lintaspriangan.com,Ā BERITAĀ BANDUNG. Kota Bandung masuk kategori waspada dalam peringatan dini kekeringan meteorologis Jawa Barat yang berlaku hingga Senin, 20 Juli 2026. Peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika itu menjadi sinyal bagi pemerintah daerah dan warga untuk mengantisipasi berkurangnya curah hujan, kondisi udara yang makin kering, serta meningkatnya risiko kebakaran lahan.
Berdasarkan informasi Stasiun Klimatologi Jawa Barat, status tersebut tercantum dalam pemutakhiran potensi kekeringan meteorologis periode 11ā20 Juli 2026. Kota Bandung menjadi salah satu daerah di Jawa Barat yang berada pada kategori waspada.
Status waspada tersebut merupakan kategori dalam peringatan dini iklim BMKG. Status itu bukan penetapan status darurat bencana kekeringan oleh Pemerintah Kota Bandung.
Kekeringan meteorologis berkaitan dengan curah hujan yang berada di bawah kondisi normal dalam suatu periode. Kondisi ini dapat berkembang dan memengaruhi ketersediaan air tanah, pertanian, sumber air baku, serta meningkatkan kerawanan kebakaran apabila berlangsung lama.
Kota Bandung Waspada Kekeringan Meteorologis
Pemutakhiran BMKG menunjukkan kondisi kering semakin menguat di sejumlah wilayah. Pada dasarian pertama Juli 2026, curah hujan rendah mendominasi 72,38 persen wilayah Indonesia. Sekitar 70,08 persen wilayah juga mengalami sifat hujan di bawah normal.
Musim kemarau telah berlangsung di 423 zona musim atau sekitar 60,5 persen wilayah Indonesia. Wilayah yang telah memasuki musim kemarau terutama berada di sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra bagian selatan, serta sejumlah kawasan di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Kondisi itu dipengaruhi pula oleh dinamika iklim global. BMKG mencatat peristiwa El NiƱo telah aktif dengan anomali suhu muka laut dasarian di wilayah NiƱo 3.4 sebesar positif 1,88. Fenomena tersebut berpotensi memperkuat kecenderungan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Dalam prakiraan periode 17ā23 Juli 2026, BMKG memperkirakan curah hujan rendah masih mendominasi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan sebagian Papua.
Pada dasarian ketiga Juli, sekitar 76,54 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan rendah. Sementara itu, wilayah dengan curah hujan menengah diprediksi sekitar 23,36 persen dan curah hujan tinggi hanya sekitar 0,09 persen.
Waspadai Kebakaran Lahan dan Berkurangnya Air
Masuknya Kota Bandung dalam kategori waspada perlu diikuti pemantauan kondisi lapangan. Pemerintah daerah perlu memastikan perkembangan sumber air baku, sumur warga, kawasan rawan kekurangan air, lahan terbuka, dan titik yang berpotensi mengalami kebakaran.
Namun, peringatan kekeringan meteorologis tidak serta-merta berarti seluruh wilayah Kota Bandung telah mengalami krisis air. Kondisi riil dapat berbeda antarkecamatan karena dipengaruhi curah hujan lokal, kemampuan tanah menyimpan air, kepadatan permukiman, keberadaan kawasan resapan, dan pola penggunaan air.
BMKG mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kemunculan titik panas serta potensi kebakaran hutan dan lahan seiring menguatnya kondisi kering.
Masyarakat diminta tidak membakar sampah maupun membersihkan lahan dengan cara dibakar, terutama di kawasan yang mudah terbakar. Temuan titik api atau indikasi kebakaran harus segera dilaporkan kepada pihak berwenang agar dapat ditangani sebelum meluas.
Peringatan tersebut relevan bagi Kota Bandung yang memiliki kawasan permukiman padat, lahan terbuka, taman kota, serta wilayah berbatasan dengan perbukitan. Kondisi kering dapat membuat rumput, semak, dan tumpukan material organik lebih mudah terbakar.
Hujan Lokal Masih Dapat Terjadi
Meskipun Kota Bandung masuk status waspada kekeringan meteorologis, hujan lokal masih dapat turun. BMKG menegaskan bahwa musim kemarau tidak berarti hujan sama sekali berhenti.
Untuk periode 20ā23 Juli 2026, cuaca Indonesia secara umum diperkirakan cerah berawan hingga hujan ringan. Jawa Barat juga masih masuk wilayah yang perlu mewaspadai potensi angin kencang.
Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang masih mungkin terjadi secara lokal karena dinamika atmosfer. Karena itu, warga Kota Bandung perlu menghadapi dua risiko sekaligus: mengantisipasi dampak kondisi kering tanpa mengabaikan kemungkinan perubahan cuaca mendadak.
BMKG mengimbau masyarakat menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan pada siang hari. Warga juga dianjurkan memantau prakiraan cuaca melalui situs BMKG, aplikasi InfoBMKG, dan akun media sosial resmi lembaga tersebut.
Pemutakhiran berikutnya penting untuk memastikan apakah status kekeringan meteorologis Kota Bandung meningkat, bertahan, atau berakhir. Kondisi sumur warga, pasokan air bersih, lahan pertanian, dan laporan kebakaran di lapangan akan menjadi indikator penting untuk melihat dampak nyatanya. (NS/AS)







