Pekerja Lapangan Padel Tasikmalaya: “Hayang Gawe Meni Hese”

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Kalimat itu meluncur pelan dari mulut Samsu, lelaki 58 tahun yang kulitnya telah lama bersahabat dengan panas matahari. Tidak ada nada marah. Yang terdengar justru kelelahan—kelelahan batin. Bagi Samsu, bekerja bukan soal gengsi. Ia tak mempermasalahkan disebut tenaga kasar. Yang ia persoalkan hanya satu: mengapa untuk sekadar bekerja saja, rasanya harus melewati begitu banyak rintangan.

Samsu adalah warga Kampung Pamijahan, RT 03 RW 07, Kelurahan Sukamulya, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya. Sehari-hari ia hidup seperti kebanyakan warga lain di kampung itu: sederhana, mengandalkan tenaga, dan berharap ada pekerjaan yang bisa memberinya nafkah halal. Ketika pembangunan lapangan padel mulai dikerjakan tak jauh dari rumahnya, Samsu merasa bahagia. Bukan karena proyeknya mewah, tapi karena ia bisa ikut bekerja. Di usia yang tak lagi muda, kesempatan kerja bukan barang mudah.

“Abdi mah teu milih-milih, asal bisa gawe,” ujarnya lirih, saat ditemui Lintas Priangan, Jumat (19/12/2025). Ia tahu betul, tenaga kasar bukan profesi yang diperebutkan. Tapi justru di situlah letak kebahagiaannya: masih dibutuhkan.

Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Proyek pembangunan lapangan padel yang tengah berjalan mendadak dihentikan pemerintah. Alat berat berhenti, pekerja pulang lebih cepat, dan Samsu kembali ke rumah dengan tangan kosong—lebih kosong dari biasanya. Bagi orang seperti Samsu, proyek bukan sekadar bangunan. Ia adalah dapur yang mengepul, beras yang terbeli, dan kopi pagi yang masih bisa diseruput tanpa rasa bersalah.

Alasan yang Tak Dipahami

Samsu mengaku kebingungan dengan alasan-alasan penghentian proyek tersebut. Ia tidak sekolah tinggi, tapi ia merasa logika sederhana yang ia miliki cukup untuk bertanya-tanya. Alasan pertama yang ia dengar, pembangunan itu disebut menutup aliran air atau selokan. Klaim itu membuatnya heran. Sebagai warga yang tinggal puluhan tahun di sana, Samsu adalah saksi hidup bahwa saluran air yang dimaksud sudah lama tak berfungsi.

“Selokan itu sudah mati sejak 2007, sejak bagian hulunya ditimbun karena bangunan Gudang Panjunan,” katanya. Baginya, alasan itu terasa mengada-ada. Jika memang ada persoalan lingkungan, mengapa baru sekarang dipersoalkan, setelah bangunan berdiri dan orang-orang kecil menggantungkan hidup di sana?

Alasan kedua yang membuatnya semakin bingung adalah soal batas wilayah kecamatan. Bangunan itu disebut berada di perbatasan dua kecamatan. Samsu hanya bisa menggeleng. Dalam benaknya, Indonesia bukan negara baru kemarin sore. Batas wilayah tentu bukan hal asing bagi pemerintah. “Boa ieu kasus kahiji di nagara ieu?” ujarnya, setengah bertanya, selebihnya heran.

Yang lebih membuatnya merasa aneh, kritik dan penolakan justru datang dari pihak luar. Bukan dari warga sekitar. Padahal, masyarakat di Kampung Pamijahan justru mendukung pembangunan tersebut. Tidak ada penolakan, tidak ada gejolak. Yang ada hanya harapan: semoga proyek ini membawa manfaat, setidaknya lapangan pekerjaan.

Alasan berikutnya yang tak bisa diterima oleh logika Samsu adalah soal campur tangan berlebihan. Ia mendengar bahwa pembangunan lapangan padel itu merupakan aset pribadi, bukan aset pemerintah. Jika demikian, ia bertanya-tanya, mengapa begitu banyak pihak ingin ikut mengatur, bahkan menghentikan.

Ketika Kerja Menjadi Kemewahan

Bagi Samsu, semua perdebatan itu terasa jauh dari realitas hidupnya. Ia tidak bicara soal tata ruang, regulasi, atau administrasi pemerintahan. Yang ia pahami hanya satu hal: ia butuh bekerja untuk makan. Baginya, bekerja dengan tenang adalah hak paling dasar, bukan kemewahan.

Ia merasakan ironi. Ketika pemerintah tak mampu menyediakan lapangan kerja yang cukup, rakyat kecil diminta sabar. Tapi ketika ada pekerjaan, meski dari proyek swasta, justru dipersulit dengan berbagai alasan. “Peupeuriheun teu mere gawe, atuh ulah matak jadi hese,” ucapnya.

Samsu tidak sedang melawan negara. Ia tidak sedang memusuhi pemerintah. Ia hanya menyuarakan kegelisahan yang mungkin juga dirasakan banyak orang kecil di kota ini. Betapa rapuhnya nasib mereka di hadapan kebijakan yang tak berpihak pada perut kosong.

“Rakyat leutik butuh gawe, butuh jang dahar sapopoe, moal siga pejabat di dinas PU,” katanya pelan. Kalimat itu sederhana, tapi menghantam. Di balik hiruk-pikuk polemik pembangunan, ada wajah-wajah seperti Samsu—yang tak tercatat dalam dokumen resmi, tak disebut dalam rapat, tapi paling dulu merasakan dampaknya.

“Hayang gawe meni hese!” ulangnya. Kalimat itu bukan sekadar keluhan. Ia adalah cermin, yang barangkali perlu dihadapkan lebih lama ke wajah Pemerintah Kota Tasikmalaya. (DH)

JEJAK HEROIK JABAR

Membuka Jejak Pejuang Tionghoa di Cirebon

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ada satu kalimat pendek dalam arsip...

Taktik Buaya Mangap Pejuang Cirebon Bikin Belanda Kocar-kacir

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jembatan-jembatan menuju Bantarjati tampak seperti sedang...

Selama 5 Bulan, Markas Belanda Digempur Pejuang Cikatomas

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ketika malam turun di wilayah selatan...

Pesantren Langkaplancar yang Berubah Menjadi Markas Laskar

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jauh dari pantai yang kini menjadi...

Dari Perlindungan 1947 hingga Harmony Award 2025

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Bensin telah diletakkan di dekat rumah-rumah warga...

PRIANGAN TIMUR

Festival Literasi Ciamis 2026 Masuki Hari Kedua, Berlangsung hingga 24 September

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Festival Literasi Ciamis 2026 memasuki hari kedua...

Pemerintah Digital Ciamis 2026 Diukur lewat 35 Indikator

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Pemerintah Digital Ciamis memasuki skema evaluasi baru...

AKP Rd. Hasan Sadikin Jabat Kapolsek Cikajang, Patri Arsono Pindah ke Wanaraja

lintaspriangan.com, BERITA GARUT. AKP Rd. Hasan Sadikin kini menjabat Kapolsek...

Kota Banjar Masuk 58 Daerah yang Replikasi SISGITA Tangsel

lintaspriangan.com, BERITA BANJAR. SISGITA Kota Banjar akan dikembangkan melalui...

Pemeriksaan TBC Tasikmalaya Disiapkan Pakai Usap Tenggorokan Mulai 2027

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Pemeriksaan TBC Tasikmalaya direncanakan menggunakan metode yang...

JAWA BARAT

Hibar Budaya Saung Kopi Hawwu Dimulai Hari Ini, Berlangsung Lima Hari di Kuningan

lintaspriangan.com, BERITA KUNINGAN. Hibar Budaya Saung Kopi Hawwu mulai digelar...

Nikah Massal Kota Bandung Hari Ini, 10 Pasangan Dijadwalkan Akad di MPP

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Sebanyak 10 pasangan dijadwalkan mengikuti nikah...

Job Fair Online Depok Digelar Hari Ini, Sekitar 15 Perusahaan Ikut

lintaspriangan.com, BERITA JAWA BARAT. Job fair online Depok digelar...

5 Peristiwa Jawa Barat: King Kobra, Temuan Kerangka di Kuningan hingga Duka Sepak Bola

lintaspriangan.com, BERITA JAWA BARAT. Sejumlah peristiwa Jawa Barat terjadi...

Demplot Ubi Jalar Kuningan Naikkan Panen dari 3,5 Ton Jadi 6,3 Ton per 100 Bata

lintaspriangan.com, BERITA KUNINGAN. Penerapan demplot ubi jalar di Desa Linggamekar,...

Lulusan SMK Jabar Didorong Terhubung Langsung ke Perusahaan

lintaspriangan.com, BERITA JAWA BARAT. Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendorong...

Sumur Bor Majalengka Layani 3.599 Warga di Empat Desa Saat Kemarau

lintaspriangan.com, BERITA MAJALENGKA. Empat sumur bor Majalengka kini melayani...

Kebakaran Lahan Purwakarta, Api di Sindangpanon Dipadamkan Polisi dan Warga

lintaspriangan.com, BERITA PURWAKARTA. Kebakaran lahan Purwakarta terjadi di kawasan Kampung...

Olahraga

Popular Categories