lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Harga jagung yang melonjak membuat pengusaha peternakan sekaligus tokoh masyarakat Kota Tasikmalaya, Haji Muslim, mempertanyakan kehadiran pemerintah kota. Ia menyebut peternak ayam petelur menghadapi tekanan karena bahan pakan mahal, sementara harga telur justru rendah.
Dalam keterangannya kepada redaksi, Rabu, 4 November 2026, Haji Muslim menyebut harga jagung di tingkat pedagang mencapai Rp8.100–Rp8.500 per kilogram. Sebelumnya, harga bahan pakan tersebut berkisar Rp5.500–Rp6.000 per kilogram.
“Peternak ayam petelur menjerit gara-gara harga jagung mahal,” kata Haji Muslim.
Menurut dia, kenaikan harga itu sudah berlangsung sejak akhir September. Artinya, persoalan tersebut telah berjalan lebih dari sebulan ketika ia menyampaikan keluhannya.
Haji Muslim mempertanyakan respons pemerintah terhadap keadaan tersebut. Sebagai pengusaha peternakan, ia menyoroti kesulitan peternak yang harus menghadapi dua tekanan harga sekaligus.
“Tapi anehnya pemerintah diam seribu bahasa,” ujarnya.
Jagung Mahal, Telur Justru Murah
Keluhan Haji Muslim berangkat dari persoalan yang langsung menyentuh kebutuhan usaha. Peternak harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli jagung, sementara penjualan telur menurutnya belum memberikan harga yang memadai.
Perbandingan harga yang ia sampaikan menunjukkan perubahan cukup besar. Harga jagung terendah saat ini, Rp8.100, bahkan sudah jauh melampaui batas atas harga sebelumnya, Rp6.000 per kilogram.
Selisih kedua angka tersebut mencapai Rp2.100 per kilogram. Untuk pembelian 100 kilogram jagung, tambahan pengeluarannya setara Rp210.000.
Perhitungan itu merupakan pembanding berdasarkan keterangan Haji Muslim, bukan catatan pengeluaran peternak tertentu. Namun, angka tersebut membantu menggambarkan tambahan kebutuhan uang ketika peternak membeli bahan pakan.
Pada saat bersamaan, Haji Muslim menyebut harga telur sangat murah. Ia belum memberikan rincian harga jual telur maupun perhitungan biaya produksi peternakan dalam keterangannya.
Karena itu, besaran keuntungan atau kerugian peternak belum dapat dihitung dari informasi tersebut. Yang ia tekankan adalah tekanan akibat jagung mahal dan harga telur yang tidak mengimbangi keadaan itu.
Kenaikan sejak akhir September juga menjadi bagian penting dari keluhannya. Persoalan tersebut, menurut keterangan Haji Muslim, bukan perubahan harga yang baru terjadi sehari atau dua hari.
Pemkot Tasikmalaya Diminta Menjawab
Sorotan Haji Muslim tertuju pada kehadiran pemerintah dalam menghadapi kesulitan tersebut. Ia mempertanyakan respons Pemkot Tasikmalaya ketika pelaku usaha peternakan mengeluhkan mahalnya bahan pakan.
Pernyataan itu merupakan kritik Haji Muslim terhadap penanganan persoalan peternak. Keterangannya belum menjadi kesimpulan bahwa pemerintah kota sama sekali tidak memiliki kegiatan atau program terkait.
Namun, keluhan tersebut memerlukan jawaban yang menyentuh keadaan di lapangan. Informasi mengenai pasokan jagung, perkembangan harga, dan langkah penanganan menjadi penting untuk menjelaskan situasi yang peternak hadapi.
Pengumuman kegiatan saja belum menjawab pertanyaan mengenai harga yang harus peternak bayar. Demikian pula, keberadaan pasokan perlu dilihat bersama kemudahan akses dan keterjangkauannya bagi pelaku usaha.
Redaksi belum memperoleh tanggapan Pemkot Tasikmalaya untuk melengkapi keluhan tersebut. Ruang penjelasan tetap terbuka bagi pemerintah kota mengenai langkah yang telah maupun sedang berjalan.
Bagi Haji Muslim, mahalnya jagung dan rendahnya harga telur sudah menjadi alasan untuk mempertanyakan kehadiran pemerintah. Peternak membutuhkan respons terhadap persoalan yang terus membebani kebutuhan usaha mereka. (AA)
