8. Sekolah Lapuk, Ruang Kelas Akhirnya Ambruk
Potret pendidikan yang muram muncul dari sejumlah sekolah. Di SDN 2 Bojonggambir, sebanyak 110 siswa dan tujuh guru harus beraktivitas di bangunan dengan atap berlubang serta dinding retak. Sekolah itu disebut belum pernah direnovasi sejak dibangun pada 2003.
Keadaan lebih gawat terjadi di SMPN 1 Bantarkalong. Dua ruang kelas dan satu ruang kesenian ambruk pada 27 Juli 2026. Tidak ada korban karena bangunan roboh setelah kegiatan belajar selesai. Sebelumnya, kondisi rusak berat juga disorot di SDN Kubangsari, Kecamatan Taraju. Ketika ruang belajar berubah menjadi ancaman keselamatan, persoalannya tidak lagi cukup dijawab dengan daftar pengajuan renovasi.
9. Krisis Air Menjangkau 23.557 Jiwa
Kekeringan menjadi berita Kabupaten Tasikmalaya dengan dampak paling luas terhadap kebutuhan dasar. Hingga 23 Juli 2026, krisis air bersih telah menjangkau 4.694 keluarga atau 23.557 jiwa di 15 desa yang tersebar pada 11 kecamatan.
BPBD bersama TNI, Polri, PMI, Damkar, dan Perumda Tirta Sukapura telah menyalurkan sekitar 209.000 liter air. Bantuan itu penting, tetapi mobil tangki tetap merupakan jalan keluar darurat. Kepala BPBD mengaitkan krisis dengan kerusakan lingkungan, pencemaran sumber air baku, perubahan iklim, serta belum tersedianya Pamsimas dan SPAM di sejumlah wilayah. Dengan kata lain, kemarau hanya membuka tabir persoalan yang lebih muskil: ketahanan air belum sepenuhnya terbangun.
Sembilan berita Kabupaten Tasikmalaya tersebut tidak dapat dipakai untuk menjatuhkan vonis bahwa seluruh pemerintahan berjalan buruk. Sebagian isu masih berupa tuduhan, sebagian telah direspons, dan sebagian lainnya sedang ditangani.
Namun, sentimen negatif tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh ketika masyarakat menemukan jarak antara anggaran dan manfaat, antara putusan dan pelaksanaan, antara proyek dan mutu, atau antara janji pelayanan dan kenyataan sehari-hari. (AS)
