Beranda blog Halaman 79

Pelantikan 3554 PPPK, Bupati Herdiat Tekankan Etika dan Keteladanan ASN

0

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ciamis melaksanakan pelantikan 3554 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu Tahun 2025 di Stadion Galuh Ciamis, Selasa (23/12/2025).

Pelantikan tersebut bukan sekadar menjadi seremoni pengangkatan aparatur sipil negara, tetapi juga momentum penguatan nilai etika, disiplin, dan keteladanan ASN di Kabupaten Ciamis.

‎Bupati Ciamis, Dr. H. Herdiat Sunarya, yang memimpin langsung prosesi pelantikan, menekankan, pengangkatan sebagai PPPK merupakan amanah besar yang harus dijawab dengan pengabdian tulus kepada masyarakat.

‎Menurutnya, status paruh waktu atau penuh bukanlah tolok ukur utama kualitas ASN. ‎Yang terpenting adalah komitmen dalam memberikan pelayanan publik yang profesional dan berintegritas.

‎“Yang utama itu pengabdian. Jangan sampai masyarakat merasa tidak terlayani dengan baik. ASN itu hadir untuk melayani, bukan untuk dilayani,” tegas Bupati Herdiat dalam sambutannya.

‎Pelantikan kali ini juga mencatat sejarah tersendiri karena untuk pertama kalinya digelar di Stadion Galuh Ciamis.

‎Bupati Herdiat mengaku jarang mengizinkan stadion digunakan di luar kegiatan olahraga, namun memberikan dispensasi khusus sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan panjang para peserta PPPK yang telah menanti pengangkatan selama bertahun-tahun.

‎Selain soal kinerja, Bupati juga menyoroti pentingnya disiplin yang tumbuh dari kesadaran pribadi, bukan karena rasa takut terhadap sanksi.

BACA JUGA: Angklung Silih Asih Santo Yohanes Ciamis, Satukan Kisah Harmoni Lintas Iman

‎Ia mengingatkan bahwa sikap, etika, dan penampilan ASN merupakan cerminan langsung dari wajah pelayanan pemerintah daerah.

‎Dalam kesempatan tersebut, Bupati Herdiat turut mengingatkan para PPPK untuk menjaga keharmonisan keluarga.

‎Ia menilai stabilitas rumah tangga berpengaruh besar terhadap kinerja dan etos kerja ASN, terutama di tengah meningkatnya angka perceraian di kalangan aparatur sipil negara.

‎“Jaga rumah tangga, saling menghormati, jangan mudah mengambil keputusan yang merugikan diri sendiri dan keluarga,” pesannya.

‎Menutup sambutan, Bupati Herdiat mengajak seluruh PPPK untuk bekerja lebih efisien dan penuh tanggung jawab, mengingat kondisi keuangan daerah yang sedang mengalami tekanan.

‎“Pengabdian harus menjadi niat utama. Soal rezeki, serahkan kepada Allah SWT,” pungkasnya. ‎(FSL)

Angklung Silih Asih Santa Yohanes Ciamis, Satukan Kisah Harmoni Lintas Iman

0

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Grup Angklung Silih Asih Santa Yohanes Ciamis ikut serta dalam upacara peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN), Hari Bela Negara ke-77, dan Hari Ibu ke-97 Tahun 2025 di Halaman Pendopo Ciamis, Senin (22/12/2025).

Keikutsertaan mereka membuktikan kalau seni itu sebagai bahasa universal yang mampu melampaui sekat keyakinan.

‎Bukan sekadar pertunjukan musik, kehadiran Angklung Silih Asih menjadi simbol ruang aman toleransi, tempat keberagaman dirayakan secara alami melalui seni budaya.

‎Sebagai grup angklung yang lahir dari komunitas minoritas, Angklung Silih Asih Santa Yohanes justru menjelma menjadi duta harmoni lintas agama di Kabupaten Ciamis.

‎Sejak berdiri pada 2019, kelompok ini konsisten tampil dalam berbagai kegiatan bersama lintas iman, bahkan kerap berkolaborasi dengan penari dari pesantren dan latar belakang yang berbeda.

‎Pelatih sekaligus dirigen Angklung Silih Asih, Yani Rahayu Wibowo, mengatakan, seni memberi ruang bagi setiap orang untuk saling memahami tanpa perlu mempertanyakan perbedaan.

‎“Lewat seni, kita bisa berbaur. Tidak ada sekat agama. Penarinya ada dari pesantren, pemainnya beragam. Itu yang ingin kami tunjukkan,” kata Yani.

‎Menurutnya, latihan rutin yang dijalani selama kurang lebih lima tahun menjadi fondasi kekompakan sekaligus komitmen kelompok dalam menjaga kualitas dan semangat kebersamaan.

‎Intensitas latihan pun menyesuaikan kebutuhan penampilan, mulai dari satu bulan sekali hingga seminggu sekali.

‎Tak hanya di Ciamis, Angklung Silih Asih juga telah tampil di sejumlah daerah seperti Jakarta dan Ambarawa. ‎Namun, tampil di Pendopo Ciamis memiliki makna tersendiri.

‎“Pendopo itu simbol kebersamaan masyarakat Ciamis. Bisa tampil di sini berkali-kali tentu menjadi kebanggaan bagi kami,” ungkapnya.

BACA JUGA: Ciamis Raih Predikat Kabupaten Paling Harmonis Se-Jabar

‎Yani juga mengapresiasi kuatnya iklim toleransi di Kabupaten Ciamis yang memungkinkan kelompok minoritas dapat hidup berdampingan secara harmonis.

‎“Sebagai minoritas, kami benar-benar merasakan toleransi itu. Awalnya mungkin ada rasa sungkan, tapi dengan banyaknya ruang kolaborasi, kami bisa berbaur dan saling menghormati. Ciamis luar biasa,” tegasnya.

‎Momentum peringatan Hari Ibu pun dimaknai Yani sebagai pengingat peran penting perempuan dalam menjaga nilai kehidupan, termasuk dalam seni dan keluarga.

‎“Ibu-ibu harus tetap sehat, kreatif, dan semangat menjalani semua peran. Jangan berhenti berkarya,” pesannya.

‎Melalui alunan angklung yang sederhana namun sarat makna, Angklung Silih Asih Santa Yohanes kembali menegaskan bahwa harmoni bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata yang hidup dan tumbuh di tengah masyarakat Ciamis. ‎(FSL)

Ancaman Nataru: Ribuan Botol Miras di Kota Tasikmalaya Disita Aparat

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), denyut Kota Tasikmalaya yang biasanya tenang mendadak berdenyut lebih kencang. Bukan oleh denting perayaan, melainkan oleh temuan aparat: 6.489 botol minuman keras berbagai merek dan kadar alkohol—bahkan hingga 48 persen—diamankan dari sebuah kios yang diduga kuat difungsikan sebagai gudang penyimpanan. Operasi itu dilakukan Satpol PP Kota Tasikmalaya di wilayah Kecamatan Kawalu, Senin (22/12/2025).

Jumlahnya bukan sekadar angka. Ribuan botol miras itu diduga siap edar dan ditujukan untuk pasar Nataru, bukan hanya di Kota Tasikmalaya, tetapi juga merembet ke wilayah sekitar seperti Pangandaran, Ciamis, dan Kota Banjar. Bagi aparat, temuan ini bukan operasi rutin. Ini alarm—bahwa peredaran miras di Kota Tasikmalaya masih mencari celah di balik pagar kota santri.

Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi menyebut pengungkapan ini lahir dari kerja bersama: komunikasi lintas instansi dan kepekaan warga. “Ini kondisi yang sangat memprihatinkan. Di Kota Santri ternyata masih ada gudang minuman keras dalam jumlah yang sangat besar,” katanya. Nada suaranya tegas, sekaligus cemas. Menurutnya, momentum akhir tahun selalu rawan. Dan miras, kata dia, sering menjadi pemantik berbagai tindak kriminal.

Gudang Tertutup di Kawalu

Lokasi penyimpanan berada di kawasan Leuwijen, Kelurahan Masudi, Kecamatan Kawalu. Dari luar, bangunan itu tampak biasa—tertutup, tanpa papan nama. Namun lalu lintas kendaraan yang keluar-masuk memantik kecurigaan. Aparat bergerak setelah pemantauan dan informasi warga mengerucut. Di dalamnya, ribuan botol tersusun rapi, siap dikirim.

Viman menegaskan, miras dengan kadar alkohol tinggi itu merupakan ancaman nyata bagi ketertiban umum. “Bayangkan, 6.489 botol ini bisa merusak mental dan akhlak anak-anak muda Kota Tasikmalaya dan memicu kriminalitas,” ujarnya. Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Pada periode Nataru, konsumsi miras kerap berkorelasi dengan meningkatnya gangguan keamanan—dari tawuran hingga kecelakaan lalu lintas.

Pelaku utama, menurut keterangan wali kota, berasal dari Jawa Tengah dan telah menetap serta menjalankan aktivitas usahanya di Kota Tasikmalaya sekitar enam bulan terakhir. Aparat menduga aktivitas ini memang disiapkan khusus untuk menyambut pergantian tahun. “Ke depan, bersama Polres, kami akan menyerahkan yang bersangkutan untuk diproses hukum sesuai peraturan yang berlaku,” kata Viman.

Modus, Peran Warga, dan Penegakan Perda

Dari pengakuan pelaku, miras tersebut didatangkan dari Bandung dan disimpan di lokasi yang disewa sebagai gudang. Modusnya sederhana namun efektif: memanfaatkan ketidaktahuan pemilik properti. “Pemilik tempat tidak mengetahui peruntukan gudang tersebut,” ujar Viman. Kasus ini menjadi pengingat—menyewakan bangunan tanpa mengetahui aktivitas penyewa bisa berujung masalah hukum dan sosial.

Selain pemilik usaha, petugas juga mengamankan seorang pengemudi kendaraan. Dalam pemeriksaan awal, pengemudi mengaku tidak mengetahui isi muatan yang dibawanya. Aparat masih mendalami perannya. Prinsip kehati-hatian ditegakkan: proses hukum berjalan, praduga tak bersalah tetap dijaga.

Yang menarik, pengungkapan ini juga memperlihatkan peran warga. Aktivitas mencurigakan—kendaraan keluar-masuk ke bangunan tertutup—tidak dibiarkan. Informasi mengalir ke Satpol PP. Viman pun mengajak publik untuk terus waspada. “Jangan ragu melapor jika ada kecurigaan. Baik ke call center Pemerintah Kota Tasikmalaya, Satpol PP, camat, lurah, maupun aparat setempat,” imbaunya.

Penindakan ini, tegas Viman, adalah bukti komitmen pemerintah daerah dalam menegakkan Perda Minuman Beralkohol. Menjelang Nataru, komitmen itu diuji. Dan pada Senin itu, aparat memilih bertindak lebih cepat—sebelum ribuan botol itu sempat berpindah tangan.

Di Kota Tasikmalaya, cerita tentang miras selalu berkelindan dengan harapan menjaga ruang hidup yang aman. Operasi ini menunjukkan satu hal: ketika aparat dan warga berjalan seiring, celah peredaran bisa ditutup. Nataru boleh meriah, tetapi ketertiban tetap nomor satu. (AS)

Bupati Herdiat Tekankan Perencanaan Efektif Bukan Sekadar Banyak Program

0

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ciamis mulai menyusun arah pembangunan daerah tahun 2027 dengan menekankan prinsip efektivitas dan kesesuaian dengan kemampuan keuangan daerah.

‎Hal tersebut mengemuka dalam Kick Off Meeting Perencanaan Pembangunan Kabupaten Ciamis Tahun 2027 yang digelar di Aula Adipati Angganaya, Bappeda Ciamis, Senin (22/12/2025).

‎Kick Off Meeting ini menjadi titik awal konsolidasi seluruh pemangku kepentingan dalam merumuskan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2027 agar tidak sekadar ambisius, tetapi juga realistis dan berdampak langsung bagi masyarakat.

‎Bupati Ciamis, Dr. H. Herdiat Sunarya dalam arahannya mengatakan, perencanaan pembangunan daerah harus berangkat dari pemahaman kondisi riil fiskal daerah.

‎Menurutnya, penyusunan program yang terlalu banyak tanpa skala prioritas justru berpotensi menimbulkan ketidakefisienan dan persepsi negatif publik.

‎“Perencanaan itu bukan soal banyaknya program, tapi sejauh mana program tersebut terukur, prioritas, dan mampu dilaksanakan sesuai kemampuan keuangan daerah,” kata Bupati Herdiat.

Dijelaskannya, RKPD merupakan instrumen strategis yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

“Untuk itu, seluruh perangkat daerah harus menyusun rencana secara matang dan bertanggung jawab,” jelasnya.

‎Dalam suasana yang mencerminkan kedekatan dan disiplin kerja, Bupati Herdiat bahkan memastikan kehadiran para camat se-Kabupaten Ciamis yang mengikuti kegiatan secara virtual, sebagai bentuk keseriusan pemerintah daerah dalam proses perencanaan.

‎Bupati juga mengakui, kondisi keuangan daerah Ciamis masih menghadapi keterbatasan. ‎Namun, hal tersebut tidak menjadi alasan untuk menurunkan kualitas pelayanan publik. Sebaliknya, keterbatasan anggaran harus dijadikan pendorong untuk memperkuat kolaborasi, gotong royong, dan inovasi.

‎“Dengan kondisi fiskal yang terbatas, kinerja aparatur tetap harus optimal. Kebersamaan dengan masyarakat adalah kunci agar pembangunan tetap berjalan,” ujarnya.

‎Pada kesempatan itu, Bupati Herdiat turut memberikan apresiasi kepada perangkat daerah yang berhasil meraih berbagai penghargaan sepanjang tahun.

BACA JUGA: Raih Predikat Harmony, FKUB Ciamis Ungkap Rahasiahnya

‎Meski demikian, ia menegaskan bahwa prestasi bukan tujuan akhir, melainkan hasil dari kerja kolektif yang konsisten.

‎Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Ciamis, Dadang Darmawan, menjelaskan, Kick Off Meeting ini bertujuan menyamakan persepsi seluruh pihak terkait arah pembangunan daerah tahun 2027.

‎“Kegiatan ini menjadi fondasi awal penyusunan RKPD 2027, mulai dari pengumpulan data, analisis potensi daerah, hingga perumusan program prioritas yang akan dijabarkan dalam rencana kerja perangkat daerah,” jelasnya.

‎Ia menambahkan, hasil Kick Off Meeting akan menjadi dasar penyusunan agenda kerja pembangunan daerah hingga ditetapkannya dokumen RKPD Kabupaten Ciamis Tahun 2027 melalui peraturan kepala daerah.

‎Dengan dimulainya tahapan perencanaan ini, Pemkab Ciamis berharap pembangunan ke depan dapat berjalan lebih terarah, terukur, dan selaras antara kebutuhan masyarakat serta kemampuan keuangan daerah. ‎(FSL)

Raih Predikat Kabupaten Paling Harmonis, FKUB Ungkap Rahasia Kerukunan Lintas Iman

0

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Kabupaten Ciamis dikenal sebagai salah satu daerah paling harmonis di Indonesia. Hal itu tercermin dari tingginya Indeks Harmoni dan keberagaman masyarakat yang dinilai berada pada kategori sangat baik secara nasional.

Demikian dikatakan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Dr. Sumadi usai mengikuti upacara peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN), Hari Bela Negara ke-77, dan Hari Ibu ke-97 Tahun 2025 di Halaman Pendopo Ciamis, Senin (22/12/2025).

Menurutnya, berdasarkan Indeks Harmoni yang dirilis Kementerian Dalam Negeri, Kabupaten Ciamis termasuk daerah dengan tingkat kerukunan umat beragama yang konsisten dan terjaga.

‎“Indeks keberagaman Ciamis berada di angka 7,24, lebih tinggi dibanding indikator lainnya. Ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya rukun, tetapi juga saling menghargai perbedaan,” ujar Sumadi.

‎Ia menambahkan, Ciamis bahkan meraih predikat sebagai kabupaten paling harmonis tingkat nasional, menempati peringkat kedua setelah Mimika, disusul Kabupaten Malang di posisi ketiga.

“Prestasi ini, merupakan hasil proses panjang yang dibangun sejak tahun 2007 melalui dialog, kerja sama lintas iman, serta keterlibatan aktif masyarakat,” ungkapnya.

‎Salah satu wujud nyata dari harmoni tersebut tampak dalam berbagai kegiatan bersama lintas agama, termasuk kolaborasi seni dan budaya yang rutin dilakukan oleh komunitas Muslim dan Katolik di Ciamis.

‎Bagi FKUB, seni menjadi medium efektif untuk memperkuat persaudaraan di tengah perbedaan keyakinan.

BACA JUGA: Tim Tilu Wira SDN Sukahurip Ciamis Raih Juara 1 Hackathon Tingkat Nasional

‎“Ini bukan kegiatan simbolik semata, tetapi cerminan kehidupan sehari-hari masyarakat Ciamis yang menjunjung kebersamaan,” ucapnya.

‎Sumadi juga menyinggung filosofi sosial yang berkembang di Ciamis, yakni konsep 99 persen Muslim dan 1 persen non-Muslim.

‎Filosofi ini, kata dia, tidak dimaknai sebagai pembeda mayoritas dan minoritas, melainkan penegasan, seluruh warga memiliki kedudukan yang setara.

‎“Di Ciamis tidak ada istilah minoritas. Semua warga diperlakukan sama tanpa melihat latar belakang agama,” tegasnya.

‎Ia berharap praktik baik yang telah terbangun di Ciamis dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia, bahkan bagi negara-negara dengan tingkat keberagaman yang tinggi.

‎“Kerukunan bukan sesuatu yang datang tiba-tiba, tetapi harus dirawat bersama. Pengalaman Ciamis membuktikan, harmoni bisa diwujudkan jika ada komitmen kolektif,” pungkasnya. ‎(FSL)

Sesar Lembang Memasuki Fase Krisis

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Di tengah wajah Bandung Raya yang terus tumbuh sebagai pusat permukiman, pariwisata, dan aktivitas ekonomi, ada ancaman alam yang bergerak perlahan namun pasti. Ancaman itu bernama Sesar Lembang. Patahan aktif sepanjang kurang lebih 29 kilometer ini membentang dari Padalarang hingga Jaten, melintas di wilayah yang kini semakin padat oleh rumah, jalan, dan bangunan publik. Dalam kurun waktu lebih dari 560 tahun tanpa gempa besar, sesar ini dinilai telah memasuki fase kritis akibat akumulasi energi seismik yang terus berlangsung di bawah permukaan tanah.

Kondisi tersebut menegaskan satu hal penting: ketiadaan gempa besar selama ratusan tahun bukanlah tanda aman, melainkan justru sinyal bahwa energi sedang disimpan. Dalam dunia kebumian, patahan seperti Sesar Lembang bukan mengenal konsep “lupa”, tetapi “menunggu”. Tekanan yang terakumulasi sedikit demi sedikit pada akhirnya akan mencari jalan untuk dilepaskan, dan pelepasan itulah yang menjadi sumber bencana.

Penjelasan ilmiah mengenai kondisi ini disampaikan oleh Mudrik Rahmawan Daryono, peneliti Pusat Riset Kebumian dan Maritim BRIN. Berdasarkan kajian paleoseismologi, penelitian di kawasan Lembang menemukan bukti pergeseran lapisan tanah lebih dari 1,5 meter. Temuan tersebut menunjukkan bahwa gempa besar pernah terjadi di masa lalu, meski tidak tercatat dalam dokumen sejarah modern. Fakta ini sekaligus menegaskan bahwa Sesar Lembang adalah patahan aktif yang bekerja dalam skala waktu panjang.

Ilustrasi mekanisme sesar memperlihatkan gambaran yang lebih jelas tentang cara kerja patahan ini. Pergerakan Sesar Lembang bersifat geser mendatar ke kanan, namun tidak berhenti di situ. Gerakan tersebut juga disertai komponen naik dan turun. Di bagian utara, wilayah Lembang mengalami proses pengangkatan atau uplifting. Sementara itu, bagian selatan, termasuk kawasan Bandung, mengalami proses penurunan atau subsiding. Kombinasi gerakan ini membuat dinamika kebumian di kawasan Bandung Raya menjadi lebih kompleks.

Posisi Bandung yang berada di area cekungan memiliki implikasi tersendiri. Secara geologis, kondisi ini berpotensi memperkuat guncangan gempa ketika energi dilepaskan. Dengan kata lain, bukan hanya kekuatan gempa yang menjadi faktor risiko, tetapi juga karakter wilayah yang dapat memperbesar dampaknya. Inilah yang membuat ancaman Sesar Lembang tidak bisa dilihat sebagai persoalan teknis semata, melainkan sebagai persoalan ruang hidup manusia.

Dengan laju geser rata-rata sekitar 3,5 milimeter per tahun, potensi pergeseran yang tersimpan diperkirakan dapat mencapai hingga tiga meter. Jika energi sebesar itu dilepaskan secara tiba-tiba, gempa dengan kekuatan magnitudo 6,5 hingga 7,0 sangat mungkin terjadi. Dalam skenario tersebut, kawasan permukiman padat, infrastruktur vital, dan fasilitas publik di Bandung Raya berada dalam risiko kerusakan serius.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa kedekatan manusia dengan jalur sesar adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Jalur Sesar Lembang melintas dekat pusat aktivitas masyarakat, sehingga pendekatan mitigasi menjadi kunci. Penataan ruang berbasis risiko, penguatan bangunan, serta peningkatan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi langkah yang tidak bisa ditunda.

Sesar Lembang tidak menunggu kesiapan manusia. Ketika energi yang tersimpan dilepaskan, peristiwa itu dapat terjadi dalam hitungan detik. Karena itu, kesiapsiagaan hari ini menjadi penentu apakah ancaman tersebut dapat diminimalkan, atau justru berubah menjadi bencana besar di masa depan. (AS)

H. Aslim: “Ibu-Ibu Indonesia, Wonder Woman Sebenarnya”

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Peringatan Hari Ibu bukan sekadar momen memberi ucapan atau unggahan seremonial di media sosial. Di balik perayaan itu, tersimpan kisah panjang tentang keteguhan perempuan-perempuan Indonesia yang, dalam berbagai kondisi paling sulit, tetap mampu melahirkan dan membesarkan generasi hebat bangsa.

Hal itu disampaikan Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, H. Aslim, saat diwawancarai wartawan Lintas Priangan, Senin (22/12/2025), dalam topik refleksi Hari Ibu. Menurutnya, istilah Wonder Woman justru paling tepat disematkan pada ibu-ibu Indonesia, bukan sebagai tokoh fiksi, melainkan sebagai realitas keseharian.

“Ibu-ibu Indonesia itu Wonder Woman sebenarnya. Mereka bertahan, berjuang, dan membesarkan anak-anaknya dalam kondisi yang sering kali tidak ideal,” kata Aslim.

Ia menegaskan, sejarah Indonesia menyimpan banyak contoh bagaimana ketangguhan seorang ibu berperan besar dalam membentuk watak dan karakter tokoh-tokoh besar bangsa. Kisah-kisah itu, kata dia, kerap luput dari sorotan, padahal menjadi fondasi penting perjalanan sejarah Indonesia.

Aslim menyinggung kisah ibu Presiden pertama RI, Soekarno. Ibunda Soekarno, Ida Ayu Nyoman Rai, berasal dari Bali dan harus menghadapi tekanan adat yang kuat ketika memilih menikah dengan Raden Soekemi, seorang guru bersuku Jawa. Pilihan hidup itu bukan perkara mudah di tengah norma sosial di zamannya. Namun dari keberanian seorang ibu yang melawan arus budaya itulah, lahir sosok proklamator bangsa.

“Kita sering mengagungkan pemimpinnya, tapi lupa bahwa di belakangnya ada ibu yang lebih dulu berjuang menghadapi tekanan sosial,” ujarnya.

Kisah serupa juga terlihat pada ibu Presiden kedua RI, Soeharto. Ibunda Soeharto hidup dalam keterbatasan ekonomi dan kondisi keluarga yang tidak stabil. Meski demikian, keteguhan dan daya tahan sang ibu menjadi bagian penting dari pembentukan karakter Soeharto kecil.

“Ibu tidak selalu mewariskan kemewahan. Banyak ibu justru mewariskan ketahanan mental,” kata Aslim.

Ia juga mengingatkan kisah ibu Panglima Besar Sudirman. Dalam berbagai catatan biografi, ibu Sudirman memilih menyerahkan anaknya kepada kerabat yang lebih mampu secara ekonomi agar mendapat pendidikan yang layak. Keputusan itu bukan karena kurangnya kasih sayang, melainkan kesadaran akan keterbatasan diri.

“Tidak semua pengorbanan ibu berbentuk pelukan. Ada yang berbentuk keputusan pahit demi masa depan anaknya,” ujarnya.

Aslim kemudian menyinggung kisah R.A. Kartini. Ibunda Kartini, Ngasirah, adalah seorang selir. Kondisi sosial itu membuat Kartini tumbuh dalam realitas yang tidak adil, bahkan ibunya sendiri berada pada posisi yang terpinggirkan dalam struktur sosial Jawa kala itu. Kartini sering merasa sedih, karena ibu kandungnya harus memanggil ia dengan panggilan Ndoro. Namun dari pengalaman itulah, lahir gagasan besar tentang emansipasi perempuan yang kemudian mengubah wajah pemikiran bangsa.

“Kita bisa melihat, dari luka sosial seorang ibu, lahir kesadaran besar tentang keadilan,” kata Aslim.

Tak kalah penting, Aslim juga mencontohkan kisah ibu Presiden ketiga RI, B. J. Habibie. Setelah suaminya wafat, ibunda Habibie memilih tidak menikah lagi dan mendedikasikan hidupnya untuk membesarkan anak-anaknya, termasuk Habibie, dengan disiplin dan perhatian penuh pada pendidikan.

“Ketulusan seorang ibu yang fokus membesarkan anaknya, ternyata bisa melahirkan seorang ilmuwan kelas dunia,” ucapnya.

Menurut Aslim, seluruh kisah tersebut menunjukkan bahwa peran ibu bukan sekadar biologis, melainkan juga sosial dan moral. Dalam medan kehidupan yang berat, seperti kemiskinan, tekanan adat, keterbatasan akses pendidikan, para ibu tetap berdiri sebagai penopang utama lahirnya generasi bangsa.

Dalam konteks kekinian, ia menilai peringatan Hari Ibu seharusnya menjadi momentum refleksi bagi para pengambil kebijakan, termasuk di daerah. Penghormatan kepada ibu, kata dia, tidak cukup berhenti pada ucapan, tetapi harus tercermin dalam kebijakan yang ramah terhadap perempuan, ibu, dan anak.

“Sebagai wakil rakyat, kami di DPRD punya tanggung jawab memastikan kebijakan daerah berpihak pada ketahanan keluarga. Karena dari keluargalah, masa depan daerah dan bangsa ini dibentuk,” ujar Aslim.

Ia berharap, Hari Ibu tidak hanya menjadi perayaan simbolik, tetapi juga pengingat bahwa kekuatan bangsa Indonesia bertumpu pada ketangguhan para ibu, para Wonder Woman yang nyata, hidup, dan bekerja setiap hari di tengah masyarakat.

“Kalau hari ini kita menikmati hasil dari pemimpin-pemimpin besar, jangan lupa: mereka lahir dari rahim ibu-ibu yang luar biasa,” pungkasnya. (AS)

Bupati Herdiat “Bela Negara Hari Ini Dimulai dari Solidaritas dan Kepedulian”

0

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Momentum peringatan tiga hari besar nasional dilaksanakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ciamis sebagai ajakan reflektif untuk memperkuat solidaritas kebangsaan dan kepedulian sosial.

‎Hal tersebut disampaikan Bupati Ciamis, Dr. H. Herdiat Sunarya saat memimpin upacara peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN), Hari Bela Negara ke-77, dan Hari Ibu ke-97 Tahun 2025 di Halaman Pendopo Ciamis, Senin (22/12/2025).

‎Upacara yang berlangsung khidmat tersebut diikuti oleh unsur Forkopimda, ASN, TNI-Polri, organisasi perempuan, serta berbagai elemen masyarakat. Dalam amanatnya, Bupati Herdiat menekankan bahwa peringatan hari-hari nasional tidak boleh berhenti pada simbol dan seremonial semata, melainkan harus diterjemahkan menjadi kepedulian nyata terhadap kondisi bangsa.

‎Mengutip pesan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto pada peringatan Hari Bela Negara, Herdiat mengingatkan bahwa sebagian wilayah Indonesia, khususnya Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, tengah menghadapi ujian berupa bencana alam.

Menurutnya, situasi tersebut merupakan panggilan moral bagi seluruh rakyat Indonesia untuk hadir dan saling membantu.

‎“Daerah-daerah itu memiliki kontribusi besar dalam sejarah berdirinya republik. Ketika mereka sedang diuji, sudah sepatutnya seluruh anak bangsa menunjukkan solidaritas,” katanya.

‎Ia menambahkan, semangat bela negara di era saat ini tidak lagi identik dengan angkat senjata, melainkan diwujudkan melalui kepedulian sosial, menjaga persatuan, melawan hoaks, serta memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi masyarakat.

BACA JUGA: Dari Alumni Untuk Sejarah Peran Fokus Alpaci Kawal Biografi KH Mohammad Sirodj

Dalam konteks Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional, Bupati Herdiat mengajak masyarakat Ciamis untuk menumbuhkan empati dan semangat gotong royong, terutama kepada korban bencana alam di berbagai daerah.

‎Bantuan, menurutnya, dapat disalurkan melalui berbagai jalur resmi maupun aksi sosial langsung sesuai kemampuan masing-masing.

‎Sementara itu, pada peringatan Hari Ibu ke-97, Herdiat menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan bangsa.

‎Dengan mengusung tema “Perempuan Berdaya dan Berkarya Menuju Indonesia Emas 2045”, ia menyebut perempuan Indonesia sebagai penggerak utama dalam keluarga, ekonomi, sosial, hingga pembangunan berkelanjutan.

‎“Perempuan bukan hanya pendamping pembangunan, tetapi aktor utama perubahan yang menentukan arah masa depan bangsa,” ungkapnya.

‎Upacara gabungan tersebut menjadi simbol, nilai bela negara, solidaritas sosial, dan pemberdayaan perempuan merupakan satu kesatuan yang saling menguatkan dalam menghadapi tantangan bangsa ke depan. ‎(FSL)

Pernyataan Ambigu BKPSDM Tasikmalaya

0

lintaspriangan.com, TAJUK LINTAS. Dalam birokrasi modern, kata asesmen sering terdengar sakral. Ia diucapkan dalam forum resmi, ditulis dalam dokumen kebijakan, dan dijadikan penanda bahwa sebuah keputusan telah melalui proses objektif. Namun ketika maknanya tidak dipahami secara utuh, asesmen justru berisiko berubah dari alat ukur menjadi sekadar simbol administratif.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, asesmen adalah proses penilaian untuk mengetahui keadaan, kemampuan, atau pencapaian seseorang atau sesuatu. Definisi ini menegaskan bahwa asesmen bukan sekadar hasil akhir, melainkan proses menyeluruh yang bertujuan memahami kecocokan.

Secara etimologis, asesmen berasal dari kata assessment, yang berakar pada bahasa Latin assidere, yang artinya “duduk di samping”. Filosofinya sederhana, bahwa menilai itu berarti hadir, harus dekat, dan memahami secara langsung, bukan sekadar membaca ringkasan atau melihat angka.

Persoalan muncul ketika makna ideal tersebut bertemu dengan praktik dan pernyataan pejabat publik.

Kepala BKPSDM Kota Tasikmalaya menyatakan bahwa pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi dilakukan berdasarkan akumulasi kinerja, hasil asesmen, potensi, kompetensi, rekam jejak jabatan, golongan, hingga pengalaman pendidikan dan pelatihan kepemimpinan. Pernyataan ini, secara normatif, terdengar sangat ideal dan selaras dengan prinsip sistem merit.

Jika berhenti di sini, publik mungkin akan mengangguk setuju. Namun persoalan tidak berhenti pada satu pernyataan.

Ketika Asesmen Masih Menyisakan “Nanti Dievaluasi”

Di bagian lain dalam sumber yang sama, Kepala BKPSDM juga mengatakan:
“Bisa saja seseorang pintar dan kinerjanya bagus, tapi tidak cocok di jabatan tertentu. Itu akan dievaluasi.” (sumber: radartasik.id)

Kalimat ini sepintas terdengar wajar. Namun dalam kerangka manajemen talenta, pernyataan tersebut justru menimbulkan tanda tanya besar. Jika asesmen telah dilakukan untuk mengukur potensi, kompetensi, dan kecocokan jabatan, maka ketidakcocokan seharusnya terdeteksi sebelum penempatan, bukan setelahnya.

Asesmen dirancang untuk bersifat menggali kecocokan dan mencegah kesalahan sejak awal. Ketika alasan “tidak cocok” baru muncul setelah jabatan diisi, publik berhak bertanya: apakah asesmennya yang kurang tajam, ataukah hasilnya tidak sepenuhnya dijadikan dasar keputusan?

Di titik ini, asesmen berisiko dipahami hanya sebagai prosedur awal yang bisa “dikoreksi” kemudian. Padahal, koreksi pascapenempatan seringkali menimbulkan biaya sosial, organisasi, dan kepercayaan publik yang tidak kecil. Ini juga berarti, asesmen yang dilaksanakan, justru tidak selaras dengan makna etimologisnya.

Tentunya, bukan berarti konsep asesmen itu sempurna. Namun, kalau yang jadi masalahnya adalah kecocokan, ini jelas luar biasa salahnya. Karena asesmen itu justru mencari kecocokan. Terkecuali, jika evaluasi dilakukan untuk hal lain selain kecocokan. Misalnya, disiplin, kondite kerja, dan sebagainya. Yang penting bukan kecocokan.

Tiga Nama, Satu Keputusan, dan Perang Bisikan

Masalah lain muncul ketika Kepala BKPSDM menjelaskan mekanisme pengambilan keputusan:
“Tugas kami mengajukan tiga nama. Pak Wali yang memilih. Itu mekanisme yang berlaku.”

Secara struktural, pernyataan ini benar. BKPSDM menjalankan fungsi teknis, melakukan asesmen dan mengajukan kandidat, sementara keputusan akhir berada di tangan kepala daerah. Namun di sinilah muncul persoalan konseptual.

Kepala daerah tidak terlibat langsung dalam proses asesmen teknis. Ia tidak mengikuti dinamika penilaian, tidak menguji instrumen, dan tidak “duduk di samping” proses asesmen sebagaimana makna asal kata tersebut. Namun, keputusan strategis justru harus diambil olehnya.

Dalam ruang kosong antara data teknis dan keputusan politik itulah potensi masalah muncul. Ketika pengambil keputusan tidak sepenuhnya melekat pada proses asesmen, maka faktor non-teknis berpotensi masuk. Dari sinilah bisikan menemukan celahnya.

Ujung-ujungnya, kekuatan bisikan menemukan panggungnya.
Dari bisikan trio macan hingga bisikan lima sekawan.
Sementara hasil murni asesmennya ke mana?
Entahlah.

Dalam sistem merit, asesmen seharusnya menjadi jangkar keputusan. Ia bukan sekadar salah satu pertimbangan, melainkan fondasi. Ketika asesmen masih harus “dikoreksi” oleh evaluasi pascapenempatan atau dilewati oleh mekanisme non-teknis, maka fungsinya melemah.

Asesmen yang tidak mengikat pada akhirnya hanya menjadi dekorasi kebijakan. Ada asesmen, tapi tidak menentukan.

Skeptisisme yang Sampai ke Mahkamah Konstitusi

Keraguan terhadap sistem merit ternyata tidak hanya tumbuh di ruang publik. Mahkamah Konstitusi pernah menegaskan pentingnya pengawasan independen dalam pelaksanaan sistem merit ASN. Pesannya jelas: tanpa pengawasan yang kuat, sistem merit rawan menjadi formalitas belaka.

Baca juga: Memangnya Ada yang Percaya Sistem Merit? MK pun Tidak!

Jika di tingkat konstitusional saja sistem merit dipandang perlu diawasi ketat, maka wajar bila publik di daerah mempertanyakan implementasinya, terutama ketika pernyataan para pejabatnya sendiri terasa tidak sepenuhnya sejalan antara konsep dan praktik.


Pada akhirnya, sistem merit bukan hanya soal mekanisme, melainkan soal niat dan integritas. Ia akan kehilangan makna jika keputusan lebih banyak ditentukan oleh bisikan ketimbang hasil penilaian.

Maka pertanyaan ini layak diarahkan kepada para pengambil kebijakan, bukan untuk dijawab di mimbar, tetapi direnungkan di ruang paling sunyi:
sudahkah sistem merit benar-benar dijalankan sesuai aturan, tanpa pengaruh kepentingan dan bisik-bisik di balik layar?

Sebab jabatan bukan hanya urusan hari ini, dan keputusan bukan sekadar soal administrasi. Apa yang ditetapkan dengan sadar akan dimintai pertanggungjawaban—bukan hanya di hadapan publik, tetapi juga di hadapan nurani, dan di hadapan Yang Maha Mengetahui.