lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Aktivitas kegempaan tercatat beberapa kali terjadi di sekitar Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, sepanjang Selasa (28/7/2026). Dalam satu hari, BMKG merekam sedikitnya tiga kali gempa Pangandaran dengan kekuatan dan lokasi yang berbeda.
Gempa terkuat terjadi pada pukul 16.21.25 WIB dengan magnitudo 4,4. Episentrumnya berada di laut, sekitar 21 kilometer barat daya Kabupaten Pangandaran, pada koordinat 7,85 Lintang Selatan dan 108,36 Bujur Timur. Gempa tersebut memiliki kedalaman 128 kilometer.
Dua Gempa Terjadi dalam Rentang 22 Menit
Catatan BMKG memperlihatkan gempa Pangandaran bermagnitudo 4,4 itu bukan satu-satunya aktivitas seismik yang terjadi di sekitar wilayah tersebut pada sore hari.
Sekitar 22 menit sebelumnya, tepatnya pukul 15.59.38 WIB, gempa dengan magnitudo 3,1 lebih dahulu tercatat. Pusat gempa berada di laut, sekitar 58 kilometer tenggara Kabupaten Pangandaran, dengan kedalaman mencapai 116 kilometer.
Dengan demikian, dua gempa terjadi dalam rentang waktu hanya sekitar 21 menit 47 detik. Meski waktunya berdekatan, lokasi pusat dan parameter keduanya tidak sepenuhnya sama.
Aktivitas serupa bahkan sudah terekam sejak pagi. Pada pukul 08.21.10 WIB, BMKG mencatat gempa bermagnitudo 2,4 di laut, sekitar 61 kilometer tenggara Kabupaten Pangandaran. Kedalamannya tercatat 67 kilometer.
Dalam daftar gempa bumi wilayah II, BMKG memberi status “terkonfirmasi” terhadap gempa M4,4. Sementara itu, data gempa M3,1 dan M2,4 masih berstatus “ditinjau”.
BMKG juga mencantumkan penjelasan bahwa informasi gempa bumi dikirim secara otomatis dan waktu nyata. Data masih dapat diperbarui setelah ahli seismologi menganalisis seluruh rekaman seismik yang masuk.
Belum Bisa Disebut Rangkaian Gempa
Kedekatan waktu ketiga gempa Pangandaran tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa semuanya merupakan satu rangkaian yang saling berkaitan.
Diperlukan analisis lebih lanjut mengenai mekanisme sumber, lokasi hiposentrum, karakter patahan, serta pola gelombang seismik. Karena itu, ketiganya belum dapat serta-merta disebut sebagai gempa pendahuluan, gempa utama, maupun gempa susulan.
Pada kanal resmi gempa dirasakan BMKG yang diperiksa hingga Selasa sore, peristiwa M4,4 di Pangandaran belum tercantum dalam daftar gempa yang dilaporkan dirasakan masyarakat. Belum dicantumkannya gempa tersebut bukan berarti tidak ada warga yang merasakan, melainkan belum terdapat laporan intensitas guncangan dalam daftar resmi tersebut.
Belum ada pula informasi resmi mengenai kerusakan maupun korban akibat aktivitas gempa tersebut. Masyarakat sebaiknya menunggu pembaruan dari BMKG, BPBD, atau pemerintah daerah dan tidak menyebarkan gambar maupun informasi gempa lama yang kembali beredar tanpa konteks.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa wilayah pesisir selatan Jawa, termasuk Kabupaten Pangandaran, memiliki aktivitas kegempaan yang perlu terus dipantau. Kewaspadaan penting dijaga, tetapi kepanikan tetap harus ditinggalkan di luar pintu.
