lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Lahan kering yang selama ini kurang produktif berhasil dimanfaatkan Septyan Mulyana, petani muda asal Desa Handapherang, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, menjadi kebun semangka dengan potensi panen mencapai 3 ton.
Bersama keluarganya, Septyan membudidayakan sekitar 1.200 tanaman semangka di lahan seluas 110 bata. Setelah menjalani perawatan selama kurang lebih 60 hari, tanaman tersebut kini memasuki masa panen pada Sabtu (24/10/2026).
Upaya itu berawal dari keberanian mencoba dan kemauan belajar secara mandiri. Di tengah keterbatasan air dan kondisi lahan, Septyan melihat peluang usaha yang dapat dikembangkan dari sumber daya yang tersedia di lingkungannya.
Keberhasilan tersebut sekaligus membuka peluang pemanfaatan lahan yang belum optimal untuk kegiatan pertanian bernilai ekonomi.
Petani Muda Ciamis Modal Rp8 Juta
Septyan mengungkapkan, ide menanam semangka berawal dari saran seorang teman. Ia kemudian mempelajari teknik budidaya dan mulai mencoba mengembangkannya bersama keluarga.
“Awalnya saya mendapat saran dari teman untuk mencoba menanam semangka. Dari situ saya mulai belajar dan mencoba membudidayakannya bersama keluarga. Alhamdulillah, setelah sekitar 60 hari, tanaman yang kami rawat mulai menghasilkan dan sekarang sudah memasuki masa panen,” ungkap Septyan.
Untuk memulai usaha tersebut, ia mengeluarkan modal sekitar Rp8 juta. Dari sekitar 1.200 tanaman yang dikembangkan, hasil panen diperkirakan mencapai 3 ton.
Dengan perkiraan harga jual Rp8.000 hingga Rp10.000 per kilogram, nilai penjualan kotor berpotensi berada di kisaran Rp24 juta hingga Rp30 juta apabila seluruh hasil panen terjual pada rentang harga tersebut.
Namun, angka itu masih berupa perkiraan omzet, bukan keuntungan bersih. Perhitungan keuntungan perlu memperhitungkan biaya benih, pupuk, perawatan, tenaga kerja, pengairan, distribusi, serta kemungkinan hasil panen yang tidak terjual.
Septyan berharap pengalaman pertamanya tersebut bisa menjadi pijakan untuk memperluas budidaya semangka pada musim tanam berikutnya. Rencana itu masih bergantung pada ketersediaan lahan dan peluang dukungan usaha.
Pemerintah Desa Dorong Pertanian Lebih Produktif
Kepala Desa Handapherang, Tantan Sontani, S.H., mengapresiasi langkah Septyan yang dinilai menunjukkan potensi generasi muda dalam mengembangkan sektor pertanian di pedesaan.
“Atas nama pribadi dan Pemerintah Desa Handapherang, saya memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada Saudara Septyan atas keberhasilannya dalam panen raya semangka ini. Mudah-mudahan langkah ini menjadi inspirasi bagi pemuda lainnya untuk berani berusaha dan memanfaatkan potensi lahan yang ada,” ujar Tantan.
Menurutnya, keberhasilan tersebut dapat menjadi awal pengembangan pertanian lokal yang lebih produktif. Pemerintah desa juga membuka peluang kolaborasi dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk mendukung usaha pertanian masyarakat.
Tantan berharap pemanfaatan lahan secara optimal dapat membuka kesempatan usaha baru sekaligus meningkatkan pendapatan warga.
Kebun Semangka Berpeluang Jadi Wisata Petik Buah
Dukungan juga disampaikan Ketua RW 06, Taufan Nugraha. Ia menilai keberhasilan Septyan bisa menjadi contoh bagi pemuda lain untuk mulai melirik sektor pertanian sebagai peluang usaha.
Menurut Taufan, kemauan belajar secara otodidak menjadi salah satu hal penting yang patut dicontoh. Ia berharap pengalaman Septyan dapat dibagikan kepada petani muda lainnya agar pemanfaatan lahan kering bisa dikembangkan lebih luas.
Taufan juga berencana menjalin komunikasi dengan pemerintah desa, penyuluh pertanian lapangan (PPL), dan kelompok tani untuk menjajaki pengembangan lahan yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
Selain produksi buah, ia melihat peluang pengembangan kebun semangka sebagai destinasi wisata petik buah, khususnya di lingkungan Lembur Pasir. Jika direalisasikan dengan perencanaan yang matang, konsep tersebut berpotensi menghubungkan sektor pertanian dengan kegiatan wisata dan usaha warga.
Untuk mendukung rencana itu, penjajakan permodalan dapat dilakukan melalui BUMDes maupun lembaga keuangan, termasuk Perumda Bank Galuh.
Meski demikian, pengembangan usaha tetap memerlukan perhitungan biaya, kepastian pasar, ketersediaan air, serta pendampingan teknis agar kegiatan budidaya dapat berjalan secara berkelanjutan.
Kisah Septyan menunjukkan bahwa lahan yang kurang produktif masih menyimpan peluang ekonomi ketika dikelola dengan kemauan belajar dan perencanaan yang tepat. Bagi Desa Handapherang, budidaya semangka ini berpotensi menjadi langkah awal untuk memperluas usaha pertanian sekaligus membuka kesempatan ekonomi baru bagi masyarakat.
(HS)
