Pertanian, Pariwisata, dan Pelayanan Digital
3. Pertanian Menjadi Penyangga Ekonomi dan Lapangan Kerja
Sektor pertanian kembali muncul sebagai salah satu kekuatan utama Kabupaten Ciamis dalam pemberitaan Hari Krida Pertanian ke-54 pada pertengahan Juli 2026.
Dalam kegiatan yang digelar di Desa Sumberjaya, Kecamatan Cihaurbeuti, Bupati Herdiat menyebut lebih dari 60 persen penduduk Ciamis bekerja sebagai petani dan buruh tani. Ekosistem pertanian dinilai ikut menjaga kegiatan ekonomi masyarakat di perdesaan.
Herdiat juga menyampaikan bahwa tingkat pengangguran di Kabupaten Ciamis turun dari 7,22 persen menjadi 4,07 persen. Penurunan tersebut dikaitkan dengan produktivitas sektor pertanian yang terus menyerap kegiatan ekonomi masyarakat.
Ciamis juga disebut mengalami surplus beras, daging ayam, dan telur ayam. Sebagian hasil produksi dikirim untuk memenuhi kebutuhan daerah lain. Sementara itu, lebih dari 200 hektare sawah telah beralih menggunakan pupuk organik sebagai bentuk adaptasi terhadap keterbatasan pupuk bersubsidi.
Ketua KTNA Jawa Barat Otong Wiranta turut mengapresiasi konsistensi Ciamis menyelenggarakan Hari Krida Pertanian secara swadaya. Kegiatan tersebut dinilai bukan hanya seremonial, melainkan ruang berbagi pengetahuan, mempertemukan pelaku usaha, dan memperkenalkan produk unggulan kecamatan.
Kekuatan ini tetap perlu dirawat melalui regenerasi petani, kepastian pasar, teknologi irigasi, akses permodalan, dan perlindungan lahan produktif. Sawah memang tidak pandai berpidato, tetapi ia kerap memberi jawaban paling nyata mengenai ketahanan ekonomi daerah.
4. Kunjungan Wisatawan Menyentuh 1,4 Juta
Sektor pariwisata Kabupaten Ciamis menunjukkan perkembangan positif. Hingga pertengahan 2026, jumlah kunjungan wisatawan dilaporkan telah mencapai sekitar 1,4 juta orang.
Data tersebut disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis Heryan Ruswandi dalam pemberitaan Harapan Rakyat pada 10 Juli 2026. Pemerintah daerah menargetkan dua juta kunjungan wisatawan sepanjang 2026.
Optimisme itu dibangun dari capaian tahun sebelumnya. Pada 2025, jumlah wisatawan disebut mencapai dua juta orang, melampaui target awal sebanyak 1,2 juta kunjungan.
Pendataan pada 2026 diperluas dengan memasukkan kunjungan ke desa wisata, penginapan, pusat kuliner, restoran, serta destinasi yang tidak hanya dikelola langsung oleh pemerintah daerah. Situ Lengkong Panjalu masih menjadi salah satu tujuan utama, sedangkan objek wisata air banyak dipilih selama masa liburan sekolah.
Kenaikan kunjungan memiliki pengaruh yang lebih luas daripada sekadar ramainya destinasi. Pergerakan wisatawan dapat menghidupkan penginapan, kuliner, transportasi, produk kerajinan, dan usaha mikro di sekitar kawasan wisata.
Tantangannya adalah mengubah keramaian menjadi manfaat ekonomi yang tersebar. Pariwisata baru benar-benar berhasil ketika angka kunjungan tidak berhenti di loket, tetapi ikut masuk ke warung, penginapan, pasar, dan kantong masyarakat.
