lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Final Indonesia Derby 2026 akan berlangsung di Gelanggang Pacuan Kuda Legok Jawa, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Minggu, 26 Juli 2026. Sebanyak 154 kuda dari 13 daerah dijadwalkan bertanding dalam 18 kelas dengan total hadiah mencapai Rp1 miliar.
Penyelenggaraan Kejurnas Pacuan Kuda Seri I Pordasi ke-60 itu sekaligus membawa Pangandaran ke panggung olahraga nasional. Gelanggang Legok Jawa disebut penyelenggara sebagai satu-satunya lintasan pacuan kuda di Indonesia yang berada di kawasan tepi pantai.
Kelas Derby Perebutkan Rp250 Juta
Pertandingan paling bergengsi tersaji pada Race XIV, yakni Kelas 3 Tahun Derby yang menempuh jarak 2.000 meter. Berdasarkan jadwal pertandingan, kelas penentu gelar Indonesia Derby 2026 itu akan dimulai sekitar pukul 13.50 WIB dengan hadiah Rp250 juta.
Sebanyak 12 kuda masuk daftar peserta utama. Mereka adalah Zilong Rimboka, Monochrome, Suntora Berjaya, Sun Power Nagari, Aurora of Khalim, King Asva, P. Putra Borneo, Emmera Sakti PM, Nara Eclipse, P. Putri Barbara, Fox Ranger, dan Melasti.
Jawa Barat mengandalkan Aurora of Khalim, King Asva, dan Fox Ranger. Mereka harus menghadapi kekuatan Sulawesi Utara yang menurunkan lima kuda, yakni Zilong Rimboka, Monochrome, Sun Power Nagari, Nara Eclipse, dan Melasti.
Jakarta diperkuat Suntora Berjaya, Kalimantan Selatan mengirimkan P. Putra Borneo serta P. Putri Barbara, sedangkan Jawa Timur mengandalkan Emmera Sakti PM.
Selain kelas utama tersebut, penonton akan disuguhi pertandingan Kelas Remaja 1.600 meter dengan hadiah Rp125 juta. Ada pula Kelas Pemula A/B sejauh 1.400 meter berhadiah Rp100 juta dan Kelas 4 Tahun A/B sejauh 2.000 meter.
Pertandingan pertama dijadwalkan dimulai pukul 08.30 WIB. Rangkaian 18 race diperkirakan berakhir setelah Race XVIII yang dimulai sekitar pukul 15.45 WIB. Jadwal lengkap Indonesia Derby 2026 telah disusun berdasarkan hasil drawing peserta.
Menentukan Poin Menuju Piala Presiden
Dari 18 kelas yang dipertandingkan, delapan di antaranya berstatus kelas utama Kejurnas Seri I. Kuda yang menempati podium pada delapan kelas tersebut akan menyumbangkan poin untuk daerahnya masing-masing.
Perolehan poin kemudian diakumulasikan dengan hasil Kejurnas Seri II yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026. Daerah dengan poin tertinggi akan menjadi juara umum dan meraih Piala Presiden Republik Indonesia.
Ketua Umum PP Pordasi Aryo PS Djojohadikusumo menyebut Indonesia Derby sebagai salah satu kejuaraan pacuan kuda terbesar dalam kalender organisasi.
“Kami berharap Indonesia Derby 2026 tidak hanya melahirkan prestasi baru, tetapi juga menjadi tolok ukur peningkatan kualitas pacuan kuda nasional serta memperkuat semangat persaingan yang sehat menuju penentuan Juara Umum Piala Presiden Republik Indonesia,” kata Aryo, dikutip dari keterangan penyelenggara yang dipublikasikan RRI.
Kuda-kuda peserta berasal dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Selatan.
Pangandaran Membawa Pacuan Kuda ke Tepi Samudra
CEO SARGA.CO Nugdha Achadie mengatakan karakter Gelanggang Legok Jawa memberikan pengalaman berbeda karena penonton dapat menyaksikan pertandingan dengan latar Samudra Hindia.
“Kami ingin memberikan pengalaman yang berbeda bagi para penonton. Di Indonesia Derby tahun ini, penonton dapat merasakan adrenalin menyaksikan pacuan kuda sambil menikmati keindahan lautan Pangandaran,” ujarnya.
Penyelenggara mengemas final tahun ini dengan konsep Summer Race, menggabungkan kompetisi olahraga, hiburan, dan panorama pesisir Pangandaran. Empat personel Podkesmas—Surya Insomnia, Ananda Omesh, Imam Darto, dan Angga Nggok—dijadwalkan ikut memeriahkan acara.
Masyarakat dapat menyaksikan pertandingan secara gratis dari area reguler. Penyelenggara juga menyediakan area tribun berbayar mulai Rp65 ribu dan area Hill View dengan fasilitas tambahan.
Bagi Pangandaran, kepercayaan menjadi tuan rumah Indonesia Derby 2026 tidak hanya berkaitan dengan prestasi olahraga. Kehadiran peserta, ofisial, dan penonton dari berbagai provinsi berpotensi menggerakkan penginapan, kuliner, transportasi lokal, serta UMKM di kawasan Cimerak dan sekitarnya. (NS/AS)
