5. Bank Sampah Didorong Menjadi Penggerak Perubahan dari Lingkungan
Dinas Lingkungan Hidup Kota Tasikmalaya melakukan pembinaan terhadap pengurus bank sampah, TPS 3R, dan Program Kampung Iklim pada 4 Juli 2026. Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat tata kelola organisasi, meningkatkan kapasitas pengurus, serta melahirkan inovasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Pendekatan ini memiliki arah yang patut diapresiasi karena sampah tidak mungkin seluruhnya diselesaikan di tempat pembuangan akhir. Pemilahan harus bermula dari rumah, lingkungan, dan tempat usaha. Meski demikian, pembinaan baru merupakan pijakan awal. Keberhasilannya perlu dibuktikan melalui bertambahnya bank sampah aktif, volume sampah yang terpilah, serta manfaat ekonomi yang benar-benar diterima warga.
Lima berita Kota Tasikmalaya tersebut memperlihatkan bahwa sentimen positif tidak selalu lahir dari proyek berbiaya besar. Ia dapat tumbuh dari seorang kader yang mengetuk pintu rumah untuk mengajak anak diimunisasi, bidan yang membantu warga mengaktifkan JKN, petugas yang sigap menerima panggilan darurat, atau masyarakat yang mulai memilah sampah.
Kabar baik ini tentu tidak meniadakan tekanan fiskal, krisis air, persoalan pasar, maupun pekerjaan rumah lain yang sedang dihadapi Kota Tasikmalaya. Namun, capaian positif menunjukkan adanya modal sosial dan kelembagaan yang dapat dirawat: kolaborasi, kepedulian, teknologi, serta kesediaan untuk bekerja melampaui sekat organisasi.
Ukuran keberhasilan berikutnya bukan lagi banyaknya piagam, penandatanganan, atau pencanangan. Ukurannya jauh lebih membumi: anak terlindungi dari penyakit, warga tidak kehilangan akses kesehatan, pertolongan datang lebih cepat, sampah berkurang, dan sejarah kota hidup kembali sebagai sumber pengetahuan sekaligus penggerak ekonomi. (AS)
