Beranda blog Halaman 279

Waspada! Ngamar Jadi Tren Gen-Z Tasikmalaya Sambut Tahun Baru

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Momentum pergantian tahun sudah tinggal menghitung hari. Banyak yang sudah punya rencana, kegiatan apa untuk malam tahun baru. Tak terkecuali kalangan muda-mudi. Sebuah informasi dari segmen Gen-Z Tasikmalaya lumayan membuat meja redaksi Lintas Priangan tercengang. Kabarnya, saat ini ada tren negatif yang mulai melanda mereka. Dan, menurut narasumber Lintas Priangan, tak sedikit di antara mereka yang sudah mulai terpengaruhi oleh tren negatif tersebut.

“Ya, lumayan lagi tren sih, karena jadi perbincangan di lingkungan pergaulan kami,” terang Rd (20), yang ditemui Lintas Priangan di salah satu warung kopi di Kecamatan Sukaraja, Minggu (29/12).

Miris. Tren yang dimaksud oleh Rd ternyata adalah “ngamar”, alias check-in dengan lawan jenis untuk melakukan hubungan layaknya suami istri. Menurut Rd, ia dan beberapa teman sepermainannya sudah sering cerita, dan beberapa di antara mereka sudah memiliki rencana ngamar dalam rangka menyambut tahun baru. Termasuk Rd sendiri.

Tambah miris lagi, ketika ternyata tren negatif yang mulai menerpa Gen-Z Tasikmalaya tersebut bisa dilakukan tanpa harus ada komitmen apapun di antara para pelaku. Menurut Rd, ngamar bisa dilakukan setelah kedua pihak sepakat dan dilakukan atas dasar suka sama suka.

“Ya kalau bisa sih ajak pacar sendiri. Tapi ada juga yang pacarnya gak mau diajak, jadi ajak cewek lain aja. Banyak kok yang mau, yang penting suka sama suka,” terang Rd.

Lantaran dilakukan atas dasar suka sama suka, di benak Rd dan kawan-kawan, tren ngamar tersebut tidak boleh berujung pada saling menuntut. Misalnya, si perempuan minta pihak laki-laki untuk bertanggung jawab dan menikahinya.

Namun meski suka sama suka, untuk urusan dana, tetap lebih banyak laki-laki yang mengeluarkan. Meski sesekali, kadang pihak perempuan pun harus merogoh isi dompetnya.

“Maksimal paling punya Rp. 500 ribu. Itu udah kamar, udah jajan, makan. Udah cukup. Tentu laki-laki yang keluar uang. Tapi kalau kurang-kurang dikit, paling si ceweknya bayar sendiri pas makan atau jajan,” papar Rd.

Tren negatif yang mulai melanda Gen-Z Tasikmalaya tersebut memang tidak membutuhkan bajet besar. Hal ini lantaran tempat yang mereka gunakan bukan di hotel atau penginapan. Menurut Rd, di kawasan Kota Tasikmalaya, banyak sekali kost-kostan yang bisa disewa dengan harga murah, dan bisa dalam hitungan jam.

“Banyak. Bisa jam-jaman. Ada yang Rp. 60 ribu juga,” jelas Rd.

Apa mereka tidak takut kena razia? Saat ditanya demikian, Rd mengaku ada rasa takut. Tapi hal tersebut kerap bisa disiasati dengan berkomunikasi dulu dengan pemilik kamar kost. Menurut Rd, biasanya mereka bisa memberikan informasi, apakah akan ada razia atau tidak.

“Ya, yang punya kost pasti kasih informasi, hari ini aman, begitu,” terang Rd.

Tren negatif yang tengah menghantui Gen-Z Tasikmalaya ini mendapat respon dari Pimpinan Ponpes Tarbiyatul Ummah Tasikmalaya, Drs. H. Otong Koswara, M.Si. Menurutnya, tren negatif ini akibat arus globalisasi yang begitu deras dan sulit dibendung. Tanggung jawab globalisasi ini harusnya ada di tangan pemerintah, karena kalau harus dihadapi secara perorangan atau parsial akan cukup sulit.

“Bagi budaya barat misalnya, tren seperti itu mungkin biasa. Di negara mereka, tinggal serumah tanpa nikah juga tidak jadi masalah. Nah, tanpa terasa, budaya seperti itu begitu masif masuk ke Indonesia. Tentu saja melalui berbagai saluran media yang mudah diakses oleh siapapun termasuk kalangan Gen-Z. Ini sudah fenomena global, seharusnya pemerintah ada perhatian serius menangani hal-hal seperti ini,” terang Otong.

Hal senada juga disampaikan oleh Oki Siliwangi, salah seorang pegiat budaya Kota Tasikmalaya. Menurut Oki, pranata keluarga dan sekolah harus jadi garda terdepan dan lebih waspada dalam menjaga generasi penerus bangsa.

“Kita ini hidup dan berkembang di tengah bangsa yang beradab, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kodrati manusia. Keluarga dan sekolah tidak boleh abai. Apalagi di era globalisasi, harus lebih waspada terhadap serangan budaya yang tidak sesuai dengan nilai yang kita anut. Jangan terlalu terfokus pada target prestasi akademis. Apa gunanya pintar, jika perilakunya buruk,” tegas Oki.

Khususnya dalam momentum tahun baru yang tinggal beberapa hari lagi, Oki mengajak semua elemen masyarakat untuk sama-sama waspada dan mencegah tren negatif yang mulai mengganggu Gen-Z Tasikmalaya.

“Saya kira, dalam kapasitas kita masing-masing, mari kita sama-sama jaga generasi penerus bangsa. Jangan sampai mereka terjebak oleh tren yang negatif yang sebenarnya akan merusak mereka sendiri,” pungkas Oki. (Irwan Ardiansyah/Lintas Priangan)

Sampah Penuhi Bendungan Leuwi Keris, Daya Tarik Wisata Luntur

0

lintaspriangan.com BERITA CIAMIS. Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Ciamis dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir membawa dampak serius bagi Bendungan Leuwikeris. Bendungan yang diresmikan Presiden Joko Widodo sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional kini dipenuhi sampah. Plastik, bambu, serta potongan kayu mengapung di permukaan air, merusak pemandangan dan mengurangi daya tarik wisata yang selama ini diandalkan.

Wawan, seorang warga Handapherang, mengatakan bahwa sampah tersebut terbawa arus Sungai Cipalih dan Ciloseh yang hulunya berada di Tasikmalaya. Menurutnya, longsoran dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang terbawa banjir turut memperparah kondisi ini. “Air jadi bau, kelihatan kotor, dan tidak sedap dipandang. Pengunjung pasti enggan datang kalau kondisinya begini,” ujarnya dengan nada kecewa.

Tidak hanya merusak pemandangan, sampah yang menumpuk juga menyebabkan bau tidak sedap yang menyebar ke area sekitar. Kondisi ini bukan sekadar persoalan estetika, tetapi juga ancaman bagi kesehatan warga setempat.

Ketua Pecinta Lingkungan Tatar Galuh Ciamis, Mumu, menyatakan keprihatinannya atas situasi tersebut. Menurutnya, masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan tindakan sementara seperti pembersihan berkala, tetapi membutuhkan penanganan yang sistematis dan berkelanjutan. “Permasalahan ini butuh perhatian serius dari pemerintah daerah, BBWS Citanduy, dan juga kesadaran masyarakat untuk berhenti membuang sampah ke sungai,” tegasnya.

Lebih lanjut, Mumu menekankan perlunya regulasi yang jelas terkait pengelolaan sampah di sepanjang aliran sungai yang bermuara di Bendungan Leuwikeris. Ia menambahkan bahwa pemerintah harus menyediakan sarana pembuangan sampah yang layak di desa-desa sekitar sungai agar warga tidak lagi menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan akhir. “Kalau sarana prasarana tidak memadai, sulit mengharapkan masyarakat bisa berubah,” tambahnya.

Selain itu, ia juga meminta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan bendungan untuk turun tangan langsung menangani permasalahan ini. Menurutnya, tindakan preventif seperti rutin membersihkan bendungan dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan sungai harus diprioritaskan.

Di sisi lain, warga setempat berharap pemerintah dan pihak terkait bisa bergerak cepat sebelum kondisi semakin parah. Salah seorang warga menyatakan, “Kami hanya ingin bendungan ini kembali bersih. Sayang sekali kalau tempat seindah ini rusak hanya karena sampah yang sebenarnya bisa diatasi.”

Permasalahan sampah di Bendungan Leuwikeris tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak. Pemerintah daerah, lembaga terkait, dan masyarakat harus bekerja sama dalam mencari solusi yang konkret. Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai juga menjadi faktor penting dalam upaya ini.

BACA JUGA: Puncak Kepadatan Lalin Pangandaran Diprediksi 31 Desember

Bendungan Leuwik Keris sejatinya memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata unggulan di Jawa Barat. Namun, potensi tersebut akan sulit diwujudkan jika masalah sampah terus diabaikan. Dengan kolaborasi yang baik antara pemerintah, BBWS Citanduy, dan masyarakat, harapan untuk melihat Bendungan Leuwi Keris kembali bersih dan indah bukanlah hal yang mustahil.

“Jika semua pihak bisa bergerak bersama, saya yakin bendungan ini bisa kembali seperti dulu – bersih, indah, dan menarik untuk dikunjungi,” tutup Mumu dengan penuh harap. (Nanang Irawan/lintaspriangan.com)

Puncak Kepadatan Lalin Pangandaran Diprediksi 31 Desember

lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, arus lalu lintas di kawasan wisata Pangandaran diprediksi akan mengalami lonjakan signifikan. Peningkatan volume kendaraan diperkirakan terjadi pada 31 Desember 2024 hingga 1 Januari 2025. Hingga saat ini, situasi lalu lintas di jalur arteri dan kawasan wisata masih terpantau lancar.

Kasat Lantas Polres Pangandaran, AKP Asep Nugraha, menegaskan bahwa sejak Operasi Lilin dimulai pada 21 Desember 2024, belum ada tanda-tanda lonjakan signifikan di jalur utama maupun akses menuju kawasan wisata. Namun, ia menekankan pentingnya kewaspadaan karena puncak kepadatan diprediksi akan terjadi di malam pergantian tahun.

“Kemungkinan besar, kepadatan akan terjadi di hari Selasa dan Rabu. Kita sudah mempersiapkan skema rekayasa lalu lintas untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan di titik-titik rawan macet,” ujar AKP Asep pada Minggu (29/12/2024).

Menghadapi potensi kepadatan, pihak kepolisian telah menyiapkan sejumlah skema rekayasa lalu lintas. Salah satunya adalah penerapan sistem satu arah di beberapa titik krusial, terutama di sekitar kawasan Sunset Pangandaran. AKP Asep menegaskan bahwa langkah ini sudah terbukti efektif dalam mengurai kemacetan pada tahun-tahun sebelumnya.

“Untuk malam tahun baru, rekayasa lalu lintas satu arah tetap kita laksanakan seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, jika kepadatan terjadi di area Pangandaran Sunset, Simpang Matahari akan ditutup sementara,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa penutupan tersebut akan bersifat situasional. Jika kondisi lalu lintas masih kondusif, maka jalur tersebut akan tetap dibuka. Namun, jika kepadatan tidak dapat dihindari, langkah penutupan menjadi opsi terbaik demi kelancaran arus lalu lintas.

AKP Asep menekankan pentingnya kerja sama antara wisatawan dan aparat kepolisian untuk menjaga ketertiban di jalan raya. Ia meminta wisatawan untuk tidak memaksakan diri ketika menghadapi kemacetan dan selalu mematuhi arahan petugas di lapangan.

“Kami berharap wisatawan bisa bekerja sama dengan petugas. Ikuti arahan dan jangan memaksakan diri untuk menerobos kemacetan. Keselamatan dan kenyamanan bersama adalah prioritas utama kami,” tegas AKP Asep.

Selain itu, pihak kepolisian juga telah mendirikan pos pengamanan dan pelayanan di titik-titik strategis. Pos ini akan menjadi pusat koordinasi dan bantuan bagi wisatawan yang mengalami kendala di perjalanan.

Berdasarkan evaluasi dari tahun-tahun sebelumnya, beberapa titik rawan macet di Pangandaran telah dipetakan dengan jelas. Jalur menuju Pantai Barat, Pantai Timur, serta gerbang utama kawasan wisata menjadi area yang paling sering mengalami kepadatan.

BACA JUGA: Karang Taruna Galuh Wiyasa Gelar Temu Karya

“Kami akan terus memantau perkembangan arus lalu lintas, terutama di titik-titik yang diprediksi akan mengalami lonjakan kendaraan. Jika diperlukan, kami siap melakukan penutupan jalur sementara atau pengalihan arus,” pungkas AKP Asep.

Selain langkah teknis, AKP Asep juga mengingatkan pentingnya kesadaran etika berkendara bagi wisatawan. Kepatuhan terhadap rambu lalu lintas, kesabaran saat antrean panjang, dan saling menghargai sesama pengguna jalan menjadi faktor penting untuk menciptakan suasana kondusif.

Ia juga mengimbau wisatawan untuk memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan prima sebelum berangkat dan menghindari perjalanan pada jam-jam puncak jika memungkinkan.

Dengan persiapan matang dari pihak kepolisian dan kesadaran tinggi dari wisatawan, diharapkan libur akhir tahun di Pangandaran dapat berjalan dengan aman, nyaman, dan bebas dari insiden yang tidak diinginkan. (KMP/lintaspriangan.com)

Tugu Pahlawan di Kota Tasikmalaya Terbengkalai, Cermin Pemkot yang Abai dan Bebal

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Kondisi tugu pahlawan di Kota Tasikmalaya yang terbengkalai mengundang kritik pedas dari warga dan pegiat sosial. Tugu pahlawan yang menjadi sorotan tersebut terutama Tugu Pahlawan K.H. Zainal Mustofa, yang berlokasi di Lingkar Bypass, Linggajaya, Kota Tasikmalaya.

“Kondisinya parah, tidak terawat. Pagar besi yang mengelilingi tugu sudah rusak, sebagiannya hilang. Tepian trotoar yang mengelilinginya juga sudah tidak nyaman dipandang. Belum lagi kebersihan dan tanaman yang ada di dalamnya. Kalau dalam bahasa Sunda mah sareukseuk lah,” terang Asep (52), warga

Kondisi Tugu Pahlawan di Kota Tasikmalaya yang terbengkalai tersebut sudah berlangsung cukup lama. Menurut Asep, sebagai taman yang memiliki air mancur dan tata lampu, sudah lama tidak berfungsi.

“Seingat saya mungkin sudah ada sekitar setahun ya. Lampu-lampunya juga tidak nyala,” tambah Asep.

Tak hanya Asep, tugu pahlawan di Kota Tasikmalaya yang terbengkalai itu juga menuai kritik dari Diki Sam Ani, salah seorang pegiat sosial keagamaan di Tasikmalaya. Menurut Diki, Tugu KH. Zainal Mustofa yang terbengkalai merupakan cermin dari Pemkot Tasikmalaya yang abai dan bebal.

“Ya, dalam hal ini, kata yang paling tepat buat Pemkot Tasikmalaya itu ada dua, abai dan bebal. Silahkan cek di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI –red), arti abai itu tidak memedulikan. Kondisi tugu yang rusak dan tidak terawat itu kan sudah cukup lama, tapi mereka tidak peduli, anteng-anteng saja,” terang Diki.

Tak hanya abai, Diki menambahkan, Pemkot Tasikmalaya juga terkesan bebal. Lagi-lagi ia menjelaskan pengertian berdasarkan KBBI.

“Selain abai, Pemkot Tasikmalaya juga terkesan bebal. Arti bebal ini kalau kata KBBI adalah sukar mengerti, atau tidak cepat menanggapi sesuatu. Kondisi rusak seperti itu kan tidak terjadi dalam satu-dua hari. Kalau bahasa anak Gen-Z mah, nggak gercep (gerak cepat –red),” tambah Diki.

Diki mengaku seringkali heran dengan kinerja pemerintah yang hari ini masih terkesan lamban, apalagi abai dan bebal. Mengingat, pihak pemerintah itu memiliki semua sumber daya. Dari mulai SDM, anggaran, regulasi, dan lain sebagainya. Belum lagi dengan banyaknya dukungan teknologi di dalam penerapan sistem informasi manajemen.

“Semua sumber daya mereka miliki. Dukungan teknologi juga sudah sedemikian kuat dalam sistem pemerintahan. Harusnya hal-hal sepele seperti ini tidak perlu terjadi. Kreatif sedikit saja, pasti bisa punya solusi. Peupeuriheun masalah nu kompleks atuh,” ujar Diki.

Diki juga mengingatkan, bagaimana masyarakat Kota Tasikmalaya khususnya dari kalangan ulama, memiliki perhatian khusus terhadap tugu pahlawan tersebut. Ia memberi contoh, peristiwa akhir tahun lalu, sekitar bulan Desember 2023, ketika pagar tugu tersebut dipenuhi oleh alat peraga kampanye.

“Akhir tahun lalu, ketika tugu tersebut dipenuhi spanduk kampanye, para ulama yang ketika itu diwakili KH Yanyan Albayani sebagai Ketua Forum Silaturahmi Lembaga dan Organisasi Keagamaan Kecamatan Mangkubumi meminta agar dilakukan penertiban. Para ulama mengingatkan untuk sama-sama menjaga tugu tersebut,” tambahnya.

Jadi menurut Diki, bukan sekedar menjaga fungsi, regulasi dan estitika. Tugu pahlawan di Kota Tasikmalaya yang terbengkalai itu adalah Tugu KH. Zainal Mustofa, monumen yang dibangun sebagai apresiasi kepada pahlawan nasional dari Tasikmalaya, yang notabene ulama besar.

“Silahkan Anda tanya pada warga Tasikmalaya, mau di kota atau kabupaten, tanyakan siapa pahlawan dari Tasikmalaya. Pasti salah satu nama yang mereka sebut adalah KH. Zainal Mustofa. Mau bertanya ke anak remaja ataupun orang tua, pasti menyebut nama tersebut. Ini realitas tentang bagaimana warga Tasikmalaya begitu ngamumule pahlawan dan ulama dari daerahnya. Atau jangan-jangan pejabat di Pemkot Tasikmalaya sekarang banyak yang tidak tahu siapa KH. Zainal Mustofa?” pungkas Diki. (Deni Heryanto/Lintas Priangan)

Karang Taruna Galuh Wiyasa Gelar Temu Karya

0

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Karang Taruna Galuh Wiyasa Kelurahan Ciamis melaksanakan Pemilihan Ketua Karang Taruna (Temu Karya) periode 2024-2029. Ada dua kandidat calon ketua yaitu Sendy Hemafitriana yang merupakan Ketua Karang Taruna Kelurahan Ciamis periode 2019-2024 dan Widodo.

Dalam pemilihan yang dilaksanakan secara demokrasi di Aula Kantor Kelurahan Ciamis, Sabtu (28/12/2024), Widodo terpilih menjadi Ketua Karang Taruna Kelurahan Ciamis untuk periode 2024-2029 dengan mendapatkan 33 suara, sedangkan Sendy mendapat 15 suara dari total 48 suara.

Ketua Panitia Pelaksana, Andi Tasman mengatakan, dilaksanakannya pemilihan ini karena ketua dan kepengurusan Karang Taruna Kelurahan Ciamis sudah habis. Sebelum pelaksanaan pihaknya membuka pendaftaran calon ketua yang dimulai dari tanggal 21-25 Desember 2024.

“Dari hasil pendaftaran ditetapkan dua orang calon yaitu Sendy dan Widodo. Tahapan selanjutnya tanggal 28 Desember 2024 kita laksanakan pemilihan Ketua Karang Taruna Kelurahan Ciamis secara terbuka dan secara langsung,” ungkapnya.

Andi Tasman juga menjelaskan, dalam proses pemilihan tersebut diwakili hak pengguna suara yaitu setiap RW mengutus dua orang perwakilan dan membawa mandat suara dari ketua RW nya, dan yang datang ke kelurahan ada 48 orang, ditambah tiga orang yaitu Ketua Karang Taruna Kelurahan, LPM dan satu suara dari Kelurahan jadi total semua 51 suara.

“Untuk perolehan suara, calon nomor satu yaitu Sendy mendapatkan 15 suara dan calon nomor urut 2 Widodo mendapatkan 36 suara, yang terpilih menjadi ketua adalah Widodo,” katanya..

Sebagai ketua panitia pelaksana, Andi Tasman juga sangat mengapresiasi kepada semua pihak yang telah membantu berjalannya pemilihan ketua karang taruna Kelurahan Ciamis aman damai dan kondusif.

“Kami juga sangat berterima kasih kepada Ibu Anggia Herfianti yang sudah datang ke acara pemilihan Ketua Karang Taruna Galuh Wiyasa Kelurahan Ciamis ini,” ungkapnya.

Andi Tasman juga berharap, dengan ketua karang taruna yang baru semoga bisa menggali potensi pemuda pemudi di wilayah Kelurahan Ciamis untuk bisa berkarya dan berjiwa sosial dalam membantu masyarakat di wilayah Kelurahan Ciamis.

Lurah Ciamis, Muhlaso Dian Adinata, S.STP., sangat mengapresiasi kegiatan tersebut yang pelaksanaannya berjalan aman, tertib dan lancar. Dengan terpilihnya Ketua Karang Taruna Kelurahan Ciamis yang baru diharapkan dapat lebih bersinergi dengan pihak kelurahan untuk membantu membangun wilayah Kelurahan Ciamis dalam melaksanakan berbagai program pemerintah.

“Selamat pa Widodo semoga dapat membawa Karang Taruna Kelurahan Ciamis ke arah yang lebih baik lagi,” ujarnya.

Menurutnya acara pemilihan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat peran pemuda dalam pembangunan dan kemajuan khususnya di Kelurahan Ciamis. Dengan terpilihnya ketua yang baru, diharapkan Karang Taruna dapat semakin berkontribusi positif bagi masyarakat.

Karang Taruna merupakan organisasi kepemudaan yang bertujuan untuk memajukan wilayah kelurahan/desa. Untuk itu pihaknya berharap agar karang taruna dan perangkat kelurahan harus bekerja sama untuk memajukan Kelurahan Ciamis.

“Karang Taruna juga harus proaktif untuk mengadakan berbagai kegiatan positif bagi kepemudaan,” katanya.

Muhlaso juga mengucapkan terimakasih kepada ketua karang taruna sebelumnya, Sendy yang telah bersinergi, berbakti dan mengabdi selama menjadi Ketua Karang Taruna Kelurahan Ciamis pada periode 2019-2024.

Ketua Karang Taruna Kecamatan Ciamis, Kang Utis juga sangat mengapresiasi atas terlaksananya pemilihan Ketua Karang Taruna Kelurahan Ciamis periode 2024-2029. Pihaknya sangat berterima kasih atas terselenggaranya Temu Karya Karang Taruna Kelurahan Ciamis yang berjalan lancar.

“Selamat kepada ketua yang baru semoga, Karang Taruna Kelurahan Ciamis bisa lebih baik lagi, lebih bersinergi dengan berbagai pihak untuk memajukan Kelurahan Ciamis ini,” ujarnya

Kang Utis juga menyampaikan, seorang ketua karang taruna harus mendapat dukungan penuh dari segenap pengurus. Dengan begitu, implementasi visi dalam bentuk program kegiatan bisa sejalan dan berjalan lancar.

BACA JUGA: Periode Desember 2024, 263 Desa dan Kelurahan di Ciamis Sudah ODF

“Peran serta karang taruna dalam mendukung program pemerintah khususnya di wilayah Kelurahan Ciamis sangat diperlukan,” ucapnya.

Sementara itu Ketua Karang Taruna Kelurahan Ciamis terpilih, Widodo mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ia berkomitmen untuk menjalankan amanah yang diberikan dengan sebaik-baiknya.

“Saya akan terus bersinergi dengan pihak kelurahan dan menjalin komunikasi, koordinasi, serta konsultasi dengan para tokoh masyarakat Kelurahan Ciamis untuk merumuskan program-program yang dapat memberdayakan pemuda dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, sebagai langkah awal setelah dilantik dan dikukuhkan kepengurusan Karang Taruna Kelurahan Ciamis yang baru, Ia akan lebih bersinergi dengan pihak kelurahan, dan pihak lainnya. Ia juga akan membenahi karang taruna unit yang ada di Kelurahan Ciamis.

“Yang sudah aktif ada sekitar 10 berarti tinggal 22 unit lagi yang belum aktif. Kita juga akan menyamakan persepsi dengan kelurahan, agar bersinergi dalam segala hal, segala bidang untuk kemajuan Kelurahan Ciamis,” jelasnya. (Nank Irawan/lintaspriangan.com).

Misteri Mayat di Sungai Citanduy Akhirnya Terungkap

lintaspriangan.com. BERITA BANJAR. Misteri penemuan mayat yang mengapung di Sungai Citanduy akhirnya terungkap. Kepastian identitas korban diperoleh setelah pihak keluarga mendatangi Instalasi Pemulasaraan Jenazah (IPJ) di RSUD Kota Banjar, Jumat, (27/12/2024).

Korban diketahui bernama Dewi Siti Marhamah (47), warga Lingkungan Parung Lesang, Kelurahan Banjar, Kota Banjar, Jawa Barat. Kabar tersebut sontak mengejutkan keluarga yang sebelumnya telah melakukan pencarian sejak pagi hari.

Seperti diketahui sebelumnya, Warga Kota Banjar digegerkan dengan penemuan sesosok mayat tanpa identitas yang mengambang di Sungai Citanduy pada, Jumat (27/12/2024) sore.

Insan Kamil, menantu korban mengatakan, mertuanya itu meninggalkan rumah sekitar pukul 09.00 WIB tanpa memberi tahu tujuan kepergiannya.

“Tadi pagi beliau pergi dari rumah sekitar jam sembilan, dan tidak ada yang tahu pergi kemana,” kata Insan saat ditemui awak media di rumah sakit.

Dijelaskan Insan pihak keluarga langsung berusaha mencari Dewi ketika menyadari sampai siang hari Ia tidak kunjung pulang. Keluarga sudah menyisir berbagai lokasi di sekitar rumah, termasuk daerah terminal, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Dewi. Bahkan, keluarga diluar kota, termasuk yang berada di Ciamis, turut dihubungi untuk memastikan apakah Dewi mungkin berada disana.

“Kami sudah mencari kemana-mana, lingkungan sekitar, terminal, dan keluarga di Ciamis juga dihubungi. Tapi semuanya tidak ada yang tahu keberadaan beliau,” jelas Insan.

Lebih lanjut, Insan mengungkapkan, Dewi memiliki riwayat penyakit kejiwaan yang sudah dideritanya sejak tahun 2010. Selama ini, Dewi tengah menjalani proses pengobatan untuk mengatasi kondisinya.

“Ibu memang memiliki riwayat penyakit kejiwaan sejak lama, sekitar tahun 2010. Kemarin-kemarin juga masih dalam tahap pengobatan,” ungkap Insan dengan nada lirih.

Keluarga akhirnya memastikan kalau mayat yang ditemukan di Sungai Citanduy adalah Dewi setelah mengenali ciri-ciri fisiknya. Meskipun kejadian ini sangat mengejutkan dan menyedihkan, keluarga memilih untuk menerima musibah ini dengan ikhlas.

Menurutnya, pihak keluarga menolak dilakukan otopsi terhadap jenazah Dewi. Keluarga sudah cukup yakin dengan penyebab kematian Dewi dan tidak ingin proses lebih lanjut yang dianggap tidak perlu.

“Kami memutuskan untuk tidak melakukan otopsi pada jenazah. Kami menerima ini sebagai musibah dan sudah ikhlas,” katanya.

Setelah identitas Dewi dipastikan, jenazah langsung diserahkan kepada pihak keluarga, dan langsung dibawa ke rumah duka untuk segera dimakamkan.

Salah seorang warga setempat yang ikut membantu pencarian, Asep (40), mengatakan bahwa kabar hilangnya Dewi memang sempat membuat warga sekitar turut membantu pencarian. Ia merasa lega ketika akhirnya korban ditemukan meskipun dalam keadaan yang tidak diharapkan.

“Warga juga ikut mencari tadi pagi, tapi tidak ada yang menduga kalau beliau akan ditemukan di sungai,” ujar Asep.

BACA JUGA: Proyek SMP IT Miftahul Huda II Ciamis Molor, Transparansi Dipertanyakan

Penemuan mayat Dewi di Sungai Citanduy sempat membuat geger warga Kota Banjar. Apalagi, kondisi sungai saat itu cukup deras akibat hujan deras pada malam sebelumnya, yang membuat proses evakuasi menjadi lebih sulit.

Pihak kepolisian dan petugas terkait juga sudah memastikan bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa kematian Dewi murni akibat kecelakaan.

Sementara itu, pihak keluarga berharap masyarakat dapat memahami kondisi ini dan tidak berspekulasi lebih jauh terkait penyebab kematian Dewi. Mereka juga memohon doa agar almarhumah dapat beristirahat dengan tenang.

Kejadian ini menjadi pengingat bagi masyarakat, terutama keluarga yang memiliki anggota dengan kondisi kesehatan mental tertentu, untuk terus memberikan perhatian ekstra. Dukungan keluarga dan pengawasan yang baik sangat penting untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Jenazah Dewi akhirnya dimakamkan di pemakaman umum setempat pada Jumat sore dengan dihadiri oleh keluarga, kerabat, dan tetangga yang turut berbelasungkawa. Prosesi pemakaman berlangsung dengan khidmat dan penuh haru.

Keluarga besar Dewi Siti Marhamah berharap agar kejadian serupa tidak terulang dimasa mendatang dan meminta masyarakat untuk lebih peduli terhadap keluarga yang memiliki kondisi kesehatan serupa. (Johan/lintaspriangan.com)

Periode Desember 2024, 263 Desa dan Kelurahan di Ciamis Sudah ODF

0

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Berdasarkan laporan yang terima, kondisi Open Defecation Free (ODF) atau Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) di Kabupaten Ciamis sampai Bulan Desember 2024 mencapai 99,2% atau 263 desa/kelurahan sudah ODF.

Demikian dikatakan Sekertaris Daerah Sekda Kabupaten Ciamis, Dr. H Andang Firman Triyadi dalam sambutannya di acara Verifikasi dan Deklarasi ODF atau SBS tingkat Kecamatan Ciamis, Jumat (27/12/2024) di Halaman Kantor Kecamatan Ciamis.

Kegiatan dihadiri oleh empat kelurahan yaitu Kelurahan Ciamis, Kertasari, Sindangrasa dan Kelurahan Maleber. Deklarasi dibacakan oleh Camat Ciamis dan masing-masing lurah.

ODF adalah program yang bertujuan untuk menghentikan praktik Buang Air Besar (BAB) sembarangan dan mewujudkan kesehatan masyarakat.

“Dari 265 desa/kelurahan, yang masih OD tinggal dua desa di Kecamatan Panawangan,” katanya.

Dijelaskannya, ODF atau yang dikenal dengan istilah Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) adalah suatu kondisi ketika seluruh masyarakat buang air besar ditempat yang sudah memenuhi syarat (Jamban Sehat).

Dikatakan Andang, yang menjadi dasar percepatan dari setiap kabupaten/kota untuk melakukan peningkatan percepatan ODF adalah surat edaran Kemendagri No.600.10.5/8931/Bangda tahun 2023.

“Dalam deklarasi Jakarta disebutkan, seluruh provinsi di Indonesia termasuk Jawa Barat berkomitmen dalam upaya percepatan stop buang air besar sembarangan menuju air minum dan sanitasi aman untuk Indonesia sehat,” jelasnya.

Andang juga menyampaikan, banyak keuntungan yang didapat dari ODF diantaranya, menurunnya angka penyakit berbasis lingkungan, meningkatnya cakupan masyarakat yang sudah melakukan buang air besar di jamban sehat, meningkatnya akses jamban di masyarakat, adanya kerjasama dan sifat kebersamaan di masyarakat.

“Kita juga dapat mengikuti penyelenggaraan kabupaten/kota sehat dengan ketentuan yaitu untuk Swasti Saba Padapa minimal ODF 80%, Swasti Saba Wiwerda minimal ODF 90%, dan Swasti Saba Wistara dengan ODF 100%,” ungkapnya.

Menurutnya, dari hasil advokasi tim Provinsi Jawa Barat kepada Pemerintah Kabupaten Ciamis, yang diterima langsung Asda 1 dan tim Kabupaten Ciamis, diperoleh kesepakatan untuk Kabupaten Ciamis ODF diakhir tahun 2024.

“Mari kita semua pertahankan dan tingkatkan capaian ini di tahun depan dan tahun-tahun berikutnya untuk Ciamis sehat dan sejahtera,” ajaknya.

Menurut Andang, kondisi di Kecamatan Ciamis sampai tanggal 23 Desember 2024 kemarin sebanyak tiga kelurahan dan lima desa sudah ODF dan masih tersisa empat kelurahan lagi. Hari ini ada empat kelurahan yang melaksanakan deklarasi ODF yaitu, Kelurahan Ciamis, Kertasari, Maleber dan Sindangrasa, sehingga seluruh desa dan kelurahan yang berada di Kecamatan Ciamis sudah ODF.

BACA JUGA: Buka P2KB Tingkat Madya, Kang Agun: Kader SOKSI Pelopor Menjaga Nilai Kebangsaan

“Ini patut diapresiasi bersama sebagai bentuk rasa tanggungjawab kita untuk kesehatan masyarakat dan lingkungan di Kabupaten Ciamis, khususnya di Kecamatan Ciamis,” jelasnya.

Sementara itu Camat Ciamis, Dedi Mulyana menambahkan, Kecamatan Ciamis memiliki tujuh kelurahan, namun dalam deklarasi ini diikuti oleh empat kelurahan yaitu Kelurahan Ciamis, Kertasari, Maleber dan Kelurahan Sindangrasa, karena yang tiga kelurahan sebelumnya sudah melaksanakan deklarasi.

“Alhamdulillah Kecamatan Ciamis sudah ODF, dari 5 desa 7 kelurahan sudah mendeklarasikan ODF. Jadi sudah Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS),” katanya.

Dikatakannya, untuk STBM pihaknya sudah mempunyai pengalaman dari covid salah satunya menyediakan tempat cuci tangan di lingkungan kecamatan, menggunakan air bersih, jamban sehat, menjaga lingkungan sekitarnya, dan ketika ada masyarakat ibu hamil dan mempunyai balita rajin periksa ke posyandu.

Menurutnya, banyak program yang dilaksanakan setiap kelurahan, salah satunya program Kekasih Hati yang digelar Kelurahan Sindangrasa dengan mengadakan perlombaan dan ada program anak asuh bagi balita stunting.

“Program anak asuh balita stunting ini melibatkan para pegawai kelurahan, contohnya para kasi yang menjadi orang tua asuh,” pungkasnya. (Nank Irawan/lintaspriangan.com)

Warga Desa Cigayam Desak Transparansi Pengelolaan Dana Desa

0

lintaspriangan.com BERITA CIAMIS. Puluhan warga Desa Cigayam, Kecamatan Banjaranyar, Kabupaten Ciamis, menggelar aksi protes di kantor desa. Mereka menuntut transparansi dalam pengelolaan Dana Desa 2024, yang selama ini dianggap tidak jelas. Protes ini dipicu oleh ketidakjelasan penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan mangkraknya pembangunan infrastruktur yang menggunakan anggaran desa.

Koordinator aksi, Yanto, menyatakan bahwa ketidakjelasan alokasi anggaran Dana Desa selama tahun berjalan menjadi titik utama protes warga. Menurutnya, banyak program pembangunan infrastruktur yang terhenti tanpa alasan yang jelas. Selain itu, penyaluran BLT yang seharusnya sudah diterima masyarakat sejak beberapa bulan lalu, hingga kini belum juga disalurkan.

“Banyak proyek infrastruktur yang mangkrak, dan yang paling menyedihkan, BLT yang seharusnya menjadi hak masyarakat pun belum disalurkan hingga sekarang,” tegas Yanto.

Pernyataan ini menggambarkan keresahan mendalam yang dirasakan oleh warga, yang merasa hak-haknya diabaikan. Jumat,  (27/12/2024),

Tidak hanya itu, Yanto menambahkan bahwa warga sangat mendesak agar pemerintah desa memberikan penjelasan terbuka mengenai siapa yang bertanggung jawab atas penggunaan anggaran Dana Desa.

Mereka ingin mengetahui alokasi anggaran secara jelas, tanpa ada yang disembunyikan. “Kami meminta kepala desa dan perangkatnya untuk terbuka soal siapa saja yang terlibat dalam pengelolaan anggaran Dana Desa. Jangan ada yang ditutup-tutupi,” katanya dengan tegas.

Puncak tuntutan warga adalah agar kepala desa dan perangkatnya bertanggung jawab penuh atas pengelolaan anggaran. Jika tidak ada itikad baik untuk menyelesaikan masalah ini, mereka meminta kepala desa dan perangkat desa mundur dari jabatannya.

“Jika tidak ada perubahan, kami mendesak kepala desa dan perangkatnya untuk mundur. Namun sebelum itu, mereka harus mempertanggungjawabkan apa yang telah mereka lakukan,” tegas Yanto.

Menanggapi tuntutan ini, Kepala Desa Cigayam, Dodi Heryadi, mengakui bahwa pengelolaan Dana Desa di desanya memang sedang kacau. Ia secara terbuka meminta maaf kepada seluruh warga atas ketidakjelasan pengelolaan anggaran yang dipercayakan kepadanya.

“Saya meminta maaf kepada masyarakat Desa Cigayam atas ketidakjelasan pengelolaan anggaran Dana Desa, baik untuk BLT maupun infrastruktur,” ujarnya.

Dodi juga mengungkapkan bahwa dana yang seharusnya dialokasikan untuk BLT dan pembangunan infrastruktur kini sudah tidak ada lagi di kas desa.

“Saya tidak sanggup menyalurkan BLT atau melanjutkan pembangunan infrastruktur karena dananya memang sudah tidak ada,” jelasnya dengan penyesalan.

Lebih lanjut, Dodi menyatakan bahwa ia menyerahkan sepenuhnya keputusan tentang nasibnya kepada masyarakat.

“Saya serahkan nasib saya kepada masyarakat. Jika harus mundur, saya siap. Jika ada konsekuensi lain, saya juga akan menerimanya dengan lapang dada,” kata Dodi, menunjukkan sikap menerima segala keputusan yang diambil oleh warga.

Meski Dodi mengakui kesalahannya, ia belum dapat memberikan penjelasan rinci mengenai ke mana aliran dana tersebut. Ia hanya bisa memastikan bahwa dana untuk BLT dan infrastruktur sudah tidak ada.

“Intinya, dana untuk BLT maupun infrastruktur sudah tidak ada. Saya siap bertanggung jawab atas semuanya,” katanya dengan tegas.

Aksi protes ini sempat memanas, namun mediasi antara kepala desa dan warga akhirnya menghasilkan kesepakatan. Pemerintah Desa Cigayam berjanji untuk menyalurkan BLT tahap empat pada 31 Desember 2024. Namun, terkait pembangunan infrastruktur, Dodi mengakui bahwa pihaknya tidak sanggup untuk menyelesaikannya dalam waktu dekat.

“Untuk pembangunan infrastruktur, saya harus akui kami tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikannya saat ini,” ujar Dodi.

Mewakili warga, Yanto menegaskan bahwa masyarakat akan terus memantau janji penyaluran BLT tersebut.

BACA JUGA: 85 Warga Dawagung Terima Sertifikat Tanah Melalui Program PTSL

“Kami akan terus mengawasi janji ini. Jika pada 31 Desember nanti BLT tidak disalurkan, kami akan melakukan aksi yang lebih besar,” ujarnya dengan penuh tekad.

Aksi protes ini bukan hanya menunjukkan ketidakpuasan terhadap pengelolaan Dana Desa, tetapi juga menyoroti pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pemerintahan desa.

Masyarakat Desa Cigayam berharap masalah ini bisa segera diselesaikan dengan tindakan nyata dan bukan hanya sekadar janji. Jika tidak ada perubahan, mereka siap melanjutkan perjuangan mereka untuk mendapatkan keadilan dan transparansi. (Rizky, Revan/lintaspriangan.com)

85 Warga Dawagung Terima Sertifikat Tanah Melalui Program PTSL

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Pemerintah Desa Dawagung, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, menyerahkan sertifikat tanah kepada 85 warga melalui Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) pada Jumat (27/12/2024). Acara yang digelar di GOR Desa Dawagung ini dihadiri langsung oleh warga penerima sertifikat dengan penuh antusias.

Kepala Desa Dawagung, H. Trio Wibowo Budi, dalam sambutannya menjelaskan bahwa program ini merupakan upaya pemerintah pusat untuk memberikan kepastian hukum atas kepemilikan tanah bagi masyarakat. Menurutnya, sertifikat tanah ini memiliki banyak manfaat, mulai dari administrasi hingga akses permodalan.

“Kami berharap dengan adanya sertifikat ini, masyarakat bisa lebih tenang dan memanfaatkannya untuk kepentingan ekonomi maupun kebutuhan lainnya,” ujar H. Trio Wibowo.

Ia juga menambahkan bahwa program ini tidak hanya sebatas pemberian sertifikat, tetapi juga sebagai upaya pencegahan konflik lahan yang sering terjadi akibat tumpang tindih kepemilikan.

Diketahui, awalnya terdapat 95 bidang tanah yang diajukan dalam program PTSL tahun ini. Namun, hanya 85 bidang yang berhasil mendapatkan sertifikat. Sisanya masih terkendala masalah teknis seperti ketidaksesuaian data bidang tanah, tumpang tindih sertifikat, atau dokumen yang belum lengkap.

“Kami terus berupaya menyelesaikan kendala yang ada agar pengajuan yang tersisa bisa diselesaikan dengan baik di tahap berikutnya,” jelas Kepala Desa Dawagung.

Proses penerbitan sertifikat melalui program PTSL memang memerlukan waktu yang cukup panjang. Namun, berkat kerja sama antara pemerintah desa, Badan Pertanahan Nasional (BPN), dan partisipasi aktif warga, proses tersebut akhirnya berhasil diselesaikan dengan baik untuk sebagian besar pengajuan.

Yudi (45), salah satu warga penerima sertifikat, mengungkapkan rasa syukur atas kepemilikan dokumen legalitas tanah miliknya. “Alhamdulillah, sekarang tanah saya sudah memiliki sertifikat resmi. Ini membuat kami lebih tenang dan merasa aman,” ujarnya dengan wajah penuh senyum.

Senada dengan itu, Ibu Siti (50), warga lainnya, juga merasa lega setelah menerima sertifikat yang telah lama dinantikan. “Dulu kami sering merasa was-was soal kepemilikan tanah ini. Tapi sekarang semuanya sudah jelas dan ada buktinya,” katanya sambil menunjukkan sertifikat miliknya.

H. Trio Wibowo menegaskan bahwa Program PTSL adalah bagian dari upaya mendukung reforma agraria yang dicanangkan oleh pemerintah pusat. Program ini diharapkan mampu mengurangi ketimpangan kepemilikan tanah serta memberikan kejelasan hukum bagi masyarakat.

Lebih lanjut, Kepala Desa Dawagung berharap program ini dapat terus berjalan dan mencakup lebih banyak bidang tanah yang belum bersertifikat di masa mendatang. “Kami akan terus bekerja sama dengan pihak terkait agar program ini berjalan lancar dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat Desa Dawagung,” tutupnya.

Acara penyerahan sertifikat diakhiri dengan penyerahan simbolis kepada beberapa perwakilan warga. Momen tersebut menjadi simbol keberhasilan Program PTSL di Desa Dawagung.

BACA JUGA: Minibus Nyaris Masuk Jurang di Jalur Batukaras

Dengan adanya sertifikat tanah ini, diharapkan masyarakat lebih percaya diri dalam memanfaatkan aset tanah mereka untuk keperluan produktif. Selain itu, program ini juga diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih tertib dalam administrasi pertanahan di wilayah Desa Dawagung.

Program PTSL di Desa Dawagung bukan sekadar seremonial belaka, melainkan menjadi tonggak penting dalam memberikan kepastian hukum dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Harapan besar kini disematkan agar program ini terus berlanjut dan lebih banyak warga dapat merasakan manfaatnya di masa depan. (Ipan/lintaspriangan.com)

Minibus Nyaris Masuk Jurang di Jalur Batukaras

lintasptiangan.com, BERITA PANGANDARAN.  Sebuah mobil minibus berwarna putih nyaris masuk jurang di tanjakan ekstrem jalur wisata Batukaras-Madasari Kabupaten Pangandaran pada Kamis (26/12/2024). Insiden ini kembali menyoroti kondisi jalan yang dikenal dengan tanjakan curam, tikungan tajam, dan pandangan terbatas akibat rumput liar yang menjulang tinggi di pinggir jalan.

Jalur yang menghubungkan kawasan wisata Pantai Batukaras dan Madasari ini memang terkenal indah namun penuh tantangan. Banyak wisatawan memilih jalur ini untuk menikmati pemandangan alam Pangandaran, tetapi medan yang sulit sering kali menjadi ujian berat bagi pengemudi, terutama kendaraan roda empat.

Janika, seorang wisatawan asal Tasikmalaya, menjadi saksi mata kejadian tersebut. Saat itu, ia bersama keluarganya tengah melintasi jalur tersebut dengan sepeda motor. Menurutnya, mobil minibus putih itu terlihat kesulitan saat mencoba melewati tanjakan curam.

“Awalnya mobil itu tampak baik-baik saja. Tapi tiba-tiba terdengar suara mesin yang kehilangan tenaga dan mobil mulai mundur perlahan,” ungkap Janika.

Situasi semakin mencekam ketika mobil bergerak mundur mendekati jurang di sisi kiri jalan. Janika, yang berada persis di belakang mobil tersebut, mengaku panik dan khawatir ikut terseret jika mobil itu benar-benar jatuh.

“Saya hanya bisa berdoa. Sebelah kiri jurang, sebelah kanan ada pasir. Untungnya, pengemudi tetap tenang dan berhasil mengarahkan mobil ke tumpukan pasir di kanan jalan,” tambahnya.

Setelah mobil berhenti dengan posisi miring di atas tumpukan pasir, para pengguna jalan yang berada di lokasi segera membantu memeriksa kondisi pengemudi dan penumpang. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, meskipun bagian belakang mobil mengalami kerusakan ringan akibat benturan dengan pasir.

Janika menilai jalur ini memang membutuhkan perhatian serius dari pihak terkait. Menurutnya, keberadaan rumput liar yang tumbuh tinggi sangat mengganggu pandangan, terutama di tikungan dan tanjakan yang curam.

“Kalau pandangan terhalang rumput, kita jadi sulit memperkirakan posisi kendaraan lain di depan. Ini sangat berbahaya,” jelasnya.

Pengamatan di lokasi menunjukkan bahwa rumput liar yang tidak terawat serta kurangnya rambu-rambu keselamatan menjadi faktor risiko di jalur ini. Selain itu, kondisi jalan yang sempit semakin menambah tantangan bagi pengemudi, terutama kendaraan roda empat yang berukuran besar.

Seorang pengendara motor lain yang melintas di jalur tersebut juga mengungkapkan keluhannya. Ia berharap pihak berwenang segera mengambil tindakan untuk membersihkan rumput liar dan memasang tanda peringatan di titik-titik rawan.

“Kalau ada rambu dan jalannya lebih bersih, pasti risiko kecelakaan bisa dikurangi,” katanya.

Insiden ini menambah catatan panjang kecelakaan di jalur ekstrem Batukaras-Madasari. Penyebab utamanya adalah kombinasi antara medan jalan yang menantang, minimnya perawatan rutin, dan pandangan yang terhalang oleh rumput liar.

BACA JUGA: Proyek SMP IT Miftahul Huda II Ciamis Molor, Transparansi Dipertanyakan

Dengan liburan Tahun Baru 2025 yang semakin dekat, arus wisatawan diperkirakan akan meningkat di jalur ini. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret guna memastikan keselamatan para pengendara.

“Kami berharap sebelum musim liburan puncak, jalur ini bisa lebih diperhatikan. Jangan sampai insiden seperti ini terulang dengan dampak yang lebih fatal,” pungkas Janika. (KMP/lintasptiangan.com)