lintas priangan.com, BERITA PRIANGAN TIMUR. Langit penghujung Juli 2026 menawarkan peristiwa astronomi yang menarik. Dua hujan meteor, Southern Delta Aquariids dan Alpha Capricornids, akan mencapai puncak pada malam Kamis hingga Jumat, 30–31 Juli 2026. Fenomena ini secara geografis dapat diamati dari Indonesia, termasuk wilayah Priangan.
Namun, menyaksikan hujan meteor akhir Juli tahun ini bukan perkara menengadah lalu menunggu langit berpesta. Bulan mencapai fase purnama pada Rabu (29/7/2026) pukul 21.35 WIB. Pada malam puncak hujan meteor, permukaannya masih sekitar 98 persen terang sehingga cahaya bulan berpotensi menyamarkan sebagian besar meteor yang redup.
Dua Hujan Meteor Mencapai Puncak Bersamaan
Hujan meteor pertama adalah Southern Delta Aquariids. Berdasarkan kalender American Meteor Society, aliran meteor tersebut aktif sejak 12 Juli hingga 23 Agustus 2026. Puncaknya diperkirakan terjadi pada malam 30–31 Juli.
Dalam kondisi pengamatan sempurna, Southern Delta Aquariids memiliki Zenithal Hourly Rate atau ZHR sekitar 25 meteor per jam. Angka tersebut bukan jaminan bahwa setiap orang akan menyaksikan 25 meteor dalam satu jam.
ZHR merupakan perkiraan teoretis ketika langit benar-benar gelap, titik asal meteor berada tepat di atas kepala, cuaca cerah, dan tidak ada cahaya bulan maupun lampu kota. Kondisi seperti itu hampir tidak pernah terpenuhi seluruhnya, terlebih ketika puncak hujan meteor berdekatan dengan purnama.
Southern Delta Aquariids menghasilkan meteor yang melaju sekitar 41 kilometer per detik. Kebanyakan meteornya relatif redup dan tidak selalu meninggalkan jejak cahaya yang bertahan lama.
Hujan meteor kedua adalah Alpha Capricornids. Aktivitasnya berlangsung sejak awal Juli hingga pertengahan Agustus dan mencapai puncak pada periode yang hampir sama.
Intensitas Alpha Capricornids tergolong rendah, umumnya tidak melebihi lima meteor per jam. Meskipun jumlahnya sedikit, hujan meteor ini dikenal dapat menghasilkan meteor terang atau fireball.
Alpha Capricornids memasuki atmosfer dengan kecepatan sekitar 23 kilometer per detik. Pergerakannya relatif lebih lambat daripada Southern Delta Aquariids sehingga jejaknya dapat tampak lebih kentara. Dalam kondisi bulan terang, meteor jenis inilah yang lebih mungkin tertangkap mata.
Mengapa Disebut Hujan Meteor?
Istilah hujan meteor tidak berarti benda-benda besar berjatuhan dari angkasa dan menghantam permukaan Bumi. Fenomena ini bermula ketika Bumi melintasi jalur debu yang ditinggalkan komet atau benda langit lainnya.
Partikel tersebut umumnya berukuran kecil, mulai dari butiran pasir hingga kerikil. Ketika memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi, udara di depannya terkompresi dan menjadi sangat panas. Partikel kemudian berpijar serta hancur sebelum mencapai permukaan.
Cahaya yang terlihat melesat beberapa detik itulah yang disebut meteor. Sebutan “bintang jatuh” hanya istilah populer. Tidak ada bintang yang benar-benar jatuh karena bintang berukuran jauh lebih besar daripada Bumi dan berada sangat jauh dari tata surya.
NASA menduga partikel Southern Delta Aquariids berasal dari Komet 96P/Machholz. Komet tersebut mengelilingi Matahari sekitar sekali dalam lima tahun.
Sementara itu, Alpha Capricornids dikaitkan dengan Komet 169P/NEAT. Perbedaan induk dan jalur orbit membuat kedua hujan meteor mempunyai titik asal, kecepatan, dan karakter cahaya yang berlainan.
Bisakah Dilihat dari Wilayah Priangan?
Peluangnya tetap ada. Southern Delta Aquariids justru lebih menguntungkan bagi pengamat di kawasan tropis selatan dan belahan Bumi selatan. Wilayah Priangan yang berada di selatan khatulistiwa mempunyai posisi geografis cukup baik untuk melihat titik radiannya naik tinggi di langit.
Radiant merupakan titik semu tempat meteor tampak bermunculan. Southern Delta Aquariids memiliki radiant di sekitar rasi Aquarius, sedangkan Alpha Capricornids berasal dari arah rasi Capricornus.
Pengamat tidak harus menemukan kedua rasi tersebut terlebih dahulu. Meteor dapat terlihat melintas di berbagai bagian langit. Rasi hanya digunakan untuk menelusuri arah datangnya meteor dan menentukan kelompok asalnya.
Wilayah perdesaan di Tasikmalaya, Garut, Ciamis, Pangandaran, dan sekitarnya berpotensi menawarkan kondisi lebih baik daripada pusat kota, terutama apabila lokasinya jauh dari lampu permukiman dan memiliki medan pandang terbuka.
Meski demikian, lokasi di selatan khatulistiwa bukan jaminan pertunjukan akan terlihat jelas. Awan, kabut, hujan, polusi cahaya, serta terangnya Bulan tetap menjadi penentu. Langit boleh menyediakan panggung, tetapi cuaca dan cahaya bulan memegang kunci pintunya.
Purnama Menjadi Penghalang Utama
Kalender fase Bulan untuk Jawa Barat menunjukkan purnama terjadi pada 29 Juli 2026 pukul 21.35 WIB. Dengan demikian, Bulan akan berada di atas horizon hampir sepanjang malam ketika dua hujan meteor mencapai puncaknya. Time and Date
American Meteor Society memperkirakan Bulan masih sekitar 98 persen terang pada malam 30–31 Juli. Kondisi itu dinilai sangat mengganggu pengamatan, terutama terhadap Southern Delta Aquariids yang sebagian besar meteornya redup.
Karena itu, klaim bahwa masyarakat akan melihat 25 atau 30 meteor setiap jam perlu dihindari. Angka tersebut berasal dari penjumlahan kapasitas teoretis kedua aliran dalam kondisi ideal, bukan perkiraan pasti yang akan terlihat dari Priangan.
Dalam situasi nyata, pengamat mungkin hanya melihat beberapa meteor terang selama berjam-jam. Bahkan, seseorang dapat tidak melihat meteor sama sekali jika langit berawan atau lokasi pengamatan dikepung cahaya buatan.
Hal tersebut tidak menunjukkan bahwa hujan meteor gagal terjadi. Bumi tetap melintasi jalur partikelnya, tetapi mata manusia tidak mampu menangkap meteor yang kalah terang oleh Bulan dan lampu kota.
Waktu Terbaik untuk Melakukan Pengamatan
Pengamatan dapat dimulai sekitar pukul 00.00 WIB pada malam 30 Juli hingga menjelang fajar 31 Juli 2026. Peluang relatif lebih baik diperkirakan muncul antara pukul 01.00 hingga 04.00 WIB ketika titik radiant berada lebih tinggi.
Pengamat tidak membutuhkan teleskop atau teropong. Kedua alat itu justru mempersempit bidang pandang, sedangkan meteor dapat muncul secara tiba-tiba di berbagai bagian langit.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain memilih tempat gelap dan terbuka, mematikan layar ponsel, serta membiarkan mata menyesuaikan diri dengan kegelapan selama 20–30 menit. Pandangan sebaiknya diarahkan ke bagian langit yang menjauhi cahaya Bulan.
Pengamatan juga mesti dilakukan dari tempat aman dan diizinkan. Jangan berhenti di bahu jalan, memasuki kawasan terlarang, mendekati tebing, atau memaksakan diri berada di pantai ketika kondisi gelombang tidak mendukung.
Kesabaran menjadi perlengkapan paling penting. Hujan meteor bukan kembang api dengan jadwal kemunculan setiap menit. Ia dapat membuat pengamat menunggu lama, lalu tiba-tiba menggoreskan cahaya hanya dalam hitungan detik.
Masih Ada Kesempatan Setelah Malam Puncak
Southern Delta Aquariids tidak memiliki puncak yang sangat tajam. Aktivitasnya berlangsung selama beberapa pekan sehingga meteor dari aliran ini masih mungkin terlihat pada awal Agustus.
Jika cahaya purnama membuat pengamatan akhir Juli kurang memuaskan, masyarakat masih dapat mencoba kembali ketika Bulan mulai berkurang. Southern Delta Aquariids juga akan beririsan dengan awal aktivitas Perseids.
Namun, Perseids lebih menguntungkan bagi pengamat di belahan Bumi utara karena titik radiannya berada di rasi Perseus pada langit utara. Dari Priangan, posisinya tidak setinggi Southern Delta Aquariids.
Dengan demikian, hujan meteor akhir Juli tetap layak diamati dari wilayah Priangan, tetapi ekspektasi perlu dipasang secara wajar. Fenomenanya nyata dan posisi geografisnya mendukung, hanya saja purnama membuat pertunjukan tahun ini lebih menyerupai perburuan kilatan cahaya daripada hujan bintang yang memenuhi langit. (NS/AS)
