lintaspriangan.com, BERITA GARUT. Usaha sapi perah Garut menjadi salah satu perhatian dalam rencana Kemah Bakti Peternakan Universitas Padjadjaran pada 30–31 Oktober 2026. Selain pengelolaan pakan dan kebersihan pemerahan, kegiatan tersebut menyiapkan latihan pencatatan produksi serta biaya usaha. Pembukuan ini penting untuk menjawab pertanyaan mendasar: berapa keuntungan yang benar-benar tersisa dari penjualan susu?
Dalam pengumuman Fakultas Peternakan Unpad tertanggal 14 Oktober 2026, persiapan melibatkan Dinas Perikanan dan Peternakan, Koperasi Peternak Garut Selatan atau KPGS, serta kelompok peternak. Pelaksanaan masih berupa rencana yang menyesuaikan kondisi lokasi dan kesepakatan kelompok. Namun, persoalan pencatatan keuangan telah memperoleh perhatian dalam penelitian lokal.
Usaha Sapi Perah Garut dalam Temuan Penelitian Cikajang
Penelitian Tendy Kusmayadi dan Tati Rohayati yang diterbitkan Jurnal Ilmu Peternakan Universitas Garut pada 14 Agustus 2026 mengevaluasi praktik peternakan sapi perah terhadap 70 peternak di Desa Mekarjaya dan Kramatwangi, Kecamatan Cikajang.
Peneliti menilai tujuh aspek, meliputi reproduksi, kesehatan hewan, kebersihan pemerahan, nutrisi, kesejahteraan ternak, lingkungan, dan manajemen sosial ekonomi. Secara keseluruhan, penerapannya dikategorikan baik.
Meski demikian, pengelolaan limbah, pencatatan keuangan, dan penerapan prosedur operasional masih memerlukan peningkatan. Temuan ini menunjukkan bahwa praktik pemeliharaan yang baik tetap membutuhkan penguatan administrasi usaha.
Cakupan penelitian terbatas pada responden di dua desa. Hasilnya tidak dapat digeneralisasi sebagai kondisi seluruh peternak Garut. Akan tetapi, penelitian tersebut memberi dasar lokal untuk membahas pembukuan sebagai bagian dari pengelolaan peternakan, sejajar dengan pekerjaan kandang sehari-hari.
Usaha Sapi Perah Garut: Sisa Setelah Pakan Belum Berarti Laba Bersih
Salah satu ukuran yang dapat dipakai ialah Income Over Feed Cost atau IOFC. Buku Saku Sapi Perah Jersey 2024 terbitan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, pada halaman tercetak 33, menjelaskan perhitungannya sebagai pendapatan penjualan susu dikurangi biaya pakan.
Buku tersebut memberikan contoh produksi 25 liter per ekor per hari, harga susu Rp6.000 per liter, dan biaya pakan Rp80.000 per ekor per hari. Pendapatan susunya menjadi Rp150.000, sehingga tersisa Rp70.000 setelah biaya pakan.
Angka itu merupakan contoh perhitungan dalam buku, bukan data harga susu, produktivitas, atau keuntungan peternak Garut pada Oktober 2026.
Selisih Rp70.000 juga belum dapat disebut laba bersih. Perhitungannya baru mengurangi pakan, sementara pengeluaran lain belum masuk. IOFC berguna untuk melihat hubungan pendapatan susu dengan biaya pakan, tetapi cakupannya harus dipahami agar peternak tidak menyimpulkan keuntungan terlalu besar.
Biaya Kandang Lebih Luas daripada Pembelian Konsentrat
Dalam metadata statistik BPS, biaya produksi perusahaan peternakan sapi perah mencakup upah pekerja, bahan bakar, pakan, listrik dan air, obat-obatan, serta biaya lainnya. Definisi ini merupakan rujukan perusahaan peternakan, bukan angka pengeluaran peternak rakyat Garut.
Bagi usaha keluarga, daftar tersebut membantu mengingat pengeluaran yang mudah terlewat. Pembelian konsentrat tercatat jelas karena ada pembayaran, sedangkan kegiatan mencari dan mengangkut hijauan juga menggunakan waktu, tenaga, serta kemungkinan bahan bakar.
Untuk membaca kondisi usaha, peternak perlu membedakan pengeluaran tunai dari biaya yang diperhitungkan. Tenaga keluarga, misalnya, tidak selalu dibayar harian, tetapi tetap perlu dinilai ketika menghitung imbalan ekonomi pekerjaan tersebut. Penyusutan kandang dan peralatan juga perlu diperhitungkan dalam analisis biaya lengkap.
Pembedaan ini membuat dua pertanyaan bisa dijawab: apakah uang yang tersedia cukup untuk menjalankan kandang, dan apakah hasil usaha sudah memberikan imbalan setelah seluruh sumber daya diperhitungkan?
Catat Susu yang Dihasilkan dan Susu yang Terjual
BBPTUHPT Baturraden menjelaskan pencatatan sapi perah mencakup identitas ternak, reproduksi, produksi susu harian, pakan, dan riwayat kesehatan. Produksi pagi dan sore dicatat agar perubahan setiap sapi dapat ditelusuri.
Identitas ternak menjadi titik awal. Tanpa nomor atau nama yang konsisten, catatan produksi dapat tertukar sehingga evaluasi pakan dan kesehatan kehilangan ketepatan.
Untuk pembukuan penjualan, jumlah susu yang dihasilkan perlu dibedakan dari jumlah yang benar-benar dijual. Susu yang digunakan untuk pedet atau kebutuhan lain tidak serta-merta menjadi penerimaan uang. Karena itu, catatan produksi dan bukti penjualan mempunyai fungsi berbeda.
Manual peternakan skala kecil FAO menyarankan pemisahan pembukuan usaha serta penyimpanan nota, tagihan, dan bukti transaksi. Catatan sederhana dapat dimulai dari tanggal, keterangan transaksi, uang masuk, dan uang keluar.
Pembukuan tidak harus menunggu aplikasi. Buku tulis yang diisi konsisten lebih berguna daripada format rumit yang jarang diperbarui.
Menghemat Pakan Perlu Dibaca Bersama Produksi
Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan Cinagara menempatkan pakan sebagai komponen terbesar dalam pembahasan struktur biaya usaha sapi perah. Namun, penghematan tidak cukup dinilai dari berkurangnya pembelian pakan.
Menurut FAO, kebutuhan nutrisi dipengaruhi kondisi fisiologis, tingkat produksi, umur, kondisi tubuh, kesehatan, dan faktor lingkungan. Ketersediaan air juga berpengaruh terhadap produksi susu.
Artinya, penurunan biaya perlu dibaca bersama perubahan hasil. Apabila biaya pakan turun tetapi pendapatan susu ikut merosot lebih besar, penghematan tersebut belum memperbaiki hasil usaha.
Catatan jumlah dan jenis pakan dapat dipasangkan dengan produksi harian. BBPTUHPT Baturraden menyarankan analisis berkala untuk mengenali kecenderungan atau masalah. Penyesuaian ransum selanjutnya dapat dibicarakan dengan pendamping teknis berdasarkan kondisi ternak.
Prinsipnya, keputusan tidak hanya bertumpu pada harga satu bahan. Yang diperiksa ialah hubungan biaya, kecukupan kebutuhan ternak, dan hasil produksi dalam periode yang sebanding.
Koperasi dan Evaluasi setelah Pendampingan
Penelitian dalam jurnal MAHATANI Universitas Garut melibatkan 43 peternak untuk menilai peran KPGS. Layanan yang dikaji mencakup penampungan susu, penyediaan pakan, simpan pinjam, kesehatan hewan, dan penyuluhan.
Penilaian responden berada dalam kategori efektif hingga sangat efektif. Angka penilaian tertinggi terdapat pada pelayanan kesehatan hewan, sebesar 82,10 persen, serta penyuluhan, 81,98 persen. Angka tersebut merupakan hasil penilaian responden, bukan persentase kenaikan produksi atau keuntungan.
Keberadaan layanan koperasi dapat menjadi pintu untuk mendiskusikan catatan usaha. Peternak dapat mencocokkan volume penjualan dengan bukti pembayaran, lalu memisahkan biaya dan potongan yang tercantum agar tidak dihitung dua kali.
Dalam rencana Kemah Bakti Peternakan, latihan pencatatan ditempatkan bersama pendampingan pakan, kesehatan ternak, dan penanganan susu. Hubungan tersebut penting: perubahan cara pemeliharaan perlu mempunyai catatan awal dan hasil evaluasi.
Ukuran manfaat pendampingan nantinya dapat dilihat dari kemampuan peternak menggunakan catatan tersebut. Berapa susu yang dijual, berapa biaya yang dikeluarkan, dan berapa hasil yang tersisa harus dapat ditelusuri dari bukti usaha masing-masing.
(AA)






