lintas Priangan.com, BERITA CIANJUR. Permasalahan terkait operasional dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat di Kabupaten Cianjur. Kali ini, keluhan datang dari seorang warga di Desa Sukasari, Kecamatan Cilaku, yang rumahnya berada tepat di dekat fasilitas dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukasari 3 Cilaku.
Warga bernama Mira Novianti Dimyati (47) mengaku mengalami berbagai gangguan sejak dapur tersebut mulai beroperasi. Mulai dari aroma tak sedap hingga dugaan pencemaran air sumur, persoalan ini menjadi perhatian masyarakat sekitar.
Warga Keluhkan Bau Menyengat dari Limbah Dapur MBG
Mira menuturkan, aroma tidak sedap mulai tercium sejak awal Maret 2026, tak lama setelah dapur MBG beroperasi secara aktif. Bau tersebut diduga berasal dari limbah dapur MBG yang dibuang dari area operasional.
Menurutnya, bau menyengat itu tidak hanya tercium di luar rumah, tetapi juga masuk ke dalam ruangan, baik pada siang maupun malam hari. Kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-hari menjadi terganggu.
“Sejak dapur itu beroperasi, lingkungan rumah jadi sering bau. Aromanya cukup menyengat dan sangat mengganggu,” ujarnya.
Keluhan ini semakin serius karena Mira memiliki riwayat penyakit asma. Paparan aroma yang diduga berasal dari limbah dapur MBG tersebut disebut kerap memicu gangguan kesehatan.
“Saya jadi sering batuk, pusing, dan asma kadang kambuh. Tekanan darah juga sempat naik,” katanya.
Air Sumur Diduga Tercemar
Tak hanya persoalan bau, Mira juga mengeluhkan perubahan kualitas air sumur bor miliknya. Air yang sebelumnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari kini diduga tercemar.
Ia mengaku, air sumur tersebut menimbulkan rasa gatal saat digunakan untuk mandi. Selain itu, air juga dinilai tidak lagi layak untuk dikonsumsi.
“Biasanya air sumur dipakai untuk mandi, mencuci, bahkan minum. Sekarang sudah tidak berani digunakan,” tuturnya.
Dugaan pencemaran air akibat limbah dapur MBG menjadi kekhawatiran tersendiri, terutama bagi warga yang menggantungkan kebutuhan air bersih dari sumur pribadi.
Laporan Disampaikan ke DLH
Merasa dirugikan, Mira telah melaporkan persoalan tersebut kepada pengurus lingkungan setempat, mulai dari RT hingga RW. Ia juga menyerahkan sampel air sumur kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cianjur.
Langkah tersebut dilakukan agar ada pemeriksaan laboratorium serta investigasi menyeluruh terkait dugaan pencemaran lingkungan.
“Sampel air sudah saya serahkan ke DLH. Saya berharap ada pengecekan langsung ke lokasi,” ungkapnya.
Hingga kini, ia masih menunggu tindak lanjut dari instansi terkait.
