lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Menjelang Musyawarah Cabang (Muscab) PPP Kota Tasikmalaya yang dijadwalkan berlangsung pada 18 April 2026, dinamika internal partai kian terasa. Percakapan menghangat, manuver mulai terbaca, dan arah dukungan perlahan mengerucut.
Setidaknya, terdapat empat nama yang mencuat dalam bursa calon Ketua DPC PPP Kota Tasikmalaya periode 2026–2031, yakni Hilman Wiranata, Riko Restu Wijaya, Tedi Gunandi, dan Enjang Bilawini. Masing-masing disebut memiliki basis dukungan dari kantong wilayah atau PAC yang berbeda, menjadikan kontestasi semakin dinamis.
Dalam struktur Muscab, suara PAC menjadi faktor penentu melalui mekanisme formatur, yang nantinya akan menentukan arah kepemimpinan partai lima tahun ke depan. Kondisi ini membuat setiap pergerakan dukungan memiliki arti penting dalam peta persaingan.
Namun di tengah dinamika tersebut, muncul pula polemik terkait pergantian kepengurusan di dua PAC, yakni Indihiang dan Cipedes, berdasarkan keputusan DPW PPP Jawa Barat pada Maret 2026. Pergantian ini memunculkan respons beragam dari internal kader dan menambah lapisan dinamika menjelang Muscab.
Di tengah riak yang menguat itu, suara yang tenang justru datang dari sosok senior partai, Otong Koswara.
Sebagai Sekretaris Majelis Pertimbangan PPP Kota Tasikmalaya, ia tidak berbicara tentang siapa yang harus menang. Ia memilih mengingatkan sesuatu yang lebih mendasar—tentang bagaimana proses itu dijalani.
“Dalam setiap dinamika, kita harus tetap menjaga cara. Karena cara itulah yang akan menentukan apakah kita sedang membangun, atau justru perlahan meruntuhkan,” ujarnya.
Bagi Otong, perbedaan pilihan bukanlah ancaman. Yang perlu dijaga adalah bagaimana perbedaan itu tetap berada dalam bingkai saling menghormati.
“Jangan sampai semangat berkompetisi membuat kita kehilangan jati diri. Kita ini dibangun dari nilai-nilai kebaikan, bukan sekadar kepentingan sesaat,” katanya.
Ia mengingatkan, sebagai organisasi yang lahir dari nilai-nilai keagamaan, PPP memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan wajah politik yang sejuk, santun, dan menjunjung tinggi kebersamaan.
“Politik boleh dinamis, tapi adab tidak boleh ditinggalkan. Di situlah letak kehormatan kita,” ucap mantan Ketua DPRD Kota Tasikmalaya tersebut.
Menurutnya, Muscab bukan sekadar agenda memilih pemimpin, melainkan juga cermin kedewasaan kader dalam menyikapi perbedaan.
“Kalau prosesnya baik, hasilnya insyaAllah membawa kebaikan. Tapi kalau prosesnya meninggalkan luka, itu akan kita rasakan jauh setelah Muscab selesai,” ujarnya.
Ia pun mengajak seluruh kader untuk menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi atau kelompok, serta mengedepankan musyawarah dalam setiap penyelesaian persoalan.
“Perbedaan itu pasti, tapi persaudaraan harus tetap dijaga. Jangan sampai kita memenangkan proses, tapi kehilangan satu sama lain,” tuturnya.
Di akhir, Otong menyampaikan harapan agar Muscab PPP Kota Tasikmalaya tidak hanya menghasilkan pemimpin baru, tetapi juga memperkuat rasa saling memiliki di antara seluruh kader.
“Jabatan itu sementara. Tapi persatuan, kalau kita jaga, akan menjadi kekuatan yang tidak tergantikan,” pungkasnya. (AS)
