Beranda blog Halaman 76

Posko Bencana Kabupaten Tasikmalaya di Beberapa Titik Rawan

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Memasuki momentum libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, kewaspadaan terhadap potensi bencana menjadi perhatian serius di wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Curah hujan tinggi, cuaca ekstrem, serta karakter geografis yang rawan longsor dan banjir membuat daerah ini kerap masuk radar peringatan kebencanaan setiap akhir tahun.

Untuk memastikan keselamatan warga dan para pelintas, BPBD Kabupaten Tasikmalaya membuka lima Posko Kolaborasi Siaga Bencana 2025 yang tersebar di titik-titik strategis dan wilayah rawan. Posko ini disiapkan sebagai pusat informasi, koordinasi, sekaligus tempat singgah sementara bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan atau sekadar beristirahat di tengah perjalanan.

Langkah ini sekaligus menjadi bentuk kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam menghadapi lonjakan mobilitas masyarakat selama libur panjang. Bukan hanya warga lokal, Tasikmalaya juga menjadi jalur lintasan penting bagi pemudik dan wisatawan yang menuju wilayah selatan Jawa Barat, termasuk kawasan pesisir.

Lima Posko Siaga di Lokasi Strategis

Sebanyak lima posko didirikan dengan mempertimbangkan aspek kerawanan bencana dan kepadatan arus lalu lintas. Posko utama berlokasi di Mako BPBD Kabupaten Tasikmalaya, yang menjadi pusat kendali dan koordinasi penanganan kebencanaan. Selain itu, posko juga dibuka di kawasan Komplek Perkantoran Singaparna, yang menjadi pusat aktivitas pemerintahan dan lalu lintas warga.

Di wilayah selatan dan jalur pegunungan, posko ditempatkan di Tapal Kuda Salawu, area yang dikenal rawan longsor, serta Teknopark Ciawi yang berada di jalur strategis penghubung antarwilayah. Sementara itu, untuk mengantisipasi potensi bencana di kawasan wisata pesisir, Posko Pantai Sindangkerta disiagakan guna memberikan layanan informasi dan respons cepat bagi wisatawan.

Keberadaan posko-posko ini diharapkan mampu memangkas waktu respons ketika terjadi situasi darurat, sekaligus menjadi titik aman bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan awal.

Fokus Keselamatan Warga dan Pemudik

Lebih dari sekadar posko jaga, keberadaan Posko Bencana Kabupaten Tasikmalaya membawa pesan penting: keselamatan adalah prioritas utama. Masyarakat diimbau memastikan kondisi fisik tetap prima, kendaraan dalam keadaan layak jalan, serta tidak memaksakan perjalanan ketika cuaca memburuk.

Petugas di posko siap memberikan informasi terkini terkait daerah rawan banjir, longsor, dan cuaca ekstrem. Warga juga diarahkan untuk selalu memantau perkembangan informasi dari sumber resmi dan menyimpan nomor darurat sebagai langkah antisipasi. Dalam kondisi tertentu, posko dapat menjadi tempat singgah sementara bagi pelintas yang membutuhkan istirahat atau perlindungan.

Langkah preventif ini selaras dengan peringatan cuaca ekstrem yang kerap muncul di penghujung tahun. Tasikmalaya, dengan kontur perbukitan dan aliran sungai yang cukup banyak, membutuhkan kewaspadaan kolektif, baik dari pemerintah maupun masyarakat.

Bagi warga lokal, keberadaan posko menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan bencana bukan hanya urusan pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Sementara bagi pemudik dan wisatawan, posko ini menjadi penanda bahwa Kabupaten Tasikmalaya tidak hanya ramah dilalui, tetapi juga serius menjaga keselamatan siapa pun yang berada di wilayahnya.

Dengan disiagakannya Posko Bencana Kabupaten Tasikmalaya di lima titik rawan, diharapkan libur Natal dan Tahun Baru dapat berjalan lebih aman, tenang, dan minim risiko. Liburan boleh direncanakan, tetapi kewaspadaan jangan sampai ditinggalkan—karena pulang dengan selamat selalu lebih penting daripada sekadar cepat sampai tujuan. (AS)

Liburan ke Pangandaran, Warga Tasik Pulang Tinggal Nama

lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Liburan yang seharusnya menjadi ruang rehat dan kenangan manis justru berakhir duka bagi sebuah keluarga di Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. Hasim Zafari (20), seorang pemuda asal Singaparna, meninggal dunia setelah tenggelam di kawasan Pasir Putih, Pantai Pangandaran, Kamis pagi, 25 Desember 2025. Ia datang sebagai wisatawan, pulang hanya menyisakan nama.

Peristiwa itu terjadi di sekitar bangkai kapal Viking yang selama ini dikenal sebagai salah satu titik yang kerap didatangi wisatawan. Berdasarkan keterangan kepolisian, Hasim sempat meloncat ke laut dari atas bangkai kapal tersebut. Namun setelah itu, ia tidak kembali muncul ke permukaan. Upaya pencarian dilakukan, hingga akhirnya korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di sekitar buritan kapal.

Bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya, kepergian Hasim bukan sekadar angka dalam statistik kecelakaan laut. Ia adalah anak, pasangan, dan bagian dari keseharian warga Singaparna. Kepergiannya menyisakan duka mendalam, terutama karena peristiwa ini terjadi di tengah momentum libur yang identik dengan kebahagiaan dan kebersamaan.

Detik-Detik Liburan yang Berubah Menjadi Tragedi

Menurut keterangan Kapolres Pangandaran Andri Kurniawan, korban awalnya menaiki perahu wisata menuju kawasan Pasir Putih Pantai Barat Pangandaran. Di lokasi tersebut, Hasim diketahui naik ke atas bangkai kapal Viking. Ia kemudian melompat ke laut dari ketinggian sekitar lima meter.

Sebelum melompat, korban sempat meminta izin untuk berenang. Namun permintaan itu ditolak karena ia tidak mengenakan pelampung. Meski sudah diingatkan, korban tetap bersikeras. Beberapa menit setelah melompat, Hasim tidak terlihat kembali ke permukaan. Situasi yang awalnya tampak seperti aktivitas wisata biasa mendadak berubah menjadi kepanikan.

Pemilik perahu wisata bersama tim snorkeling yang berada di sekitar lokasi segera melakukan pencarian. Penyisiran dilakukan di sekitar bangkai kapal, area yang dikenal memiliki arus laut yang tidak selalu ramah bagi perenang, terlebih tanpa alat keselamatan. Sekitar 15 hingga 20 menit kemudian, korban akhirnya ditemukan. Sayangnya, nyawanya tidak tertolong.

Jenazah Hasim kemudian dievakuasi menggunakan ambulans dan dibawa ke RSUD Pandega Pangandaran untuk penanganan lebih lanjut. Dari pantai yang ramai pengunjung, kabar duka itu pun menyebar cepat, meninggalkan suasana muram di tengah libur akhir tahun.

Peringatan Keselamatan Jangan Diabaikan

Peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya keselamatan wisata, khususnya di kawasan Pantai Pangandaran yang selalu dipadati pengunjung saat musim liburan. Bangkai kapal Viking, meski tampak menarik dan kerap menjadi objek swafoto, sesungguhnya menyimpan risiko besar. Arus laut, kedalaman air, serta struktur kapal yang sudah lapuk bisa menjadi ancaman serius bagi siapa pun yang nekat berenang di sekitarnya.

Menyikapi kejadian tersebut, pihak kepolisian bersama unsur Forkopimda Pangandaran langsung melakukan langkah mitigasi. Salah satunya dengan memasang banner imbauan larangan naik ke atas bangkai kapal Viking serta mengingatkan pelaku usaha perahu wisata agar lebih tegas menolak aktivitas berbahaya. Imbauan ini bukan sekadar formalitas, melainkan upaya agar tragedi serupa tidak kembali terulang.

Bagi warga Singaparna dan Tasikmalaya pada umumnya, kejadian ini terasa dekat. Pangandaran bukanlah destinasi asing. Banyak keluarga dari Tasikmalaya menjadikannya tujuan utama saat libur panjang. Karena itu, peristiwa yang menimpa Hasim seakan menjadi peringatan kolektif bahwa laut, seindah apa pun, tetap menyimpan bahaya jika tidak disikapi dengan kehati-hatian.

Liburan seharusnya menghadirkan cerita bahagia. Namun tragedi ini menunjukkan betapa satu keputusan nekat dapat berujung penyesalan yang tak terpulihkan. Hasim datang ke Pangandaran membawa harapan dan kebahagiaan sederhana. Ia pulang ke Singaparna hanya tinggal nama, meninggalkan duka yang mendalam dan pelajaran pahit tentang pentingnya keselamatan di tengah gemerlap wisata pantai. (AS)

Pelajar Garut Terpapar Neo-Nazi, Bakesbangpol Tasikmalaya Antisipasi

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Kasus pelajar di Garut yang diamankan Densus 88 Anti Teror menjadi alarm serius bagi daerah penyangga di sekitarnya, termasuk Kota dan Kabupaten Tasikmalaya. Peristiwa itu terjadi pada Selasa malam, 23 Desember 2025, ketika tim Densus 88 melakukan penindakan terkait dugaan paparan paham ekstrem Neo-Nazi terhadap seorang pelajar asal Garut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun wartawan, pelajar tersebut dijemput di Bandung, lalu dibawa ke Garut untuk menjalani asesmen. Setelah itu, aparat melakukan penggeledahan rumah yang bersangkutan di wilayah Kecamatan Garut Kota hingga larut malam, sekitar pukul 20.00 WIB sampai 23.30 WIB. Dalam penggeledahan tersebut, petugas mengamankan sejumlah barang bukti yang diduga berkaitan dengan paparan ideologi ekstrem dan potensi kekerasan.

Aparat kepolisian setempat membenarkan adanya pendampingan dalam kegiatan tersebut, sementara penanganan utama berada di bawah kewenangan Densus 88. Peristiwa ini sontak menyita perhatian publik Jawa Barat, terutama daerah yang berbatasan langsung dengan Garut, seperti Kota dan Kabupaten Tasikmalaya.

Bakesbangpol Kota Tasikmalaya Fokus Lindungi Pelajar dan Ruang Pendidikan

Menanggapi kasus pelajar di Garut tersebut, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Tasikmalaya, Drs. Ade Hendar, M.M., menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin bersikap reaktif, melainkan antisipatif dan preventif. Menurutnya, Kota Tasikmalaya sebagai wilayah urban dengan mobilitas tinggi memiliki kerentanan tersendiri terhadap penyebaran paham ekstrem melalui ruang digital.

“Kasus pelajar di Garut menjadi pengingat bahwa radikalisme bisa menyasar siapa saja, termasuk anak-anak usia sekolah. Karena itu, langkah kami adalah memperkuat perlindungan terhadap pelajar dan lingkungan pendidikan,” ujar Ade Hendar saat dihubungi wartawan.

Bakesbangpol Kota Tasikmalaya, kata dia, telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, aparat keamanan, serta unsur kewilayahan untuk melakukan pemetaan potensi kerawanan, terutama di sekolah menengah dan komunitas pemuda. Pendekatan yang diambil bukan dengan cara menakut-nakuti, melainkan melalui edukasi kebangsaan, penguatan nilai Pancasila, dan literasi digital.

“Anak-anak sekarang hidup di dunia yang nyaris tanpa batas. Kalau tidak dibekali filter kebangsaan dan nilai toleransi, mereka bisa terseret paham yang sama sekali tidak cocok dengan jati diri bangsa,” jelasnya.

Ia juga mengimbau para orang tua dan guru di Kota Tasikmalaya agar lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, terutama dalam penggunaan media sosial dan pergaulan daring. “Laporkan jika ada indikasi. Lebih baik kita mencegah sejak awal daripada menyesal di kemudian hari,” tambahnya.

Kabupaten Tasikmalaya Perkuat Peran Desa dan Tokoh Masyarakat

Sementara itu, Kepala Bakesbangpol Kabupaten Tasikmalaya, Drs. Asep Darisman, M.M., menyampaikan bahwa pihaknya menempatkan pencegahan berbasis komunitas sebagai strategi utama. Kabupaten Tasikmalaya yang memiliki wilayah luas dengan karakter pedesaan dan pesantren dinilai membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan wilayah perkotaan.

“Kami melihat kunci pencegahan ada di desa, keluarga, dan tokoh masyarakat. Mereka adalah garda terdepan dalam mendeteksi dan membina jika ada generasi muda yang mulai terpapar paham menyimpang,” kata Asep Darisman.

Bakesbangpol Kabupaten Tasikmalaya telah menginstruksikan jajaran kecamatan dan desa untuk meningkatkan koordinasi dengan tokoh agama, tokoh pemuda, serta pengelola pesantren. Pendekatan yang dilakukan, lanjut Asep, mengedepankan dialog, pembinaan, dan penguatan moderasi beragama, bukan stigmatisasi.

“Kasus pelajar di Garut ini jangan dilihat semata sebagai masalah hukum, tapi juga sebagai masalah sosial dan keluarga. Negara harus hadir untuk membina, bukan hanya menindak,” ujarnya.

Ia menambahkan, Kabupaten Tasikmalaya juga siap bekerja sama lintas wilayah dengan Kota Tasikmalaya dan aparat keamanan agar upaya pencegahan tidak berjalan sendiri-sendiri. “Paham seperti Neo-Nazi ini lintas batas. Maka respons kita juga harus lintas wilayah,” tegasnya.

Antisipasi Dini Demi Menjaga Tasikmalaya Tetap Kondusif

Kasus pelajar di Garut yang terpapar Neo-Nazi menjadi pelajaran penting bagi Tasikmalaya, baik kota maupun kabupaten. Meski tidak ditemukan kasus serupa di wilayah ini, langkah antisipasi dinilai perlu agar paham ekstrem tersebut tidak menyebar secara diam-diam melalui ruang digital dan pergaulan anak muda.

Baik Bakesbangpol Kota maupun Kabupaten Tasikmalaya sepakat bahwa pencegahan harus dilakukan sejak dini, dengan melibatkan keluarga, sekolah, tokoh masyarakat, serta aparat keamanan. Pendekatan yang humanis, edukatif, dan berbasis nilai kebangsaan diyakini menjadi kunci menjaga Tasikmalaya tetap aman, damai, dan sejalan dengan semangat Pancasila.

Peristiwa di Garut menjadi pengingat bahwa radikalisme tidak selalu datang dengan wajah yang kita kenal. Justru karena itulah, kewaspadaan bersama menjadi penting—bukan untuk menebar ketakutan, melainkan untuk memastikan generasi muda Tasikmalaya tumbuh di lingkungan yang sehat, toleran, dan berkeadaban. (AS)

Apa Itu Neo-Nazi? Faham yang Bikin Pelajar di Garut Diciduk Densus 88

lintaspriangan.com, BERITA GARUT. Kasus pelajar di Garut yang diamankan Densus 88 Anti Teror pada akhir Desember 2025 menyita perhatian publik Jawa Barat. Penindakan itu bukan dipicu oleh aksi teror yang sudah terjadi, melainkan oleh indikasi terpapar paham ekstrem Neo-Nazi yang dinilai berbahaya dan berpotensi berkembang menjadi ancaman keamanan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Lintas Priangan, penindakan dilakukan pada Selasa malam, 23 Desember 2025, sekitar pukul 20.00 hingga 23.30 WIB. Tim Densus 88 lebih dulu menjemput pelajar tersebut di Kota Bandung, sebelum membawanya ke Kabupaten Garut, Jawa Barat. Setelah dilakukan asesmen awal, aparat kemudian melakukan penggeledahan rumah yang bersangkutan di wilayah Kecamatan Garut Kota.

Dalam proses penggeledahan, petugas mengamankan sejumlah barang bukti, antara lain bahan kimia seperti bubuk arang dan belerang, kabel, proyektil peluru, cairan tertentu, telepon genggam, serta buku-buku bertema paham Neo-Nazi. Penggeledahan dilakukan dengan pengamanan ketat, bahkan melibatkan kendaraan taktis dan peralatan khusus, sebagai bagian dari prosedur standar penanganan kasus berisiko tinggi.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Garut, AKP Joko Prihatin, membenarkan adanya kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa pihaknya hanya bertindak sebagai pendamping, sementara penanganan utama berada di bawah kewenangan Densus 88. “Kami hanya melakukan pendampingan. Untuk detail kasus dan barang bukti menjadi ranah Densus 88,” ujarnya kepada wartawan.

Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat Garut: apa sebenarnya Neo-Nazi, dan mengapa seorang pelajar di Garut bisa sampai ditangani oleh satuan antiteror?

Apa Itu Neo-Nazi dan Mengapa Menyasar Anak Muda?

Neo-Nazi adalah paham ekstrem kanan modern yang menghidupkan kembali ideologi Nazisme, paham yang menekankan supremasi ras kulit putih, kebencian terhadap kelompok tertentu, penolakan demokrasi, dan pembenaran kekerasan sebagai alat perjuangan. Meski berasal dari sejarah Eropa, Neo-Nazi hari ini menyebar lintas negara, terutama melalui internet dan media sosial.

Berbeda dengan Nazisme klasik yang tampil dalam struktur organisasi terbuka, Neo-Nazi modern bergerak terfragmentasi. Mereka hadir dalam forum daring, grup pesan instan, hingga kanal berbagi video. Anak muda dan pelajar kerap menjadi sasaran karena berada pada fase pencarian identitas, mudah terpapar narasi hitam-putih, dan terbiasa mengonsumsi konten digital tanpa banyak filter.

Dalam banyak kasus internasional, paparan ideologi ini tidak berhenti pada kebencian verbal. Ia berkembang menjadi glorifikasi senjata, bom, dan kekerasan, bahkan disertai pertukaran panduan teknis. Pada titik inilah aparat keamanan biasanya mulai turun tangan, karena risiko sudah bergeser dari wacana menjadi potensi aksi nyata.

Kenapa Neo-Nazi Tidak Boleh Ada di Indonesia?

Indonesia secara tegas menolak segala bentuk ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. Neo-Nazi bertabrakan langsung dengan nilai kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial. Ide supremasi ras dan dehumanisasi kelompok lain tidak memiliki tempat dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.

Selain itu, pengalaman global menunjukkan bahwa paham Neo-Nazi kerap menjadi pintu masuk terorisme individu atau lone wolf terrorism (aksi teror mandiri). Banyak pelaku kekerasan di berbagai negara diketahui teradikalisasi secara mandiri melalui internet, tanpa afiliasi organisasi formal. Karena itu, negara memilih pendekatan pencegahan dini, bukan menunggu jatuhnya korban.

Dalam konteks pelajar di Garut, aparat menilai langkah cepat diperlukan untuk memutus mata rantai radikalisasi sejak awal, terutama karena subjek masih berada pada usia pendidikan dan pembinaan.

Mengapa Densus 88 Turun Tangan? Ini Regulasi yang Jadi Dasarnya

Penanganan kasus ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Undang-undang ini memberikan kewenangan kepada negara untuk bertindak preventif terhadap paham dan aktivitas yang mengarah pada terorisme, termasuk ekstremisme berbasis ideologi non-agama.

Densus 88 memiliki mandat tidak hanya untuk penindakan, tetapi juga deteksi dini, asesmen, dan pencegahan. Artinya, keterlibatan satuan ini bukan semata-mata karena telah terjadi kejahatan, melainkan karena adanya indikasi kuat ancaman yang jika dibiarkan dapat berkembang menjadi tindakan berbahaya.

Kasus pelajar di Garut ini menjadi pengingat bahwa radikalisme tidak selalu datang dengan wajah yang kita kenal. Ia bisa tumbuh diam-diam di ruang digital, menyasar generasi muda, dan berkembang cepat. Negara memilih bersikap tegas sejak awal, bukan untuk menghukum, tetapi untuk melindungi masyarakat dan masa depan anak-anak bangsa. (AS)

Kolaborasi UPZ, BAZNAS dan LPM, Serahkan Bantuan Rutilahu bagi Warga Kelurahan Ciamis

0

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan perwujudan nyata dari kehadiran dan keberpihakan Pemerintah Kabupaten Ciamis terhadap masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Melalui Program Ciamis Peduli, Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Kelurahan Ciamis, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Ciamis dan BAZNAS Kabupaten Ciamis, merealisasikan program Rutilahu bagi warga kurang mampu.

Melalui kolaborasi LPM, UPZ, Pemerintah Kelurahan Ciamis, dan BAZNAS Kabupaten Ciamis memberikan bantuan kepada Ani Nurani (56), warga RW 15 RT 03 Lingkungan Panoongan, Kelurahan Ciamis, Kamis (25/12/2025).

Ketua UPZ Kelurahan Ciamis, Ade Nurdin, menjelaskan bahwa bantuan Rutilahu tersebut merupakan bagian dari Program Ciamis Peduli.

Untuk pembangunan rumah Ani Nurani, sumber dana berasal dari BAZNAS Kabupaten Ciamis sebesar Rp10 juta, ditambah kolaborasi UPZ Kelurahan Ciamis sebesar Rp2 juta.

“Dana dari UPZ Kelurahan Ciamis sendiri bersumber dari gerakan infak kencleng yang telah kami sosialisasikan ke masyarakat. Insyaallah, jika gerakan infak kencleng ini sukses, maka prioritas utamanya adalah pembangunan Rutilahu,” jelas Ade.

Ade mengungkapkan bahwa berdasarkan data kelurahan, terdapat sekitar 100 rumah tidak layak huni di wilayah Kelurahan Ciamis yang membutuhkan penanganan dan akan menjadi prioritas program ke depan.

“Proses pengajuan Alhamdulillah tidak lama. Jika memang kondisi sangat membutuhkan, kami langsung survei, langsung kami ACC, dan hari ini pembangunan sudah bisa dimulai,” ujarnya.

Untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas, Ade menambahkan bahwa pengelolaan bantuan dilakukan oleh panitia kecil dari UPZ, dengan sistem pertanggungjawaban yang jelas.

“Bantuan difokuskan pada pengadaan material, sementara biaya jasa pengerjaan dilakukan melalui swadaya masyarakat,” terangnya.

Ketua LPM Kelurahan Ciamis, Adang Sudrajat, menjelaskan bahwa program Rutilahu tersebut merupakan hasil dari gerakan infak dan sedekah masyarakat yang dikelola melalui UPZ Kelurahan Ciamis dan disetorkan ke BAZNAS Kabupaten Ciamis.q

“Apa yang dilaksanakan hari ini merupakan program Rutilahu yang diprakarsai dari infak dan sedekah masyarakat melalui UPZ Kelurahan Ciamis yang kemudian disalurkan ke BAZNAS Kabupaten Ciamis. Alhamdulillah, dari gerakan ini bisa terwujud program perbaikan rumah layak huni bagi warga,” ujarnya.

Dikatakan Adang, program tersebut sejalan dengan kebijakan dan program Pemerintah Kabupaten Ciamis di bawah kepemimpinan Bupati Ciamis Dr. H. Herdiat Sunarya, yang memprioritaskan bantuan bagi warga yang benar-benar membutuhkan.

“Ini juga merupakan program Pak Bupati, di mana kita memprioritaskan membantu warga yang membutuhkan, khususnya dalam program Rutilahu. Alhamdulillah hari ini kita bisa mulai pengerjaan perbaikan rumah warga di RW 15 RT 03 Lingkungan Panoongan,” tambahnya.

Menurut Adang, kondisi rumah penerima manfaat sangat memprihatinkan, terlebih di tengah musim hujan yang rawan membahayakan keselamatan penghuni.

“Bu Ani ini janda, berusia 56 tahun, tinggal bersama seorang anak. Kondisinya sudah termasuk lansia dan rumahnya sangat memprihatinkan. Kami sangat peduli karena khawatir rumahnya ambruk, apalagi sekarang musim hujan,” ungkapnya.

Adang berharap, sinergi antara LPM, UPZ, BAZNAS, pemerintah daerah, serta dukungan RT, RW, dan masyarakat dapat terus ditingkatkan agar semakin banyak warga yang terbantu.

BACA JUGA: Bupati Ciamis Terbitkan Surat Edaran Pengendalian Sampah

“Mudah-mudahan program UPZ, BAZNAS, dan program Pak Bupati Ciamis ini terus meningkat dan bisa membantu lebih banyak warga yang membutuhkan rumah layak huni,” harapnya.

Sementara itu, Ani Nurani, penerima manfaat program Rutilahu, mengaku sangat bersyukur atas bantuan yang diterimanya. Dengan mata berkaca-kaca, ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah peduli terhadap kondisinya.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan bahagia sekali. Terima kasih kepada LPM, BAZNAS, UPZ, warga, dan khususnya Bupati Ciamis. Semoga semua kebaikan ini dibalas Allah dengan pahala yang berlipat,” ucapnya.

Ani yang sehari-hari berjuang menghidupi anaknya seorang diri berharap, dengan perbaikan rumah tersebut, ia dan anaknya dapat hidup lebih aman dan layak.

“Sekarang rumahnya diperbaiki, saya merasa lebih tenang. Mudah-mudahan ke depan kami bisa hidup lebih layak,” pungkasnya. (FSL)

Jelang Akhir Tahun 2025, PKBM Palamatra Raih Prestasi Membanggakan

0

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Menjelang akhir tahun 2025, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Palamatra kembali menorehkan prestasi membanggakan, dengan diraihnya Nilai Akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (BAN PDM) Provinsi Jawa Barat.

Capaian akreditasi tertinggi yang didapat Lembaga pendidikan nonformal yang berlokasi di Kecamatan Sukamantri ini mencakup seluruh jenjang program kesetaraan yang dikelola PKBM Palamatra, yakni Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP), dan Paket C (setara SMA).

Pengumuman akreditasi yang diterbitkan pada 19 Desember 2025 ini menjadi bukti kualitas layanan pendidikan yang konsisten dan berkelanjutan.

Ketua PKBM Palamatra, Rostaman, S.Pd., M.Pd., menyebut capaian Akreditasi A sebagai hasil kerja kolektif seluruh pengelola, tutor, dan pihak terkait dalam menjaga mutu pembelajaran dan tata kelola lembaga.

Sebagai tindak lanjut, PKBM Palamatra menggelar Rapat Koordinasi dan Evaluasi Akhir Tahun pada Kamis, 25 Desember 2025. Rapat tersebut menjadi momentum untuk menyusun langkah strategis serta menetapkan standar kerja baru dalam menyongsong tahun 2026.

Dalam arahannya, Rostaman menegaskan bahwa tahun 2026 menjadi momentum transformasi mental dan budaya kerja bagi seluruh jajaran PKBM Palamatra. Ia mendorong perubahan pola pikir dari keraguan menuju pendekatan solutif dan berorientasi pada tindakan.

BACA JUGA: Jelang Nataru, Bulog Ciamis Pastikan Stock Beras Aman

“Tahun depan, kita harus membangun mental ‘bagaimana caranya’, bukan lagi ‘tidak mungkin’. Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan berpikir, tetapi juga keberanian bertindak dan ketangguhan emosional,” katanya, Rabu (24/12/2025).

Ia juga menekankan pentingnya disiplin administrasi dan kesiapan audit sebagai bagian dari komitmen menjaga integritas lembaga. Menurutnya, tertib administrasi dan pelaporan tepat waktu merupakan fondasi utama dalam mempertahankan akreditasi dan kepercayaan publik.

Selain penguatan internal, PKBM Palamatra berencana menggencarkan promosi dan sosialisasi layanan pendidikan kepada masyarakat sebagai bentuk pengabdian dan perluasan akses pendidikan nonformal.

“Dengan Akreditasi A yang telah diraih, kami optimistis PKBM Palamatra dapat terus menjadi pusat solusi pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat,” ungkapnya. (FSL)

Jelang Nataru, Bulog Ciamis Pastikan Stok Beras Aman

0

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Menjelang Hari Raya Natal 2025 dan pergantian Tahun Baru 2026 (Nataru), Perum Bulog Kantor Cabang (Kancab) Ciamis melakukan monitoring ketersediaan stok dan perkembangan harga bahan pokok di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Salah satu pasar yang dikunjungi dalam kegiatan tersebut adalah Pasar Manis Ciamis. Monitoring dilakukan sebagai langkah antisipatif untuk memastikan pasokan pangan tetap terjaga serta harga bahan pokok, khususnya beras, tetap stabil di tingkat konsumen.

Pemimpin Cabang Perum Bulog Ciamis, Johan Wahyudi mengatakan, kondisi stok beras di Kabupaten Ciamis saat ini berada dalam kondisi aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Nataru hingga tahun depan.

Berdasarkan hasil monitoring dan data di gudang, stok beras yang tersedia di gudang-gudang Bulog Kancab Ciamis saat ini mencapai sekitar 23.000 ton.

“Jumlah tersebut sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, tidak hanya menjelang Natal dan Tahun Baru, tetapi juga untuk kebutuhan sepanjang tahun 2026,” katanya, Rabu (24/12/2025).

Johan mengungkapkan, untuk menjaga stabilitas harga beras di pasaran, Bulog terus menyalurkan beras melalui Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Dalam program tersebut, Bulog menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp12.500 per kilogram.

BACA JUGA: Bupati Ciamis Terbitkan Surat Edaran Pengendalian Sampah Nataru

Ia juga memastikan agar masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan maupun harga beras, meskipun terdapat sejumlah hari libur nasional di akhir tahun.

“Meski memasuki periode libur panjang, Bulog tetap siaga. Distribusi beras, khususnya beras SPHP, tetap berjalan agar pasokan di pasar terjaga dan harga tetap stabil,” ungkapnya.

Selain melakukan monitoring langsung ke pasar, Bulog Ciamis juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta instansi terkait untuk memantau perkembangan harga dan mencegah terjadinya lonjakan harga maupun kelangkaan bahan pokok di masyarakat.

Dengan ketersediaan stok beras yang mencukupi serta pengawasan yang dilakukan secara rutin, Johan berharap masyarakat dapat menyambut perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 dengan tenang, tanpa kekhawatiran terhadap pasokan juga harga beras. (FSL)

Bupati Ciamis Terbitkan Surat Edaran Pengendalian Sampah Nataru

0

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ciamis mengeluarkan Surat Edaran Nomor 600.4.15/2.357-DPRKPLH.03/2025 tentang Pengendalian Sampah Perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

‎Kebijakan ini bertujuan mendorong pelaksanaan perayaan Natal dan Tahun Baru yang minim sampah serta berwawasan lingkungan.

‎Surat edaran yang ditetapkan di Ciamis pada 24 Desember 2025 tersebut ditujukan kepada Kepala Sekolah dan Pesantren se-Kabupaten Ciamis, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Ciamis, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Ciamis, serta komunitas, organisasi, dan lembaga pengelola sampah serta pemerhati lingkungan.

‎Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Nomor 13 Tahun 2025 tanggal 15 Desember 2025 tentang Pengendalian Sampah Perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

‎Dalam surat tersebut, Bupati Ciamis Herdiat Sunarya menekankan pentingnya peningkatan kepedulian masyarakat melalui aksi nyata, semangat gotong royong, serta perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah selama momentum Natal dan Tahun Baru.

‎Beberapa langkah yang diwajibkan antara lain penyediaan tempat sampah terpilah minimal organik dan anorganik di berbagai titik strategis, seperti terminal, stasiun kereta api, lokasi ibadah, SPBU, rumah makan, rest area, hingga kawasan wisata. Pengelolaan sampah di lokasi-lokasi tersebut juga harus dipastikan berjalan dengan baik.

‎Selain itu, pelaku usaha dan masyarakat diimbau menggunakan dekorasi dan atribut ramah lingkungan, dengan menghindari plastik sekali pakai serta memilih material yang dapat digunakan kembali. Penyelenggara acara perayaan Natal dan Tahun Baru juga diwajibkan menerapkan konsep less waste event.

‎Masyarakat juga didorong untuk menggunakan peralatan makan dan minum yang dapat digunakan ulang, seperti membawa kotak makanan, sendok, botol minum, dan tas belanja sendiri.

BACA JUGA: Pemkab Ciamis Salurkan Hibah, Perkuat Pertenakan dan Perikanan Desa

‎Seluruh kegiatan pengendalian sampah tersebut wajib dilaporkan kepada Bupati Ciamis melalui Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Ciamis melalui tautan daring yang telah disediakan, paling lambat 10 Januari 2026.

Melalui surat edaran tersebut, Pemerintah Kabupaten Ciamis menginstruksikan agar seluruh rangkaian perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 dilaksanakan dengan prinsip minim sampah (less waste).

Sejumlah langkah strategis yang harus dilaksanakan diantaranya,

  • Meningkatkan kepedulian dan aksi nyata masyarakat, melalui semangat gotong royong dan perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah.
  • Menyediakan tempat sampah terpilah, minimal organik dan anorganik, di fasilitas publik seperti terminal, stasiun kereta api, rumah ibadah, SPBU, rumah makan, rest area, serta destinasi wisata.
  • Mendorong penggunaan dekorasi dan atribut ramah lingkungan, dengan menghindari plastik sekali pakai dan mengutamakan material yang dapat digunakan kembali.
  • Mewajibkan penyelenggara acara untuk menerapkan konsep less waste event dalam setiap kegiatan perayaan.
  • Membudayakan penggunaan peralatan makan dan minum guna ulang, seperti membawa kotak makanan, botol minum, sendok, dan tas belanja sendiri.

Untuk memastikan kebijakan berjalan efektif, seluruh kegiatan pengendalian sampah selama perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 diwajibkan untuk dilaporkan kepada Bupati Ciamis melalui DPRKPLH.

Pelaporan dilakukan paling lambat tanggal 10 Januari 2026 melalui tautan resmi: https://bit.ly/PengendalianSampahNataruKabupatenCiamis2025

Langkah yang diambil sekaligus menjadi bagian dari mekanisme evaluasi dan pengawasan, agar pelaksanaan pengendalian sampah dapat terukur dan berkelanjutan.

Kebijakan tentang pengendalian sampah selaras dengan visi Bupati Herdiat Sunarya dalam mewujudkan Kabupaten Ciamis yang bersih, sehat, dan berkelanjutan,

Herdiat berharap momentum Natal dan Tahun Baru dapat menjadi contoh nyata perayaan yang bermartabat, tidak hanya membawa kebahagiaan sosial dan spiritual, tetapi juga meninggalkan jejak positif bagi lingkungan dan generasi mendatang. (FSL)

Menjaga Persaudaraan Kebangsaan di Tatar Ciamis

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Di penghujung Desember, ketika kalender hampir habis dan hujan turun lebih sering dari biasanya, rombongan kecil bergerak menyusuri jalan-jalan Kabupaten Ciamis, Rabu (24/12/2025). Bukan untuk patroli, bukan pula untuk inspeksi. Mereka datang membawa satu pesan sederhana tapi mahal nilainya: persaudaraan.

Rombongan itu terdiri dari Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Ciamis, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Ciamis, dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ciamis. Bersama unsur Forkopimda dan Duta Harmoni, mereka menjalankan agenda rutin yang sarat makna: Kunjungan Kerja dan Persaudaraan menjelang Perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Perjalanan dimulai dari Gereja Katolik St. Yohanes Pembaptis. Di tempat ini, rombongan disambut hangat—bukan sekadar sebagai tamu, tapi sebagai saudara. Hadir pula Asisten Pemerintahan dan Kesra yang mewakili Bupati Ciamis, Kapolres Ciamis beserta jajaran, Pasi Intel Kodim 0613 Ciamis, serta pimpinan Bakesbangpol dan Kemenag Ciamis. Tak ada jarak, tak ada sekat. Yang ada hanya obrolan ringan yang pelan-pelan berubah jadi dialog kebangsaan.

Dari sana, rombongan melanjutkan langkah ke Gereja Kristen Indonesia (GKI) Ciamis, lalu bergerak ke Desa Kertajaya, Kecamatan Panawangan. Di Gereja Katolik St. Simon dan Rumah Doa Gereja Bethel Indonesia, sambutan kembali terasa akrab. Aparat desa, kepolisian, dan TNI berdiri berdampingan dengan pengurus gereja, sebuah pemandangan yang barangkali tak selalu viral, tapi justru itulah wajah Indonesia yang sesungguhnya.

Perjalanan berlanjut ke Dusun Cinyenang, Desa Sidamulih, Kecamatan Cisaga. Di Gereja Pasundan, suasana serupa kembali terulang. Kepala desa, unsur kecamatan, Polsek dan Koramil hadir menyambut. Tak ada seremoni berlebihan. Yang ada adalah percakapan jujur tentang kehidupan beragama, tantangan sosial, dan harapan agar ruang ibadah tetap menjadi ruang yang aman dan menenangkan.

Kunjungan berikutnya menyasar Gereja Kristen Kerasulan Indonesia (GKKI) di Desa Sidaharja serta GPdI di Desa Sidarahayu, Kecamatan Lakbok. Di sini, suka cita terasa tulus. Senyum tak dibuat-buat. Bahkan sebelum dialog dimulai, kudapan sederhana sudah tersaji, simbol kecil bahwa persaudaraan sering kali dimulai dari hal paling manusiawi: duduk bersama dan saling mendengar.

Rumah Doa Gereja Bethel Indonesia dan GPdI Banjarsari menjadi titik akhir perjalanan. Namun justru di sinilah makna perjalanan itu terasa utuh. Setiap gereja menerima rombongan dengan hangat, setiap percakapan mengalir tanpa naskah, tanpa kepentingan tersembunyi. Negara hadir, bukan untuk mengatur keyakinan, melainkan memastikan setiap warga merasa aman dalam menjalankannya.

Kegiatan ini bukan agenda dadakan. Ia adalah tradisi tahunan yang konsisten dijalankan FKUB, Bakesbangpol, dan Kemenag Ciamis menjelang hari besar keagamaan, Natal, Imlek, hingga Idul Fitri. Tujuannya jelas, untuk melihat langsung kesiapan rumah ibadah, memberi dorongan moral, dan menegaskan bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan fondasi kebangsaan.

Di tengah dunia yang mudah gaduh oleh perbedaan, kunjungan dari gereja ke gereja ini mungkin terlihat sederhana. Tapi justru dari kesederhanaan itulah Indonesia dirawat. Pelan-pelan, tanpa pidato panjang. Cukup dengan hadir, menyapa, dan memastikan, bahwa di Tatar Ciamis, iman boleh berbeda, tapi persaudaraan tetap dirawat.

Dan semoga, kisah-kisah kecil seperti ini kelak diwariskan ke generasi berikutnya, sebagai pengingat bahwa kerukunan tidak lahir dari slogan, melainkan dari langkah nyata yang terus dijaga.

BPS 2025: Segini Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Tasikmalaya

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Tasikmalaya merilis data terbaru terkait kondisi kemiskinan per Maret 2025. Hasilnya, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Tasikmalaya tercatat 185,99 ribu orang atau setara 10,15 persen dari total penduduk. Angka ini menunjukkan adanya penurunan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Secara statistik, penurunan tersebut terlihat kecil. Namun bagi sebagian warga Tasikmalaya, angka-angka itu bukan sekadar persentase di atas kertas. Di baliknya, ada cerita tentang dapur yang harus tetap ngebul, biaya sekolah anak yang terus naik, serta harga kebutuhan pokok yang tak pernah benar-benar turun.

BPS mencatat, dibandingkan Maret 2024, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Tasikmalaya berkurang sekitar 760 orang. Persentasenya juga turun 0,08 persen poin, dari 10,23 persen menjadi 10,15 persen. Data ini bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 yang menjadi rujukan resmi pemerintah dalam memotret kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Kemiskinan Turun Sangat Perlahan

Jika ditarik ke belakang, tren kemiskinan di Kabupaten Tasikmalaya mengalami dinamika yang cukup panjang. Pada periode 2020 hingga 2021, angka kemiskinan sempat melonjak akibat pandemi Covid-19. Banyak warga kehilangan pekerjaan, usaha kecil terpukul, dan pendapatan rumah tangga menurun drastis.

Namun sejak 2022, grafik kemiskinan mulai menunjukkan tren menurun. Hingga Maret 2025, penurunan tersebut masih berlanjut, meski dengan laju yang relatif melambat. Ini menandakan bahwa pemulihan ekonomi memang berjalan, tetapi belum sepenuhnya merata.

BPS juga membandingkan kondisi Tasikmalaya dengan Provinsi Jawa Barat. Persentase penduduk miskin Jawa Barat pada Maret 2025 tercatat 7,02 persen, lebih rendah dibandingkan Kabupaten Tasikmalaya. Artinya, secara regional, Tasikmalaya masih menghadapi tantangan yang lebih berat dalam menekan angka kemiskinan.

Garis Kemiskinan Naik, Beban Hidup Kian Berat

Di sisi lain, ada fakta penting yang patut dicermati. Garis kemiskinan di Kabupaten Tasikmalaya pada Maret 2025 naik menjadi Rp413.178 per kapita per bulan. Angka ini meningkat sekitar Rp13.030 dibandingkan Maret 2024, atau naik sebesar 3,15 persen.

Kenaikan garis kemiskinan ini mencerminkan meningkatnya biaya hidup masyarakat. Garis kemiskinan sendiri dihitung dari kebutuhan minimum makanan dan non-makanan, mulai dari kebutuhan pangan setara 2.100 kilokalori per hari, hingga kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan perumahan.

Bagi warga yang berada sedikit di atas garis kemiskinan, kondisi ini bisa menjadi situasi yang rawan. Sedikit saja pendapatan berkurang atau harga kebutuhan melonjak, mereka berpotensi kembali masuk dalam kategori miskin.

Jurang Kemiskinan Melebar

Data BPS juga mengungkap sisi lain yang jarang dibahas, yakni kedalaman dan keparahan kemiskinan. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) di Kabupaten Tasikmalaya naik dari 1,01 pada Maret 2024 menjadi 1,54 pada Maret 2025. Sementara itu, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) juga meningkat dari 0,15 menjadi 0,38.

Kenaikan dua indikator ini menunjukkan bahwa meskipun jumlah penduduk miskin berkurang, kondisi mereka yang masih berada dalam kemiskinan justru semakin berat. Jarak antara pengeluaran penduduk miskin dengan garis kemiskinan makin lebar, dan ketimpangan di antara sesama penduduk miskin juga meningkat.

Tantangan Kebijakan di Tingkat Lokal

Data ini menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah. Penurunan jumlah penduduk miskin patut diapresiasi, tetapi belum cukup. Tantangan ke depan bukan hanya soal mengurangi angka, melainkan memastikan kualitas hidup masyarakat benar-benar membaik.

Program pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, penguatan UMKM, hingga pengendalian harga kebutuhan pokok menjadi kunci agar penduduk miskin di Kabupaten Tasikmalaya tidak hanya berkurang secara statistik, tetapi juga berkurang dalam realitas kehidupan sehari-hari.

Angka boleh turun, grafik boleh membaik. Namun bagi warga Tasikmalaya, yang paling penting adalah satu hal sederhana: hidup yang terasa lebih ringan dari hari ke hari. (HS)