lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. PSGC Ciamis bukan hanya pulang dengan kekalahan 0–6 dari markas PSS Sleman. Wakil Ciamis itu juga kalah jauh dalam penguasaan bola dan jumlah tembakan pada laga I.League Cup, Rabu, 4 November 2026.
Bermain di Stadion Maguwoharjo, Sleman, PSGC hanya mencatat penguasaan bola 32 persen. PSS menguasai sisanya, 68 persen, sekaligus menghasilkan serangan yang jauh lebih banyak.
Statistik resmi I.League mencatat PSS melepaskan 31 tembakan, sedangkan PSGC hanya sepuluh. Dari jumlah tersebut, 15 tembakan tuan rumah mengarah ke gawang, berbanding empat milik tim tamu.
Artinya, PSS menghasilkan lebih dari tiga kali jumlah tembakan PSGC. Perbedaan itu memperlihatkan betapa berat pekerjaan pertahanan wakil Ciamis sepanjang pertandingan, melampaui gambaran enam gol pada papan skor.
Gustavo Tocantins menjadi penyumbang terbesar kemenangan PSS dengan empat gol. Dimas Drajad melengkapi pesta tuan rumah melalui dua gol lainnya.
PSGC Tertekan, Kartu Merah Menambah Beban
PSS sudah unggul sebelum PSGC kehilangan pemain. Gustavo membuka keunggulan pada menit ke-33 setelah menerima umpan Riko Simanjuntak.
Menjelang turun minum, keadaan PSGC memburuk. Muhammad Fikram menerima kartu merah setelah melakukan pelanggaran terhadap Kim Kurniawan di kotak penalti.
Gustavo kemudian menambah gol melalui tendangan penalti. PSS menutup babak pertama dengan keunggulan 2–0, sedangkan PSGC harus melanjutkan pertandingan dengan sepuluh pemain.
Kehilangan satu pemain membuat tugas mengejar ketertinggalan semakin berat. PSGC perlu mencari gol balasan, tetapi pada saat bersamaan harus menghadapi tekanan tuan rumah dengan jumlah pemain lebih sedikit.
PSS langsung memperlebar jarak pada awal babak kedua. Dimas mencetak dua gol dalam waktu berdekatan sehingga kedudukan berubah menjadi 4–0.
Gustavo kembali menambah gol lewat penalti pada menit ke-73. Pada pengujung pertandingan, ia mencetak gol keempatnya sekaligus memastikan kemenangan PSS dengan skor 6–0.
Dua gol pada babak pertama dan empat gol setelah turun minum menunjukkan tekanan PSS terus menghasilkan gol. PSGC tidak mampu menghentikan pertambahan skor maupun membalas hingga pertandingan berakhir.
Bukan Sekadar Kalah Enam Gol
Ketimpangan pertandingan juga terlihat dari jumlah umpan sukses. Berdasarkan statistik penyelenggara, PSS mencatat 508 umpan sukses, sedangkan PSGC membukukan 240.
PSS menghasilkan lebih dari dua kali jumlah umpan sukses PSGC. Angka tersebut sejalan dengan penguasaan bola tuan rumah yang mencapai lebih dari dua pertiga pertandingan.
PSGC memang tetap mencatat empat tembakan ke gawang. Namun, kesempatan tersebut tidak menghasilkan gol, sementara PSS mampu enam kali menjebol gawang lawan.
Pada sepak pojok, selisih kedua tim lebih tipis: lima untuk PSS dan empat bagi PSGC. Akan tetapi, kedekatan angka itu tidak mengubah ketimpangan pada penguasaan bola dan jumlah tembakan.
Hasil ini menempatkan PSS di puncak sementara Grup F dengan tiga poin. PSGC belum memperoleh poin setelah pertandingan pertama, sementara Garudayaksa belum bermain.
Bagi PSGC, kekalahan ini menyisakan pekerjaan yang lebih luas daripada sekadar mengurangi kebobolan. Kemampuan mempertahankan bola, membatasi serangan lawan, dan menjaga jumlah pemain menjadi bagian yang perlu dibenahi. (AA)
