Beranda blog Halaman 81

Dari Alumni untuk Sejarah, Peran Fokus Alpaci Kawal Biografi KH Mohammad Sirodj

0

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Pra-peluncuran buku biografi “Babah” KH Mohammad Sirodj tidak sekadar menjadi agenda seremonial haul, melainkan momentum konsolidasi alumni Pesantren Al-Qur’an Cijantung dalam menjaga dan meneruskan warisan keilmuan pendiri pesantren.

‎Kegiatan yang digelar Sabtu malam (20/12/2025) tersebut diinisiasi oleh Forum Komunikasi Alumni Pesantren Al-Qur’an Cijantung (Fokus Alpaci) sebagai bagian dari rangkaian Haul ke-29 KH Mohammad Sirodj, sekaligus mengawal program literasi tokoh pesantren yang digagas Pemerintah Kabupaten Ciamis.

‎Ketua Umum Pusat Fokus Alpaci, Said Attanjani, menegaskan pra-peluncuran ini menjadi bentuk tanggung jawab moral alumni agar buku biografi dapat diterima dengan baik oleh masyarakat pesantren dan publik luas.

‎“Pra-peluncuran ini bukan hanya memperkenalkan buku, tetapi juga mempertemukan kembali alumni lintas generasi dalam satu tujuan, yaitu menjaga warisan Babah,” ujarnya.

‎Menurut Said, KH Mohammad Sirodj tidak meninggalkan warisan materi maupun administrasi, melainkan warisan ilmu dan lembaga pendidikan pesantren yang hingga kini terus hidup dan berkembang.

‎“Warisan itulah yang ingin kami abadikan. Buku ini menjadi medium agar nilai perjuangan Babah tidak terputus oleh waktu,” katanya.

‎Said menjelaskan gagasan penulisan biografi berasal dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Kabupaten Ciamis, yang menilai KH Mohammad Sirodj sebagai tokoh sentral pesantren dengan pengaruh besar dalam pendidikan keagamaan di Ciamis.

‎“Pemerintah melihat Babah bukan sekadar tokoh lokal, tetapi figur penting dalam sejarah pesantren Ciamis. Karena itu, perlu ada dokumentasi yang serius dan berkelanjutan,” tuturnya.

‎Sebagai bentuk dukungan, Fokus Alpaci mengambil inisiatif menggelar pra-peluncuran yang dirangkai dengan silaturahmi alumni.

BACA JUGA: Fragmen Sejarah Ulama Talkshow Pra-peluncuran Biografi KH Mohammad Sirodj

‎Kegiatan tersebut dihadiri oleh alumni dari berbagai angkatan dan lembaga pendidikan di bawah Pesantren Cijantung, mulai dari Muallimin (1970–1976), SPG Al-Islam (1976–1991), hingga Tsanawiyah dan Aliyah swasta (1986–1997).

‎Selain agenda literasi, pra-peluncuran juga menjadi ruang solidaritas alumni terhadap keberlangsungan pesantren.

‎Pada kesempatan tersebut, Fokus Alpaci menyerahkan infak Haul ke-29 sebesar Rp56.088.000 yang dihimpun melalui rekening resmi organisasi dan langsung disalurkan kepada pesantren.

‎“Dana infak hanya transit di rekening Fokus Alpaci dan langsung kami serahkan. Ini bagian dari amanah alumni untuk mendukung pesantren,” jelas Said.

‎Said menambahkan, peluncuran resmi buku biografi “Babah” KH Mohammad Sirodj akan dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Ciamis pada Minggu (21/12/2025) pukul 08.30, dengan penyerahan simbolis oleh Bupati Ciamis, Dr. H. Herdiat Sunarya.

‎“Pra-peluncuran adalah inisiatif alumni, sementara peluncuran resmi menjadi tanggung jawab pemerintah. Kami memastikan keduanya saling menguatkan,” katanya.

‎Melalui buku biografi tersebut, Fokus Alpaci berharap generasi muda dapat memahami bahwa kekuatan pesantren terletak pada nilai keilmuan, keteladanan, dan dedikasi sosial para ulama.

‎“Babah mengajarkan bahwa harta bisa habis, tetapi ilmu dan pesantren akan terus hidup jika dirawat bersama,” pungkasnya. ‎(FSL)

Menghimpun Fragmen Sejarah Ulama: Talkshow Pra-Peluncuran Biografi KH Mohammad Sirodj

0

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Upaya merawat ingatan kolektif pesantren dan menjaga warisan keulamaan Bumi Galuh dilakukan oleh alumni Pesantren Al-Qur’an Cijantung melalui Silaturahmi Alumni dan Talkshow Pra-Peluncuran Biografi “Babah” KH Mohammad Sirodj, Sabtu (20/12/2025) malam.

‎Kegiatan yang digelar di lingkungan Pondok Pesantren Al-Qur’an Cijantung tersebut menjadi ruang refleksi bersama atas pentingnya dokumentasi sejarah ulama, sekaligus membuka proses panjang dan emosional di balik penulisan biografi pendiri pesantren.

‎Talkshow menghadirkan penulis biografi Ahmad Rizky Fauzi, pimpinan pesantren KH Drs. Asep Basirun, serta alumni senior KH Sirojudin Abbas. Diskusi dipandu Nyimas An An Aminah dan diikuti ratusan alumni yang tergabung dalam Forum Komunikasi Alumni Pesantren Al-Qur’an Cijantung (Fokus Alpaci).

‎Penulis biografi, Ahmad Rizky Fauzi, mengungkapkan bahwa proses penulisan buku “Babah” bukan sekadar kerja akademik, melainkan perjalanan batin yang penuh tanggung jawab.

‎“Menulis sosok ulama besar tidak cukup dengan data. Ada adab, kehati-hatian, dan kejujuran sejarah yang harus dijaga,” ujarnya.

‎Ia menceritakan bahwa sebelum memulai penulisan, para guru dan alumni menyarankan agar ia terlebih dahulu berziarah ke makam KH Mohammad Sirodj.

‎Dari sanalah, kata Ahmad, ia mendapatkan ketenangan dan keyakinan untuk melanjutkan proses penulisan.

‎Dalam menghimpun data, Ahmad melakukan penelusuran ke berbagai wilayah, termasuk kampung halaman Babah di Sukadana.

‎Ia berdialog dengan para sesepuh berusia lanjut, keluarga, dan saksi sejarah yang masih menyimpan ingatan tentang perjalanan dakwah KH Mohammad Sirodj.

‎“Tidak sedikit wawancara yang berlangsung dalam suasana haru. Ada air mata, jeda panjang, dan kenangan yang perlahan diurai,” tuturnya.

‎Ahmad mengakui adanya perbedaan versi dalam sejumlah catatan sejarah, mulai dari silsilah hingga perjalanan hidup Babah.

‎Namun, perbedaan tersebut justru ia anggap sebagai kekayaan sejarah pesantren.

‎“Saya memilih menuliskan seluruh versi yang ada. Biografi ini bukan klaim kebenaran tunggal, tetapi pintu awal bagi kajian yang lebih mendalam di masa depan,” katanya.

BACA JUGA: Musyda III Pemuda Muhammadiyah Ciamis, Arah Baru Gerakan Pramuka

‎Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Ciamis, H. Okta Jabal Nugraha, ST., MT., menilai penyusunan biografi KH Mohammad Sirodj sebagai langkah strategis memperkuat literasi sejarah lokal.

‎“Tokoh agama seperti Babah memiliki kontribusi besar dalam membentuk karakter masyarakat. Biografi ini kami dorong menjadi sumber inspirasi sekaligus koleksi literasi daerah,” ujarnya.

‎Pengasuh Pesantren Al-Qur’an Cijantung, KH O. Nur Muhammad, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan ikhtiar bersama untuk melanjutkan perjuangan pendiri pesantren.

‎“Ini bukan hanya mengenang, tetapi melanjutkan nilai keikhlasan dan istiqamah yang diwariskan Babah,” katanya.

‎Ketua Umum Pusat Fokus Alpaci, Said Attanjani, menyebut penulisan biografi dan kegiatan silaturahmi alumni sebagai bukti bahwa pesantren tidak hanya menjaga tradisi keilmuan, tetapi juga kesadaran sejarah.

‎“Jika sejarah pesantren tidak ditulis, maka mata rantai peradaban bisa terputus. Buku ini menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan,” tegasnya.

‎Ia menambahkan, peluncuran resmi buku biografi “Babah” akan dilakukan pada puncak haul ke-29 KH Mohammad Sirodj, bersamaan dengan penyerahan simbolis bersama Bupati Ciamis.

‎Melalui kolaborasi alumni, pesantren, dan pemerintah daerah, biografi KH Mohammad Sirodj diharapkan menjadi warisan literasi yang menjaga denyut sejarah dan keteladanan ulama Al-Qur’an dari Bumi Galuh. ‎(FSL)

Polsek Dibakar Warga: Ketika Kepercayaan pada APH Setipis Asap

lintaspriangan.com, BERITA NASIONAL. Siang itu, Sabtu (20/12), api menjalar cepat di Desa Singkuang. Asap hitam membubung dari kompleks Polsek Muara Batang Gadis (MBG), menandai sebuah peristiwa yang lebih dari sekadar kebakaran. Warga menyebutnya luapan amarah. Aparat menyebutnya situasi darurat. Publik melihatnya sebagai tanda tanya besar: mengapa polsek dibakar warga?

Api, menurut keterangan warga, berawal dari area depan bangunan, diduga sekitar tempat parkir, lalu merembet ke atap dan gedung di sebelahnya. Dalam waktu singkat, yang tersisa hanyalah rangka dan bangunan permanen tanpa isi. Satu unit mobil dan beberapa sepeda motor ikut rusak. Sekitar pukul 15.00 WIB, massa berangsur membubarkan diri, meninggalkan sisa hangus dan pertanyaan yang belum terjawab.

Peristiwa polsek dibakar warga ini tidak berdiri sendiri. Ada rangkaian kejadian yang mendahuluinya, berlapis emosi dan rasa keadilan yang terasa tak menemukan saluran.

Amarah yang Tersulut dari Rasa Tak Adil

Beberapa hari sebelum kejadian, warga Desa Singkuang, termasuk emak-emak, mengamankan seorang pria berinisial R yang diduga pengedar narkoba. R kemudian diserahkan ke Polsek MBG. Di titik inilah cerita berbelok. Informasi yang beredar di kampung menyebutkan R dilepaskan setelah sempat dibawa ke kantor polisi. Kabar itu menyebar cepat, memantik kekecewaan yang mengendap lama.

“Kalau soal narkoba, warga di sini sudah terlalu sering menahan diri,” kata seorang warga yang enggan disebutkan namanya. “Ketika yang kami amankan malah lepas, rasanya seperti dipermainkan.”

Kemarahan pun memuncak. Aksi protes berubah jadi ketegangan, lalu berujung pada pembakaran. Kepala Desa Singkuang II, Buyung Umak, membenarkan sebagian gedung Polsek MBG terbakar. Ia juga menyampaikan bahwa rumah dinas polisi tidak ikut dibakar massa. Di saat bersamaan, Kapolsek MBG Iptu Akmaluddin dikabarkan tidak berada di lokasi karena tengah melakukan pengejaran terhadap R.

Kapolres Mandailing Natal AKBP Arie Sofandi Paloh, yang dikonfirmasi pada hari kejadian, menyatakan sedang dalam perjalanan menuju lokasi. Tanggapan rinci belum disampaikan saat itu. Situasi yang serba cepat membuat ruang informasi diisi oleh kesaksian warga dan potongan kronologi yang terus berkembang.

Api yang Menghanguskan Kepercayaan

Kasus polsek dibakar warga ini membuka luka lama: hubungan yang rapuh antara warga dan aparat penegak hukum (APH). Bagi masyarakat desa, narkoba bukan sekadar isu hukum, melainkan ancaman langsung bagi keluarga. Ketika upaya warga merasa tak direspons sesuai harapan, kepercayaan menipis, setipis asap yang tersisa di udara.

Di Mandailing Natal, peristiwa ini menjadi cermin yang memantulkan kegelisahan banyak daerah. Warga berharap kehadiran negara terasa nyata, cepat, dan adil. Aparat diharapkan transparan menjelaskan prosedur, terutama ketika seorang terduga pelaku dilepaskan. Tanpa penjelasan yang memadai, ruang kosong diisi oleh prasangka.

Di momen genting, kecepatan dan kejernihan informasi sama pentingnya dengan penegakan hukum itu sendiri. Ketika informasi terlambat, rumor yang akan melesat. Ketika penjelasan tak utuh, emosi yang kemudian mengambil alih. Api pun mudah menyala.

Kini, setelah asap mereda, pekerjaan rumah justru dimulai. Penyelidikan atas pembakaran harus berjalan, begitu pula penjelasan menyeluruh terkait penanganan kasus R. Bukan untuk membenarkan tindakan anarkis, melainkan untuk mengembalikan satu hal yang paling mahal harganya: kepercayaan publik.

Peristiwa polsek dibakar warga seharusnya menjadi alarm dini. Bukan hanya bagi kepolisian setempat, tetapi bagi semua pihak yang berkepentingan dengan ketertiban dan rasa keadilan. Jika kepercayaan dibiarkan menipis, yang tersisa bukan hanya bangunan hangus, melainkan jurang yang kian sulit dijembatani antara warga dan negara. (AR)

Risiko Pidana Tidak Hilang Meski Sudah Kembalikan Uang

0

ADV. Andi Nugraha, S.H.
Ombudsman Lintas Priangan
Anggota PPKHI Jawa Barat

lintaspriangan.com, OPINI. Setiap kali laporan hasil pemeriksaan BPK dibuka, selalu ada satu kalimat yang terdengar seperti mantra penenang: “Kerugian negara sudah dikembalikan.” Kalimat ini sering diposisikan seolah menjadi penutup cerita. Seakan-akan dengan kembalinya uang ke kas daerah, seluruh persoalan otomatis selesai. Padahal, dalam hukum pidana korupsi, logika tersebut keliru secara konseptual dan berbahaya secara praksis.

Kesalahan paling mendasar terletak pada cara memahami korupsi. Korupsi kerap dipersempit hanya sebagai persoalan hasil—uang hilang atau tidak. Padahal, secara doktrinal, tindak pidana korupsi merupakan delik formil, bukan semata-mata delik materiil. Artinya, yang dinilai dan dihukum oleh hukum adalah perbuatannya, bukan hanya akibat akhirnya.

Dalam delik formil, perbuatan dianggap selesai dan dapat dipidana sejak unsur-unsur perbuatannya terpenuhi, tanpa menunggu apakah akibat akhirnya bersifat permanen atau sudah dipulihkan. Begitu seseorang melakukan perbuatan melawan hukum atau menyalahgunakan kewenangan karena jabatan, dan perbuatan itu menimbulkan atau berpotensi menimbulkan kerugian keuangan negara, maka pada saat itulah delik lahir. Uang yang dikembalikan setelahnya tidak pernah membatalkan fakta bahwa perbuatan tersebut telah terjadi.

Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi secara konsisten menempatkan fokus pada actus reus—perbuatan menyimpang dari kewenangan yang sah. Pasal-pasal kuncinya tidak mensyaratkan kerugian negara harus bersifat permanen. Cukup dibuktikan bahwa kerugian itu nyata atau potensial sebagai konsekuensi dari penyalahgunaan kewenangan. Dengan demikian, pengembalian uang tidak pernah diposisikan sebagai alasan peniadaan pidana, melainkan paling jauh sebagai faktor yang meringankan pertanggungjawaban.

Perbedaan waktu pengembalian dana juga penting untuk dicermati. Pengembalian sebelum dilakukan audit atau pemeriksaan bisa saja menunjukkan adanya koreksi internal atau kesadaran administratif, meskipun tetap tidak otomatis menutup ruang pidana. Namun pengembalian setelah audit, setelah temuan muncul, atau setelah aparat mulai bergerak, justru sering dipahami sebagai respons defensif. Dalam banyak praktik penegakan hukum, kondisi ini bukan dianggap bukti ketidaksalahan, melainkan indikasi bahwa pelaku menyadari adanya perbuatan yang bermasalah.

Di sinilah posisi audit BPK menjadi krusial. Audit bukanlah pengadilan pidana, tetapi audit juga bukan sekadar catatan administrasi. Ketika auditor menggunakan redaksi seperti “tidak sesuai kondisi sebenarnya”, “tidak didukung bukti memadai”, atau “realisasi tidak mencerminkan fakta lapangan”, auditor sedang menyatakan bahwa terdapat kesenjangan serius antara uang yang dikeluarkan dan realitas penggunaan. Pengembalian uang dalam konteks ini hanyalah tindak lanjut administratif, bukan rehabilitasi terhadap substansi temuan.

Jika setiap penyimpangan bisa dianggap selesai hanya dengan mengembalikan uang, maka hukum pidana korupsi kehilangan daya cegahnya. Korupsi berubah menjadi aktivitas berisiko rendah: ambil dulu, gunakan dulu, dan jika ketahuan, kembalikan. Negara mungkin tidak rugi secara kas, tetapi rusak secara tata kelola. Penyalahgunaan kewenangan menjadi sesuatu yang bisa dinegosiasikan, bukan dipertanggungjawabkan.

Karena itu, pertanyaan paling penting bukanlah apakah uang sudah kembali, melainkan mengapa uang itu bisa keluar tanpa dasar yang sah sejak awal. Mengapa pengendalian internal gagal? Mengapa kewenangan digunakan di luar batas rasional? Dan mengapa pola yang sama bisa terjadi lebih dari sekali atau di lebih dari satu unit kerja? Selama pertanyaan-pertanyaan ini belum dijawab, pengembalian uang hanyalah kosmetik kebijakan—menenangkan sesaat, tetapi tidak menyentuh akar persoalan.

Memahami korupsi sebagai delik formil menuntut keberanian untuk melihat bahwa masalah utama bukan di kas daerah, melainkan di cara kekuasaan dijalankan. Dan selama penyalahgunaan kewenangan masih bisa berlindung di balik frasa “uang sudah dikembalikan”, selama itu pula korupsi akan terus menemukan celah untuk berulang—rapi di laporan, tetapi busuk di praktik.

Musyda III Pemuda Muhammadiyah Ciamis, Arah Baru Gerakan Kepemudaan

0

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Musyawarah Daerah (Musyda) III Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Ciamis bukan sekadar forum konsolidasi organisasi, melainkan menjadi penegasan arah baru gerakan pemuda, dari kekuatan moral dan intelektual menuju kemandirian ekonomi berbasis umat.

‎Musyda digelar di Aula BKPSDM Ciamis, Sabtu (20/12/2025), secara resmi dibuka oleh Bupati Ciamis, Dr. H. Herdiat Sunarya. ‎Dalam kesempatan itu, Ia menilai Pemuda Muhammadiyah memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan sosial yang mampu menjawab tantangan zaman, terutama di tengah kompleksitas persoalan ekonomi moral generasi muda.

‎”Organisasi kepemudaan tidak cukup hanya kuat dalam wacana dan gerakan sosial, tetapi harus hadir sebagai solusi nyata bagi masyarakat,” katanya.

Menurutnya, Pemerintah daerah sangat terbuka untuk bersinergi dengan Pemuda Muhammadiyah, khususnya dalam penguatan ekonomi umat dan pembangunan karakter generasi muda.

“Ini penting untuk mewujudkan Ciamis yang berdaya saing dan berlandaskan nilai keagamaan,” ujarnya.

‎Penekanan terhadap kemandirian ekonomi juga menjadi sorotan Anggota Komisi IV DPR RI, Ir. H. Herry Dermawan. ‎Ia menegaskan agar Pemuda Muhammadiyah tidak terjebak dalam romantisme gerakan, tetapi berani mengambil peran konkret dalam sektor usaha dan produksi.

‎“Gerakan pemuda harus kuat secara ekonomi. Kalau ingin berjuang, harus punya basis usaha. Saya melihat Pemuda Muhammadiyah Ciamis sudah mulai ke arah yang benar,” tegasnya.

‎Herry juga sangat mengapresiasi berbagai inisiatif ekonomi yang telah dijalankan, mulai dari pertanian jagung, padi, melon, hingga peran sebagai agen distribusi bahan pokok.

‎Ia menilai langkah tersebut berkontribusi langsung dalam menekan angka pengangguran dan membuka lapangan kerja baru di daerah.

“Saya sangat mendukung rencana besar Pemuda Muhammadiyah Ciamis menjadi distributor minyak goreng di wilayah Priangan, dengan tahap awal pengelolaan kuota 10 kontainer,” ungkapnya.

‎Sementara itu, Ketua Pelaksana Musyda III Pemuda Muhammadiyah Ciamis, Mochamad Isa Nuralamsyah, S.Sos, menjelaskan, Musyda dirancang sebagai ruang musyawarah kolektif, bukan arena kompetisi kekuasaan.

BACA JUGA: Rakerda PKS Ciamis, Tegaskan Arah Lima Tahun Kedepan

Menurutnya, dari 26 bakal calon formatur, telah disaring menjadi 14 nama yang memenuhi syarat, dan akan dipilih 13 formatur untuk selanjutnya bermusyawarah menentukan Ketua Pimpinan Daerah periode 2026–2030.

“Fokus gerakan Pemuda Muhammadiyah Ciamis saat ini semakin mengarah pada pemberdayaan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Isa juga mengatakan, lima unit Kios Tani telah disahkan secara administratif, dua unit diantaranya telah beroperasi aktif di Cisaga dan wilayah Ciamis. Pemuda Muhammadiyah Ciamis juga merancang pengembangan pabrik minyak kelapa dengan memanfaatkan potensi perkebunan lokal, baik di wilayah selatan maupun utara Ciamis.

‎“Spirit Pemuda Negarawan harus diwujudkan melalui kerja nyata. Dakwah bukan hanya di mimbar, tetapi juga melalui kemandirian ekonomi dan keberpihakan kepada masyarakat,” ungkapnya.

‎Musyda III ini diharapkan menjadi tonggak transformasi Pemuda Muhammadiyah Ciamis sebagai organisasi kepemudaan yang progresif, inklusif, dan mampu menghadirkan solusi nyata bagi umat dan daerah. ‎(FSL)

Rakerda PKS Ciamis, Tegaskan Arah Lima Tahun ke Depan

0

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Ciamis menjadi penanda keseriusan partai dalam memperkuat peran pelayanan kepada masyarakat, sekaligus mematangkan langkah strategis menghadapi agenda politik dan pembangunan lima tahun ke depan.

‎Rakerda yang digelar di Auditorium KH. Ahmad Dahlan STIKes Ciamis, Sabtu (20/12/2025), mengusung tagline “Kokohkan Barisan, Tingkatkan Pelayanan, Raihkan Kemenangan”.

‎Kegiatan ini dihadiri oleh anggota legislatif PKS dari tingkat pusat hingga daerah, unsur Majelis Pertimbangan Daerah (MPD), Dewan Etik Daerah (DED), jajaran Dewan Pengurus Daerah (DPD), serta para Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) PKS se-Kabupaten Ciamis.

‎Ketua DPD PKS Ciamis, H. Didi Sukardi, S.E., menegaskan, Rakerda bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan forum strategis untuk menyusun peta jalan perjuangan partai selama lima tahun ke depan.

‎“Rakerda ini momentum penting untuk merumuskan arah, strategi, dan langkah kerja PKS Kabupaten Ciamis. Ini bagian dari konsolidasi pasca Munas, Muswil, Musda, Rakernas, dan Rakerwil,” katanya.

‎Menurut Didi, salah satu fokus utama PKS Ciamis adalah mengokohkan soliditas struktur partai agar tetap bergerak aktif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

‎“Struktur yang solid adalah kunci. Dari situ kita bisa terus meningkatkan pelayanan, karena kehadiran PKS harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, kapan pun dan di mana pun,” tambahnya.

Dalam kesempatan‎ itu Ia juga menekankan pelayanan publik merupakan ruh perjuangan PKS, terlepas ada atau tidaknya momentum politik.

‎“Sebagaimana pesan hadis, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Maka layanan kepada masyarakat harus terus dijalankan dan ditingkatkan,” tegas Didi Sukardi.

‎Rakerda PKS Ciamis secara resmi dibuka oleh Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) PKS Jawa Barat, H. Ridwan Solihin, S.IP., M.Si., yang ditandai dengan penabuhan gong.

BACA JUGA: Bupati Herdiat Resmi Buka SAGC Championship 2025

‎Dalam sambutannya, Ridwan Solihin mengingatkan bahwa PKS sejak awal berdiri memiliki misi ideologis untuk memperkuat kualitas generasi masa depan bangsa.

‎“PKS lahir bukan dari kekuasaan, bukan dari elit ekonomi atau militer, tetapi dari panggilan nurani untuk memperbaiki generasi ke depan. Jangan sampai lahir generasi yang lemah,” ujarnya.

‎Ia menautkan arah perjuangan PKS dengan visi besar Indonesia Emas 2045, yang menurutnya harus disiapkan sejak sekarang melalui kerja politik yang terencana dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

‎Ridwan menegaskan bahwa Rakerda harus dimaknai sebagai forum kerja nyata, bukan sekadar seremonial.

‎“Ini momentum memperkuat pondasi. Banyak program yang akan dijalankan mulai 2026. Kalau pimpinan fokus dan sungguh-sungguh, struktur di bawah akan mengikuti. Dan jika kita bersungguh-sungguh, insyaallah Allah SWT akan mendampingi perjuangan kita,” tandasnya.

‎Melalui Rakerda ini, PKS Ciamis meneguhkan komitmen untuk terus hadir sebagai kekuatan politik yang melayani, solid secara internal, dan siap menjawab tantangan pembangunan daerah ke depan. ‎(FSL)

Dampak Nyata Program Revitalisasi Pendidikan di Kabupaten Tasikmalaya

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Pendidikan di Kabupaten Tasikmalaya kembali menjadi sorotan, bukan karena angka-angka statistik atau jargon birokrasi, melainkan karena dampaknya yang mulai dirasakan langsung oleh warga. Pada puncak peringatan HUT PGRI ke-80 tingkat Kabupaten Tasikmalaya, pemerintah daerah meresmikan Program Revitalisasi Pendidikan—sebuah langkah yang diharapkan mampu menjawab persoalan klasik dunia pendidikan: sekolah yang kurang layak, ruang belajar yang tidak nyaman, dan ketimpangan kualitas antarwilayah.

Acara yang digelar di Lapangan Kecamatan Manonjaya itu bukan sekadar seremoni. Hadirnya Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Atip Latipulhayat, Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin, serta Wakil Bupati Tasikmalaya Asep Sopari Al-Ayubi menjadi penanda bahwa program ini tidak berdiri sendiri, melainkan berada dalam arus kebijakan yang lebih besar antara pusat dan daerah.

Namun bagi warga, yang terpenting bukan siapa yang hadir di panggung, melainkan apa yang berubah di sekolah anak-anak mereka. Program revitalisasi ini diarahkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan layak—tiga hal sederhana yang selama ini sering absen di sejumlah satuan pendidikan, terutama di wilayah pinggiran.

Sekolah Lebih Layak, Orang Tua Lebih Tenang

Dalam beberapa tahun terakhir, isu pendidikan di Kabupaten Tasikmalaya kerap berkutat pada masalah infrastruktur. Ruang kelas dengan atap bocor, lantai rusak, hingga fasilitas sanitasi yang jauh dari standar masih ditemui di sejumlah sekolah. Program revitalisasi pendidikan diharapkan menjadi jawaban konkret atas persoalan tersebut.

Bupati Tasikmalaya menegaskan bahwa penguatan sektor pendidikan adalah fondasi utama pembangunan daerah. Pernyataan ini menemukan relevansinya ketika pemerintah daerah tidak hanya berbicara, tetapi juga mulai bergerak melalui program yang menyentuh kebutuhan paling dasar sekolah. Bagi orang tua, sekolah yang aman berarti rasa tenang ketika melepas anak belajar. Tidak ada lagi kekhawatiran anak kehujanan di dalam kelas atau belajar dalam kondisi yang membahayakan.

Dari sisi guru, revitalisasi sekolah juga berdampak langsung pada kualitas pembelajaran. Lingkungan belajar yang nyaman memberi ruang bagi guru untuk fokus mengajar, bukan sibuk mengatasi persoalan teknis gedung. Pendidikan di Kabupaten Tasikmalaya, dalam konteks ini, tidak lagi sekadar mengejar angka partisipasi, tetapi mulai menyentuh kualitas proses belajar-mengajar itu sendiri.

Dimulai dari Akar, Menyentuh Hingga Desa

Salah satu pesan penting dari kegiatan ini terlihat saat rombongan meninjau TK Mawar Desa Cihaur. Langkah ini menegaskan bahwa revitalisasi pendidikan tidak hanya menyasar sekolah besar atau kawasan perkotaan, tetapi dimulai dari pendidikan usia dini di desa. Sebuah sinyal bahwa anak-anak di wilayah pinggiran tidak boleh tertinggal sejak langkah pertama mereka mengenal dunia belajar.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI mengapresiasi komitmen Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya dalam mendukung kebijakan nasional. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pusat dan daerah agar pemerataan kualitas pendidikan benar-benar terwujud, bukan hanya menjadi slogan tahunan.

Bagi warga Tasikmalaya, sinergi itu akan terasa nyata jika sekolah-sekolah di kecamatan dan desa mendapat perlakuan yang sama dengan sekolah di pusat kota. Harapannya sederhana: anak-anak di Manonjaya, Cihaur, atau kecamatan lain memiliki kesempatan belajar yang setara dengan anak-anak di wilayah yang lebih maju.

Program revitalisasi pendidikan ini juga membawa harapan baru bagi para guru. Peran guru diharapkan semakin diperkuat, tidak hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai aktor utama peningkatan kualitas sumber daya manusia daerah. Pendidikan di Kabupaten Tasikmalaya, pada akhirnya, bukan hanya soal bangunan yang diperbaiki, tetapi tentang masa depan generasi yang dibentuk di dalamnya.

Jika program ini konsisten dijalankan dan diawasi, warga akan menilai sendiri dampaknya. Sebab pendidikan yang baik tidak perlu terlalu banyak pidato. Ia cukup hadir dalam bentuk sekolah yang layak, guru yang didukung, dan anak-anak yang pulang dengan cerita belajar—bukan keluhan tentang ruang kelas yang tak ramah. (AS)

Bupati Herdiat Resmi Buka SAGC Championship 2025

0

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Bupati Ciamis, Dr. H. Herdiat Sunarya, secara resmi membuka ajang Sekolah Atletik Galuh Ciamis (SAGC) Championship 2025 di Stadion Atletik Prabu Linggabuana, Sabtu (20/12/2025).

SAGC Championship 2025 akan berlangsung selama tiga hari, mulai 19-21 Desember 2025, ini diikuti oleh lebih dari seribu atlet dari berbagai daerah di Indonesia. Kejuaraan atletik berskala terbuka tersebut menjadi magnet bagi atlet pelajar hingga atlet tingkat nasional.

“SAGC Championship 2025 tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana penting dalam pembinaan dan persiapan atlet untuk menghadapi kejuaraan yang lebih tinggi,” katanya.

Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan kejuaraan ini. Dikatakannya, Stadion Atletik Prabu Linggabuana diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai pusat pembinaan prestasi.

Cabang Olahraga (Atletik) memiliki nomor pertandingan terbanyak, sehingga membuka peluang besar bagi daerah untuk meraih prestasi.

“Dari tempat inilah diharapkan dapat melahirkan atlet-atlet berkualitas yang mampu mengharumkan nama daerah di tingkat nasional bahkan internasional,” jelasnya.

Dengan digelarnya SAGC Championship 2025, Kabupaten Ciamis menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat pembinaan olahraga atletik di wilayah Priangan Timur.

“Saya harapkan seluruh rangkaian kejuaraan dilaksanakan dengan menjunjung tinggi nilai sportivitas, kejujuran, keadilan, dan profesionalisme,” harapnya.

‎Sementara itu, Ketua PASI Kabupaten Ciamis, Dr. Aef Saefulloh menjelaskan, SAGC Championship 2025 diselenggarakan sebagai bagian dari implementasi Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional.

BACA JUGA: Karang Taruna Wahana Muda Tingkatkan Kapasitas Kepemudaan
‎SAGC Championship 2025 bertujuan untuk menguji kemampuan fisik dan mental atlet, menjaring bibit-bibit atletik baru, serta menjadi sarana evaluasi program pembinaan atlet dan pelatih.

‎“Kejuaraan ini mempertandingkan 40 nomor lomba dengan melibatkan sekitar 100 orang dewan hakim dan wasit. Selain sebagai ajang kompetisi, kegiatan ini juga menjadi bagian dari persiapan Kabupaten Ciamis menghadapi Pekan Olahraga Provinsi,” jelasnya.

‎Dalam mendukung penyelenggaraan kegiatan, anggaran bersumber dari Pemerintah Kabupaten Ciamis serta dukungan sejumlah sponsor, di antaranya Pertamina dan Bank BJB.

‎Hingga saat ini, Kabupaten Ciamis juga telah memiliki 60 wasit atletik yang siap mendukung pelaksanaan kejuaraan olahraga secara profesional. Tercatat sebanyak 1.034 atlet ambil bagian, berasal dari berbagai provinsi seperti Sulawesi Tengah, Gorontalo, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Banten, serta daerah lainnya.

“Alhamdulillah antusiasme peserta sangat tinggi dan dukungan berbagai pihak. SAGC Championship 2025 diharapkan mampu melahirkan atlet-atlet potensial sekaligus memperkuat peran Ciamis sebagai tuan rumah kejuaraan atletik berkelas nasional,” pungkasnya. ‎(FSL)

SAGC Championship 2025 di Ciamis: Lebih dari Sekadar Lomba

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Ciamis kembali menjadi magnet olahraga nasional. Pada Sabtu (20/12/2025), Kabupaten ini resmi menggelar SAGC Championship 2025 di Stadion Atletik Prabu Linggabuana. Sejak pagi, denyut stadion terasa berbeda: langkah-langkah cepat atlet yang melakukan pemanasan, teriakan pelatih dari pinggir lintasan, dan sorak dukungan yang sesekali pecah dari tribun. Lebih dari 1.000 atlet dari berbagai provinsi—mulai dari Pulau Jawa hingga Sulawesi—turut ambil bagian, menjadikan ajang ini salah satu kejuaraan atletik terbesar yang pernah digelar di Ciamis.

Kejuaraan ini bukan sekadar lomba adu cepat atau adu jauh. Di balik nomor-nomor lari, lompat, dan lempar, ada pesan besar tentang pembinaan, keadilan, dan masa depan atletik daerah. H. Herdiat Sunarya, Bupati Ciamis, menegaskan bahwa SAGC Championship 2025 adalah ruang evaluasi yang nyata bagi para atlet. “Ini bukan hanya soal medali. Ini uji kemampuan dan mental, agar atlet kita terbiasa dengan kompetisi yang sehat, objektif, dan berstandar tinggi,” ujarnya di sela pembukaan.

Bupati Herdiat juga memberi penekanan khusus kepada panitia dan wasit. Baginya, sportivitas bukan jargon seremoni. Ia meminta seluruh perangkat pertandingan menjunjung tinggi keadilan, memastikan tak ada atlet yang dirugikan oleh keputusan yang bias. “Kalau keadilan dijaga, prestasi akan mengikuti,” katanya. Pernyataan itu disambut anggukan para pelatih yang paham betul: satu keputusan keliru bisa mematahkan semangat atlet yang berlatih bertahun-tahun.

Di lintasan, cerita-cerita kecil bermunculan. Ada atlet muda yang baru pertama kali tampil di kejuaraan nasional terbuka, ada pula atlet senior yang datang untuk menguji konsistensi. Beberapa orang tua terlihat setia menunggu di tribun, menyimpan cemas dan harap. Momen-momen inilah yang membuat SAGC Championship 2025 terasa hidup, bukan sekadar daftar hasil lomba.

Ketua PASI Ciamis, Aep Saepuloh, menyebut kejuaraan ini sebagai bagian dari strategi pembinaan jangka panjang. “Kami ingin pembinaan yang berkesinambungan dan bermartabat. Menjaring bibit unggul itu penting, tapi menjaga prosesnya jauh lebih penting,” ujarnya. Menurut Aep, SAGC Championship 2025 dirancang agar atlet terbiasa dengan atmosfer kompetisi yang disiplin dan profesional, sekaligus membuka jejaring antardaerah.

Dari sisi daerah, penyelenggaraan kejuaraan ini memberi dampak berlapis. Hotel-hotel di sekitar kota terisi, pedagang kecil merasakan peningkatan transaksi, dan nama Ciamis kembali disebut dalam peta olahraga nasional. Ini menjadi sinyal bahwa Ciamis tak hanya siap sebagai tuan rumah, tetapi juga serius membangun ekosistem olahraga yang sehat.

Sejumlah pelatih menilai kualitas penyelenggaraan cukup baik, mulai dari kesiapan lintasan hingga pengaturan jadwal. Tentu, selalu ada ruang perbaikan—seperti penambahan fasilitas pendukung dan optimalisasi alur registrasi—namun fondasinya sudah kokoh. Yang terpenting, kepercayaan peserta terhadap integritas pertandingan tetap terjaga.

SAGC Championship 2025 juga memberi harapan bagi atlet muda Ciamis. Mereka melihat langsung standar kompetisi, mengukur diri, dan belajar dari yang terbaik. Dari sinilah mimpi ke level nasional hingga internasional dirajut—pelan, disiplin, dan konsisten. Seperti kata seorang pelatih di pinggir lintasan, “Prestasi itu bukan kejutan. Ia hasil kebiasaan yang benar.”

Menutup hari, matahari condong ke barat, lintasan mulai lengang. Namun gaungnya masih terasa. Bagi Ciamis, SAGC Championship 2025 bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah pernyataan sikap: bahwa daerah ini serius menumbuhkan prestasi dengan cara yang adil, manusiawi, dan berkelanjutan. Dan dari stadion ini, cerita-cerita atlet akan terus berlari—lebih jauh dari sekadar garis finis. (DH)

DPRD Kota Tasikmalaya: “Jaga Kondusivitas Nataru 2025–2026”

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tasikmalaya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan, ketertiban, serta suasana kondusif di wilayah Kota Tasikmalaya. Imbauan ini disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan sosial dalam menjaga stabilitas kota di tengah meningkatnya aktivitas masyarakat pada momen akhir tahun.

Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, H. Aslim, S.H., menyampaikan bahwa perayaan Natal dan Tahun Baru selalu menjadi momentum penting yang membutuhkan kesiapsiagaan semua pihak, baik aparat keamanan maupun masyarakat. Menurutnya, situasi yang aman dan tertib tidak hanya ditentukan oleh kekuatan aparat, tetapi juga oleh kesadaran kolektif warga.

Hal tersebut disampaikan H. Aslim usai menghadiri Apel Gelar Pasukan Operasi Kepolisian Terpusat “Lilin Lodaya 2025” yang digelar di Lapangan Mapolres Tasikmalaya Kota, Jumat, 19 Desember 2025, petang. Apel tersebut menjadi penanda kesiapan aparat dalam mengamankan rangkaian kegiatan Natal dan Tahun Baru di Kota Tasikmalaya.

“Kami mengapresiasi Polres Tasikmalaya Kota dan seluruh instansi terkait atas kesiapan pengamanan melalui Operasi Lilin Lodaya 2025. Apel ini menunjukkan bahwa negara hadir untuk memastikan masyarakat dapat merayakan Natal dan Tahun Baru dengan rasa aman dan nyaman,” ujar Aslim kepada wartawan.

Ia menegaskan, keberhasilan pengamanan bukan semata soal jumlah personel atau peralatan, tetapi juga tentang sinergi dan partisipasi aktif masyarakat. Oleh karena itu, DPRD Kota Tasikmalaya mengajak seluruh warga untuk turut menjaga ketertiban lingkungan masing-masing, menghindari potensi konflik, serta saling menghormati perbedaan.

Lebih lanjut, Aslim menyoroti pentingnya menjaga semangat toleransi, khususnya dalam momentum perayaan Natal. Ia mengajak masyarakat Kota Tasikmalaya untuk menunjukkan jati diri sebagai kota yang damai, religius, dan saling menghargai.

“Kita tunjukkan bahwa Tasikmalaya adalah kota yang toleran dan solid. Menjaga kondusivitas bukan hanya tugas aparat, tetapi tanggung jawab bersama seluruh warga sebagai bentuk solidaritas kepada saudara-saudara kita yang merayakan Natal,” tuturnya.

Selain itu, politisi Partai Gerindra tersebut juga memberikan perhatian khusus terhadap perayaan malam pergantian tahun. Ia mengimbau agar masyarakat tidak merayakannya dengan kegiatan yang berpotensi menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban umum.

Menurut Aslim, malam tahun baru seharusnya dimaknai sebagai momen refleksi dan rasa syukur, bukan ajang hura-hura yang berlebihan. Ia mengajak masyarakat untuk mengisi pergantian tahun dengan kegiatan positif, bermanfaat, dan bermakna.

“Menjelang pergantian tahun, mari kita isi dengan kegiatan yang positif. Jadikan momen ini sebagai ungkapan rasa syukur atas kesempatan, kesehatan, dan kedamaian yang masih kita rasakan saat menyambut tahun yang baru,” tambahnya.

Di akhir pernyataannya, Aslim berharap seluruh rangkaian perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 di Kota Tasikmalaya dapat berjalan dengan aman, tertib, lancar, dan tetap kondusif tanpa adanya gangguan yang berarti. Ia menekankan bahwa kondusivitas adalah modal utama bagi keberlangsungan kehidupan sosial dan pembangunan daerah.

“Intinya adalah menjaga kondusivitas. Mari kita buktikan bahwa Kota Tasikmalaya adalah kota yang patut disyukuri—tempat kita bisa hidup dengan tenang, damai, dan saling menghormati,” pungkasnya. (AS)