lintaspriangan.com, BERITA CIREBON. Program Sekolah Rakyat Cirebon resmi memasuki tahap operasional setelah sebanyak 540 anak dari empat daerah mulai menempati asrama pada Kamis (30/7/2026). Kehadiran para siswa menandai dimulainya pelaksanaan pendidikan berasrama yang disiapkan pemerintah untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Setelah menjalani registrasi dan proses penyerahan dari orang tua kepada pihak sekolah, para siswa dijadwalkan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Jumat (31/7/2026) sebagai awal kegiatan belajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi yang berlokasi di Blok Silayur, Kelurahan Kaliwadas, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon.
Sekolah Rakyat Cirebon Layani Siswa Ciayumajakuning
Program ini tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak asal Kabupaten Cirebon. Sekolah tersebut juga menerima peserta didik dari Kota Cirebon, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan.
Dari total 540 siswa yang diterima, sebanyak 270 orang berasal dari Kabupaten Cirebon. Sisanya merupakan siswa dari tiga daerah lain di wilayah Ciayumajakuning yang sementara waktu mengikuti pendidikan di Kabupaten Cirebon karena fasilitas Sekolah Rakyat di daerah asal mereka belum beroperasi.
Seluruh peserta dibagi ke dalam 18 rombongan belajar yang mencakup jenjang sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA).
Wakil Bupati Cirebon Agus Kurniawan Budiman menjelaskan, skema tersebut bersifat sementara. Nantinya para siswa dapat kembali bersekolah di daerah masing-masing setelah Sekolah Rakyat di wilayah asal telah tersedia.
Program Sekolah Rakyat sendiri menyasar anak-anak yang terdata dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Berbeda dengan sekolah umum, penerimaan peserta dilakukan melalui pendataan pemerintah, bukan melalui jalur pendaftaran terbuka.
Fasilitas Terus Disempurnakan
Untuk mendukung sistem pendidikan berasrama, pemerintah menyiapkan berbagai fasilitas penunjang di kompleks Sekolah Rakyat Terintegrasi Cirebon.
Di antaranya terdapat empat gedung asrama dengan kapasitas 544 tempat tidur, 12 ruang kelas, enam laboratorium, ruang makan yang mampu menampung 576 orang, masjid, jaringan internet, layanan air bersih, listrik, hingga sistem keamanan.
Meski demikian, penyelesaian sejumlah bangunan masih dilakukan secara bertahap. Sebelumnya, jadwal operasional sekolah sempat mengalami penyesuaian karena pemerintah ingin memastikan seluruh fasilitas aman sebelum ditempati siswa.
Tahap awal pembangunan difokuskan pada gedung SMP, ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, dan ruang kepala sekolah. Sementara gedung SD, SMA, sebagian asrama, aula serbaguna, serta ruang makan ditargetkan selesai hingga Agustus 2026.
Selain pembangunan fisik, pemerintah juga mempercepat penyediaan berbagai layanan pendukung, seperti layanan kesehatan, jaringan internet, pengelolaan sampah, sarana olahraga, hingga fasilitas literasi.
Pendidikan Berasrama untuk Memutus Rantai Kemiskinan
Konsep pendidikan berasrama menjadi salah satu pendekatan yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memastikan peserta didik memperoleh pendampingan secara menyeluruh selama menjalani proses belajar.
Pemerintah juga telah menyiapkan tenaga pendidik melalui proses seleksi nasional. Sementara itu, pemerintah daerah sebelumnya menyiapkan guru sementara agar kegiatan belajar mengajar dapat langsung berjalan sejak para siswa menempati asrama.
Beroperasinya Sekolah Rakyat Cirebon menjadi langkah awal pelaksanaan program pendidikan yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Keberhasilan program ini nantinya tidak hanya diukur dari kelengkapan fasilitas, tetapi juga dari sejauh mana mampu menghadirkan kesempatan pendidikan yang lebih baik dan membuka masa depan baru bagi para siswanya. (AR/HS)
