Nyaneut Garut: Teh Hangat yang Merekatkan Orang Sunda

lintaspriangan.com, BERITA GARUT. Festival Nyaneut akan kembali menghangatkan Lapang Situgede, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut, Kamis, 30 Juli 2026. Agenda yang masuk dalam Karisma Event Nusantara 2026 itu bukan sekadar pesta minum teh. Ia menghadirkan kembali cara masyarakat Sunda merawat persaudaraan melalui sesuatu yang amat sederhana: duduk berdekatan, berbagi hidangan, lalu membiarkan percakapan mengalir bersama uap dari secangkir teh.

Kementerian Pariwisata mencatat, Festival Nyaneut 2026 akan menghadirkan ritual minum teh khas Parahyangan, singkong rebus, gula aren, hasil kebun setempat, pertunjukan budaya, dan penampilan Samba Sunda. Rangkaian acaranya mencakup prosesi Mapag Cai, kidung, rajah, pencak silat, tari, hingga minum teh bersama. Namun, daya hidup Nyaneut Garut sesungguhnya tidak terletak pada keramaian panggung. Ia bersemayam dalam nilai yang telah lama dipelihara masyarakat Cigedug: menghangatkan tubuh sekaligus mendekatkan hati. Kementerian Pariwisata

Dari Teh Kejek Menjadi Ruang Pertemuan

Nyaneut tumbuh di kawasan berhawa sejuk di sekitar kaki Gunung Cikuray. Dalam keseharian masyarakat, teh bukan semata-mata komoditas perkebunan. Ia hadir di ruang tamu, dapur, pertemuan keluarga, dan percakapan antarwarga.

Masyarakat setempat memaknai Nyaneut sebagai ikhtiar mendekatkan dan mempertemukan. Orang yang sudah akrab dipererat, sedangkan mereka yang masih berjarak dipertautkan. Tafsir tersebut membuat secangkir teh memperoleh kedudukan lebih tinggi daripada sekadar pelepas dahaga.

Tradisi ini menggunakan teh kejek, teh tradisional khas Cigedug yang diolah secara manual. Sebutan “kejek” berkaitan dengan salah satu proses pengolahannya yang dahulu menggunakan tenaga kaki. Penelitian Universitas Pendidikan Indonesia mencatat, teh kejek telah dikenal sejak masa kolonial pada awal 1900-an. Produk tersebut kemudian melahirkan kebiasaan minum teh bersama yang bertahan dalam tradisi Nyaneut. Universitas Pendidikan Indonesia

Jejak itu bersinggungan dengan sejarah panjang perkebunan teh di Priangan. Penelitian dalam Lembaran Sejarah Universitas Gadjah Mada menunjukkan, perkebunan-perkebunan Eropa menjadi pintu masuk berkembangnya budidaya teh rakyat pada awal abad ke-20. Perkebunan bukan hanya menyediakan pekerjaan, tetapi juga menggerakkan perdagangan dan kehidupan ekonomi desa-desa di sekitarnya.

Di Garut, hubungan tersebut meninggalkan warisan yang khas. Teh yang semula ditanam sebagai barang dagangan akhirnya masuk ke dapur warga, bertemu dengan poci tanah liat, tungku, arang, batok kelapa, singkong, dan gula merah. Dari perjumpaan itulah teh memperoleh wajah lokalnya.

Ada pula tuturan masyarakat yang menghubungkan Nyaneut dengan metode dakwah Sunan Gunung Jati pada awal abad ke-16. Ketua Komunitas Nyaneut, Dasep Badrussalam, pernah menyampaikan bahwa masyarakat dikumpulkan terlebih dahulu untuk menikmati minuman hangat sebelum menerima petuah keagamaan.

Namun, riwayat tersebut sebaiknya ditempatkan sebagai tradisi lisan masyarakat, bukan disamakan begitu saja dengan sejarah penggunaan teh kejek. Sebab, kajian akademik yang tersedia menempatkan perkembangan teh kejek dalam konteks perkebunan kolonial pada awal abad ke-20. Dengan demikian, boleh jadi kebiasaan berkumpul sambil menikmati minuman hangat telah lebih dahulu hidup, sedangkan teh kemudian menjadi unsur utama yang memperkaya tradisi itu.

Prosesi Nyaneut sendiri tidak dilakukan dengan tergesa-gesa. Air dipanaskan menggunakan anglo atau tungku tanah liat berbahan bakar arang. Setelah mendidih, air dituangkan ke dalam poci tanah liat bersama teh kejek, kemudian dibiarkan beberapa saat.

Teh disajikan dalam cangkir batok kelapa atau cangkir seng. Sebelum diminum, cangkir diputar di atas telapak tangan sebanyak dua kali. Aromanya dihirup tiga kali, lalu teh diseruput perlahan. Gula merah tidak selalu dicampurkan ke dalam minuman, tetapi dapat digigit atau dinikmati bersama umbi-umbian rebus.

Urutan itu memaksa seseorang memperlambat gerak. Teh tidak diteguk sambil berdiri, apalagi diminum tergesa-gesa sembari menatap layar telepon. Ada waktu untuk melihat orang di hadapan, menghirup aroma, menyimak percakapan, kemudian menikmati rasa. Dalam zaman yang serba cepat, ritual semacam ini terasa seperti teguran halus: manusia juga perlu berhenti agar dapat benar-benar berjumpa.

Kajian Universitas Garut menemukan bahwa setiap bagian prosesi membawa pengetahuan lokal sekaligus nilai pendidikan. Pemanfaatan teh dan umbi-umbian mengenalkan hasil kebun masyarakat. Batok kelapa yang dijadikan cangkir memperlihatkan kreativitas memanfaatkan bahan alam. Sementara kegiatan minum bersama menanamkan kebersamaan, penghormatan terhadap perbedaan, dan ikatan kekeluargaan.

Duduk Setara, Menghangatkan Persaudaraan

Kekuatan terbesar Nyaneut terletak pada cara orang duduk bersama. Di hadapan poci dan cangkir teh, kedudukan sosial diperlunak. Tuan rumah dan tamu, pejabat dan warga, orang tua dan anak muda memperoleh ruang yang sama untuk berbicara maupun mendengarkan.

Penelitian mengenai tradisi Nyaneut di Desa Cigedug menggambarkan kegiatan tersebut sebagai sarana sosial dan spiritual. Tidak ada pembedaan kelas ketika warga duduk bersama. Kesederhanaan, rasa syukur, sikap saling menghormati, dan hubungan baik antarmanusia menjadi nilai yang terus dihidupkan.

Dalam perkembangannya, tradisi ini juga berkelindan dengan nilai keislaman. Doa, pembacaan ayat Al-Qur’an, kidung, dan rajah menjadi bagian yang membangun suasana khidmat. Penelitian Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon menyimpulkan bahwa tradisi Nyaneut menjadi ruang perjumpaan antara kebudayaan Sunda dan penghayatan agama. Minum teh bersama berfungsi memperkuat silaturahmi, keharmonisan, rasa syukur, dan semangat saling menolong.

Di sinilah Nyaneut menemukan relevansinya pada masa sekarang. Masyarakat modern memiliki banyak perangkat komunikasi, tetapi tidak selalu mempunyai cukup ruang untuk benar-benar bercakap. Pesan dapat dikirim dalam hitungan detik, sementara kesalahpahaman juga menyebar dengan kecepatan yang sama. Orang terkoneksi sepanjang hari, tetapi acap merasa sendirian.

Nyaneut menawarkan jalan yang sebaliknya. Kehangatan tidak dibangun melalui kemewahan, melainkan kehadiran. Orang duduk bersama, makanan dibagi, teh dituangkan, kemudian masing-masing belajar mendengar.

Masuknya Festival Nyaneut dalam Karisma Event Nusantara 2026 membuka peluang besar bagi Garut. Tradisi ini dapat menghidupkan pariwisata budaya, memperluas pasar teh kejek, mengenalkan pangan lokal, serta menambah pendapatan pelaku usaha kecil. Festival membuat warisan yang semula hidup secara lokal dapat dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.

Akan tetapi, pengakuan nasional juga menghadirkan tantangan. Nyaneut jangan sampai hanya menjadi seremoni tahunan yang meriah di panggung, tetapi kehilangan petani, perajin poci, pengolah teh kejek, serta masyarakat yang selama ini menjaganya. Kebudayaan akan tetap hidup apabila pelakunya memperoleh manfaat dan generasi mudanya memahami makna, bukan hanya hafal nama acaranya.

Karena itu, pelestarian Nyaneut Garut perlu bergerak melampaui festival. Teh kejek dapat dikembangkan sebagai produk gastronomi khas, prosesi Nyaneut dapat diperkenalkan di sekolah, dan rumah-rumah warga dapat menjadi ruang pengalaman budaya dalam skala kecil. Dokumentasi sejarah serta pengetahuan para tetua juga perlu dihimpun agar tradisi lisan tidak luruh bersama waktu.

Pada akhirnya, yang membuat Nyaneut istimewa bukan hanya teh, poci, atau kudapan yang menyertainya. Kekuatannya terletak pada kesediaan manusia menyediakan waktu bagi manusia lain.

Teh akan kehilangan panasnya beberapa saat setelah dituangkan. Namun, percakapan yang jujur, penghormatan yang tulus, dan persaudaraan yang lahir di sekelilingnya dapat menetap jauh lebih lama. Barangkali itulah sari pati Nyaneut: yang dihangatkan bukan hanya air, melainkan hubungan antarmanusia. (AS)

JEJAK HEROIK JABAR

Membuka Jejak Pejuang Tionghoa di Cirebon

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ada satu kalimat pendek dalam arsip...

Taktik Buaya Mangap Pejuang Cirebon Bikin Belanda Kocar-kacir

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jembatan-jembatan menuju Bantarjati tampak seperti sedang...

Selama 5 Bulan, Markas Belanda Digempur Pejuang Cikatomas

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ketika malam turun di wilayah selatan...

Pesantren Langkaplancar yang Berubah Menjadi Markas Laskar

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jauh dari pantai yang kini menjadi...

Dari Perlindungan 1947 hingga Harmony Award 2025

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Bensin telah diletakkan di dekat rumah-rumah warga...

PRIANGAN TIMUR

Ade Hendar: Generasi Muda yang Hebat Bukan Ditakuti di Jalan, tapi Berguna bagi Lingkungan

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Momentum Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2026,...

Kasatpol PP Kota Tasikmalaya: Menjaga Ketertiban Itu Amanat Pancasila

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Momentum Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2026,...

Kepala Kesbangpol Ciamis: Ormas Mengajarkan Bangsa Ini Arti Persatuan

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Momentum Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober...

Data Stunting Ciamis Berbeda, Pemkab Sebut Survei 20,23 Persen dan Pendataan Daerah 4,4 Persen

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Data stunting Ciamis menjadi perhatian Pemerintah...

Polisi Dalami Dugaan Perundungan SMAN 3 Tasikmalaya, Enam Siswa Senior Diduga Terlibat

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Polisi mendalami dugaan perundungan SMAN 3...

JAWA BARAT

Ribuan Rokok Ilegal Beredar di Cianjur, 7.000 Batang Disita dari Tiga Kecamatan

lintaspriangan.com, BERITA CIANJUR. Peredaran rokok ilegal di Kabupaten Cianjur...

Ruliadi: Dulu Pemuda Menjaga Indonesia dengan Darah, Hari Ini dengan Kesadaran Politik

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Momentum Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober...

PMI Asal Majalengka Pulang dari Yordania Bersama Lima Anak, Pemkab Siapkan Pendampingan

lintaspriangan.com, BERITA MAJALENGKA. Seorang PMI asal Majalengka yang bekerja...

Virtual Job Fair Bandung Buka 359 Lowongan dari Enam Perusahaan

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Ketenagakerjaan...

Revitalisasi Pasar Ciroyom Siapkan 1.045 Ruang Dagang, Pedagang Minta Kepastian Harga

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Perumda Pasar Juara Kota Bandung menyiapkan...

Kebakaran TPA Cikundul Belum Padam, 400 Personel Dikerahkan

lintaspriangan.com, BERITA SUKABUMI. Kebakaran TPA Cikundul Sukabumi belum sepenuhnya...

Layanan RSUD Kabupaten Bekasi Kembali Normal Usai Kebakaran Panel Listrik

lintaspriangan.com, BERITA BEKASI. Pelayanan RSUD Kabupaten Bekasi kembali berjalan...

Kasus Lapas Cibinong Masuk DPR, 13 Rumah Dinas Belum Tercatat sebagai Aset Negara

lintaspriangan.com, BERITA NASIONAL.– Kasus Lapas Cibinong memasuki babak baru...

Olahraga

Popular Categories