Viman-Dicky, antara Rapor Merah dan Komunikasi Publik yang Gagap

lintaspriangan.com, OPINI. Tasikmalaya, 22 Mei 2025 — Aksi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kota Tasikmalaya yang memberi “raport merah” pada 100 hari kerja Viman-Dicky Selasa kemarin, (32/05/2025), lumayan menarik perhatian warga Kota Tasikmalaya. Meski diguyur hujan, suara mereka tetap terdengar lantang. Spanduk dan orasi yang menyuarakan kekecewaan itu harusnya cukup jadi tamparan keras bagi duet pemimpin yang tengah menjabat.

Namun, apa betul prestasi mereka sepenuhnya bernilai merah? Coba kita lihat fakta-fakta di bawah ini:

Pertama, pembangunan jaringan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang merata di semua kecamatan di Kota Tasikmalaya ini mulai berjalan. Proyek dengan total nilai miliaran rupiah ini sebenarnya bisa dikemas jadi produk 100 Hari Kerja Viman-Dicky. Ini proyek investasi jangka panjang yang akan dirasakan manfaatnya secara nyata oleh masyarakat. Bayangkan, air bersih mengalir lancar ke rumah-rumah warga, sebuah keniscayaan yang selama ini kerap jadi masalah klasik di Kota Tasik.

Selain itu, sejumlah proyek infrastruktur lain sebenarnya juga berjalan, seperti rehabilitasi jalan dan drainase di titik-titik strategis—Masjid Agung, Hz Mustofa, dan Pasar Cikurubuk. Sayangnya ini juga tidak dikemas baik, akhirnya tak melahirkan dampak cantik.

Tak hanya fisik, beberapa kegiatan non-infrastruktur juga sebetulnya patut disorot. Gerakan minum susu di sekolah dasar. Ini digawangi Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan, menyasar generasi muda agar tumbuh sehat dan cerdas. Lalu Program PKK Go To School yang dikomandoi Ibu Wali Kota, juga menambah warna kegiatan sosial yang berdampak langsung ke lapisan masyarakat bawah. Sayangnya, beberapa kali Lintas Priangan ingin mengekspos pun, selalu “ngabuntut bangkong”, alias tak ada respon yang jelas.

Pelatihan-pelatihan dari Disporabudpar dan Bakesbangpol, meski anggarannya bersumber dari pokir, jika dikemas serius, sebetulnya bisa jadi produk 100 Hari Kerja. Pelatihan seperti menyetir dan las, benar-benar turut memperkuat kapasitas sumber daya manusia daerah. Apalagi jika dilaksanakan secara profesiional dan bertanggung-jawab.

Lalu yang paling “fenomenal” tentu tentang keputusan mengalihkan anggaran mobil dinas untuk membeli 85 kontainer sampah. Bayangkan, sebuah langkah sederhana yang harusnya jadi klimaks 100 Hari Kerja mereka, harus gagal gara-gara dirigen belanja yang tak handal, lengkap dengan komunikasi publik dan klarifikasi yang buruk. Padahal yang satu ini benar-benar bisa diandalkan. Bukan sekedar seremonial, tapi akan jadi solusi untuk salah satu masalah paling memuakkan di kota ini: Sampah!

Kalau mau jujur, dan semua fakta di atas kita timbang, sepertinya raport Viman-Dicky belum tentu harus merah. Namun, nasi sudah menjadi bubur, hari ini rapor mereka tetap merah.

Apa penyebabnya? Kemungkinan karena beberapa faktor di bawah ini:

  1. Chemistry yang belum terbangun antara Wali Kota dan Wakil Wali Kota dengan jajaran komandan ASN (Eselon II), para kepala dinas dan kepala badan. Bukan mustahil Viman-Dicky sengaja membiarkan ini karena merasa di kontestasi pilkada kemarin, mereka merasa tak didukung jejaring ASN. Tapi dampaknya, malah jadi seperti orkestra tanpa konduktor yang sinkron. Alhasil, alih-alih mencipta harmoni yang indah, yang sering terdengar justru nada-nada kritik dan kebingungan.
  2. Peran Sekda sebagai panglima dan jembatan komunikasi sepertinya tidak berfungsi optimal. Padahal, posisinya sangat vital untuk mengharmonisasi visi, misi dan aksi, antara pucuk eksekutif dan jajaran birokrasi.
  3. Viman-Dicky masih terkesan membatasi komunikasi, hanya pada pihak terbatas, termasuk media. Mungkin mereka merasa cukup dengan akun TikTok milik orang dekat dan mantan tim sukses, padahal publik butuh lebih dari itu.
  4. Para komandan PNS juga berhati-hati, takut dicap cari muka kalau proaktif, tapi diam juga malah membuat semua gerah. Kombinasi kebimbangan ini membuat mesin pemerintahan tersendat-sendat, tidak lincah merespon dinamika yang terjadi.

Jadi, inti persoalan kembali ke Viman-Dicky sendiri. Terobosan besar yang sebenarnya dibutuhkan bukan hanya soal gebrakan pembangunan fisik atau nonfisik—tapi bagaimana mereka mengelola komunikasi publik yang handal.

Jangan malah terlihat gagap saat jadi pemimpin. Banyak sebetulnya yang bisa dikemas dan jadi konsumsi positif untuk publik. Tapi dengan catatan, harus lebih terbuka pada banyak pihak. Karena mengandalkan lingkaran pribadi saja ternyata berujung pada hasil yang tak memuaskan. Ketika komunikasi publiknya naik kelas, chemistry dengan birokrasi dan media pasti terjalin. Komunikasi publik yang optimal akan menembus kabut gagap dan membalikkan rapor merah menjadi hijau gemilang.

Abu Ayyub | Redaktur Lintas Priangan

Berita lainnya:

Dari Freeport ke Karangjaya: Negara Sibuk Melarang, Rakyat Sibuk Bertahan

lintaspriangan.com, OPINI. Di negeri yang sering kita banggakan sebagai “kaya raya”, ada satu pemandangan yang berulang, seperti adegan lama yang tak...

Jadilah Aisyah, Meski Suamimu Bukan Muhammad

lintaspriangan.com, OPINI. Di banyak pengajian, kita cukup sering mendengar penceramah memaparkan topik sebagaimana di bawah ini:“Bapak-bapak ingin istrinya seperti Aisyah?Maka...

Fenomena Periodisasi Kepala Sekolah di Kota Tasikmalaya

lintaspriangan.com, OPINI. Periodisasi kepala sekolah di Kota Tasikmalaya bukanlah hal baru. Kebijakan ini telah dilaksanakan sejak terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan...

Terbaru

PTUN Bandung Tolak Gugatan Mantan Kades di Ciamis

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung...

Jawa Barat Fokus Konektivitas 2027, Ciamis Siap Ambil Peran

lintaspriangan.com. BERITA BANDUNG. Fokus pembangunan Jawa Barat tahun 2027...

Ciamis Terapkan Kerja Fleksibel ASN, Minimal 50 Persen WFH

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Pemerintah Kabupaten Ciamis resmi menerapkan kebijakan...

Mahasiswa Unsil Edukasi Warga Sindangkasih Ciamis

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Sampah rumah tangga yang selama ini...

CFD ASN Tasikmalaya Diuji Coba, Dorong Perubahan Budaya Kerja

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Pemandangan tak biasa terlihat di pusat...

Strategi Tasikmalaya Dorong 7.000 Wirausaha Baru dari Desa

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Bayangkan memulai usaha tanpa harus pusing...

Otong Koswara: Muscab PPP Kota Tasikmalaya, Jangan Korbankan Persatuan!

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Menjelang Musyawarah Cabang (Muscab) PPP Kota Tasikmalaya...

Perekaman e-KTP, Disdukcapil Ciamis Datangi Warga Sakit

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Pelayanan publik tak boleh berhenti hanya...

Ngopi Jadi Gaya Hidup, Kopi Ciamis Bersiap Naik Kelas

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Budaya ngopi kini bukan lagi sekadar...

PDIP Ciamis Konsolidasi Hingga Akar Rumput

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Mesin politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan...

Priangan Timur

PTUN Bandung Tolak Gugatan Mantan Kades di Ciamis

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung...

Jawa Barat Fokus Konektivitas 2027, Ciamis Siap Ambil Peran

lintaspriangan.com. BERITA BANDUNG. Fokus pembangunan Jawa Barat tahun 2027...

Ciamis Terapkan Kerja Fleksibel ASN, Minimal 50 Persen WFH

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Pemerintah Kabupaten Ciamis resmi menerapkan kebijakan...

Mahasiswa Unsil Edukasi Warga Sindangkasih Ciamis

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Sampah rumah tangga yang selama ini...

CFD ASN Tasikmalaya Diuji Coba, Dorong Perubahan Budaya Kerja

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Pemandangan tak biasa terlihat di pusat...

Strategi Tasikmalaya Dorong 7.000 Wirausaha Baru dari Desa

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Bayangkan memulai usaha tanpa harus pusing...

Otong Koswara: Muscab PPP Kota Tasikmalaya, Jangan Korbankan Persatuan!

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Menjelang Musyawarah Cabang (Muscab) PPP Kota Tasikmalaya...

Perekaman e-KTP, Disdukcapil Ciamis Datangi Warga Sakit

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Pelayanan publik tak boleh berhenti hanya...

Perspektif

Popular Categories