Air Bersih, Retribusi, dan Ekosistem Pangan
3. Sebanyak 98 Titik Mengalami Krisis Air Bersih
Hasil kaji cepat BPBD Kota Tasikmalaya per 8 Juli 2026 menemukan 98 titik yang mulai mengalami krisis air bersih. Titik tersebut tersebar di 12 kelurahan pada lima kecamatan dan berpotensi berdampak terhadap 7.287 keluarga atau 27.825 jiwa.
Kecamatan Mangkubumi menjadi wilayah dengan cakupan terbesar, disusul Purbaratu, Tamansari, Kawalu, dan Cibeureum. Kepala Pelaksana BPBD Kota Tasikmalaya, Budi Martanova, menegaskan situasinya masih terkendali dan belum memasuki kekeringan ekstrem. Pemerintah juga telah menetapkan status siaga serta melakukan koordinasi dengan instansi terkait.
Pada 20 Juli 2026, BPBD menyalurkan 15.000 liter air kepada warga di Kelurahan Singkup, Sukanegara, dan Sukamanah. Distribusi tersebut penting sebagai pertolongan segera. Akan tetapi, meluasnya titik rawan menunjukkan kebutuhan akan solusi yang lebih ajek—mulai dari perlindungan sumber air, pembangunan jaringan, hingga penguatan cadangan air berbasis lingkungan.
4. Retribusi Daerah Baru Tercapai 23,87 Persen
Realisasi retribusi daerah hingga akhir Juni 2026 tercatat Rp11,62 miliar atau 23,87 persen dari target Rp48,69 miliar. Dengan demikian, masih terdapat jarak sekitar Rp37,07 miliar yang harus dikejar selama semester kedua.
Capaian itu berbanding cukup senjang dengan penerimaan pajak daerah yang telah mencapai Rp112,08 miliar atau 47,61 persen dari target Rp235,43 miliar. Sejumlah perangkat daerah menyatakan penerimaan retribusi tertentu baru akan meningkat pada triwulan terakhir karena mengikuti jatuh tempo kontrak. Penjelasan tersebut patut dicatat. Namun, capaian yang belum menyentuh seperempat target pada pertengahan tahun tetap menjadi sinyal dini, terlebih ketika Pemkot sedang menghadapi tekanan fiskal.
