lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Sebanyak 200 peserta mengikuti program pelatihan kerja berbasis kebutuhan industri di Kabupaten Ciamis. Program ini diarahkan untuk menyiapkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan perusahaan, di tengah rencana pengembangan produksi industri pakaian jadi berorientasi ekspor.
Program bertajuk Tailor Made Training (TMT) tersebut dibuka Bupati Herdiat Sunarya di lingkungan PT Chihaya Global Utama (CGU), Desa Handapherang, Kecamatan Cijeungjing, Senin (26/10/2026).
Pelatihan ini merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Ciamis, Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bandung, serta PT CGU sebagai mitra industri.
Dari total 200 peserta yang direncanakan mengikuti program dalam dua angkatan, sebanyak 96 orang mengikuti pelatihan angkatan pertama. Materi pelatihan disusun agar selaras dengan kebutuhan perusahaan.
Bagi pencari kerja, program ini membuka kesempatan untuk meningkatkan keterampilan sebelum memasuki dunia industri. Namun, keberhasilannya juga akan ditentukan oleh kemampuan peserta menyelesaikan pelatihan dan peluang penyerapan tenaga kerja setelahnya.
Bupati Herdiat Tekankan Kesesuaian Pelatihan dan Kebutuhan Industri
Bupati Herdiat mengatakan pelatihan berbasis industri menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kompetensi pencari kerja sekaligus memperluas kesempatan memperoleh pekerjaan.
Menurutnya, keterampilan yang diberikan harus relevan dengan kebutuhan dunia usaha agar dapat dimanfaatkan ketika peserta memasuki lingkungan kerja.
“Pelatihan kerja harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kami berharap peserta mampu menguasai keterampilan yang dibutuhkan industri sehingga kesempatan untuk bekerja dan meningkatkan kesejahteraan keluarga semakin terbuka,” ujar Bupati Herdiat.
Ia menilai peningkatan kualitas tenaga kerja perlu berjalan beriringan dengan penciptaan iklim investasi yang kondusif. Perkembangan industri diharapkan dapat mendorong peningkatan produksi sekaligus membuka peluang kerja baru bagi warga Ciamis.
Kolaborasi pemerintah, lembaga pelatihan, dan perusahaan menjadi penting agar materi yang diajarkan tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
BBPVP Bandung Ukur Keberhasilan dari Keterampilan Peserta
Kepala BBPVP Bandung, Reni Rosyida Muthmainnah, menjelaskan bahwa program TMT dirancang berdasarkan kebutuhan kompetensi perusahaan atau mitra yang mengusulkan pelatihan.
Dengan pendekatan tersebut, materi dan pelaksanaan pelatihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan tertentu.
Menurut Reni, keberhasilan pelatihan tidak cukup diukur dari jumlah peserta yang mengikuti kegiatan maupun sertifikat yang diperoleh. Hal yang lebih penting adalah kemampuan peserta menerapkan keterampilan untuk mendapatkan pekerjaan atau meningkatkan produktivitas.
BBPVP Bandung juga telah melaksanakan berbagai program pelatihan di Kabupaten Ciamis. Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, pelatihan sebelumnya melibatkan 15 lembaga mitra dan menjangkau 432 peserta. Setelah program lanjutan, jumlah peserta yang terlayani tercatat mencapai 628 orang.
Jenis pelatihan yang diberikan cukup beragam, mulai dari pembuatan roti, barista, tata rias, pemasaran digital, pembuatan konten, budidaya hidroponik, hingga pembenihan lobster air tawar.
Keragaman tersebut memberi pilihan bagi pencari kerja maupun warga yang ingin mengembangkan usaha secara mandiri.
PT CGU Berencana Perluas Produksi untuk Pasar Ekspor
Peluang kebutuhan tenaga kerja juga berkaitan dengan rencana pengembangan produksi PT Chihaya Global Utama.
Direktur PT CGU, Chaerudin Fadillah, mengatakan perusahaan bergerak di bidang industri pakaian jadi dengan orientasi pasar ekspor. Saat ini, perusahaan mempekerjakan sekitar 600 orang dan berencana meningkatkan kapasitas produksinya.
Menurut Chaerudin, perusahaan menargetkan dimulainya produksi untuk pasar Amerika Serikat pada November hingga Desember 2026. Rencana tersebut membutuhkan kesiapan tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai standar dan proses produksi perusahaan.
Ia menyebutkan satu bangunan produksi dapat menampung sekitar 1.200 pekerja. Namun, pemenuhan kebutuhan tenaga kerja yang kompeten masih menjadi salah satu tantangan perusahaan.
“Pengembangan produksi membutuhkan dukungan tenaga kerja yang kompeten. Kami berharap melalui kerja sama dengan pemerintah daerah dan BBPVP Bandung, calon pekerja dapat memperoleh pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan,” ungkap Chaerudin.
Rencana tersebut berpotensi memperluas kebutuhan tenaga kerja apabila pengembangan produksi berjalan sesuai target. Meski demikian, jumlah kebutuhan rekrutmen baru, tahapan seleksi, dan peluang penempatan bagi peserta TMT masih perlu dipastikan secara lebih terperinci.
Disnaker Ciamis Catat Ratusan Peserta Pelatihan Sepanjang 2026
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Ciamis, Dase Fadlil Yusdy Mubarak, memaparkan bahwa pemerintah daerah juga menjalankan program peningkatan kompetensi melalui Bidang Pelatihan dan Produktivitas serta UPTD Latihan Kerja.
Pada 2026, Bidang Pelatihan dan Produktivitas menargetkan 240 peserta. Hingga kegiatan berlangsung, sebanyak 146 orang telah mengikuti pelatihan, terdiri atas 114 peserta yang dibiayai melalui APBD dan 32 peserta melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).
Programnya mencakup pelatihan kuliner untuk mendukung kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG), kuliner umum, menjahit, dan tata rias.
Sementara itu, UPTD Latihan Kerja menargetkan 256 peserta. Sebanyak 184 orang telah mengikuti pelatihan dengan dukungan anggaran APBN sebesar Rp891.018.000.
Materi pelatihan meliputi pembuatan roti, minuman berbasis kopi, perawatan sepeda motor, menjahit, pembuatan jajanan pasar, hingga pembuatan konten.
Data tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi tenaga kerja dilakukan melalui berbagai jalur. Tantangan berikutnya adalah memastikan keterampilan yang diperoleh benar-benar terhubung dengan kebutuhan perusahaan dan peluang kerja yang tersedia.
Penyerapan Tenaga Kerja Jadi Ukuran Penting
Pembukaan program TMT di PT CGU juga dirangkaikan dengan penandatanganan kerja sama antara BBPVP Bandung dan Pemerintah Kabupaten Ciamis serta penyerahan simbolis bantuan iuran jaminan sosial ketenagakerjaan bagi pekerja rentan.
Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat hubungan antara pelatihan vokasi dan kebutuhan industri.
Bagi Kabupaten Ciamis, program ini tidak hanya berkaitan dengan jumlah peserta yang dilatih, tetapi juga peluang peningkatan kesejahteraan melalui pekerjaan yang layak.
Karena itu, perkembangan program perlu dilihat dari hasil akhirnya: berapa peserta yang menuntaskan pelatihan, berapa yang memenuhi kualifikasi perusahaan, serta berapa yang akhirnya memperoleh pekerjaan.
Jika keterampilan peserta sesuai kebutuhan industri dan rencana ekspansi perusahaan terealisasi, pelatihan berbasis industri berpeluang menjadi salah satu jalur untuk mempertemukan pencari kerja lokal dengan kebutuhan tenaga kerja di Ciamis.
(HS)







