Beranda blog Halaman 86

Mantap! Integritas Kabupaten Ciamis Tertinggi di Jawa Barat

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Pemkab Ciamis meraih status “Terjaga”, kategori integritas tertinggi dalam Survei Penilaian Integritas (SPI) KPK Tahun 2025 dengan nilai 78,35. Atas capaian itu Kabupaten Ciamis menjadi satu-satunya daerah di Jawa Barat yang menempati posisi tertinggi.

Bupati Ciamis, Dr. H. Herdiat Sunarya menyampaikan, capaian ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh jajaran Pemkab Ciamis dalam membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan berintegritas.

Tiga Pilar Utama Penopang Integritas Ciamis

Bupati menjelaskan tiga komponen yang menjadi fondasi utama keberhasilan SPI 2025 yaitu,

  1. Kepemimpinan yang Kuat
    Integritas dijadikan dasar setiap kebijakan. Risiko korupsi selalu menjadi pertimbangan dalam setiap keputusan strategis.
  2. Pengawasan Internal yang Efektif
    Inspektorat diperkuat dari sisi struktur dan SDM untuk berfungsi sebagai early warning system bagi seluruh perangkat daerah.
  3. Digitalisasi Pelayanan Publik
    Penerapan e-Planning, e-Budgeting, SIPD, dan layanan berbasis elektronik lainnya memperkuat transparansi dan meminimalkan potensi gratifikasi.

“Digitalisasi memperkecil celah gratifikasi dan memperkuat transparansi,” kata Bupati, Jumat (12/12/2025).

Makna Pencapaian bagi Masyarakat

Status “Terjaga” menandakan risiko korupsi di Kabupaten Ciamis semakin rendah, tingkat kepercayaan publik meningkat, dan peluang investasi lebih terbuka.

“Yang paling penting, setiap rupiah anggaran kembali kepada kepentingan rakyat,” tegasnya.

Komitmen ASN juga menjadi faktor penentu, terlihat dari kepatuhan LHKPN/LHKASN dan budaya anti-gratifikasi yang semakin melekat.

Inisiatif Penguatan Integritas di Pemkab Ciamis

Sejumlah program strategis turut mendongkrak nilai SPI, di antaranya, Optimalisasi pengaduan masyarakat melalui SPAN Lapor dengan sistem anonim yang aman. Penguatan Unit Pengendalian Gratifikasi dan edukasi publik. Integrasi pelayanan publik seperti Pepatah Manis serta layanan jemput bola di berbagai OPD.

“Inspektorat harus menjadi trusted advisor bagi kepala daerah dan masyarakat,” jelas Bupati.

Tantangan dan Upaya Perbaikan Berkelanjutan

Meski meraih nilai tinggi, Pemkab Ciamis masih menghadapi tantangan seperti rotasi pegawai, perubahan regulasi, dan risiko korupsi pada sektor tertentu.

Fokus perbaikan diarahkan pada,

  1. Peningkatan Indeks Integritas Individu ASN melalui pelatihan dan etika publik.
  2. Audit mandiri dan reviu proaktif oleh Inspektorat.
  3. Penutupan celah risiko pada area persepsi publik dan pencegahan korupsi.

Inovasi AI untuk Survei Publik dan Pendidikan Antikorupsi

Dua inovasi baru disiapkan Pemkab Ciamis untuk memperkuat integritas yaitu,
Survei kepuasan masyarakat berbasis AI untuk membaca pola risiko secara real-time, dan Kolaborasi bersama PAKSI guna memperluas pendidikan antikorupsi ke sekolah dan kampus.

“Generasi muda harus menjadi agen perubahan integritas di masa depan,” harapnya. (NID)

Aparat Gabungan Sita Minuman Keras Ilegal di Pasirwangi Garut

0

Polisi menggerebek gudang minuman keras ilegal di Garut jelang Nataru demi menjaga keamanan warga.

lintaspriangan.com, BERITA GARUT – Penggerebekan gudang minuman keras ilegal dilakukan aparat gabungan di Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut, untuk mencegah distribusi minuman memabukkan menjelang libur Natal dan Tahun Baru. Operasi ini menjadi langkah cepat kepolisian meredam peredaran yang kerap memicu gangguan keamanan masyarakat.

Kepala Polsek Pasirwangi, Iptu Wahyono Aji, menjelaskan operasi gabungan tersebut melibatkan unsur TNI dan Satpol PP. Informasi awal datang dari laporan masyarakat mengenai aktivitas penyimpanan dan transaksi minuman keras ilegal di dua lokasi berbeda. Laporan itu kemudian diverifikasi dan direspons dengan penindakan lapangan pada Jumat siang.

Petugas menyasar lokasi pertama di Kampung Simpeureum, Desa Padasuka, yang diduga menjadi titik transaksi dan penjualan. Lokasi kedua berada di Kampung Toblong, Desa Padaawas, yang sudah lama dicurigai sebagai tempat penyimpanan barang sebelum diedarkan. Di dua tempat itu, aparat menemukan puluhan botol miras dari berbagai merek, serta satu unit sepeda motor yang dipakai untuk pendistribusian.

Baca juga: Keuangan Kota Tasikmalaya di Titik Nadir, Viman–Diky Diuji

Wahyono menyebut barang bukti beserta seorang terduga pelaku telah diserahkan kepada Satuan Reserse Narkoba Polres Garut untuk pemeriksaan lebih lanjut. Penanganan dilakukan dengan merujuk pada aturan tentang peredaran minuman keras ilegal, termasuk proses pendataan distribusi, sumber pasokan, dan kemungkinan jaringan lebih luas.

Operasi Pencegahan Jelang Libur Akhir Tahun

Penggerebekan ini menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan saat intensitas pergerakan warga meningkat. Musim libur akhir tahun selalu menjadi periode rawan peredaran minuman keras tanpa izin. Pemerintah daerah bersama aparat keamanan menempatkan operasi penyakit masyarakat sebagai prioritas untuk mencegah kerumunan tidak terkendali, kecelakaan, hingga tindak kriminal.

Pola distribusi minuman keras ilegal di wilayah Garut cenderung memanfaatkan gudang tersembunyi dan sepeda motor sebagai sarana distribusi cepat. Keberadaan dua titik yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan lokasi transaksi menunjukkan rantai suplai yang sistematis. Situasi ini membuat aparat memperketat patroli sekaligus memantau laporan warga.

Konteks Penegakan dan Dampak bagi Warga

Penindakan semacam ini bukan hanya soal menyita botol minuman keras, tetapi juga menjamin keamanan di lingkungan permukiman. Pemerintah daerah berkali-kali menekankan pentingnya pengawasan aktif untuk mengurangi potensi keributan pada momen libur panjang. Distribusi ilegal sering memicu konflik antarwarga dan gangguan ketertiban, terutama di daerah wisata dan jalur perlintasan.

Kasus di Pasirwangi juga memperlihatkan kolaborasi antara kepolisian, TNI, dan Satpol PP sebagai bentuk penegakan terpadu. Data barang bukti dan jalur distribusi akan dipetakan ulang untuk menentukan titik rawan dan pola pelanggaran serupa. Pada akhirnya, langkah ini ditujukan agar masyarakat dapat merayakan Nataru dalam suasana yang lebih aman.

Penggerebekan gudang miras ilegal di Garut memperkuat pengamanan jelang Nataru agar warga dapat menikmati liburan dengan lebih aman dan tertib. (MD)


Keuangan Kota Tasikmalaya di Titik Nadir, Viman–Diky Diuji

0

lintaspriangan.com, TAJUK LINTAS. Kemandirian keuangan Kota Tasikmalaya berada di titik paling rapuh dalam lima tahun terakhir. Rekaman angkanya bergerak tak beraturan, tetapi dengan pola yang mudah dibaca: naik sebentar, turun lagi, lalu kembali berada di lorong yang sama, masuk di zona rendah dan rendah sekali.

Pada 2020, Pendapatan Asli Daerah hanya 314 miliar atau 22,8% dari total pendapatan. Setahun berikutnya sempat melompat hingga 445 miliar, setara dengan 29,34%, masih “rendah” dalam klasifikasi kemandirian fiskal. Kemudian grafik itu merosot pada 2022 ke 341 miliar di angka 23%. Pada 2023 ada sedikit penguatan ke 364 miliar (27%), sebelum akhirnya jatuh lagi pada 2024 menjadi 351 miliar, ini setara dengan 24%.

Angka-angka ini menggambarkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar fluktuasi. Ia menunjukkan persoalan struktural yang tidak kunjung ditangani: ketergantungan Kota Tasikmalaya pada transfer pemerintah pusat. Dalam konteks otonomi daerah, sebuah kota idealnya tumbuh dengan fondasi keuangan yang mampu menopang kebutuhan sendiri. Namun selama lima tahun terakhir, Tasikmalaya lebih sering terhuyung, berjalan pelan, dan kembali tersandung di tempat yang sama.

Di tengah kerentanan itu, ada pertanyaan yang menggelitik. Kira-kira, bagaimana rapor keuangan tahun depan? Entah. Yang pasti, kota ini sebaiknya tidak terlalu larut dalam euforia berbagai anugerah, piagam, dan penghargaan yang tahun ini dipamerkan sebagai simbol kemajuan. Karena dalam kenyataannya, hampir setiap tahun pun kota ini tak pernah kekurangan plakat dan seremoni semacam itu. Penghargaan datang silih-berganti, tetapi grafik keuangan tak pernah ikut naik. Ada jarak yang lebar antara panggung apresiasi dan kondisi fiskal yang harus dihadapi sehari-hari.

Yang membuat situasinya lebih ironis adalah sumber PAD terbesar kota ini. Bukan pajak daerah yang kuat, bukan retribusi strategis, bukan sektor perizinan yang tumbuh sehat. Andalan utama justru datang dari retribusi jasa umum kesehatan. Ya, pendapatan tertinggi kota ini berasal dari warganya yang sakit. Di kota lain, RSUD menjadi lokomotif pelayanan publik dan pusat kompetensi kesehatan. Di Tasikmalaya, ia kebetulan menjadi salah satu sumber pemasukan yang paling signifikan bagi daerah.

Pendapatan yang bertumpu pada penyakit warganya bukan hanya tak etis, tapi juga rapuh. Ketika warga sehat, justru pendapatan menurun. Ketika layanan tersendat, angka PAD ikut melemah. Dan di tengah pola ketergantungan seperti itu, muncul masalah baru: RSUD dr. Soekardjo, sebagai BLUD kesehatan terbesar kota ini, terancam bangkrut!

Rumah sakit itu memikul beban berat akibat utang pemerintah daerah yang tak kunjung dibayar. Pemkot Tasikmalaya dan Pemkab Tasikmalaya bersama-sama menunggak total Rp20 miliar, dana yang sejatinya merupakan pembayaran layanan bagi warga miskin. Tanpa dana tersebut, manajemen rumah sakit kelabakan membeli obat. Dalam satu bulan, kebutuhan obat mencapai dua miliar rupiah. Ini angka yang mustahil dipenuhi jika aliran kas rumah sakit tersumbat. Ancaman pemutusan suplai obat dari perusahaan farmasi sudah mulai terasa. Dalam situasi seperti ini, layanan kesehatan yang mestinya menjadi sandaran publik justru berubah menjadi titik krisis.

Di atas panggung inilah Wali Kota Viman Alfarizi Ramadhan dan Wakil Wali Kota Diky Candra berdiri. Viman, sosok muda yang lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga bisnis besar, sebenarnya membawa ekspektasi logis. Ia hadir di waktu yang sangat tepat. Latar belakang usaha biasanya identik dengan kemampuan mengatur cashflow, membaca peluang dan menata prioritas.

Sementara Diky, dengan karakter kreatif dan energi penuh, juga sangat pas di kondisi ini. Ia tipe berani yang mampu menghadirkan inovasi. Duet ini sebenarnya ideal, untuk realitas yang jauh dari kata ideal.

Namun di luar data fiskal dan kompetensi duet pimpinan, ada hal lain yang berpotensi menjerat. Misalnya, pemerintah daerah tak pernah steril dari dinamika internal seperti manuver orang dekat, bisikan tanpa wajah, penempatan pejabat berdasarkan kedekatan, bukan kompetensi. Dalam suasana yang seperti itu, kerja profesional sering kalah oleh tarik-menarik kepentingan. Indikasi korupsi, sekecil apa pun, bisa menjadi pasir yang menggangu putaran roda. Dan pasir itu telah terlalu lama berserak di lorong-lorong perkantoran.

Jika gangguan-gangguan itu masih bercokol di sekitar duet ini, duet Viman-Diky dengan segala kompetensinya tak akan berpengaruh banyak. Sebab yang sakit bukan hanya RSUD, bukan hanya PAD, bukan hanya grafik kemandirian fiskal, melainkan cara kota ini memutuskan sesuatu.

Tahun 2026 sudah mengintip di tikungan. Kota Tasikmalaya akan memasuki tahun baru dengan beban fiskal yang berat, tugas pelayanan publik yang semakin kompleks, dan ekspektasi warga yang terus tumbuh. Pertanyaannya sederhana : “Apakah pemerintahan Viman–Diky mampu memulai tahun baru dengan keberanian memotong akar masalah?”, atau justru membiarkan kota ini masuk 2026 dengan ritme lama, tetap fluktuatif, rapuh, dan terjebak dalam ironi yang sama.

Dalam sebuah kota, angka memang penting. Tetapi tahun 2026 nanti, publik bukan hanya menunggu grafik yang membaik. Mereka menunggu tanda bahwa pemerintahan ini akhirnya mengambil alih kendali penuh atas arah perjalanannya sendiri. Jika tidak, titik nadir yang hari ini terlihat mungkin bukan yang terakhir, dan bukan yang terparah. Na’udzubillah!

Diky Candra: “Anak Muda Tasik Harus Dekat dengan Sejarah Kota”

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd. Diky Candra, menghadiri peluncuran dua buku bertema budaya dan sejarah Tasikmalaya—Tasikpedia dan Kota Tasik Bertutur—di Gedung Creative Center (GCC) Dadaha, Kamis (11/12/2025). Acara berlangsung sejak pagi, di tengah udara yang terasa sedikit basah setelah hujan semalam. Para peserta datang bergiliran, beberapa guru terlihat membawa buku catatan kecil, sementara sekelompok mahasiswa memilih duduk di barisan tengah. Suasana santai namun antusias, khas agenda literasi yang mempertemukan banyak latar belakang.

Kehadiran Diky menjadi penanda dukungan pemerintah kota terhadap upaya pendokumentasian sejarah Tasikmalaya. Dalam sambutannya, ia menyampaikan kegelisahan pribadi mengenai generasi muda yang, menurutnya, semakin jauh dari pengetahuan dasar tentang kota sendiri.

“Masih banyak anak muda yang belum benar-benar mengenal tanah kelahirannya sendiri,” ujar Diky. Ia berbicara tanpa nada menggurui, lebih seperti seorang kakak yang sedang mengingatkan adiknya agar tidak lupa arah pulang.

Diky menilai kedua buku tersebut dapat menjadi referensi penting yang memperkaya pengetahuan warga tentang sejarah, budaya, ekonomi, tokoh lokal, hingga potensi daerah. Ia berharap literasi tumbuh bukan hanya dari tugas sekolah atau kewajiban akademik, tetapi dari rasa ingin tahu yang tumbuh secara natural. “Kita ingin literasi tumbuh dari kesadaran, bukan sekadar karena tuntutan sekolah,” katanya.

Sekitar seratus peserta menghadiri peluncuran tersebut. Unsur pemerintah daerah, MUI Kota Tasikmalaya, akademisi, guru, mahasiswa, hingga masyarakat umum cukup memenuhi ruangan utama GCC. Beberapa peserta bahkan mencatat ketika penulis menjelaskan proses risetnya—momen kecil yang menunjukkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar acara seremonial.

Isi Buku dan Upaya Melestarikan Identitas Kota

Tasikpedia merupakan hasil kerja tim Disporabudpar bersama Dr. Ahmad Zaki Mubarak, Feri Ferdinand, dan Asep Mulyana. Buku ini merangkum sejarah, tokoh, budaya, ekonomi, hingga kearifan lokal Tasikmalaya. Penyusunannya digarap seperti ensiklopedia mini tentang kota, tetapi tetap mudah dicerna pembaca umum.

Sementara itu, Kota Tasik Bertutur yang diterbitkan CV Pustaka Turars Press, menyajikan toponimi, yakni asal-usul nama jalan, tempat, dan jejak sejarah yang melekat di banyak sudut Kota Tasikmalaya. Tim penulisnya terdiri dari Reza Fahmi, Dian Permana, Kamaludin, Ali Yapi, Ade Yosi, dan beberapa penulis Disporabudpar. Bagi sebagian peserta, penjelasan tentang bagaimana nama sebuah jalan dipilih mungkin terasa sederhana, tetapi justru dari sanalah identitas kota biasanya berakar.

Kepala Bidang Budaya Disporabudpar, Agus Fauzi, menegaskan bahwa kedua buku ini lahir dari kebutuhan mendesak untuk merawat tradisi lisan dan ingatan kolektif masyarakat. “Kami ingin mencegah tradisi lisan hilang begitu saja. Buku ini menjadi rujukan yang lebih terstruktur,” ujarnya.

Agus menjelaskan bahwa Tasikpedia dicetak 750 eksemplar, sedangkan Kota Tasik Bertutur dicetak 700 eksemplar. Seluruh eksemplar akan didistribusikan ke sekolah tingkat SD dan SMP melalui koordinasi dengan Dinas Pendidikan. “Anak-anak harus mengenal sejarah kotanya sejak dini,” katanya.

Ia juga menyebut bahwa peluncuran dua buku tersebut sejalan dengan upaya membangun ekosistem literasi yang lebih kuat di Tasikmalaya. Pemerintah menilai bahwa sejarah lokal harus bisa diakses melalui sumber informasi yang valid, tidak hanya dari cerita turun-temurun yang kadang tidak lengkap.

Respons Peserta dan Harapan Pemerintah Kota

Beberapa peserta memberikan kesan positif seusai acara. Seorang guru seni budaya tampak berbincang dengan rekannya, menyebut bahwa buku-buku ini akan menjadi bahan ajar tambahan yang “sangat membantu”. Seorang mahasiswa berkomentar bahwa ia baru memahami asal-usul beberapa nama jalan yang selama ini hanya ia lewati tanpa pernah bertanya.

Suasana diskusi pun berlangsung cukup hangat. Penulis dan tim penyusun membuka cerita soal proses riset, mulai dari penelusuran arsip, wawancara dengan tokoh setempat, hingga perdebatan kecil tentang penulisan istilah tertentu. Bagi peserta, momen tersebut memberi gambaran nyata tentang kerja di balik sebuah buku sejarah.

Pada penutupan acara, Diky kembali menegaskan harapan pemerintah agar publik memanfaatkan kedua buku tersebut sebagai referensi yang relevan dan mudah diakses. “Kita ingin masyarakat mengenal dan mencintai kotanya melalui pemahaman yang benar,” ujarnya.

Dengan peluncuran ini, Pemerintah Kota Tasikmalaya menegaskan komitmennya untuk menjaga memori kolektif warga. Di tengah arus digital yang mengalir cepat, dua buku ini diharapkan menjadi jangkar kecil—pengingat bahwa identitas sebuah kota selalu berangkat dari sejarah yang dituliskan dan dirawat bersama. (AS)

Dua Buku Tasikmalaya yang Mengajak Warganya “Pulang”

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Pagi di Gedung Creative Center (GCC) Dadaha, Kamis 11 Desember 2025, terasa berbeda bagi siapa pun yang berada di sana. Cahaya yang menembus jendela tidak sekadar menerangi ruangan, tetapi seolah ikut menyimak pertemuan penting, tentang lahirnya dua Buku Tasikmalaya, Tasikpedia dan Kota Tasik Bertutur. Keduanya bukan sekadar tumpukan kertas dan sampul rapi, melainkan upaya menghidupkan kembali obrolan kota dengan sejarahnya sendiri.

Di ruangan itu, sekitar seratus peserta duduk rapat, sebagian sambil membuka catatan, sebagian lain membiarkan pandangan berkeliling pada suasana yang terasa akrab meski formal. Ada perangkat daerah, guru, dosen, mahasiswa, hingga warga yang datang karena rasa ingin tahu. Orang-orang yang berkumpul bukan untuk sekadar menghadiri seremoni, tetapi seperti menyadari bahwa setiap halaman buku yang diluncurkan hari itu adalah bagian dari cerita besar yang tentang kampung halaman mereka: “Kota Tasikmalaya”.

Peluncuran dua Buku Tasikmalaya ini menjadi penanda serius bahwa Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar) ingin kota ini tidak kehilangan arah.
“Sahabat paling setia dalam perjalanan manusia adalah buku,” ujar Agus Fauzi, Kepala Bidang Budaya Disporabudpar Kota Tasikmalaya.
Kalimat itu memang sederhana, tapi bagi mereka yang menyaksikan langsung momen itu, pasti merasa pas. Di era ketika informasi berhamburan tanpa saringan, buku kembali menjadi jangkar untuk menautkan kota kepada sejarahnya.

Tidak ada musik keras atau dekorasi berlebihan. Yang terasa justru suasana lembut, seolah Kota Tasikmalaya sedang melakukan permenungan kecil tentang dirinya sendiri.

Menjaga Nama, Merawat Makna

Salah satu dari dua Buku Tasikmalaya yang diluncurkan, Kota Tasik Bertutur, menyorot toponimi, yakni asal-usul nama jalan dan tempat di kota. Istilah yang sering dianggap jauh dari kehidupan sehari-hari ini justru menjadi pintu masuk untuk memahami jejak Kota Tasikmalaya secara lebih utuh. Betapa banyak warga yang melintas di Jalan KHZ. Musthafa tanpa tahu kisah ulama besar di balik namanya? Atau melewati Jalan Yudanegara tanpa benar-benar tahu darimana sebenarnya nama tersebut berawal.

Buku kedua, Tasikpedia, menjadi semacam ensiklopedia longgar yang memuat sejarah, tokoh, budaya, hingga kearifan lokal. Disusun dengan bahasa yang lebih akrab, buku ini berusaha mempertemukan pembaca dari berbagai generasi, terutama generasi muda yang lebih sering digodok oleh dunia digital ketimbang oleh sejaranya sendiri.

Kedua buku tersebut ditulis oleh tim yang cukup berwarna: Dr. Ahmad Zaki Mubarak, Feri Ferdinand, Asep Mulyana, Reza Fahmi, Dian Permana, Kamaludin, Ali Yapi, Ade Yosi, serta tim internal Disporabudpar. Mereka bekerja seperti orang yang memunguti serpihan cerita yang tercecer di sudut-sudut kota, lalu merangkainya menjadi sesuatu yang utuh.

Agus Fauzi, Kepala Bidang Budaya Disporabudpar Kota Tasikmalaya, mengatakan bahwa peluncuran dua Buku Tasikmalaya ini adalah bentuk komitmen untuk mencegah warisan budaya hilang begitu saja. “Kalau tradisi dan sejarah tidak dituliskan, ia pelan-pelan hilang,” ujarnya. Pernyataan itu sederhana, namun menjadi semacam peringatan halus bahwa kota tanpa ingatan akan mudah ditarik ke arah yang berbeda-beda.

Disporabudpar mencetak Tasikpedia sebanyak 750 eksemplar dan Kota Tasik Bertutur sebanyak 700 eksemplar. Buku-buku itu akan didistribusikan ke sekolah-sekolah SD dan SMP, agar pelajar bisa mengenal kotanya dengan cara yang lebih berakar. Dalam dunia yang begitu cepat berubah, pengenalan sejarah lokal terasa seperti pegangan yang menjaga generasi tetap berpijak.

Acep (48), satu dari sekian peserta yang hadir pagi itu, menyampaikan komentar ringan kepada Deni Heryanto, wartawan Lintas Priangan.
“Buku ini banyak membuat saya terhenyak. Ternyata saya tidak terlalu baik mengenal kota kelahiran sendiri.”
Komentarnya pelan, tanpa dramatisasi. Tapi justru karena itu terasa tulus. Dan bukan mustahil mewakili banyak pembaca yang mungkin selama ini tidak tahu harus memulai dari mana untuk memahami kotanya.

Di balik peluncuran dua Buku Tasikmalaya ini, tersimpan pesan yang mengalir pelan, bahwa membaca adalah cara untuk pulang. Pulang kepada cerita, kepada kota, kepada identitas, kepada cita dan harapan, serta kepada ingatan darimana kita bermula. Maka pantas jika Bung Karno pernah berpesan, “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!”

Dari Dadaha pagi itu, Tasikmalaya seolah berkata kepada warganya: “Mari pulang sebentar. Mari ingat dari mana kita berasal.” Lewat halaman-halaman baru ini, kota tidak hanya bercerita, tetapi juga mengajak warganya ikut menyusun masa depan dengan memahami masa lalu.

Dan mungkin, ini adalah perjalanan pulang yang sudah lama ditunggu banyak orang. (AS)

Jasa Marga Potong Tarif Tol 20 Persen Pada Libur Akhir Tahun

0

Diskon tarif tol 20 persen diberlakukan Jasa Marga di delapan ruas strategis selama libur Natal dan Tahun Baru.

lintaspriangan.com, BERITA NASIONAL – Jasa Marga mulai memberlakukan diskon tarif tol sebesar 20 persen di delapan ruas strategis menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Kebijakan ini penting karena biaya perjalanan menjadi salah satu beban terbesar mobilitas warga pada periode libur panjang akhir tahun. Diskon tarif tol menjadi dorongan langsung bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang tengah bertumpu pada peningkatan pergerakan barang dan manusia.

Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A Purwantono, menyampaikan bahwa diskon tarif tol akan diterapkan selama tiga hari di beberapa ruas Trans Jawa dan Trans Sumatra, yaitu pada 22, 23, dan 31 Desember 2025. Sementara khusus Jalan Tol Manado–Bitung, potongan harga diberlakukan jauh lebih lama, yakni 22 Desember 2025 hingga 10 Januari 2026.

“Total delapan ruas yang mendapatkan diskon tarif tol. Kebijakan ini berlaku untuk semua golongan kendaraan, selama pengguna melakukan perjalanan menerus menggunakan kartu elektronik,” ujar Rivan dalam keterangan resmi di Jakarta.

Langkah ini bagian dari stimulus yang disiapkan Jasa Marga untuk menekan biaya perjalanan masyarakat, sekaligus memperlancar mobilitas di masa puncak libur nasional. Menurut Rivan, potongan biaya perjalanan tersebut diselaraskan dengan komitmen perusahaan terhadap prinsip environmental, social, and governance (ESG). Artinya, kebijakan tarif tidak hanya soal angka, tapi juga soal mendukung pengalaman berkendara yang lebih baik bagi publik.

Ruas Tol yang Mendapat Diskon Tarif Tol

Kebijakan diskon tarif tol meliputi jaringan yang menjadi urat nadi perjalanan libur akhir tahun, mulai dari Jawa, Sumatra, hingga Sulawesi. Ruas yang termasuk dalam program ini adalah:
• Jalan Tol Jakarta–Cikampek
• Jalan Layang MBZ
• Jalan Tol Palimanan–Kanci
• Jalan Tol Batang–Semarang
• Jalan Tol Semarang Seksi A, B, C
• Jalan Tol Belawan–Medan–Tanjung Morawa (Belmera)
• Jalan Tol Medan–Kualanamu–Tebing Tinggi (MKTT)
• Jalan Tol Manado–Bitung

Ruas-ruas tersebut merupakan jalur utama arus mudik, liburan keluarga, serta distribusi logistik antardaerah. Diskon tarif tol diharapkan mengurangi kepadatan di beberapa simpul perjalanan karena pengguna jalan cenderung menyebar waktu keberangkatannya mengikuti jadwal keringanan tarif.

Analisis dan Konteks Kebijakan

Pemberlakuan diskon tarif tol bukan kebijakan baru bagi Jasa Marga, tetapi pada tahun ini penerapannya diarahkan lebih terukur. Rivan menegaskan bahwa sebelum keputusan final dibuat, perseroan melakukan evaluasi menyeluruh terkait dampaknya terhadap kinerja keuangan perusahaan di 2025.

Baca juga: Pemkab Ciamis Raih Nilai SPI Tertinggi 2025 Tingkat Jawa Barat

Evaluasi itu menyimpulkan bahwa potongan 20 persen di delapan ruas tidak akan mengganggu stabilitas keuangan perusahaan. Sebaliknya, lonjakan volume kendaraan selama masa liburan diperkirakan mampu menutupi potensi kehilangan pendapatan dari tarif reguler. Jasa Marga memandang diskon tarif tol sebagai investasi sosial yang selaras dengan target bisnis perseroan pada 2025.

Di sisi lain, kebijakan ini menjadi pesan bagi publik bahwa pengelolaan jalan tol tidak selalu berkutat pada tarif naik. Pada situasi tertentu, perusahaan dapat mengambil langkah pro-masyarakat dengan pertimbangan ekonomi dan sosial yang matang.

Kesiapan Operasional Menjelang Libur Nasional

Rivan menjelaskan, selain pemberlakuan diskon tarif tol, perseroan memperkuat kolaborasi dengan kepolisian, Kementerian Perhubungan, dan pemerintah daerah. Fokusnya adalah memastikan perjalanan libur Natal dan Tahun Baru 2026 berlangsung aman, lancar, dan berkeselamatan.

Persiapan teknis meliputi penambahan layanan lalu lintas, optimalisasi teknologi pemantauan, penempatan personel tambahan, serta peningkatan layanan rest area. Dengan kombinasi diskon tarif tol dan kesiapan operasional, Jasa Marga berharap beban puncak volume kendaraan dapat dikelola lebih seimbang pada rentang akhir tahun.

Jasa Marga siapkan diskon tarif tol 20 persen di delapan ruas strategis untuk meringankan biaya perjalanan dan memperlancar mobilitas akhir tahun. (MD)


Pemkab Ciamis Raih Nilai SPI Tertinggi 2025 Tingkat Jawa Barat

0

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ciamis kembali menorehkan prestasi gemilang di tingkat Provinsi Jawa Barat. Pada Survei Penilaian Integritas (SPI) 2025.

Berdasarkan penilaian yang dirilis Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Pemkab Ciamis berhasil meraih nilai tertinggi se-Jawa Barat sekaligus menjadi satu-satunya kabupaten yang masuk dalam kategori “Terjaga” (Hijau).

Pengumuman tersebut disampaikan KPK pada puncak peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) 2025 di Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta, Selasa (09/12/2025).

Pada kesempatan itu, KPK memaparkan hasil SPI nasional, melakukan evaluasi terhadap tren integritas di berbagai daerah, serta menyoroti pemerintah daerah yang menunjukkan lompatan signifikan dalam upaya pencegahan korupsi.

Dalam hasil yang dirilis, Pemkab Ciamis tercatat memperoleh skor 78,35, jauh di atas rata-rata nasional. Pencapaian ini menempatkan Ciamis sebagai daerah dengan nilai tertinggi di Jawa Barat, sekaligus melampaui pencapaiannya pada tahun sebelumnya yang masih berada dalam status “Waspada” (Orange)

Atas capaian itu, Ciamis juga naik peringkat dari sebelumnya posisi ketiga, tahun 2025 ini menjadi yang terbaik se-Jawa Barat

Peningkatan signifikan ini menjadi bukti langkah Pemkab Ciamis dalam memperkuat tata kelola, transparansi pelayanan publik, dan integritas penyelenggaraan pemerintahan berjalan efektif.

Menanggapi hasil tersebut, Bupati Ciamis, Dr. H. Herdiat Sunarya, menyampaikan apresiasi dan menegaskan, prestasi tersebut merupakan hasil kerja berbagai pihak, terutama Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terus membangun budaya kerja berintegritas.

Bupati juga mengajak ASN di lingkup Pemkab Ciamis untuk berkomitmen bekerja sesuai aturan, memberikan pelayanan terbaik, dan menggunakan fasilitas secara wajar dengan prioritas untuk kepentingan dinas.

“Kami menggerakkan budaya kerja BerAKHLAK sebagai core value ASN untuk membangun integritas dan etos kerja. Kami juga terbuka menerima masukan, saran, bahkan kritik dari pihak mana pun,” ujarnya.

BACA JUGA: Wajib Pajak di Ciamis Dapat Hadiah

Bupati berharap, pencapaian itu tidak hanya menjadi prestasi temporer, tetapi menjadi pijakan kuat untuk menjaga bahkan meningkatkan nilai SPI pada tahun 2026 dan seterusnya.

Bupati menegaskan, SPI merupakan survei independen yang dilakukan sepenuhnya oleh KPK tanpa intervensi pemerintah daerah. Survei tersebut melibatkan responden internal (ASN), eksternal (masyarakat pengguna layanan), serta para ahli (expert).

“Hasilnya ini mencerminkan integritas dan persepsi publik yang objektif terhadap tata kelola pemerintahan di Ciamis,” jelasnya.

Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi seluruh jajaran pemerintahan daerah serta menjadi contoh bagi kabupaten/kota lain di Jawa Barat dalam memperkuat tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan melayani.

Dengan status “Terjaga”, Pemkab Ciamis menunjukkan bahwa upaya pencegahan korupsi dan peningkatan integritas bukan sekadar program formalitas, melainkan bagian dari budaya kerja yang terus dikembangkan. (NID)

Wajib Pajak Digital di Ciamis, Dapat Beragam Hadiah

0

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) terus menunjukkan komitmen kuat dalam mempercepat transformasi digital, khususnya di sektor Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pemberian Penghargaan dan Hadiah Go Digital serta Hot Maknyus Berhadiah, yang diberikan kepada masyarakat dan pelaku usaha yang telah memanfaatkan transaksi elektronik dalam pembayaran pajak dan retribusi daerah.

Kegiatan dilaksanakan di Gedung KH. Irfan Hielmy komplek Islamic Center Ciamis tersebut dihadiri oleh Bupati Ciamis Dr. H. Herdiat Sunarya, para Kepala SKPD, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya, Pimpinan BJB Ciamis dan para penerima hadiah.

Acara ini merupakan tindak lanjut dari pengundian hadiah pada 4 Desember 2025. Sebagai bentuk apresiasi, Pemkab Ciamis memberikan berbagai hadiah menarik seperti kulkas, televisi, handphone, dan beragam door prize lainnya.

Penghargaan juga diberikan kepada Restoran, rumah makan, dan hotel yang taat membayar pajak. Pemerintah desa yang melunasi PBB-P2 sebelum jatuh tempo, dan OPD yang dinilai inovatif dalam penerapan digitalisasi retribusi.

Langkah ini diharapkan menjadi stimulus agar pemanfaatan pembayaran digital semakin meluas dan dipahami manfaatnya oleh masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Bupati Ciamis Dr. H. Herdiat Sunarya mengatakan digitalisasi merupakan langkah strategis dalam memperkuat PAD dan mendorong kemandirian fiskal daerah.

“PAD Ciamis saat ini memang masih kecil dibanding daerah lain, namun kami optimis. Dengan kerja keras, inovasi, dan dukungan masyarakat, Ciamis akan terus bergerak ke arah yang lebih baik,” katanya.

Bupati juga menyampaikan selamat kepada para pemenang undian serta mengapresiasi masyarakat yang sudah beralih ke sistem pembayaran digital.

“Digitalisasi membuat proses pembayaran lebih mudah, cepat, transparan, dan akuntabel. Ini adalah kontribusi nyata masyarakat dalam pembangunan daerah,” jelasnya.

Kepala Bapenda Ciamis, Dr. Aef Saefuloh mengungkapkan, program Galuh Go Digital dan Hot Maknyus Berhadiah merupakan inovasi untuk mengoptimalkan PAD sekaligus mengajak masyarakat aktif mendukung transformasi digital daerah.

“Alhamdulillah, melalui pemanfaatan digitalisasi, Ciamis berhasil menjadi yang terbaik se-Jawa Bali pada tahun 2025,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang telah berpartisipasi. Menurutnya, dengan Galuh Go Digital dan Hot Maknyus, pembayaran pajak menjadi tidak rumit, tidak antre, dan jauh lebih efisien. Aef menegaskan seluruh hadiah yang dibagikan tidak menggunakan APBD.

BACA JUGA: Sekda Ciamis, ASN Miliki Tanggung Jawab Jaga Fondasi Negara

“Anggaran yang digunakan bukan dari APBD. Kami tahu kondisi keuangan daerah sedang tidak baik-baik saja. Semua hadiah berasal dari sponsor yang mendukung program ini,” tegasnya.

Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penyerahan penghargaan kepada OPD yang telah menjalankan pengelolaan retribusi secara digital, di antaranya RSUD Kawali, Dinas Peternakan, dan BKPSDM.

Melalui rangkaian inovasi dan penghargaan ini, Pemkab Ciamis berharap partisipasi masyarakat dalam pembayaran pajak digital semakin meningkat.

“Program ini menjadi fondasi penting dalam memperkuat fiskal daerah menuju Ciamis yang lebih mandiri dan berdaya saing,” ungkapnya.

Komitmen digitalisasi ini turut membawa Kabupaten Ciamis meraih Penghargaan TP2DD Terbaik Wilayah Jawa-Bali Tahun 2025 dari Bank Indonesia. (NID)

H. Aslim: Masjid Agung Makin Cantik, Harus Dijaga Bersama

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Kawasan pusat Kota Tasikmalaya sedang bernafas lebih lega setelah Pemerintah Kota Tasikmalaya merapikan puluhan pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini melingkari trotoar di sekitar Masjid Agung. Ruang yang dulu terasa sesak perlahan kembali lapang, dan suasana di jantung kota itu tampak lebih tertata. Penataan ini bukan sekadar bersih-bersih atau menggeser pedagang, tetapi upaya menyeluruh untuk mengembalikan wajah kota, merawat ruang publik, dan memberikan kepastian berusaha bagi para pedagang yang kini menempati lokasi baru.

Langkah relokasi dilakukan melalui kerja bersama lintas sektor, setidaknya Dinas Perindag KUMKM, Satpol PP, Dishub, kepolisian, TNI, serta Dinas PUTR Kota Tasikmalaya. Sejak awal, pemerintah kota menegaskan bahwa pemindahan ini bukan tindakan mematikan usaha. Tujuannya sederhana namun krusial, yakni menjaga kawasan Masjid Agung tetap kondusif untuk ibadah, sekaligus memastikan ekonomi warga kecil tetap bergerak.

Tiga titik dipilih sebagai lokasi baru PKL, yakni depan bekas Kantor Pemda Kabupaten Tasikmalaya, area dekat Pos Polisi Tamankota, dan sepanjang Jalan Pemuda. Ketiganya dipersiapkan dengan pola penataan yang lebih teratur agar tetap strategis bagi pembeli.

Perubahan itu mendapat sorotan warga. Sham misalnya (17), siswa SMA Negeri 1 Kota Tasikamlaya ini mengaku kaget saat melintas.
“Wow banget sih ini! Sejujurnya kaget pas melintas tadi. Vibes-nya benar-benar baru. Masjid Agung bukan saja jadi lebih cantik, tapi terasa lebih punya wibawa,” ujarnya. Ia menyebut suasana yang kini lebih lapang memberi kesan berbeda, sesuatu yang sudah lama dinantikan warga Kota Tasikmalaya.

Jalur pedestrian yang sempat dipenuhi lapak kini kembali pada fungsi aslinya. Anak-anak bisa bebas berlarian, dan keluarga dapat menikmati ruang terbuka tanpa harus menghindari kerumunan pedagang. Bagi banyak orang, perubahan ini bukan hanya soal tata ruang, tetapi soal rasa. Ya, rasa memiliki kota yang mulai kembali dirawat.

Apresiasi terhadap langkah pemerintah kota juga datang dari Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, H. Aslim, S.H., M.Si. Ia menyebut penataan ini berhasil menyentuh dua sisi sekaligus: fisik dan sosial ekonomi.
“Masjid Agung hari ini jauh lebih cantik. Ini membuat kita makin bangga, karena masjid adalah ikon Kota Tasikmalaya,” ujarnya. Menurut Aslim, langkah pemerintah kota menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki wajah kota sekaligus menjaga aktivitas pedagang kecil tetap berjalan.

Namun ia mengingatkan bahwa pekerjaan pemerintah tidak akan berarti bila tidak dibarengi dukungan masyarakat.
“Membuat hal baru itu memang sulit, tetapi yang jauh lebih sulit adalah menjaganya,” katanya. Aslim mengajak semua pihak untuk ikut serta menjaga hasil penataan ini agar tidak kembali seperti dulu.

Salah satu bentuk dukungan itu, menurutnya, sederhana saja: warga tetap berbelanja di lokasi PKL yang baru.
“Kalau pembeli mau datang ke lokasi baru, pendapatan pedagang akan tetap terjaga. Bahkan bukan tidak mungkin lebih baik dari sebelumnya,” ujarnya.
Aslim menegaskan bahwa relokasi harus berjalan beriringan dengan keberlanjutan ekonomi, dan itu hanya terjadi bila masyarakat mau ikut menggeser aktivitas belanjanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan. Meski petugas kebersihan bekerja setiap hari, tanpa kedisiplinan warga, semua upaya akan terasa sia-sia.
“Mau seratus kali drainase diperbaiki, ketika perilaku kita tidak mendukung, kita tetap buang sampah sembarangan, maka perbaikan drainase hanya akan jadi mubazir,” katanya, menggarisbawahi bahwa urusan kenyamanan kota bukan semata tugas pemerintah.

Saat ini, Dinas PUTR Kota Tasikmalaya juga telah melakukan rehabilitasi jalan dan drainase sebagai bagian dari pembenahan kawasan tersebut.
Namun sebagaimana ditegaskan Aslim: “Pekerjaan fisik hanya separuh dari perjalanan. Separuh lainnya berada di tangan masyarakat.”

Pada akhirnya, penataan kawasan Masjid Agung Kota Tasikmalaya menjadi momentum penting bagi kota ini. Pemerintah telah menata ruangnya. Sselanjutnya, warga yang menentukan apakah kelak ruang itu tetap rapi atau kembali semrawut. Karena kota yang nyaman tidak muncul tiba-tiba, ia hadir lewat kebiasaan baik yang terus dijaga bersama.

“Tah ari aya perubahan kieu mah pan karaos aya pamarentahan kota teh. Hatur nuhun pa wali,” ujar Yudi, salah seorang Ketua RT di Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya. (AS)

Sekda Ciamis, ASN Miliki Tanggung Jawab Jaga Fondasi Negara

0

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Aparatur Sipil Negara (ASN) memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga fondasi negara, terutama nilai kebangsaan dan kerukunan.

Hal itu dikatakan Sekretaris Daerah Kabupaten Ciamis, Dr. H. Andang Firman Triyadi, M.T., ketika membuka kegiatan Edukasi Wawasan Kebangsaan, Kerukunan, dan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan Narkotika (P4GN).

Kegiatan yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Ciamis di Aula PKK, Kamis (11/12/2025), itu diikuti 57 peserta dari perangkat daerah dan kecamatan.

Dikatakan Andang, fenomena degradasi nasionalisme semakin terlihat dari melemahnya kepedulian masyarakat terhadap kepentingan bangsa dibandingkan kepentingan kelompok tertentu.

“Degradasi nasionalisme yang harus kita sikapi. Banyak yang lebih memikirkan kelompoknya sendiri. ASN harus menjadi teladan dalam menjaga keutuhan NKRI dan tidak boleh ikut terjebak,” katanya.

Dijelaskannya, Edukasi Wawasan Kebangsaan, Kerukunan, dan P4GN menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Pemkab Ciamis dalam memperkuat karakter kebangsaan ASN dan mencegah melemahnya semangat kebangsaan, terutama di tengah dinamika sosial serta perkembangan teknologi informasi yang cepat.

Menurutnya, wawasan kebangsaan bukan hanya materi teori, tetapi bentuk kesadaran yang harus hadir dalam perilaku ASN sehari-hari. Indonesia berdiri bukan hanya karena kekayaan alamnya, melainkan karena kekuatan kebhinekaan, yang menjadi identitas luhur bangsa.

“Keanekaragaman ini bukan ancaman, tapi kekuatan besar yang harus kita rawat. ASN harus memahami Indonesia secara utuh. Mulailah memahami diri sendiri sebagai bagian dari bangsa ini,” jelasnya.

Andang menjelaskan, setiap ASN wajib merawat bangsa sesuai kemampuan, kecerdasan, tugas, dan fungsinya baik secara pribadi maupun kelembagaan.

Dalam kesempatan itu, Andang juga mengapresiasi capaian Kabupaten Ciamis yang kembali meraih Harmoni Award kategori terbaik Kedua Nasional dari Kementerian Agama, sebagai daerah dengan capaian kerukunan terbaik. Penghargaan bukan tujuan utama, melainkan indikator semangat toleransi di Ciamis berjalan baik.

“Peringkat itu hanya dampak, yang terpenting implementasi di lapangan. Prestasi nasional ini momentum untuk kita tingkatkan lagi kinerja dan keharmonisan di lingkungan masyarakat,” ungkapnya.

Ia berharap ASN khususnya di Kabupaten Ciamis memahami, kalau predikat tersebut mengandung tanggung jawab agar Ciamis tetap menjadi daerah yang rukun dan harmonis.

Andang juga memberikan tanggapan terkait bertambahnya jumlah penghayat kepercayaan di Kabupaten Ciamis. Fenomena tersebut bukan hal yang perlu dipandang negatif, melainkan cerminan ruang kebebasan berkeyakinan kini semakin terbuka sesuai amanat undang-undang.

“Dulu kelompok penghayat memang tidak terlalu tampak karena belum terbuka seperti sekarang. Kini dilindungi haknya oleh undang-undang. Jangan lihat dari jumlahnya, tapi dari bagaimana keanekaragaman ini memperkaya Ciamis,” ujarnya.

Andang menambahkan prinsip mayoritas melindungi yang minoritas adalah bagian penting dari kehidupan berbangsa.

“Yang diatur itu kerukunan hidupnya. Kita semua punya amanat menjaga harmoni sesuai konstitusi,” tegasnya.

Andang mengingatkan pentingnya pembiasaan nilai keagamaan dan kebangsaan melalui kebijakan Bupati Ciamis tentang Shalat Magrib Berjamaah dan Magrib Mengaji.

“Pembiasaan ini bukan hanya rutinitas religius, melainkan ruang pembinaan karakter untuk mencetak ASN yang berintegritas. Jangan bosan menyampaikan pesan kebangsaan. Ulangi terus setiap apel pagi agar tertanam dalam diri pegawai,” ungkapnya.

BACA JUGA: Kabupaten Ciamis Sabet Empat Penghargaan Nasional

Sementara itu Kepala Kesbangpol Ciamis, Dr. R. Yadi Tisyadi, S.E., M.Si., mengatakan, kegiatan ini dirancang untuk memperkuat pemahaman ASN tentang kerukunan, keberagaman, dan ancaman penyalahgunaan narkotika yang dapat merusak struktur sosial.

Materi dalam kegiatan tersebut meliputi penguatan peran ASN sebagai perekat bangsa, strategi menjaga kerukunan, dan langkah pencegahan narkotika.

“Ini sangat penting mengingat dinamika sosial di daerah semakin kompleks,” jelasnya.

Tadi berharap, edukasi tersebut tidak berhenti pada tataran teori, tetapi diterapkan dalam layanan publik dan interaksi antar pegawai. ASN adalah wajah negara yang paling dekat dengan masyarakat.

“Kami ingin ASN mampu menerapkan nilai kebangsaan dalam tugas sehari-hari. Edukasi wawasan kebangsaan ini sebagai penguatan kolektif bagi ASN Ciamis dalam menjaga kebhinekaan, perekat sosial, dan pelindung harmoni di masyarakat,” ungkapnya.

Kesbangpol Ciamis berkomitmen melanjutkan program-program pembinaan kebangsaan sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas daerah dan memperkuat identitas nasional. (FSL)