lintaspriangan.com, BERITA NASIONAL. Pelaksanaan UTBK SNBT 2026 resmi dimulai pada Selasa...

Memasuki Kemarau, Ancaman Bencana Kota Tasikmalaya Tertinggi di Jabar, Waspada!

lintaspriangan.com.ย BERITA TASIKMALAYA.ย Musim kemarau mulai memasuki fase awal di sejumlah...

Priangan Timur

KPID Jabar dan Kampus Tingkatkan Kompetensi Jurnalis serta Mahasiswa di Priangan Timur

Lintaspriangan.com. BERITA TASIKMALAYA. Ketua KPID Jawa Barat, Dr. Adiyana...

Di Tangan Bupati Herdiat, Ternyata Begini Kondisi Ketahanan Pangan Ciamis

lintaspriangan.com.ย BERITA CIAMIS. Pagi di Lakbok selalu dimulai dari sawah....

Konten Lokal Belum Diminati, KPID Jabar Libatkan Pers Mahasiswa

lintaspriangan.com. BERITA TASIKMALAYA. Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID)...

Wakil Wali Kota Tasikmalaya Sebut Pers Lokal Kunci Angkat Potensi Daerah

lintaspriangan.com. BERITA TASIKMALAYA. Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd. Diky...

Tenda Aksi di Depan Balai Kota Tasikmalaya Dibongkar Satpol PP

Lintaspriangan.com. BERITA TASIKMALAYA. Tenda milik Komunitas Rakyat Peduli Lingkungan...

Memasuki Kemarau, Ancaman Bencana Kota Tasikmalaya Tertinggi di Jabar, Waspada!

lintaspriangan.com.ย BERITA TASIKMALAYA.ย Musim kemarau mulai memasuki fase awal di sejumlah...

Bupati Herdiat Angkat Kebutuhan Petani Ciamis di Rakornas Pertanian 2026

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Bupati Ciamis Herdiat Sunarya membawa isu...

Tiga Besar Daerah Rawan Bencana Jabar, BPBD Kabupaten Tasikmalaya Siaga

lintaspriangan.com. BERITA TASIKMALAYA. Kabupaten Tasikmalaya kembali masuk dalam tiga...

Perspektif

Popular Categories