lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Potensi defisit anggaran Rp182 miliar, keresahan pedagang Pasar Cikurubuk, krisis air bersih, rendahnya penerimaan retribusi, hingga kekhawatiran peternak lokal mewarnai berita Kota Tasikmalaya sepanjang Juli 2026.
Lima isu berikut dipilih berdasarkan besarnya dampak, kekuatan data, intensitas sorotan, serta kedekatannya dengan kehidupan masyarakat. Setiap persoalan ditempatkan secara berimbang agar sentimen negatif tidak berubah menjadi penghakiman yang melampaui fakta.
Tekanan Fiskal dan Ruang Dialog yang Menyempit
1. Potensi Defisit Rp182 Miliar Mengancam Program Viman–Diky
Keuangan Pemkot Tasikmalaya dibayangi potensi defisit sekitar Rp182 miliar. Tekanan itu dikhawatirkan menghambat program prioritas Wali Kota Viman Alfarizi Ramadhan dan Wakil Wali Kota Diky Candra, sekaligus memaksa pemerintah menata ulang sejumlah belanja daerah.
Viman mengatakan tekanan fiskal merupakan akumulasi dari penurunan dana transfer pusat dan provinsi, melemahnya pendapatan asli daerah, serta kebutuhan belanja yang terus membesar. Pemotongan tambahan penghasilan pegawai dan perjalanan dinas diwacanakan berlaku pada Juli–September melalui APBD Perubahan 2026. Angka Rp182 miliar masih berupa potensi defisit, bukan kerugian atau penyimpangan. Namun, keadaan ini menjadi tengara bahwa ruang fiskal semakin sempit ketika janji politik justru menuntut pembiayaan besar.
2. Surat Pedagang Pasar Cikurubuk Lima Bulan Tak Dijawab
Himpunan Pedagang Pasar Tasikmalaya atau HIPPATAS menyatakan surat yang dikirimkan kepada Wali Kota Tasikmalaya sejak 13 Februari 2026 belum memperoleh jawaban hingga 27 Juli 2026. Surat tersebut memuat usulan perbaikan infrastruktur, penataan perdagangan, peninjauan retribusi, serta pembenahan Pasar Cikurubuk secara menyeluruh.
Sekretaris HIPPATAS, H. Jajang Ara, menyebut tidak ada pula komunikasi dari staf maupun kepala perangkat daerah terkait. Pedagang kemudian merencanakan rapat terbuka di depan Balai Kota pada 7 Agustus 2026. Klaim tersebut belum memperoleh tanggapan resmi pemerintah ketika berita diterbitkan. Namun, keheningan selama lima bulan telah membentuk impresi yang kurang elok: jalur administratif dipilih, tetapi jawaban tidak kunjung datang.
Kekecewaan itu semakin mengental karena jalan berlubang, genangan, dan drainase buruk masih ditemukan di kawasan pasar. Perbaikan menyeluruh jalan lingkar luar Pasar Cikurubuk diperkirakan membutuhkan sekitar Rp15,4 miliar. Bagi pedagang, kerusakan tersebut bukan perkara kosmetik. Akses yang buruk dapat membuat pembeli enggan datang dan distribusi barang semakin tersendat.
