Miris! Ada Sekolah Serakah di Tasikmalaya

lintaspriangan.com, TAJUK LINTAS. Tahun ajaran baru selalu datang membawa harapan dan, sayangnya, juga keluhan. Di antara riuh suara sambutan hangat terhadap Masa Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), terselip satu kisah getir dari sebuah sekolah negeri di Tasikmalaya. Sebuah SMA Negeri yang mestinya menjadi mercusuar pendidikan, malah tampil sebagai simbol keserakahan yang sistemik.

Bayangkan saja, jika benar informasi yang kami terima dari warga, sekolah ini hanya memiliki total 13 ruang kelas, tapi dengan entengnya menerima siswa baru hingga semua kelas berjumlah 26 rombongan belajar (rombel). Iya, dua kali lipat. Itu bukan manajemen cerdas, itu manajemen tamak!

Rasionalisasi dari pihak sekolah mungkin akan panjang: “Kami hanya menyesuaikan dengan kebijakan Gubernur Jawa Barat saat itu, Dedi Mulyadi, yang membolehkan SMA Negeri memiliki siswa sampai 50 orang per kelas.” Namun, ketika logika administratif mengalahkan akal sehat dan kemanusiaan, maka pendidikan berubah dari ladang ilmu menjadi ladang keserakahan.

- Advertisement -

Kabarynya, sekolah tersebut sekarang gagap mencari solusi. Beberapa solusi dangkal ala-ala jurus kepepet yang mereka tawarkan, ditolak siswa dan orang tuanya.

Solusi A: Membagi kelas menjadi dua sesi, kelas pagi dan kelas siang. Ditolak.
Solusi B: Ini lebih mengada-ngada. Mengadakan sekolah secara bergiliran online-offline tiap minggu. Juga ditolak.

Tentu saja ditolak. Karena semua orang tahu, pendidikan bukan sekadar hadir dan absen. Ia membutuhkan ruang yang layak, interaksi yang manusiawi, dan lingkungan belajar yang mendukung. Bukan solusi brutal yang dipaksakan.

Lalu, mari bertanya jujur: apa sebenarnya yang dicari oleh sekolah ini? Apakah ingin mencetak generasi unggul atau sekadar menghitung Dana BOS per kepala? Apakah pengabdian guru masih bermakna luhur, atau tergiur oleh beragam profit di balik jumlah siswa yang gemuk?

Sekolah negeri yang mestinya menjadi panutan kini malah mempertontonkan keserakahan. Sementara itu, sekolah-sekolah swasta di sekitarnya terseok-seok karena kekurangan murid. Ironi tak berdasar, ketika satu pihak lapar kuota, sementara lainnya kehabisan napas. Masih beruntung, sekolah-sekolah swasta tidak sekalian saja gelar aksi mogok massal! Dijamin pendidikan negeri ini berantakan.

Apakah ini yang kita sebut pendidikan? Atau jangan-jangan, kita tengah menyaksikan evolusi diam-diam dari lembaga pendidikan menjadi korporasi serakah berkedok pengabdian dan pelayanan?

Dampaknya sudah terasa. Bukan hanya ruang kelas yang sesak, tapi juga kepercayaan publik yang semakin retak. Pendidikan bukan lagi tentang mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi tentang memuaskan pendapatan.

Dalam waktu dekat, redaksi Lintas Priangan akan menghubungi sekolah yang bersangkutan. Kami akan menggali lebih dalam alasan di balik keputusan aneh ini. Publik berhak tahu, dan sekolah wajib menjelaskan.

Karena pendidikan, jika tidak dipandu oleh nurani dan akal sehat, hanya akan menjadi proyek kejam yang kerasukan. Dan jika lembaga pendidikannya saja sudah serakah, maka tunggulah saat bangsa ini kehilangan arah dan musnah.

Na’udzubillah….


Editor: Lintas Priangan. Untuk konfirmasi, klarifikasi, dan tanggapan resmi, redaksi membuka ruang komunikasi terbuka di lintaspriangan@gmail.com

Abiba Guard
Produk Digital

Abiba Guard

Abiba Guard adalah plugin keamanan WordPress yang menggabungkan pembatasan percobaan login, kendali mode darurat Cloudflare, perlindungan konten premium,…

Rp198.999Beli Sekarang
Abiba Booster
Produk Digital

Abiba Booster

Abiba Booster adalah plugin optimasi WordPress yang membantu mengelola cache halaman, mengonversi gambar JPG dan PNG ke WebP,…

Rp199.000Beli Sekarang
WAStore
Produk Digital

WAStore

WASTore – Bikin Toko Online Profesional, Terima Pesanan Langsung via WhatsApp! Punya produk tapi belum punya toko online…

Rp240.000Beli Sekarang

PRIANGAN TIMUR

Nasabah BMT Miftahussalam Ciamis Mengeluh, Puluhan Spanduk Tuntut Kepastian Dana Rp8,5 Miliar

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Ketidakpastian pengembalian dana sekitar Rp8,5 miliar...

Festival Payung Geulis 2026 Digelar 30–31 Oktober di Taman Kota Tasikmalaya

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Festival Payung Geulis 2026 dijadwalkan berlangsung...

24 Atlet SD Ciamis Ikuti Invitasi Olahraga Tradisional Jawa Barat

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Sebanyak 24 siswa sekolah dasar (SD)...

Futsal Kabupaten Tasikmalaya Tantang Kota Bandung di Laga Perdana PORPROV Jabar 2026

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Kabupaten Tasikmalaya akan menghadapi Kota Bandung...

180 Guru dan Siswa SMK LPT Ciamis Tak Terima Jatah MBG, Ini Kata Pihak Dapur

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. CIAMIS, LINTASPRIANGAN.COM – Sebanyak 180 guru...

JAWA BARAT

Pengendalian Inflasi Kota Sukabumi, TPID Sepakati Empat Langkah

lintaspriangan.com, BERITA SUKABUMI. Pengendalian inflasi Kota Sukabumi menjadi fokus...

Festival Literasi Kota Cirebon Digelar hingga 29 Oktober, Ini Agenda dan Tujuannya

lintaspriangan.com, BERITA CIREBON. Festival Literasi Kota Cirebon 2026 resmi...

Job Fair Kabupaten Bekasi 2026, Tawarkan 1.313 Lowongan Kerja

lintaspriangan.com, BERITA BEKASI. Job Fair Kabupaten Bekasi 2026 menawarkan...

Lomba Toilet Bersih Sekolah Kota Bandung, Ini 8 Kriteria Penilaiannya

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Lomba toilet bersih sekolah Kota Bandung...

Pilkades Digital Sumedang Digelar Hari Ini, Keamanan Suara Jadi Sorotan

lintaspriangan.com, BERITA SUMEDANG. Pemilihan kepala desa (Pilkades) digital Sumedang...

Kota Bekasi VS Kabupaten Bogor di PORPROV Jabar 2026, Misi Emas Langsung Diuji!

lintaspriangan.com, BERITA BEKASI. Futsal Kota Bekasi VS Kabupaten Bogor...

Futsal Purwakarta VS Bekasi di PORPROV Jabar 2026, Ambisi Emas Bertemu Tantangan Grup C

lintaspriangan.com, BERITA PURWAKARTA. Tim Futsal Purwakarta VS Bekasi menjadi...

Futsal Kota Cirebon Hadapi Kabupaten Bandung, Misi Emas Dimulai dari Laga Pembuka PORPROV Jabar 2026

lintaspriangan.com, BERITA CIREBON. LINTAS PRIANGAN – Futsal Kota Cirebon...

Olahraga

Kategori Populer