lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Pola asuh orang tua berperan penting dalam membentuk kepercayaan diri, kemampuan mengelola emosi, dan kesehatan mental anak. Karena itu, orang tua perlu membedakan disiplin yang mendidik dengan perilaku pengasuhan yang berisiko melukai kondisi psikologis anak.
Pesan tersebut disampaikan Psikolog Klinis RSIA Al Islam Bandung dan RSU Banjar Patroman, Deasy Ratnasari Dewi, M.Psi., saat memberikan edukasi mengenai toxic parenting dan positive parenting kepada orang tua serta anak didik Rumah Les Cantik Mama Kaka Sana di Jalan Belakang Terminal Angkot Cisaga, Kecamatan Cisaga, Kabupaten Ciamis, Minggu (18/10/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Deasy menjelaskan bahwa pola asuh yang tidak sehat dapat berdampak pada kondisi mental dan emosional anak. Sebaliknya, pola asuh positif menekankan kasih sayang, empati, komunikasi yang sehat, serta penghargaan terhadap anak tanpa menggunakan kekerasan.
Toxic Parenting Berisiko Mengganggu Perkembangan Emosi Anak
Menurut Deasy, pola asuh yang merugikan anak tidak selalu muncul karena orang tua sengaja ingin menyakiti. Kurangnya pemahaman tentang cara mendidik yang tepat juga dapat memicu perilaku yang mengabaikan kebutuhan emosional anak.
“Apapun alasannya, cara mendidik yang mengabaikan kebutuhan emosional anak tetap berisiko menimbulkan dampak negatif,” katanya.
Sejumlah perilaku yang perlu diwaspadai antara lain mengontrol seluruh aspek kehidupan anak tanpa memberi ruang untuk belajar mengambil keputusan, meluapkan kemarahan secara berlebihan, merendahkan anak melalui perkataan, membandingkan pencapaiannya dengan orang lain, hingga melakukan kekerasan fisik.
Jika terjadi berulang kali, perlakuan tersebut dapat membuat anak merasa tidak dihargai, kehilangan kepercayaan diri, dan kesulitan menyampaikan perasaan secara sehat. Pengalaman pengasuhan yang penuh tekanan juga dapat meningkatkan risiko masalah psikologis, meskipun dampaknya dapat berbeda pada setiap anak.
Deasy menegaskan bahwa mendidik anak tidak cukup hanya dengan menetapkan aturan dan menuntut kepatuhan. Orang tua perlu mendengarkan keluhan, memahami perasaan, serta memberikan arahan tanpa ancaman atau penghinaan.
Positive Parenting Dimulai dari Komunikasi dan Keteladanan
Sebagai alternatif, positive parenting menempatkan kasih sayang, empati, dan rasa saling menghormati sebagai dasar hubungan antara orang tua dan anak. Pendekatan ini dapat dimulai dengan menciptakan lingkungan yang aman, memberi kesempatan kepada anak untuk menyampaikan perasaan, serta membantu mereka mengenali dan mengelola emosi ketika sedih, marah, atau kecewa.
Orang tua juga perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil keputusan sesuai usia dan tahap perkembangannya. Apresiasi terhadap usaha, bukan hanya hasil akhir, dapat membantu anak memahami bahwa proses belajar dan keberanian mencoba merupakan bagian penting dari pertumbuhan.
Deasy mengingatkan bahwa keteladanan orang tua memiliki peran besar karena anak belajar bukan hanya melalui nasihat, tetapi juga dengan mengamati perilaku orang dewasa di sekitarnya.
“Orang tua harus menjadi teladan melalui perilaku sehari-hari. Sebab, anak tidak hanya belajar dari nasihat yang disampaikan, tetapi juga dari cara orang tua berbicara, menyelesaikan masalah, dan memperlakukan orang lain,” ungkapnya.
Meski demikian, pola asuh positif bukan berarti membebaskan anak tanpa batas. Aturan dan disiplin tetap diperlukan agar anak memahami tanggung jawab serta konsekuensi dari perilakunya. Perbedaannya terletak pada cara aturan diterapkan, yakni secara konsisten, proporsional, dan tanpa kekerasan.
“Pendekatan ini bukan berarti orang tua membebaskan anak tanpa batas. Aturan dan disiplin tetap diperlukan, tetapi penerapannya dilakukan secara konsisten, proporsional, dan tanpa kekerasan,” tandasnya.
Melalui edukasi tersebut, orang tua diharapkan memahami bahwa keberhasilan pengasuhan tidak hanya diukur dari kepatuhan atau prestasi akademik anak. Rasa aman, kemampuan menghargai diri sendiri, kemandirian, serta keterampilan berkomunikasi juga menjadi bagian penting dari tumbuh kembang anak.
Perubahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti mendengarkan anak tanpa terburu-buru menghakimi, mengendalikan emosi ketika menghadapi masalah, menghindari kebiasaan membandingkan, dan memberikan teguran tanpa merendahkan harga dirinya.
(HS)
