Sekolah Aman Bencana Tasikmalaya: Apa yang Wajib Dikuasai Siswa?

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Bayangkan guncangan kuat terjadi saat pelajaran berlangsung. Kaca bergetar, lemari bergeser, listrik padam, sementara puluhan siswa secara bersamaan ingin keluar dari kelas. Dalam situasi seperti itu, keselamatan tidak ditentukan oleh poster evakuasi yang menempel di dinding. Penentunya adalah kemampuan yang sudah tertanam sebelum bencana datang.

Itulah alasan sekolah aman bencana Tasikmalaya tidak boleh berhenti sebagai slogan atau kegiatan seremonial. Kabupaten Tasikmalaya menghadapi ancaman gempa, longsor, tsunami, erupsi Gunung Galunggung, banjir, cuaca ekstrem, kebakaran, dan kekeringan. Sekolah di pesisir tentu memerlukan keterampilan berbeda dari sekolah di kawasan lereng atau sekitar gunung api.

Risiko Bencana Tasikmalaya Masih Tinggi

Dokumen RKPD Kabupaten Tasikmalaya 2026 mencatat Indeks Risiko Bencana daerah ini pada 2024 berada di angka 145,50.

- Advertisement -

Sementara itu, Indeks Ketahanan Daerah tercatat 0,64 atau berada dalam kategori sedang. Dokumen tersebut juga mengakui pendidikan dan pelatihan kebencanaan, kesiapsiagaan, sistem informasi, logistik, serta kapasitas mitigasi belum optimal.

Ancaman gempa mencakup sekitar 270.882 hektare atau praktis seluruh wilayah kabupaten. Dari 39 kecamatan, sebanyak 10 kecamatan berada dalam kelas bahaya gempa rendah, 25 kecamatan sedang, dan empat kecamatan tinggi.

Potensi bahaya tanah longsor mencapai sekitar 164.326,91 hektare. Tiga kecamatan dikategorikan rendah, 27 kecamatan sedang, dan delapan kecamatan tinggi.

Di kawasan selatan, ancamannya berbeda. Cikalong, Cipatujah, dan Karangnunggal masuk kelas bahaya tsunami tinggi. Luas potensi bahayanya mencapai sekitar 694,73 hektare. Ketiga kecamatan itu juga menghadapi bahaya gelombang ekstrem dan abrasi seluas 857,09 hektare.

Sementara potensi bahaya erupsi Gunung Galunggung mencakup sekitar 18.238,42 hektare.

Data tersebut menunjukkan satu hal: pendidikan kebencanaan di Tasikmalaya tidak bisa dibuat seragam.

Sekolah Aman Bukan Sekadar Punya Jalur Evakuasi

Penyelenggaraan Satuan Pendidikan Aman Bencana atau SPAB diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 Tahun 2019.

Program ini mencakup penanganan sebelum, saat, dan setelah bencana. Tujuannya bukan hanya mencegah korban, tetapi juga memastikan kegiatan pendidikan dapat dilanjutkan ketika sekolah terdampak.

Secara internasional, Comprehensive School Safety Framework 2022–2030 menempatkan keselamatan sekolah dalam tiga pilar utama:

  • Fasilitas belajar yang lebih aman.
  • Manajemen keselamatan dan keberlanjutan pendidikan.
  • Pendidikan pengurangan risiko dan ketangguhan.

Artinya, siswa memang perlu dilatih. Namun, tanggung jawab keselamatan tidak boleh dibebankan kepada anak-anak. Pemerintah dan sekolah harus memastikan bangunan aman, jalur keluar tersedia, alarm bekerja, serta prosedur evakuasi dapat dilakukan semua siswa, termasuk penyandang disabilitas.

Kemampuan Pertama: Mengenali Bahaya di Sekitar Sekolah

Setiap siswa perlu mengetahui ancaman utama di sekolahnya.

Mereka harus bisa mengenali ruangan yang memiliki kaca besar, lemari tinggi, plafon rapuh, tembok retak, pohon tua, tiang listrik, saluran air, lereng, sungai, atau jalan yang berpotensi menghambat evakuasi.

Peta bahaya sebaiknya tidak hanya dibuat oleh guru lalu ditempel. Siswa perlu dilibatkan untuk menandai:

  • Bagian sekolah yang berbahaya.
  • Lokasi perlindungan sementara.
  • Jalur evakuasi utama.
  • Jalur evakuasi alternatif.
  • Titik kumpul.
  • Area yang tidak boleh dilewati.

Jika siswa hanya pernah melihat peta tanpa mempraktikkannya, pengetahuan itu kemungkinan sulit digunakan ketika suasana berubah panik.

Saat Gempa, Jangan Langsung Berebut Pintu

Reaksi spontan banyak orang saat gempa adalah berlari keluar. Di kelas yang penuh, tindakan itu justru dapat menimbulkan desakan dan membuat siswa terkena benda jatuh.

Siswa perlu dilatih melakukan Drop, Cover, and Hold On: merendahkan tubuh, berlindung di bawah meja yang kokoh, melindungi kepala serta leher, kemudian berpegangan sampai guncangan berhenti.

Mereka juga harus menjauh dari kaca, lemari, lampu gantung, dan benda lain yang mudah jatuh.

Evakuasi dilakukan setelah guncangan mereda dan kondisi memungkinkan. Siswa tidak boleh kembali mengambil tas atau telepon.

Jika sedang berada di luar, mereka harus menjauh dari bangunan, tembok, pohon besar, kabel, dan tiang listrik.

Keterampilan tersebut relevan untuk seluruh sekolah aman bencana Tasikmalaya, mengingat potensi gempa mencakup semua kecamatan.

Sekolah Pesisir Harus Menguasai Evakuasi Mandiri Tsunami

Siswa di Cikalong, Cipatujah, dan Karangnunggal membutuhkan kemampuan tambahan.

Gempa kuat atau berlangsung lama harus dipahami sebagai peringatan alami tsunami. Siswa perlu segera bergerak menuju tempat tinggi atau lokasi evakuasi tanpa menunggu informasi berantai yang mungkin terlambat.

Mereka harus mengetahui:

  • Arah menjauhi pantai dan muara.
  • Jalur berjalan kaki menuju tempat tinggi.
  • Jalur alternatif apabila jalan utama terputus.
  • Perkiraan waktu untuk mencapai lokasi aman.
  • Larangan kembali setelah gelombang pertama.
  • Titik penyerahan siswa kepada keluarga.

Simulasi tsunami tidak cukup apabila hanya memindahkan siswa dari kelas menuju halaman sekolah. Jika halaman masih berada di zona bahaya, latihan tersebut belum membawa siswa ke tempat yang benar-benar aman.

Siswa di Lereng Harus Mengenali Tanda Longsor

Sekolah di kawasan perbukitan perlu mengajarkan tanda-tanda awal longsor dengan bahasa sederhana.

Tanda tersebut dapat berupa retakan baru pada tanah, pohon atau tiang yang mulai miring, air mendadak keruh, batu-batu kecil berjatuhan, serta suara gemuruh dari lereng.

Ketika tanda itu muncul, siswa tidak boleh mendekat untuk melihat atau merekam. Mereka harus melapor kepada guru, menjauhi arah gerakan tanah, dan bergerak menuju lokasi aman.

Titik kumpul sekolah di wilayah perbukitan juga tidak boleh ditempatkan di bawah lereng, di dekat tebing, atau pada jalur yang mungkin dilalui material longsor.

Abu Galunggung Membutuhkan Prosedur Berbeda

Sekolah di kawasan terdampak Gunung Galunggung harus menyiapkan prosedur menghadapi abu vulkanik.

Siswa perlu mengetahui cara menggunakan masker dengan benar, melindungi mata, menutup pintu dan jendela, serta membatasi kegiatan luar ruangan.

Mereka juga perlu diajarkan untuk tidak menggosok mata yang terkena abu dan hanya mengikuti informasi resmi dari pemerintah serta otoritas kegunungapian.

Pengetahuan ini harus didukung perlengkapan. Masker, pelindung mata, kotak pertolongan pertama, dan akses air bersih perlu tersedia. Anak tidak mungkin menjalankan prosedur apabila sekolah tidak menyediakan peralatannya.

Kebakaran, Banjir, dan Pertolongan Pertama

Saat kebakaran, siswa perlu mengetahui bahwa bersembunyi di toilet atau bawah meja sangat berbahaya. Mereka harus membunyikan atau melaporkan alarm, bergerak merunduk ketika ruangan dipenuhi asap, serta tidak kembali mengambil barang.

Jika pakaian terbakar, siswa dapat melakukan stop, drop, and roll: berhenti, menjatuhkan diri, kemudian berguling untuk memadamkan api.

Penggunaan alat pemadam hanya boleh dilakukan siswa yang cukup umur, telah mendapat pelatihan, didampingi, dan mempunyai jalur keluar aman. Siswa bukan petugas pemadam.

Saat banjir atau banjir bandang, siswa harus bergerak menuju lokasi lebih tinggi, menjauhi sungai dan saluran air, serta tidak menerobos genangan. Air yang tampak dangkal dapat memiliki arus kuat, lubang tersembunyi, benda tajam, atau aliran listrik.

Untuk pertolongan pertama, siswa tidak perlu dilatih menjadi tenaga medis. Kemampuan dasarnya adalah memanggil bantuan, memastikan lokasi aman, menekan luka dengan kain bersih, menenangkan korban, serta tidak memindahkan orang yang diduga mengalami cedera tulang belakang.

Pesan terpentingnya sederhana: jangan menolong dengan cara yang menciptakan korban baru.

Setiap Siswa Harus Punya Teman Evakuasi

Sekolah dapat menerapkan sistem teman atau kelompok kecil. Setiap siswa bertugas memastikan temannya bergerak bersama dan tiba di titik kumpul.

Sistem ini membantu siswa yang panik, masih kecil, sakit, atau memiliki disabilitas. Guru juga lebih cepat mendata siapa yang sudah keluar dan siapa yang belum ditemukan.

Namun, siswa tidak boleh disuruh masuk kembali ke bangunan berbahaya untuk mencari temannya. Pencarian merupakan tugas petugas terlatih.

Setelah tiba di titik kumpul, siswa harus tetap bersama kelas, mengikuti pendataan, dan tidak pulang sendiri. Penyerahan kepada keluarga perlu dilakukan melalui prosedur yang jelas.

Kekacauan dapat terjadi setelah evakuasi apabila sekolah tidak mengetahui apakah seorang anak hilang, sudah dijemput, atau meninggalkan lokasi tanpa izin.

Simulasi Bukan Lomba Berlari

Keberhasilan simulasi bencana tidak diukur dari seberapa cepat semua siswa berlari keluar.

Latihan dinilai berhasil apabila siswa memilih tindakan yang benar, tidak berdesakan, menggunakan jalur yang aman, membantu tanpa membahayakan diri, dan seluruh siswa dapat dipastikan keberadaannya.

Sekolah juga perlu menguji kondisi yang tidak ideal, misalnya listrik mati, alarm tidak berfungsi, jalur utama terhalang, guru tidak berada di kelas, atau bencana terjadi ketika siswa sedang beristirahat.

Setelah simulasi, hasilnya harus dievaluasi. Jika masih ada siswa yang bingung, jalur terlalu sempit, titik kumpul berbahaya, atau pendataan berlangsung lama, sekolah harus memperbaikinya.

Titik Buta Kesiapan Sekolah Tasikmalaya

Penelusuran terhadap RKPD Kabupaten Tasikmalaya 2026 belum menemukan data khusus mengenai jumlah sekolah yang telah menerapkan SPAB.

Belum terlihat pula keterangan terbuka mengenai jumlah sekolah yang telah memiliki peta risiko, hasil pemeriksaan ketahanan bangunan, jalur evakuasi alternatif, simulasi berkala, serta prosedur penyelamatan siswa penyandang disabilitas.

Data sekolah yang telah ditumpangtindihkan dengan peta bahaya gempa, longsor, tsunami, banjir, dan erupsi juga perlu dibuka.

Ketiadaan informasi dalam satu dokumen tentu tidak otomatis berarti program tersebut tidak berjalan. Namun, data itu penting untuk menjawab pertanyaan mendasar: berapa banyak siswa yang sudah benar-benar siap?

Sekolah Aman Diuji Sebelum Bencana Datang

Sebuah sekolah layak disebut aman apabila mempunyai kajian risiko, bangunan yang diperiksa, alarm yang dipahami semua warga sekolah, dua jalur evakuasi, titik kumpul aman, daftar siswa terbaru, perlengkapan darurat, serta prosedur penyerahan anak kepada keluarga.

Sekolah juga harus mempunyai rencana pembelajaran alternatif apabila bangunannya rusak atau digunakan sebagai tempat pengungsian.

Sebab keselamatan siswa tidak boleh bergantung pada keberuntungan. Ketika bencana datang, waktu untuk berpikir sangat pendek.

Pada saat itulah kualitas sekolah aman bencana Tasikmalaya terlihat: bukan dari banyaknya spanduk, melainkan dari apakah setiap siswa tahu apa yang harus dilakukan dalam detik-detik pertama. (NS/AS)

JEJAK HEROIK JABAR

Membuka Jejak Pejuang Tionghoa di Cirebon

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ada satu kalimat pendek dalam arsip...

Taktik Buaya Mangap Pejuang Cirebon Bikin Belanda Kocar-kacir

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jembatan-jembatan menuju Bantarjati tampak seperti sedang...

Selama 5 Bulan, Markas Belanda Digempur Pejuang Cikatomas

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ketika malam turun di wilayah selatan...

Pesantren Langkaplancar yang Berubah Menjadi Markas Laskar

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jauh dari pantai yang kini menjadi...

Dari Perlindungan 1947 hingga Harmony Award 2025

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Bensin telah diletakkan di dekat rumah-rumah warga...

PRIANGAN TIMUR

Musabaqah Hari Santri 2026 Kota Tasikmalaya Jadi Ajang Pengembangan Kemampuan Santri

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Pemerintah Kota Tasikmalaya menggelar Musabaqah Hari...

Santri Fest 2026 Kabupaten Tasikmalaya Berlanjut hingga 25 Oktober, Libatkan Ribuan Santri

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Rangkaian Santri Fest 2026 Kabupaten Tasikmalaya...

Job Fair Tasikmalaya 2026 Buka 5.500 Lowongan Kerja, Ini Jadwal dan Cara Daftarnya

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Pemerintah Kota Tasikmalaya menyiapkan 5.500 lowongan...

Milangkala Pangandaran Meriah, UMKM Untung Berapa? Saatnya Uji Dampak Ekonomi

lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Pangandaran Icon Carnival 2026 menyedot perhatian...

Bupati Herdiat Pimpin Apel Resolusi Jihad NU Ciamis, Kobarkan Semangat Santri untuk Negeri

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Bupati Herdiat Sunarya memimpin Apel...

JAWA BARAT

Motor Trail di Lahan Kosong Bekasi Bikin Heboh, Siapa Pemilik Sebenarnya?

lintaspriangan.com, BERITA BEKASI. Deretan sepeda motor trail yang terparkir...

103 Siswa SMPN 2 Cisarua Diduga Keracunan, Orang Tua Menanti Kepastian Penyebabnya

lintaspriangan.com, BERITA BOGOR. Kekhawatiran menyelimuti keluarga siswa SMP Negeri...

BPKH Bahas Dana Haji di Bandung, Kelolaan Capai Rp185,72 Triliun

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) membahas...

Angkot Bandung Diusulkan Tanpa Setoran, Sopir Didorong Jadi Pemilik Kendaraan Sendiri

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengusulkan...

Wakil Bupati Indramayu Ditahan, Terungkap Dugaan Rekayasa Tunjangan DPRD Rp18,79 Miliar

lintaspriangan.com, BERITA INDRAMAYU. BANDUNG – Wakil Bupati Indramayu ditahan...

Pinjaman Pemprov Jabar Tak Direstui Kemendagri, Pemborong Pekerjaan 2026 Siap-Siap Gigit Jari

lintaspriangan.com, BERITA JABAR. Rencana pinjaman Pemprov Jabar sebesar Rp3,4...

Insentif Rp100 Ribu Sebulan, Ribuan Guru PAUD Indramayu Menanti

lintaspriangan.com, BERITA INDRAMAYU. Ribuan guru Pendidikan Anak Usia Dini...

Penyerangan Truk Dalmas di Bandung, Polisi Buru Pelaku di Simpang Dago

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Penyerangan truk Dalmas di Bandung terjadi...

Olahraga

Kategori Populer