Beranda blog Halaman 62

Statistik dan Skor Babak Pertama Persib vs Persija

lintaspriangan.com, SKOR. Persib Bandung unggul 1-0 atas Persija Jakarta pada babak pertama pertandingan klasik yang digelar Jumat (11/1/2026). Gol cepat Persib menjadi pembeda di tengah dominasi penguasaan bola Persija sepanjang 45 menit pertama.

Gol semata wayang Persib dicetak Putra B. pada menit ke-5. Gol tersebut langsung mengubah dinamika pertandingan, memaksa Persija tampil lebih agresif untuk mengejar ketertinggalan.


Skor Babak Pertama

Persib Bandung 1 – 0 Persija Jakarta

Pencetak gol:

  • 5’ Beckham Putra (Persib)

Statistik Utama Babak Pertama

Meski tertinggal, Persija justru tampil dominan secara statistik:

  • Penguasaan bola
    • Persib: 28%
    • Persija: 72%
  • Total tembakan
    • Persib: 0
    • Persija: 3
  • Tembakan ke arah gawang
    • Persib: 0
    • Persija: 1
  • Tendangan sudut
    • Persib: 0
    • Persija: 4

Statistik tersebut menunjukkan Persija lebih aktif membangun serangan, namun belum cukup efektif untuk menyamakan kedudukan.


Kartu Kuning Babak Pertama

Pertandingan berlangsung cukup keras sejak awal laga:

  • 30’ Allano (Persija) – kartu kuning
  • 34’ Thom Haye (Persib) – kartu kuning

Gambaran Jalannya Babak Pertama

Persib tampil efisien dengan memanfaatkan peluang awal, sementara Persija mencoba mengendalikan tempo lewat penguasaan bola dan tekanan bertubi-tubi. Namun hingga turun minum, rapatnya pertahanan Persib membuat keunggulan 1-0 tetap bertahan.

Babak kedua diprediksi berlangsung lebih terbuka, dengan Persija dipaksa mengambil risiko lebih besar untuk mengejar gol penyeimbang.

Vandalisme Tasikmalaya dan Salah Kaprah Pelaporan oleh Ketua DPRD

lintaspriangan.com, TAJUK LINTAS. Peristiwa coretan di dinding Gedung DPRD Kabupaten Tasikmalaya beberapa waktu lalu seharusnya bisa dibaca lebih jernih dan dewasa. Sayangnya, yang muncul ke permukaan justru kegaduhan baru setelah langkah pelaporan ke kepolisian diambil. Polemik pun bergeser: dari soal isi kritik menjadi soal siapa melapor siapa. Di titik inilah redaksi memandang ada kekeliruan cara pandang yang perlu diluruskan.

Redaksi menilai, vandalisme memang bukan tindakan yang patut dibenarkan. Merusak fasilitas publik—apalagi gedung lembaga negara—tetaplah perbuatan melawan hukum. Namun, persoalan tidak berhenti pada benar atau salahnya coretan cat semprot. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana peristiwa ini dipahami dan disikapi oleh pemegang mandat kekuasaan publik.

Dalam konteks hukum pidana, perusakan terhadap aset negara merupakan delik biasa. Artinya, aparat penegak hukum dapat bertindak tanpa harus menunggu laporan atau pengaduan dari pihak mana pun. Dengan konstruksi hukum seperti itu, pelaporan oleh Ketua DPRD sejatinya bukan syarat mutlak agar peristiwa vandalisme bisa diproses. Hukum tetap berjalan, ada atau tidak ada laporan.

Di sinilah redaksi melihat adanya salah kaprah pelaporan. Ketika sebuah tindakan yang secara hukum bisa langsung ditindak justru dipertegas dengan pelaporan simbolik, pesan yang sampai ke publik menjadi kabur. Fokus perhatian beralih dari substansi kritik menuju respons represif. Padahal, inti persoalan yang disuarakan lewat coretan tersebut adalah kritik terhadap kinerja, transparansi anggaran, dan keberpihakan DPRD Kabupaten Tasikmalaya kepada rakyat.

Pada titik ini, redaksi memandang perlu mengajukan pertanyaan yang lebih tajam dan jujur: apakah pelaporan ini sekadar pengalihan isu, atau memang lahir dari ketidaktahuan bahwa vandalisme terhadap aset negara bukan delik aduan? Pertanyaan ini relevan diajukan, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk meluruskan logika publik. Dalam konstruksi hukum pidana, perusakan fasilitas negara dapat diproses tanpa menunggu laporan pihak tertentu. Karena itu, penekanan berlebih pada aspek pelaporan justru menimbulkan kesan seolah-olah proses hukum baru bisa berjalan setelah adanya pengaduan resmi, padahal faktanya tidak demikian.

Jika pelaporan tersebut dimaksudkan sebagai penegasan sikap moral, maka publik berhak bertanya mengapa energi tidak diarahkan untuk menjawab substansi kritik yang disampaikan. Sebaliknya, jika pelaporan itu lahir dari ketidakpahaman terhadap sifat delik vandalisme, maka hal ini menjadi persoalan yang lebih serius: lemahnya literasi hukum di lingkar kekuasaan. Dalam kedua kemungkinan tersebut, fokus perdebatan bergeser menjauh dari persoalan utama yang disuarakan masyarakat, menuju polemik prosedural yang tidak menyentuh akar masalah. Di sinilah redaksi melihat risiko pengalihan isu—disengaja atau tidak—yang pada akhirnya merugikan kualitas dialog demokratis.

Sebagai lembaga perwakilan, DPRD seharusnya memiliki daya tahan yang lebih kuat terhadap kritik, termasuk kritik yang disampaikan dengan cara yang tidak ideal. Kritik yang keras sering kali lahir dari rasa frustrasi. Bukan karena rakyat gemar mencoret tembok, melainkan karena saluran aspirasi formal dianggap tidak lagi efektif. Ketika audiensi, demonstrasi, dan forum resmi dirasa tidak menghasilkan perubahan, sebagian masyarakat memilih jalan simbolik yang berisiko hukum.

Redaksi berpandangan, dalam situasi seperti ini, langkah yang lebih bijak bukanlah mempertegas jarak melalui pelaporan, melainkan menggeser fokus pada materi kritik itu sendiri. Apa yang sebenarnya sedang dipersoalkan publik? Mengapa isu yang sama—soal anggaran, pokok pikiran dewan, dan fungsi pengawasan—terus berulang? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang seharusnya dijawab secara terbuka oleh DPRD.

Pelaporan terhadap vandalisme memang sah secara administratif. Namun, sah belum tentu tepat secara etik demokrasi. Ketika pimpinan lembaga perwakilan memilih jalur hukum sebagai respons pertama, pesan yang tertangkap publik adalah ketidaksiapan menghadapi kritik. Bukan mustahil, langkah tersebut justru memperkuat kesan antikritik dan defensif, sesuatu yang berbahaya bagi kesehatan demokrasi lokal.

Redaksi tidak menafikan pentingnya menjaga aset negara. Gedung DPRD bukan papan tulis bebas. Ia harus dirawat dan dilindungi. Tetapi perlindungan aset negara tidak boleh mengorbankan esensi demokrasi itu sendiri. Hukum semestinya menjadi instrumen terakhir, bukan refleks awal, terutama ketika persoalan beririsan langsung dengan ekspresi ketidakpuasan publik.

Lebih jauh, vandalisme Tasikmalaya ini adalah alarm sosial. Ia menandakan adanya komunikasi politik yang tersumbat antara wakil rakyat dan yang diwakili. Alarm tidak seharusnya dibungkam, melainkan diperiksa sumber bunyinya. Cat semprot bisa dihapus, tembok bisa dicat ulang, tetapi rasa tidak didengar tidak akan hilang hanya dengan laporan polisi.

Redaksi memandang, akan jauh lebih elegan jika pimpinan DPRD memilih jalur refleksi dan dialog. Mengakui adanya kegelisahan publik tidak sama dengan membenarkan vandalisme. Sebaliknya, itu adalah bentuk kedewasaan politik. DPRD bisa saja tetap mendukung penegakan hukum berjalan sebagaimana mestinya—karena itu kewenangan aparat—tanpa harus menempatkan diri di garis depan pelaporan.

Pada akhirnya, vandalisme Tasikmalaya ini bukan sekadar soal coretan di dinding gedung. Ia adalah cermin relasi kuasa, kepercayaan, dan komunikasi politik di tingkat lokal. Redaksi berpendapat, kesalahan terbesar bukan terletak pada cat semprot, melainkan pada kegagalan membaca pesan di baliknya.

Jika DPRD ingin benar-benar menunjukkan keberpihakan kepada rakyat, jawabannya bukan pada seberapa cepat laporan dibuat, melainkan pada seberapa serius kritik dibahas dan ditindaklanjuti. Demokrasi tidak runtuh karena coretan di tembok. Demokrasi runtuh ketika kritik diabaikan dan kekuasaan lebih sibuk melindungi simbol ketimbang mendengar suara yang diwakilinya.

Bolehkah Media Beropini?

lintaspriangan.com, KELAS WARTAWAN. Dalam satu minggu terakhir, redaksi Lintas Priangan cukup aktif bersilaturahmi ke sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Obrolannya beragam, dari urusan program, kebijakan, hingga—yang agak sensitif—pemberitaan media. Di antara perbincangan santai itu, setidaknya ada dua pejabat yang mengemukakan kekhawatiran serupa: “Media sekarang kok sering beropini?”
Nada suaranya bukan marah, lebih ke cemas. Boleh jadi, kegelisahan ini lahir bukan dari alergi kritik, melainkan dari belum utuhnya pemahaman tentang cara kerja jurnalistik. Dari sinilah pembahasan ini menjadi penting.

Pertanyaan “bolehkah media beropini?” sebenarnya sudah lama dijawab oleh dunia jurnalistik. Jawabannya: boleh. Bahkan bebas. Dengan satu catatan besar: tahu tempat!

Dalam praktik jurnalistik, opini bukan barang haram. Ia justru diakui sebagai bagian sah dari fungsi pers. Namun opini tidak boleh menyaru sebagai berita. Ia harus berdiri di rumahnya sendiri. Jika penulis dari luar redaksi, umumnya redaksi menempatkan tulisan tersebut di rubrik opini. Tapi kalau penulis opini itu mewakili media sebagai sebuah lembaga, maka rubrik yang paling tepat untuk digunakan adalah editorial atau tajuk rencana.

Secara konseptual, ini bukan sekadar kesepakatan praktisi, melainkan sudah menjadi pakem akademik. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan tajuk rencana sebagai tulisan yang memuat pendapat redaksi tentang peristiwa aktual. Artinya, sejak dari definisi bahasa pun, tajuk rencana atau editorial, memang disiapkan sebagai ruang sikap redaksi, bukan sekadar laporan fakta.

Pandangan lebih mendalam bisa didapat dari berbagai literatur akademik. Misal, dalam Oxford Research Encyclopedia of Communication, John Firmstone menjelaskan bahwa editorial adalah satu-satunya ruang di media berita tempat organisasi media secara eksplisit menyatakan pandangannya. Editorial bukan suara reporter lapangan, melainkan suara institusi media itu sendiri. Ia adalah “posisi resmi”, bukan bisik-bisik pribadi wartawan.

Ahli jurnalistik klasik Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, dalam buku The Elements of Journalism, juga menegaskan pemisahan tegas antara fakta dan opini. Menurut mereka, kredibilitas pers justru lahir dari kejujuran dalam membedakan keduanya. Opini boleh ada, bahkan penting, yang penting pembaca tahu bahwa tulisan tersebut adalah opini redaksi. Karena itulah, setiap media pasti punya rubrik tajuk rencana atau editorial. Istilah lain pun banyak digunakan untuk merujuk pada hal serupa, misal perspektif, kata redaksi, sudut pandang, dsb.

Dalam tradisi pers internasional, praktik ini sangat jelas. Surat kabar besar seperti The New York Times atau The Guardian menempatkan editorial sebagai institutional voice. Tulisan editorialnya kerap tajam, kritis, bahkan keras. Namun pembaca tidak merasa ditipu, karena sejak awal diberi tahu: ini pendapat redaksi.

Di Indonesia, prinsip ini tidak hanya hidup dalam etika profesi, tetapi juga memiliki landasan hukum. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers menegaskan bahwa pers memiliki empat fungsi utama: sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Fungsi kontrol sosial inilah yang sering disalahpahami.

Kontrol sosial bukan berarti media boleh menghakimi atau bertindak sewenang-wenang. Kontrol sosial adalah fungsi korektif, yakni mengawasi kekuasaan, kebijakan, dan praktik publik agar tetap berada dalam koridor kepentingan umum. Rubrik tajuk rencana menjadi ruang paling sah dan paling jujur untuk menjalankan fungsi ini. Di sanalah media menilai, mengkritisi, dan memberi peringatan berbasis fakta, tanpa harus berpura-pura netral seperti dalam berita lurus.

Ketika kritik itu diletakkan di rubrik tajuk rencana atau editorial, media sedang menjalankan mandat undang-undang secara terang-benderang: mengontrol, bukan menyamarkan.

Prinsip ini pula yang dijaga oleh Dewan Pers melalui Kode Etik Jurnalistik. Independensi dan keberimbangan tidak dimaknai sebagai media harus bisu, melainkan jujur dalam membedakan fakta dan sikap.

Di sinilah sering terjadi salah paham. Ketika seorang pejabat membaca tajuk rencana yang kritis, lalu merasa “diserang”, masalahnya sering bukan pada opininya, melainkan pada ekspektasi. Editorial memang tidak ditulis untuk menyenangkan. Ia ditulis untuk menilai, mengingatkan, bahkan menekan secara moral, tentu saja dengan basis data dan argumen.

Namun perlu digarisbawahi, editorial bukan ruang asal bicara. Ia tetap terikat pada disiplin intelektual: data yang sahih, logika yang runtut, dan rujukan yang bisa dipertanggungjawabkan. Opini redaksi bukan gosip berkop surat kabar. Ia adalah kesimpulan kolektif yang lahir dari pembacaan fakta dan dukungan data.

Singkatnya, media bukan hanya tukang catat kejadian, tapi juga aktor sosial yang punya tanggung jawab moral. Di situlah fungsi opini bekerja. Bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memberi arah tafsir publik.

Maka, jika hari ini masih ada yang bertanya “bolehkah media beropini?”, jawabannya sederhana dan tegas: boleh, sah, dan dijamin oleh tradisi jurnalistik dunia serta oleh undang-undang pers itu sendiri. Selama ia ditempatkan di ruang yang benar—tajuk rencana atau editorial—dan disajikan dengan argumen berbasis data dan fakta.

Kalau pun terasa pedas, anggap saja seperti kopi tanpa gula. Tidak semua lidah langsung cocok, tapi justru itulah yang bikin mata melek. (AS)

Derbi Terpanas: Persib vs Persija, Jadi Raja atau Turun Tahta?

lintaspriangan.com, SPORT.

Persib vs Persija Hari Ini, Derbi yang Lebih Besar dari Tiga Poin

Laga Persib Bandung vs Persija Jakarta hari ini bukan sekadar pertandingan sepak bola. Ia adalah peristiwa sosial, kultural, sekaligus psikologis yang setiap musim selalu melampaui urusan skor. Ketika peluit kick-off dibunyikan di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Minggu (11/1/2026) pukul 15.30 WIB, yang dipertaruhkan bukan hanya tiga poin, melainkan identitas, harga diri, dan legitimasi sejarah.

Dalam lanskap sepak bola Indonesia, Persib vs Persija hari ini kerap disebut sebagai derbi terbesar—bahkan oleh para pelaku di dalamnya. Pelatih Persib, Bojan Hodak, menyebut rivalitas ini sebagai salah satu derbi terbesar di Asia Tenggara. Pernyataan itu bukan hiperbola kosong. Basis massa kedua klub, Bobotoh dan Jakmania, menjadikan laga ini selalu hidup jauh sebelum bola bergulir, dan tetap bergema lama setelah pertandingan berakhir.

Rivalitas Persib dan Persija berakar pada dimensi geografis Bandung–Jakarta, lalu berkembang menjadi benturan kultural yang terus direproduksi dari generasi ke generasi. Di Bandung, laga ini kerap dipandang sebagai “hajatan”, istilah yang menandakan perayaan sekaligus ujian kebersamaan. Viking Persib Club (VPC), salah satu kelompok suporter terbesar, menyebut pertemuan ini sebagai “lebarannya Bobotoh”—sebuah metafora yang menegaskan betapa sentralnya laga ini dalam kalender emosional pendukung Persib.

Di sisi lain, bagi Persija, pertandingan melawan Persib selalu menjadi panggung pembuktian. Macan Kemayoran datang bukan hanya membawa ambisi menang, tetapi juga tekad menaklukkan kandang yang selama satu tahun terakhir nyaris tak tersentuh kekalahan. Sejak terakhir kali tumbang di laga kandang domestik pada Januari 2025, Persib mencatatkan rangkaian hasil positif, sebuah fakta yang membuat derbi hari ini sarat tekanan ganda.

Karena itu, Persib vs Persija hari ini lebih tepat dibaca sebagai benturan dua ekosistem sepak bola: klub, suporter, kota, bahkan aparat keamanan ikut berada dalam satu tarikan napas. Tiket yang ludes sejak berminggu-minggu lalu, pengamanan berlapis, hingga imbauan pemerintah kota agar euforia disalurkan secara tertib, menjadi indikator bahwa derbi ini telah melampaui batas stadion.

Pada titik inilah, derbi Persib vs Persija berdiri sebagai simbol. Ia bukan hanya tentang siapa mencetak gol lebih banyak, melainkan tentang siapa yang mampu menjaga kepala tetap dingin di tengah suhu emosi yang mendidih. Tiga poin mungkin tercatat di klasemen, tetapi makna pertandingan ini akan terus hidup dalam ingatan—menang atau kalah—jauh lebih lama dari 90 menit yang dimainkan.

Persib vs Persija Hari Ini, Taruhan Juara Paruh Musim

Di balik panasnya rivalitas, Persib vs Persija hari ini menyimpan kepentingan yang jauh lebih konkret: takhta klasemen dan status juara paruh musim BRI Super League 2025/2026. Inilah yang membuat derbi kali ini tidak hanya emosional, tetapi juga matematis—penuh hitung-hitungan poin yang bisa mengubah peta persaingan hanya dalam 90 menit.

Menjelang kick-off di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Persib Bandung dan Persija Jakarta sama-sama mengoleksi 35 poin, masing-masing menempati posisi ketiga dan kedua klasemen sementara. Persija berada satu tingkat di atas Persib semata karena unggul selisih gol. Situasi ini menciptakan skenario sederhana namun brutal: pemenang laga hari ini akan mengoleksi 38 poin dan merebut puncak klasemen.

Peluang itu terbuka lebar setelah pemuncak klasemen sementara, Borneo FC, terpeleset. Pesut Etam yang sebelumnya mengoleksi 37 poin takluk 0-2 dari Persita Tangerang. Dua gol Persita—yang dicetak Javlon Guseynov dan Aleksa Anderjic—secara tidak langsung menjadikan laga Persib vs Persija hari ini sebagai “final kecil” penentuan raja paruh musim.

Namun, skenario tak selalu berpihak pada keberanian menyerang. Jika Persib dan Persija bermain imbang, masing-masing hanya menambah satu poin menjadi 36. Artinya, Borneo FC tetap bertengger di puncak dan status juara paruh musim melayang dari genggaman dua rival abadi tersebut. Dalam konteks inilah, satu gol bisa bernilai lebih dari sekadar keunggulan—ia bisa bernilai posisi puncak.

Tekanan ini terasa di kedua kubu. Persib datang dengan status juara bertahan dan rekor kandang yang mengesankan. Persija hadir dengan produktivitas gol tinggi dan ambisi menutup paruh musim di singgasana. Tidak berlebihan jika laga ini disebut sebagai pertarungan tiga tim sekaligus: Persib, Persija, dan bayang-bayang Borneo FC.

Menariknya, persaingan papan atas musim ini terbilang ketat. Malut United membuntuti dengan 34 poin, sementara Persita Tangerang, Persebaya, dan klub-klub lain berada dalam jarak yang masih memungkinkan perubahan signifikan di putaran kedua. Artinya, hasil Persib vs Persija hari ini bukan hanya menentukan siapa yang tersenyum di tengah musim, tetapi juga siapa yang memikul beban ekspektasi lebih berat setelahnya.

Juara paruh musim memang tidak identik dengan juara akhir. Namun dalam sejarah kompetisi Indonesia, status tersebut kerap menjadi penanda stabilitas, konsistensi, dan kepercayaan diri. Karena itu, laga hari ini adalah soal momentum—siapa yang berhak mengklaimnya, dan siapa yang harus mengejar dari belakang.

Dan ketika pertaruhan setinggi ini bertemu dengan atmosfer kandang yang mendidih, satu faktor lain tak bisa diabaikan: GBLA sendiri. Stadion ini bukan sekadar lokasi pertandingan, melainkan variabel penentu yang kerap menggeser keseimbangan. Bagaimana Persib menjaga bentengnya, dan seberapa kuat Persija menahan tekanan publik Bandung, menjadi cerita penting yang tak terpisahkan dari perburuan puncak klasemen.

Persib vs Persija Hari Ini: GBLA, Benteng yang Sulit Dijebol

Jika ada variabel yang kerap menggeser logika sepak bola, itu adalah kandang. Dan pada Persib vs Persija hari ini, Stadion Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) berdiri sebagai benteng yang selama setahun terakhir nyaris tak tersentuh. Bagi Persib Bandung, GBLA bukan sekadar tempat bermain, melainkan ruang aman psikologis—di mana kepercayaan diri tumbuh dan tekanan berbalik arah ke tim tamu.

Secara faktual, rekor kandang Persib menjelang laga ini impresif. Terakhir kali Maung Bandung tumbang di kandang pada kompetisi domestik terjadi pada Januari 2025. Setelah itu, Persib melaju dengan rentetan 12 kemenangan dan dua hasil imbang, baik ketika kompetisi masih bernama Liga 1 maupun setelah bertransformasi menjadi Super League. Konsistensi ini menjadikan GBLA sebagai salah satu stadion paling “tidak ramah” bagi lawan.

Atmosfer pertandingan turut mempertebal tembok tersebut. Bobotoh memenuhi tribun dengan koreografi raksasa, nyanyian tanpa jeda, dan tekanan verbal yang konstan. Bagi pemain Persib, suasana ini adalah energi tambahan. Bagi Persija Jakarta, ia menjelma ujian mental sejak menit pertama. Tak jarang, laga tandang di GBLA menuntut lebih dari sekadar kesiapan fisik—ia menuntut kedewasaan emosional.

Dari sudut statistik, kekuatan kandang Persib juga tercermin pada soliditas pertahanan. Hingga pekan ke-16, Persib tercatat sebagai tim dengan jumlah kebobolan paling sedikit di liga, hanya 11 gol. Angka ini bukan hanya soal kualitas bek, tetapi juga buah dari organisasi tim yang lebih disiplin ketika bermain di hadapan pendukung sendiri. Setiap tekel disambut sorakan, setiap sapuan disertai tepuk tangan—detail kecil yang memelihara fokus pemain.

Namun, GBLA bukan jaminan kemenangan otomatis. Persija datang dengan reputasi sebagai salah satu tim paling produktif, telah mencetak 32 gol hingga pekan ke-16. Artinya, benteng Persib akan diuji oleh tekanan yang nyata, bukan sekadar ancaman di atas kertas. Dalam konteks ini, GBLA berfungsi sebagai pengganda: ia bisa memperkuat keunggulan Persib, atau sebaliknya, memperbesar konsekuensi jika terjadi kesalahan.

Yang jelas, Persib vs Persija hari ini tidak dimainkan di ruang hampa. Stadion, tribun, dan atmosfer adalah bagian dari pertandingan itu sendiri. GBLA akan berbicara—melalui sorak, melalui tekanan, melalui ritme permainan yang kerap memihak tuan rumah.

Namun, sekuat apa pun benteng kandang, hasil pertandingan tetap ditentukan oleh siapa yang tersedia di lapangan. Cedera, sanksi, dan kedalaman skuad akan menentukan apakah Persib mampu memaksimalkan keunggulan GBLA, atau justru Persija menemukan celah di tengah keterbatasan lawannya. Di titik inilah, kondisi skuad kedua tim menjelang kick-off menjadi cerita penting berikutnya.

Skuad Timpang di Persib vs Persija Hari Ini

Menjelang Persib vs Persija hari ini, kedua tim datang dengan satu kesamaan yang jarang disorot secara utuh: skuad yang tidak sepenuhnya utuh. Derbi ini memang selalu bicara soal emosi dan gengsi, tetapi pada level teknis, hasil pertandingan kerap ditentukan oleh siapa yang paling cerdas mengelola keterbatasan.

Di kubu Persib Bandung, absennya striker asing Andrew Jung menjadi kehilangan signifikan. Jung masih berkutat dengan cedera hamstring dan dipastikan belum pulih tepat waktu. Kehilangan ini memaksa pelatih Bojan Hodak memutar otak untuk menata ulang lini depan, baik dengan memaksimalkan pemain lokal maupun mengubah struktur serangan agar tetap efektif tanpa target man utama.

Selain Jung, Persib juga harus menyesuaikan komposisi akibat sanksi kartu merah yang menimpa Saddil Ramdani. Namun, di sisi lain, Maung Bandung mendapat suntikan tenaga penting. Kapten tim Marc Klok kembali tersedia setelah sebelumnya absen karena akumulasi kartu. Kehadiran Klok bukan hanya soal kualitas di lini tengah, tetapi juga soal kepemimpinan—faktor krusial dalam laga bertekanan tinggi seperti derbi.

Persib juga menyambut kembalinya beberapa pemain yang sempat dibekap cedera. Nama-nama seperti Beckham Putra Nugraha, Teja Paku Alam, serta bek asing Federico Barba telah kembali berlatih dan masuk dalam opsi pertandingan. Bojan Hodak menyebut atmosfer tim dalam kondisi baik, meski ia mengakui skuad belum benar-benar sempurna. “Mungkin kecuali Andrew Jung,” ujar Hodak, menandai satu celah yang harus ditambal dengan pendekatan taktis.

Sementara itu, Persija Jakarta menghadapi daftar absensi yang tak kalah menantang. Winger asal Jepang Ryo Matsumura masih harus menjalani sanksi Komite Disiplin, membuat lini sayap Persija kehilangan salah satu opsi eksplosif. Di sektor lain, kondisi kebugaran Jordi Amat dan Emaxwell Souza juga belum sepenuhnya ideal, sementara Gustavo Almeida belum siap akibat cedera.

Namun, Persija mendapat angin segar dengan kembalinya Fabio Calonego yang telah menuntaskan hukuman kartu merah. Pelatih Mauricio Souza menegaskan keyakinannya pada skuad yang tersedia dan membuka peluang lebih besar bagi pemain muda untuk tampil. Dalam konteks derbi, keputusan ini bukan sekadar rotasi, melainkan ujian mental bagi pemain pelapis yang tiba-tiba harus tampil di panggung terbesar.

Kondisi skuad yang timpang ini membuat Persib vs Persija hari ini menjauh dari prediksi sederhana. Ini bukan soal siapa yang kehilangan pemain lebih banyak, melainkan siapa yang paling cepat beradaptasi. Setiap absensi memicu perubahan peran, ritme, dan keseimbangan tim.

Dan ketika susunan pemain tidak ideal bertemu dengan intensitas derbi, pertanyaan berikutnya pun muncul: bagian mana dari tim yang paling menentukan? Apakah pertahanan Persib yang solid mampu menahan produktivitas Persija, atau justru lini serang Macan Kemayoran menemukan celah dari perubahan komposisi lawan. Di sinilah duel antar-lini mulai berbicara, menjadi cerita penting selanjutnya.

Tembok vs Meriam: Duel Lini di Persib vs Persija Hari Ini

Jika Persib vs Persija hari ini diperas menjadi satu konflik teknis utama, maka jawabannya adalah tembok melawan meriam. Persib datang dengan reputasi sebagai tim paling disiplin dalam bertahan, sementara Persija hadir membawa daya gedor yang termasuk paling produktif di liga. Pertemuan dua kutub ini menjadikan laga hari ini bukan sekadar adu strategi, tetapi juga uji konsistensi data di lapangan.

Dari sisi Persib Bandung, angka berbicara lantang. Hingga pekan ke-16 BRI Super League 2025/2026, Maung Bandung tercatat sebagai tim dengan kebobolan paling sedikit, hanya 11 gol. Statistik ini menegaskan bahwa kekuatan Persib tidak hanya bertumpu pada penguasaan bola atau agresivitas serangan, melainkan pada struktur bertahan yang rapi dan kolektif. Setiap lini bekerja sebagai satu kesatuan—bek, gelandang bertahan, hingga penyerang yang disiplin menutup ruang.

Kembalinya Federico Barba dari cedera memperkuat fondasi tersebut. Ditambah pengalaman Marc Klok yang kembali mengawal lini tengah, Persib memiliki keseimbangan antara agresivitas dan kontrol. Dalam konteks derbi, kemampuan menjaga jarak antar lini dan menghindari kesalahan elementer menjadi kunci, terutama di hadapan lawan yang piawai memanfaatkan celah sekecil apa pun.

Sebaliknya, Persija Jakarta datang dengan identitas menyerang yang jelas. Hingga pekan ke-16, Macan Kemayoran telah mencetak 32 gol, menjadikannya salah satu tim paling produktif di kompetisi. Produktivitas ini bukan hasil dari satu pemain semata, melainkan distribusi kontribusi gol yang relatif merata. Artinya, ancaman Persija tidak datang dari satu arah, tetapi dari berbagai skema.

Meski beberapa pemain kunci belum sepenuhnya fit, kekuatan serangan Persija tetap relevan. Mobilitas lini depan, keberanian mengambil risiko, serta kecepatan transisi menjadi senjata utama. Dalam laga tandang seperti Persib vs Persija hari ini, pendekatan ini bisa menjadi pedang bermata dua: efektif jika dieksekusi rapi, tetapi berbahaya jika kehilangan bola di area rawan.

Duel ini pada akhirnya bukan sekadar soal siapa yang lebih banyak menyerang. Ia adalah pertarungan detail: siapa yang lebih sabar, siapa yang lebih disiplin, dan siapa yang mampu membaca momentum. Satu kesalahan posisi bek bisa berujung gol. Satu penyelamatan krusial kiper bisa mengubah arah pertandingan.

Di titik inilah, lini-lini di lapangan menjadi cermin dari filosofi tim. Apakah Persib mampu mempertahankan identitas defensifnya di bawah tekanan produktivitas Persija? Atau justru daya dobrak Macan Kemayoran yang membuktikan bahwa statistik hanyalah angka sebelum peluit berbunyi?

Namun, di balik benturan antar-lini tersebut, ada dua figur yang sejak awal telah menyiapkan semua skenario. Dua pelatih dengan pendekatan berbeda, yang perannya sering kali tak terlihat, tetapi menentukan. Pertanyaan berikutnya pun mengemuka: bagaimana Bojan Hodak dan Mauricio Souza membaca duel ini dari pinggir lapangan?

Bojan Hodak vs Mauricio Souza: Adu Tenang di Pinggir Lapangan

Di balik riuh tribun dan tensi di lapangan, Persib vs Persija hari ini juga ditentukan oleh duel yang tak kalah krusial: adu kepala dingin dua pelatih di pinggir lapangan. Bojan Hodak dan Mauricio Souza membawa pendekatan berbeda, tetapi bertemu pada satu titik yang sama—bagaimana mengelola emosi dalam derbi yang kerap memerangkap siapa pun yang terlalu reaktif.

Bojan Hodak berulang kali menegaskan bahwa laga melawan Persija bukan soal memompa motivasi. Menurutnya, para pemain Persib sudah memahami sendiri bobot rivalitas ini. “Saya tidak perlu lagi memotivasi pemain. Justru saya harus membuat mereka lebih tenang dan tidak terlalu emosional,” ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan filosofi Hodak: kontrol lebih penting daripada ledakan. Dalam derbi, satu kartu merah atau satu pelanggaran tak perlu sering kali lebih menentukan daripada satu peluang emas.

Pendekatan tersebut selaras dengan identitas Persib musim ini—rapi, disiplin, dan efisien. Hodak cenderung memprioritaskan struktur, jarak antar lini, dan manajemen tempo. Terlebih dengan kondisi skuad yang tidak sepenuhnya ideal, ketenangan menjadi mata uang paling berharga. Ia tahu, bermain terbuka melawan Persija yang produktif bisa menjadi undangan bahaya.

Di sisi seberang, Mauricio Souza menghadapi tantangan berbeda. Persija datang ke GBLA dengan beberapa pemain yang belum sepenuhnya fit, serta absensi akibat sanksi. Dalam situasi seperti ini, Souza dituntut lebih fleksibel—bukan hanya dalam formasi, tetapi juga dalam membaca momentum. Ia menyatakan optimisme terhadap skuad yang tersedia dan membuka ruang bagi pemain muda untuk mengambil peran. Keputusan tersebut mengandung risiko, namun juga potensi kejutan.

Perbedaan pendekatan ini membuat Persib vs Persija hari ini menarik dari sudut pandang taktik mikro. Hodak cenderung merespons permainan, menjaga stabilitas, dan menunggu momen. Souza, sebaliknya, berpotensi mengambil inisiatif lebih awal untuk meredam tekanan publik GBLA. Siapa yang lebih cepat membaca perubahan ritme—itulah yang berpeluang menguasai jalannya laga.

Namun, ada satu kesamaan yang mengikat keduanya: pengelolaan emosi pemain. Derbi ini kerap memancing reaksi berlebihan, baik dari tekel keras, protes, hingga keputusan wasit yang diperdebatkan. Dalam kondisi seperti ini, pelatih bukan hanya perancang strategi, tetapi juga penenang situasi. Satu gestur di pinggir lapangan bisa memengaruhi mental pemain di dalam lapangan.

Pada akhirnya, duel Hodak dan Souza mungkin tidak tercatat dalam statistik gol atau assist. Tetapi keputusan mereka—kapan bertahan, kapan menekan, kapan menahan—akan merembes ke setiap sentuhan bola. Dan di tengah ketenangan atau kegelisahan itu, satu figur di lapangan akan memikul beban lebih besar dari yang lain: kapten tim. Bagaimana kepemimpinan di atas rumput hijau bekerja di tengah tekanan derbi, menjadi cerita penting berikutnya.

Marc Klok dan Beban Ban Kapten di Persib vs Persija Hari Ini

Dalam pertandingan sebesar Persib vs Persija hari ini, tidak semua tekanan dibagi rata. Sebagian beban itu terkonsentrasi pada satu sosok yang berdiri di tengah lapangan, mengenakan ban kapten, dan menjadi penghubung antara strategi pelatih dan emosi rekan setim. Di kubu Persib Bandung, sosok itu adalah Marc Klok.

Kembalinya Marc Klok ke dalam skuad setelah absen akibat akumulasi kartu kuning menjadi kabar penting jelang derbi. Bukan semata karena kualitas teknisnya sebagai gelandang, tetapi karena perannya sebagai penjaga ritme dan penyeimbang emosi. Dalam laga dengan tensi tinggi, kehadiran pemain berpengalaman sering kali lebih menentukan daripada skema di papan taktik.

Marc Klok memahami betul karakter Persib vs Persija hari ini. Ia telah cukup lama berada di atmosfer sepak bola Indonesia untuk mengetahui bahwa derbi ini kerap dimenangkan oleh tim yang mampu menjaga kepala tetap dingin. Pernyataannya jelang laga menegaskan hal itu. Ia menyebut pertandingan melawan Persija sebagai laga yang sarat gengsi dan harga diri, sekaligus menegaskan keinginannya untuk membuat Bobotoh bangga. Kalimat sederhana, tetapi mencerminkan beban psikologis yang ia pikul.

Secara permainan, peran Klok tidak selalu kasat mata. Ia bukan sekadar pemutus serangan atau pengalir bola. Dalam struktur Persib musim ini, Klok berfungsi sebagai penentu tempo—kapan permainan harus dipercepat, kapan harus ditenangkan. Di tengah tekanan produktivitas Persija dan atmosfer GBLA yang mendidih, kemampuan membaca momen menjadi krusial. Satu sentuhan berlebihan bisa memicu serangan balik lawan, sementara satu keputusan menahan bola bisa meredam gelombang tekanan.

Ban kapten dalam derbi juga membawa tanggung jawab ekstra di luar aspek teknis. Klok menjadi figur pertama yang berhadapan dengan wasit, penengah ketika emosi rekan setim memuncak, dan contoh dalam menjaga disiplin. Dalam laga yang rawan kartu seperti Persib vs Persija, peran ini tidak bisa diremehkan. Sejarah derbi kerap mencatat bahwa kehilangan satu pemain akibat emosi sesaat bisa mengubah arah pertandingan.

Di sisi lain, tekanan terhadap Klok juga datang dari ekspektasi publik. Bobotoh melihat kapten sebagai simbol perlawanan dan ketenangan sekaligus. Ia diharapkan keras dalam duel, tetapi tetap rasional dalam keputusan. Keseimbangan inilah yang sulit, dan tidak semua pemain mampu menjalaninya.

Karena itu, performa Marc Klok di laga ini akan menjadi barometer stabilitas Persib secara keseluruhan. Jika ia mampu mengontrol lini tengah dan emosi tim, Persib punya fondasi kuat untuk mengelola derbi. Namun, jika ritme terlepas, efeknya bisa merembet ke seluruh lini.

Dan di atas semua itu, Klok tidak akan berdiri sendiri. Ia akan berlari di bawah sorotan ribuan pasang mata di tribun—mata yang memberi energi sekaligus tekanan. Di sinilah peran suporter menjadi faktor penentu lain. Bagaimana Bobotoh, Viking, dan atmosfer tribun memengaruhi jalannya pertandingan, menjadi bab berikutnya dalam cerita besar Persib vs Persija hari ini.

Bobotoh dan Viking: Mesin Emosi di Laga Persib vs Persija Hari Ini

Dalam Persib vs Persija hari ini, suara peluit wasit mungkin menjadi tanda resmi dimulainya pertandingan, tetapi denyut laga sesungguhnya lahir dari tribun. Bobotoh—dengan Viking Persib Club (VPC) sebagai salah satu motor utamanya—berdiri sebagai mesin emosi yang menggerakkan atmosfer GBLA sejak jauh sebelum sepak mula.

Bagi Bobotoh, laga melawan Persija bukan sekadar pertandingan rutin. Di kalangan Viking, pertemuan ini kerap disebut sebagai “hajatan” atau bahkan “lebaran”-nya pendukung Persib. Ungkapan ini bukan romantisasi berlebihan. Ia menandai satu momen ketika identitas, loyalitas, dan sejarah bertemu dalam satu sore yang sama. Tak heran jika koreografi raksasa di tribun timur kerap menjadi karya kolektif yang dipersiapkan berminggu-minggu—bahkan berbulan-bulan—sebelumnya.

Viking Persib Club sendiri bukan sekadar kelompok suporter. Sejak berdiri pada 17 Juli 1993, VPC telah berkembang menjadi jaringan pendukung Persib terbesar, tersebar di seluruh Jawa Barat, berbagai daerah di Indonesia, hingga luar negeri. Dari Viking Batam, Viking Maluku Utara, hingga komunitas di Jepang dan Malaysia, dukungan terhadap Persib menjelma lintas batas geografis. Dalam konteks Persib vs Persija hari ini, skala dukungan inilah yang membuat atmosfer GBLA terasa padat secara emosional.

Peran VPC juga tidak berhenti pada dukungan visual dan vokal. Mereka terlibat aktif dalam pengelolaan pertandingan, mulai dari koordinasi tiket hingga membantu pengamanan di tribun. Dalam laga-laga besar di Bandung, puluhan anggota VPC ditempatkan di berbagai sektor stadion untuk membantu menjaga ketertiban penonton. Ini adalah aspek yang jarang terlihat kamera, tetapi krusial dalam memastikan pertandingan berjalan aman.

Dari sudut pandang pemain Persib, dukungan Bobotoh adalah bahan bakar. Sorakan di setiap duel, tepuk tangan pada setiap sapuan, dan nyanyian yang tak putus menjadi energi tambahan. Namun, energi ini juga datang dengan ekspektasi. Di laga sebesar Persib vs Persija hari ini, tribun tidak hanya memberi dukungan, tetapi juga menuntut performa maksimal.

Sebaliknya, bagi Persija Jakarta, atmosfer ini adalah tekanan konstan. Setiap sentuhan bola dilakukan di bawah sorotan ribuan mata yang berharap kesalahan. Inilah mengapa derbi di GBLA sering kali lebih berat bagi tim tamu, bahkan ketika kualitas di atas kertas relatif berimbang.

Pada titik ini, suporter bukan lagi elemen eksternal. Mereka adalah bagian dari pertandingan itu sendiri. Namun, ketika euforia membuncah dan tiket stadion telah lama habis terjual, satu pertanyaan lain muncul: bagaimana kota mengelola gelombang emosi ini? Jawabannya terletak di luar stadion—di layar-layar besar, lapangan kecamatan, dan kebijakan pemerintah kota yang mengatur cara ribuan orang menikmati Persib vs Persija hari ini tanpa harus berdesakan di GBLA.

Persib vs Persija Hari Ini: Nobar Massal dan Kota Bandung Siaga

Ketika tiket Stadion Gelora Bandung Lautan Api telah lama habis terjual, Persib vs Persija hari ini tidak berhenti menjadi urusan 38 ribu penonton di tribun. Ia melebar menjadi urusan kota. Dari titik inilah, nonton bareng (nobar) massal berubah fungsi: bukan sekadar alternatif hiburan, melainkan instrumen pengelolaan kerumunan dan emosi publik.

Pemerintah Kota Bandung membaca situasi ini sebagai konsekuensi logis dari tingginya antusiasme publik. Muhammad Farhan, Wali Kota Bandung, secara terbuka mengimbau Bobotoh untuk menjaga ketertiban menjelang laga akbar tersebut. Ia menegaskan bahwa euforia harus disalurkan secara positif dan kondusif—pesan yang terasa penting dalam konteks derbi dengan sejarah tensi tinggi.

Salah satu langkah konkret yang diambil adalah instruksi kepada seluruh camat di Kota Bandung untuk menggelar nobar di wilayah masing-masing. Tujuannya jelas: mengurai potensi penumpukan massa di sekitar GBLA sekaligus memberi ruang aman bagi warga yang ingin menyaksikan laga tanpa harus datang ke stadion. Kebijakan ini mencerminkan pemahaman bahwa Persib vs Persija hari ini bukan hanya peristiwa olahraga, tetapi juga peristiwa keramaian skala besar.

Nobar massal di tingkat kecamatan membawa dimensi sosial tersendiri. Layar besar, lapangan terbuka, atau aula publik berubah menjadi ruang kolektif tempat warga berbagi emosi—bersorak, tegang, dan bersuka cita bersama. Dalam banyak kasus, suasana nobar justru lebih cair dan familier, menjadi alternatif bagi keluarga atau pendukung yang enggan menghadapi kepadatan stadion.

Dari perspektif keamanan, pendekatan ini juga strategis. Konsentrasi massa yang terdistribusi membuat pengawasan lebih mudah dan meminimalkan risiko gesekan. Pemerintah kota, aparat keamanan, dan elemen masyarakat bekerja dalam satu ekosistem untuk memastikan bahwa Persib vs Persija hari ini berlangsung aman, baik di dalam maupun di luar stadion.

Langkah Pemkot Bandung ini juga menunjukkan bagaimana sepak bola dapat memengaruhi kebijakan publik secara langsung. Tidak banyak pertandingan liga yang mampu mendorong instruksi lintas wilayah administratif dalam satu kota. Fakta bahwa hal ini terjadi menegaskan posisi derbi Persib vs Persija sebagai peristiwa yang melampaui rutinitas kompetisi.

Namun, di balik layar nobar dan kesiapsiagaan kota, satu elemen lain tetap menjadi magnet utama perhatian publik: sejarah pertemuan kedua tim itu sendiri. Setiap derbi membawa memori, statistik, dan rekam jejak yang selalu diulang, diperdebatkan, dan dijadikan bahan bakar emosi. Karena itu, untuk memahami sepenuhnya tensi Persib vs Persija hari ini, tak ada jalan lain selain menoleh ke belakang—membaca kembali siapa unggul, siapa tertinggal, dan bagaimana sejarah membentuk ekspektasi pertandingan kali ini.

Rekam Jejak Persib vs Persija

Untuk memahami sepenuhnya Persib vs Persija hari ini, satu langkah tak bisa dilewatkan: melihat ke belakang. Rivalitas ini hidup dari ingatan kolektif—tentang gol, kartu merah, comeback dramatis, dan laga-laga yang berakhir jauh dari kata biasa. Rekam jejak pertemuan kedua tim menjadi bahan bakar emosi yang terus menyala setiap kali derbi kembali digelar.

Dalam konteks pertemuan terkini, Persib Bandung memiliki catatan yang relatif lebih meyakinkan. Dalam 10 pertemuan terakhir, Maung Bandung mencatat lima kemenangan, sementara Persija Jakarta hanya mampu meraih dua kemenangan, dengan tiga laga lainnya berakhir imbang. Statistik ini menempatkan Persib dalam posisi psikologis yang lebih nyaman, terutama ketika laga digelar di kandang sendiri.

Dominasi Persib semakin terasa ketika berbicara soal laga kandang. Pasca kompetisi kembali berjalan setelah masa pandemi COVID-19, Persib tercatat selalu menang dalam tiga laga kandang terakhir melawan Persija. Fakta ini mempertebal narasi bahwa GBLA bukan arena yang bersahabat bagi Macan Kemayoran. Setiap kunjungan Persija ke Bandung selalu dibayangi memori kekalahan dan tekanan publik yang intens.

Namun, sejarah juga mengajarkan satu hal penting: derbi jarang tunduk sepenuhnya pada statistik. Pertemuan terakhir kedua tim pada Februari 2025 di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, menjadi contoh nyata. Laga tersebut berakhir imbang 2-2, meski Persija sempat unggul lebih dulu lewat gol Gustavo dan Firza Andhika di babak pertama. Persib baru menyamakan kedudukan melalui Nick Kuipers dan David da Silva. Hasil itu menegaskan bahwa dalam Persib vs Persija, keunggulan bisa berubah dalam hitungan menit.

Jika ditarik lebih jauh ke sejarah panjang, rivalitas ini juga tercermin dalam perolehan gelar. Sejak era Liga Indonesia 1994, Persib mengoleksi lebih banyak gelar dibanding Persija. Namun, ketika rentang diperluas hingga era Perserikatan, Persija justru unggul dalam jumlah trofi. Perbedaan perspektif sejarah inilah yang membuat klaim “siapa lebih besar” tak pernah menemukan jawaban tunggal—dan justru itulah yang menjaga bara rivalitas tetap hidup.

Bagi pemain dan pelatih, rekam jejak ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia memberi kepercayaan diri. Di sisi lain, ia menciptakan beban ekspektasi. Dalam Persib vs Persija hari ini, Persib membawa modal statistik, sementara Persija membawa tekad untuk mematahkan tren.

Namun, sekuat apa pun sejarah, satu faktor selalu muncul sebagai pembeda dalam derbi: emosi di lapangan. Statistik tak bisa mencegah satu tekel terlambat, satu protes berlebihan, atau satu kartu merah yang mengubah arah pertandingan. Karena itu, setelah menimbang data dan memori, perhatian kini beralih pada satu ancaman laten yang selalu mengintai: disiplin pemain dan kemampuan mengendalikan emosi di laga penuh tekanan seperti Persib vs Persija hari ini.

Emosi, Kartu, dan Bahaya seputar Persib vs Persija Hari Ini

Tak ada derbi tanpa emosi. Dan dalam Persib vs Persija hari ini, emosi sering kali menjadi faktor paling sulit dikendalikan—bahkan oleh pemain berpengalaman sekalipun. Inilah laga di mana satu tekel terlambat, satu protes berlebihan, atau satu reaksi spontan bisa bernilai jauh lebih mahal daripada satu peluang emas yang gagal dimanfaatkan.

Sejarah pertemuan Persib dan Persija sarat dengan insiden disiplin. Intensitas tinggi, tekanan suporter, serta makna simbolik pertandingan menciptakan situasi di mana batas antara agresivitas dan pelanggaran menjadi sangat tipis. Karena itu, tak berlebihan jika derbi ini kerap dicap sebagai laga rawan kartu.

Pelatih Persib, Bojan Hodak, secara terbuka menyoroti aspek ini. Ia menegaskan bahwa tugas utamanya bukan lagi memompa motivasi, melainkan menjaga pemain tetap tenang dan tidak terlalu emosional. Pernyataan tersebut bukan basa-basi. Dalam laga dengan tensi setinggi Persib vs Persija hari ini, kehilangan satu pemain akibat kartu merah bisa langsung menggeser keseimbangan, bahkan ketika tim masih unggul secara permainan.

Kondisi skuad yang tidak sepenuhnya utuh semakin memperbesar risiko. Ketika pemain pelapis harus tampil di panggung derbi, tekanan mental meningkat. Reaksi berlebihan terhadap provokasi lawan atau keputusan wasit bisa muncul dari situasi ini. Di sinilah pengalaman dan kepemimpinan di lapangan diuji—siapa yang mampu meredam, siapa yang terpancing.

Wasit pun memegang peran sentral. Setiap keputusan, sekecil apa pun, berpotensi memantik respons berantai. Dalam laga biasa, satu pelanggaran keras mungkin hanya berujung peringatan. Dalam Persib vs Persija hari ini, keputusan serupa bisa memicu gelombang protes, sorakan, bahkan perubahan momentum pertandingan. Karena itu, konsistensi dan ketegasan pengadil lapangan menjadi krusial sejak menit awal.

Bagi Persija Jakarta, bermain di kandang lawan dengan atmosfer GBLA yang mendidih menuntut kontrol ekstra. Tekanan dari tribun bisa mempercepat detak permainan dan mendorong keputusan terburu-buru. Sementara bagi Persib, dukungan masif Bobotoh justru bisa menjadi pedang bermata dua: energi tambahan, sekaligus dorongan emosional yang jika tak dikelola bisa berujung pelanggaran tak perlu.

Dalam konteks perebutan puncak klasemen, disiplin menjadi mata uang mahal. Satu kartu merah bukan hanya memengaruhi hasil hari ini, tetapi juga berpotensi berdampak pada laga-laga berikutnya. Karena itu, menjaga kepala tetap dingin adalah syarat mutlak bagi siapa pun yang ingin keluar dari derbi ini dengan hasil maksimal.

Dan ketika emosi, kartu, serta tekanan telah dibedah, satu pertanyaan terakhir pun mengemuka—pertanyaan yang selalu ditunggu publik: bagaimana jika laga ini berakhir dengan skenario tertentu? Menang, imbang, atau kalah, masing-masing membawa konsekuensi berbeda. Di sanalah cerita Persib vs Persija hari ini mencapai simpul akhirnya.

Jika Persib vs Persija Menang, Kalah atau Seru

Pada akhirnya, semua narasi, emosi, statistik, dan sejarah akan bermuara pada satu hal paling sederhana dalam sepak bola: hasil akhir. Namun dalam konteks Persib vs Persija hari ini, hasil itu membawa konsekuensi berlapis. Menang, imbang, atau kalah—masing-masing bukan sekadar angka di papan skor, melainkan penentu arah cerita paruh musim BRI Super League 2025/2026.

Jika Persib Bandung menang, GBLA akan resmi mengukuhkan diri sebagai benteng paling berpengaruh musim ini. Tambahan tiga poin membawa Persib ke angka 38 poin, cukup untuk merebut puncak klasemen dan menyandang status juara paruh musim. Lebih dari itu, kemenangan atas rival abadi akan mempertebal kepercayaan diri skuad Bojan Hodak, sekaligus memperpanjang rekor kandang impresif. Dalam skenario ini, Persib tidak hanya menang secara matematis, tetapi juga secara psikologis—baik atas Persija maupun para pesaing di papan atas.

Jika Persija Jakarta menang, dampaknya tak kalah besar. Macan Kemayoran akan pulang dari Bandung dengan status raja paruh musim dan pesan tegas kepada kompetitor: mereka mampu menaklukkan kandang paling angker. Kemenangan tandang di GBLA akan menjadi modal moral luar biasa, mematahkan dominasi Persib di kandang dan membalik narasi sejarah pertemuan terkini. Bagi Persija, hasil ini juga menegaskan efektivitas pendekatan Mauricio Souza dalam mengelola tekanan derbi.

Namun, jika Persib vs Persija hari ini berakhir imbang, hasil tersebut justru menguntungkan pihak ketiga. Dengan masing-masing tim hanya menambah satu poin menjadi 36, Borneo FC tetap bertahan di puncak klasemen dengan 37 poin. Skenario ini akan meninggalkan rasa “setengah puas” bagi kedua kubu: tak kalah, tetapi kehilangan kesempatan emas untuk menguasai takhta. Imbang dalam derbi besar sering kali terasa seperti kemenangan yang tertunda—atau peluang yang terbuang.

Apa pun hasilnya, dampak laga ini tidak berhenti di pekan ke-17. Status juara paruh musim, jarak poin antar tim papan atas, hingga tekanan di putaran kedua akan dipengaruhi oleh 90 menit di GBLA. Lebih jauh lagi, hasil Persib vs Persija hari ini akan membentuk memori kolektif baru—entah sebagai hari kejayaan, hari pembalasan, atau hari ketika kesempatan besar terlewatkan.

Di titik ini, derbi kembali pada hakikatnya. Statistik akan diperbarui, klasemen akan berubah, tetapi cerita akan terus hidup di percakapan suporter, ruang redaksi, dan ingatan publik. Persib vs Persija memang selalu demikian: hari ini selesai, tetapi gaungnya bertahan lama setelah peluit panjang berbunyi. (AS)

Siang Tadi, Puting Beliung di Mangunjaya Pangandaran

lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Puting Beliung di Mangunjaya Pangandaran terekam dalam sebuah video yang beredar luas di platform WhatsApp pada Sabtu, 10 Januari 2026. Video berdurasi 1 menit 13 detik itu memperlihatkan situasi pascahujan lebat disertai angin kencang yang melanda wilayah Kecamatan Mangunjaya, Kabupaten Pangandaran.

Dalam rekaman tersebut tampak sejumlah kerusakan fisik di lingkungan permukiman. Beberapa tiang listrik terlihat roboh, kabel menjuntai melintang, serta atap dan bagian bangunan yang ambruk. Warga juga tampak berkumpul di sekitar lokasi kejadian, sebagian masih menunjukkan raut cemas setelah peristiwa berlangsung.

Peristiwa ini dibenarkan oleh Alinda, seorang aparatur sipil negara (ASN) di Kabupaten Pangandaran. Kepada Lintas Priangan, Alinda menyampaikan bahwa ia menerima banyak informasi terkait kejadian tersebut dari rekan-rekannya, tentang peristiwa puting beliung di Mangunjaya.

“Banyak status WhatsApp teman-teman tentang peristiwa tadi siang, juga video dan foto-foto di grup,” terang Alinda.

Terjadi Selepas Dzuhur, Tiang Listrik Roboh

Menurut informasi yang diterima Alinda dari berbagai sumber informal, angin puting beliung disertai hujan lebat terjadi sekitar tengah hari, sekitar selepas waktu salat Dzuhur. Kondisi cuaca yang tiba-tiba berubah itu diduga menjadi pemicu utama terjadinya kerusakan di sejumlah titik.

Salah satu dampak yang terlihat jelas dalam video adalah robohnya tiang listrik. Bahkan, satu tiang terlihat roboh di halaman sebuah sekolah negeri yang berada di Kecamatan Mangunjaya. Selain itu, terdapat pula tiang listrik lain yang menimpa bangunan warung. Meski demikian, bangunan warung tersebut terlihat tidak sampai ambruk sepenuhnya.

Rekaman video juga memperlihatkan bentangan kabel listrik yang terurai akibat tiangnya tumbang. Kondisi ini membuat area sekitar tampak rawan dan memaksa warga untuk berhati-hati melintas. Beberapa warga terlihat berdiri berkelompok, mengamati kondisi sekitar sambil menunggu situasi benar-benar aman.

Selain tiang listrik, sejumlah atap rumah dan bagian bangunan lain tampak rusak. Potongan atap berserakan, menandakan kuatnya terpaan angin saat peristiwa berlangsung. Hingga berita ini ditayangkan, Lintas Priangan belum mendapatkan laporan resmi yang memastikan jumlah bangunan terdampak secara keseluruhan.

Belum Ada Data Resmi Korban dan Kerugian

Hingga berita ini diterbitkan, Lintas Priangan belum memperoleh informasi resmi dari pihak berwenang terkait adanya korban jiwa maupun besaran kerugian material akibat Puting Beliung di Mangunjaya Pangandaran. Informasi yang beredar masih bersumber dari rekaman video, foto, serta keterangan warga dan ASN yang menerima laporan informal.

Kondisi ini membuat masyarakat setempat masih menunggu keterangan lanjutan dari instansi terkait, terutama untuk memastikan keamanan jaringan listrik dan keselamatan warga di sekitar lokasi terdampak. Keberadaan kabel listrik yang menjuntai di beberapa titik menjadi perhatian tersendiri bagi warga.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa cuaca ekstrem dapat terjadi secara tiba-tiba dan menimbulkan dampak nyata bagi lingkungan sekitar. Warga diimbau untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca, khususnya saat hujan lebat disertai angin kencang, sambil menunggu informasi resmi lebih lanjut dari pihak berwenang mengenai penanganan pascakejadian di Kecamatan Mangunjaya, Kabupaten Pangandaran.

Dukung Wali Kota Terapkan Parkir Digital di Tasikmalaya

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Pernyataan tegas itu disampaikan Viman Alfarizi Ramadhan kepada Dinas Perhubungan Kota Tasikmalaya saat pemanggilan resmi di Balai Kota, Kamis lalu (08/01/2025), sebagaimana diberitakan oleh Radar. Kalimat yang dilontarkan wali kota mungkin singkat, tapi menghantam tepat ke inti persoalan: parkir di Kota Tasikmalaya selama ini ramai kendaraan, namun miskin data dan setoran.

Bagi publik, pernyataan itu seperti menegaskan kecurigaan lama. Bahwa problem parkir bukan soal kurangnya kendaraan yang berhenti, melainkan absennya sistem yang mampu membaca kenyataan lapangan secara jujur. Digitalisasi, dalam konteks ini, bukan lagi soal gaya-gayaan teknologi, melainkan upaya memindahkan PAD dari asumsi ke angka yang bisa diaudit.

TAPD Lengkap: Sinyal Parkir adalah Isu Fiskal Strategis

Catatan penting dari peristiwa pemanggilan Dishub Kota Tasikmalaya itu justru bukan hanya pada isi evaluasi, melainkan pada formasi meja rapat. Wali kota tidak sendiri. Ia didampingi lengkap oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kota Tasikmalaya, mulai dari Sekda, Asisten Daerah, hingga kepala perangkat pengelola keuangan dan pendapatan.

Menurut Drs H. Otong Koswara, M.Si., tokoh Kota Tasikmalaya yang juga pernah menjabat Ketua DPRD, kehadiran lengkap TAPD bukan sekadar formalitas. Menurut dia, itu sinyal kuat bahwa persoalan parkir sedang naik kelas.

“Kalau TAPD lengkap mendampingi wali kota, artinya ini bukan lagi soal teknis. Ini sudah menyentuh jantung fiskal daerah. Parkir dilihat sebagai sumber PAD strategis yang selama ini sebenarnya bisa dioptimalisasi,” ujarnya.

Dalam kerangka itu, digitalisasi parkir menjadi alat kontrol fiskal, bukan sekadar perkara teknis. Ia memungkinkan pemerintah daerah menghitung potensi riil, menetapkan target rasional, sekaligus menutup ruang gelap yang selama ini sulit disentuh oleh mekanisme manual.

Praktisi IT: Karcis Itu Rapuh, Digital Lebih Transparan

Dukungan juga datang dari kalangan profesional. Arief Nurakhmat, S.Kom., C.Dev., praktisi teknologi informasi yang telah lama berkecimpung di pengembangan aplikasi, menilai digitalisasi parkir justru akan memudahkan pemerintah kota.

“Digitalisasi itu transparan, realtime, dan presisi. Bukan cuma wali kota, publik pun bisa melihat potensi PAD parkir setiap saat kalau sistemnya dibuka,” kata Arief.

Ia menyoroti kelemahan mendasar sistem karcis. Menurutnya, di era teknologi murah seperti sekarang, karcis justru berbahaya.

“Printer satu sampai dua juta rupiah sudah cukup untuk mencetak karcis yang mirip. Pengamanan karcis lemah. Secara sistem, itu membuka peluang manipulasi,” ujarnya.

Sebaliknya, sistem digital—baik berbasis aplikasi, sensor, maupun kamera—membuat setiap transaksi tercatat otomatis. Data tidak lagi bergantung pada laporan manual, melainkan pada sistem yang bisa diaudit kapan saja.

Aktivis: Digitalisasi Mutlak, Tapi Penghasilan Jukir Harus Dijaga

Dari kalangan aktivis, Diki Samani menyebut digitalisasi parkir sebagai keniscayaan. Dorongannya sederhana: fakta PAD parkir yang selalu memprihatinkan, sementara kendaraan di jalan kian padat.

“Parkir ramai, kendaraan makin banyak, tapi setoran sepi. Ini indikasi kebocoran sistemik,” kata Diki.

Meski begitu, ia mengingatkan agar kebijakan ini tidak mematikan penghasilan juru parkir. Menurutnya, petugas parkir di titik keramaian tetap bisa difungsikan sebagai tenaga bantu ketertiban lingkungan sekitar parkir. Adapun untuk area non-publik, seperti rumah makan, kafe, dan properti pribadi, skemanya perlu dikomunikasikan dengan pemilik lahan.

Di akhir pernyataannya, Diki bahkan mempertanyakan jika masih ada keraguan di internal pemerintah kota. Ia mengaku pernah membaca pemberitaan bahwa Kominfo Kota Tasikmalaya sebenarnya sudah memiliki aplikasi pendukung parkir digital.

“Aneh kalau tidak dipakai. Barangnya sudah ada,” pungkasnya.

Dengan dukungan lintas tokoh, aktivis, dan profesional, arah parkir digital di Tasikmalaya seharusnya tak lagi sekadar wacana. Tantangannya tinggal satu: keberanian mengeksekusi. Karena teknologi bisa dibeli, tapi keberanian menutup kebocoran—itu soal pilihan politik. (AS)

Anggaran Morat-Marit, Apa Kabar 12 Tunjangan DPRD Kota Tasikmalaya?

lintaspriangan.com, TAJUK LINTAS. Siapa pun yang mengikuti denyut APBD Kota Tasikmalaya dalam setahun terakhir akan sampai pada satu kesimpulan sederhana: uangnya sedang tidak baik-baik saja. Pemotongan transfer dari pusat, darurat bencana yang nyaris tanpa bantalan anggaran, hingga tunda bayar proyek yang bikin kontraktor manyun sambil menghitung bunga bank—semuanya menumpuk jadi satu cerita besar tentang fiskal daerah yang morat-marit.

Anggaran, yang seharusnya menjadi instrumen keadilan sosial, kini lebih sering terdengar sebagai sumber kecemasan. Pemerintah daerah dipaksa berhitung ekstra ketat. Program ditunda, belanja dipilah, dan prioritas dipersempit. Di ruang publik, kata “rasionalisasi” mendadak jadi mantra—meski bagi sebagian warga, rasionalisasi sering kali berarti satu hal: layanan makin tipis, beban makin terasa.

Namun di tengah suasana serba darurat itu, ada satu pertanyaan yang wajar—bahkan perlu—untuk diajukan dengan tenang: bagaimana dengan tunjangan DPRD Kota Tasikmalaya?

Pertanyaan ini bukan berniat sinis, apalagi populis murahan. Ini soal keseimbangan rasa keadilan anggaran. Ketika pemerintah daerah meminta publik memahami kondisi keuangan yang berat, wajar bila publik juga ingin tahu apakah seluruh pos belanja ikut menyesuaikan, atau hanya sebagian saja yang diminta berhemat.

Sebagai titik pijak, mari kita mundur sejenak ke tahun 2024. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk memahami struktur. Penghasilan pimpinan dan anggota DPRD Kota Tasikmalaya pada tahun itu disusun dari 12 jenis tunjangan dan komponen penghasilan. Mulai dari uang representasi, tunjangan keluarga, beras, uang paket, hingga tunjangan komunikasi intensif, reses, kesejahteraan, transportasi, dan uang jasa pengabdian.

Total anggaran untuk seluruh komponen itu mencapai sekitar Rp30,18 miliar, dengan realisasi kurang lebih Rp29,13 miliar. Angka ini bukan kabar baru, bukan pula data rahasia. Semua tercatat rapi, diaudit, dan sah secara administrasi. Tapi dalam konteks hari ini—ketika APBD tertekan dari segala arah—angka itu otomatis mendapat makna baru.

Perlu ditegaskan: tidak ada yang keliru secara hukum dari keberadaan tunjangan tersebut. DPRD memang memiliki hak keuangan yang diatur undang-undang. Namun editorial tidak bicara soal legalitas semata. Editorial berbicara tentang kepantasan, sensitivitas, dan empati fiskal.

Saat dana bencana nyaris habis dan pemerintah daerah harus memutar otak mencari celah anggaran, publik tentu bertanya: apakah semua pos belanja merasakan tekanan yang sama? Apakah keprihatinan anggaran hanya berlaku untuk proyek, pelayanan publik, dan belanja sosial, sementara pos lain berjalan seperti biasa?

Di sinilah pentingnya transparansi yang bukan sekadar membuka angka, tapi juga membuka sikap. Publik tidak selalu menuntut pemotongan drastis. Kadang yang diharapkan hanya satu: sinyal keberpihakan moral. Bahwa para pengambil keputusan anggaran juga berdiri di sisi yang sama dengan warga yang diminta bersabar.

Redaksi memahami bahwa data yang dipaparkan di atas adalah data 2024. Tahun anggaran yang relatif “normal” dibandingkan situasi sekarang. Karena itu, redaksi tengah menelusuri besaran tunjangan DPRD Kota Tasikmalaya untuk tahun 2025. Jika pun ada perubahan, prediksinya tidak akan signifikan—struktur dan nomenklaturnya relatif sama.

Namun justru di sanalah letak soal besarnya. Tahun 2026 bukan tahun biasa. Ia lahir dari pemangkasan, darurat, dan penundaan. Ia menuntut lebih dari sekadar kepatuhan pada regulasi. Ia menuntut kepekaan.

Apakah anggaran tunjangan wakil rakyat akan ikut menyesuaikan dengan realitas morat-marit ini? Atau tetap berjalan lurus, seolah badai fiskal hanya terjadi di luar ruang rapat?

Jawaban atas pertanyaan itu penting, bukan hanya untuk DPRD, tapi untuk kepercayaan publik secara keseluruhan. Karena pada akhirnya, anggaran bukan cuma soal angka. Ia adalah cermin keberpihakan.

Dan cermin, seperti kita tahu, tidak pernah berbohong—ia hanya memantulkan apa adanya.

Redaksi Lintas Priangan

Waspada! Muncul Shadow Website DPRD Kota Tasikmalaya

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Publik Kota Tasikmalaya patut meningkatkan kewaspadaan. Di tengah arus informasi digital yang makin cepat, muncul sebuah shadow website yang menampilkan diri seolah-olah sebagai Website DPRD Kota Tasikmalaya. Situs ini tidak hanya meniru nama dan tampilan, tetapi juga mengelola konten secara serius dan terstruktur, lengkap dengan data kelembagaan, berita, serta foto-foto profesional.

Yang membuat temuan ini penting bukan sekadar soal mirip-miripan, melainkan bagaimana identitas lembaga publik direpresentasikan tanpa otoritas yang jelas.

Website Resmi vs Website Abal-Abal DPRD Kota Tasikmalaya

Berdasarkan penelusuran, Website DPRD Kota Tasikmalaya yang resmi menggunakan domain pemerintahan: dprd-tasikmalaya.go.id. Sementara itu, ditemukan situs lain dengan alamat: dprdkotatasik.com.

Sekilas, nama domain tersebut tampak meyakinkan karena memuat kata “DPRD” dan “Kota Tasik”. Namun secara aturan tata kelola digital pemerintahan di Indonesia, lembaga negara dan DPRD hanya sah menggunakan domain .go.id. Domain .com adalah domain komersial dan tidak mewakili institusi pemerintah.

Perbedaan ini krusial, karena bagi publik awam, nama domain yang mirip sering kali dianggap cukup sebagai penanda keabsahan.

Identitas Domain Website Abal-Abal

Penelusuran teknis terhadap domain dprdkotatasik.com melalui layanan WHOIS menunjukkan sejumlah fakta penting yang patut dicatat secara terbuka:

Identitas pemilik domain disembunyikan.
Pada data WHOIS, kolom pendaftar (registrant) tidak menampilkan nama individu maupun institusi, melainkan menggunakan layanan privacy protection dengan keterangan “Withheld for Privacy”. Artinya, pemilik domain secara sadar memilih menyembunyikan identitasnya dari publik.

Alamat pendaftaran berada di luar negeri.
Data WHOIS mencantumkan lokasi pendaftar di Reykjavik, Islandia, yang menunjukkan penggunaan penyedia layanan privasi internasional. Untuk ukuran lembaga publik daerah, praktik ini tidak lazim dan bertolak belakang dengan prinsip transparansi.

Tidak ada afiliasi kelembagaan yang jelas.
Berbeda dengan domain resmi pemerintah yang biasanya mencantumkan nama instansi secara eksplisit, domain ini tidak menunjukkan keterkaitan administratif dengan DPRD Kota Tasikmalaya.

Dalam konteks pemerintahan, data WHOIS yang terbuka justru menjadi bagian dari akuntabilitas digital. Ketika sebuah situs mengklaim atau menampilkan diri sebagai lembaga publik, tetapi identitas domainnya disamarkan, muncul pertanyaan mendasar tentang legitimasi.

Konten Aktif dan Terstruktur, Bukan Situs Iseng

Hal lain yang membuat keberadaan situs ini patut dicermati adalah keseriusan pengelolaannya. Penelusuran ke berbagai menu menunjukkan bahwa hampir seluruh halaman telah diisi konten, antara lain:

  • Halaman daftar anggota DPRD
  • Menu Komisi I hingga Komisi IV
  • Rubrik berita kelembagaan
  • Dokumentasi visual dengan foto-foto yang tampak profesional

Ini menandakan bahwa situs tersebut bukan domain parkir, bukan halaman kosong, dan bukan proyek coba-coba. Dibutuhkan waktu, sumber daya, dan perencanaan untuk mengisi seluruh struktur lembaga dengan konten yang rapi dan konsisten.

Dalam istilah teknologi informasi, pola seperti ini dikenal sebagai digital impersonation atau shadow website kelembagaan, yakni situs nonresmi yang membangun representasi paralel dari institusi resmi. Risiko terbesarnya adalah pengaburan sumber informasi, di mana publik sulit membedakan mana pernyataan sah lembaga dan mana yang tidak.

Risiko bagi Publik dan Urgensi Klarifikasi

Keberadaan shadow website yang menyerupai Website DPRD Kota Tasikmalaya bukan sekadar isu teknis, melainkan menyangkut kepercayaan publik terhadap lembaga perwakilan rakyat. Dalam ekosistem digital, website adalah wajah resmi lembaga. Ketika wajah itu digandakan, potensi kesalahpahaman terbuka lebar.

Tanpa klarifikasi resmi, publik berisiko:

  • Menganggap konten nonresmi sebagai sikap DPRD
  • Menyebarkan informasi dari sumber yang keliru
  • Kehilangan kepastian soal kanal komunikasi lembaga

Karena itu, masyarakat Kota Tasikmalaya disarankan hanya merujuk pada Website DPRD Kota Tasikmalaya dengan domain resmi .go.id. Pemeriksaan sederhana terhadap alamat situs menjadi langkah awal literasi digital yang penting.

Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di era digital, identitas lembaga negara harus dijaga tidak hanya di gedung dan dokumen resmi, tetapi juga di ruang siber. Ketika tiruan hadir dengan kemasan yang meyakinkan, kewaspadaan publik dan respons institusi menjadi kunci—sebelum kebingungan berubah menjadi krisis kepercayaan. (AS)

Kades Janggala Dipanggil oleh DPRD Jabar, Ada Apa?

0

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS, Beredar kabar adanya pemanggilan Kepala Desa Janggala, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Ciamis, Ahmad Fauzi Pangestu, SH.,MH., oleh DPRD Provinsi Jawa Barat Komisi V.
Pemanggilan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Senin, 12 Januari 2026.

Kepala Desa Janggala, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Ciamis, Ahmad Fauzi membenarkan kalau dirinya dipanggil oleh salah seorang anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Komisi V.

Menurutnya, pemanggilan tersebut merupakan tindak lanjut dari komunikasi yang terjadi melalui media sosial terkait kondisi Desa Janggala di tengah keterbatasan anggaran pembangunan desa.

“Aspirasi yang saya sampaikan menjadi perhatian serius, mengingat saat ini banyak desa mengalami penyesuaian dan pemangkasan anggaran,” katanya, Sabtu (10/01/2026).

Kondisi tersebut turut dipengaruhi oleh kebijakan pengalokasian anggaran desa untuk kegiatan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), sehingga ruang fiskal pembangunan menjadi terbatas.

BACA JUGA: Rayakan 50 Tahun Alusmanis Angkatan 75 Tanam Ratusan Pohon

Ahmad Fauzi berharap, pemanggilan tersebut menjadi forum dialog antara pemerintah desa dan legislatif provinsi untuk menyampaikan kondisi riil desa secara langsung, sekaligus memperjuangkan dukungan tambahan anggaran pembangunan.

“Semoga ini menjadi angin segar bagi desa, khususnya dalam upaya mendapatkan tambahan anggaran pembangunan di tengah kondisi keuangan desa yang terbatas,” ujarnya.

Langkah ini juga dinilai sebagai bentuk sinergi antara DPRD Provinsi Jawa Barat dan pemerintah desa dalam mendorong pemerataan pembangunan, terutama bagi desa-desa yang terdampak keterbatasan anggaran. (FSL)

LHKPN Kota Tasikmalaya 2025: Baru 13% Laporan Lengkap

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Pelaporan LHKPN Kota Tasikmalaya untuk tahun pelaporan 2025 hingga pertengahan minggu kedua Januari 2026 memang masih rendah. Dari total 312 pejabat wajib lapor, baru 38 orang yang telah menyampaikan laporan melalui sistem e-LHKPN. Jika dihitung, angka ini setara dengan 12,18 persen.

Namun, angka tersebut perlu dibaca secara proporsional, tidak sekadar sebagai potret kepatuhan, tetapi juga dalam konteks waktu pelaporan yang memang masih panjang.

Berdasarkan pengumuman terbaru di situs resmi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, pelaporan LHKPN periodik tahun 2025 dibuka mulai 1 Januari hingga 31 Maret 2026. Artinya, ketika saat ini masih berada di minggu kedua Januari, ruang waktu pelaporan masih relatif longgar. Dengan kata lain, capaian 12,18 persen pada fase awal belum dapat serta-merta disimpulkan sebagai bentuk ketidakpatuhan massal.

Meski begitu, data faktual tetap penting disajikan sejak dini, sebagai bagian dari transparansi publik dan pengingat bahwa kewajiban ini sudah berjalan, bukan baru akan dimulai.

Potret Awal Pelaporan LHKPN Kota Tasikmalaya

Pantauan Lintas Priangan menunjukkan, dari 38 pejabat yang telah melaporkan LHKPN:

  • 36 orang berasal dari lingkungan Pemerintah Kota Tasikmalaya
    – 21 laporan telah dinyatakan lengkap
    – 15 laporan masih dalam antrean verifikasi administratif
  • 2 orang berasal dari DPRD Kota Tasikmalaya
    – Keduanya sudah lengkap
    – Dan berasal dari Partai Amanat Nasional (PAN)

Data ini menggambarkan bahwa proses pelaporan tidak berhenti pada tahap unggah dokumen. Setelah disampaikan, laporan masih harus melalui verifikasi administratif sebelum dinyatakan lengkap dan diumumkan ke publik.

Dalam konteks ini, keterlambatan atau antrean verifikasi di awal periode pelaporan masih bisa dipahami. Apalagi, setiap awal tahun biasanya dibarengi beban administrasi lain di lingkungan birokrasi.

LHKPN Bukan Sekadar Formalitas

LHKPN adalah singkatan dari Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara, yakni kewajiban setiap pejabat publik untuk melaporkan seluruh harta kekayaan yang dimiliki, baik atas nama pribadi maupun keluarga inti. Laporan ini mencakup:

  • Aset tidak bergerak seperti tanah dan bangunan
  • Aset bergerak seperti kendaraan dan mesin
  • Surat berharga, kas, dan setara kas
  • Utang serta kewajiban finansial lainnya

Pelaporan LHKPN bukan sekadar rutinitas administratif tahunan. Ia memiliki dasar hukum yang kuat, antara lain melalui Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002, serta diatur teknis melalui peraturan KPK.

Secara prinsip, LHKPN adalah alat transparansi. Negara ingin memastikan bahwa kekayaan pejabat publik masuk akal secara logika jabatan, dapat ditelusuri sumbernya, dan tidak bertumbuh secara misterius.

LHKPN bagi Publik & Pencegahan Korupsi

Bagi masyarakat, keberadaan LHKPN memberikan manfaat yang sangat konkret. Publik tidak hanya bisa melihat total kekayaan pejabat, tetapi juga dapat membandingkan perubahan kekayaan dari tahun ke tahun.

Di sinilah fungsi penting LHKPN bekerja dalam pencegahan korupsi. Misal, jika harta seorang pejabat meningkat secara signifikan, ementara publik mengetahui tidak ada usaha, perusahaan, atau sumber pendapatan tambahan yang wajar, maka kondisi tersebut dapat menjadi alarm dini.

LHKPN memungkinkan pengawasan dilakukan sebelum masalah membesar. Kenaikan kekayaan yang tidak sebanding dengan profil jabatan dapat memicu klarifikasi, pemeriksaan administratif, hingga analisis lebih lanjut jika diperlukan.

Dengan kata lain, LHKPN bukan alat menghukum, melainkan alat mencegah. Ia mendorong pejabat untuk tertib sejak awal, dan memberi ruang bagi negara serta masyarakat untuk memastikan integritas penyelenggara pemerintahan.


Masih rendahnya angka pelaporan LHKPN Kota Tasikmalaya di pertengahan Januari 2026 seharusnya dipahami sebagai potret awal, bukan kesimpulan akhir. Waktu pelaporan masih tersedia hingga akhir Maret, dan ruang perbaikan masih terbuka lebar.

Namun demikian, publik berhak tahu bahwa proses ini sedang berjalan. Transparansi sejak awal justru penting agar tidak ada kejutan di akhir periode.

Lalu, apakah ada penyelenggara negara atau pejabat di Kota Tasikmalaya—baik dari unsur eksekutif maupun legislatif—yang mengalami lonjakan harta kekayaan signifikan dari tahun ke tahun?
Apakah kenaikan itu sejalan dengan profil jabatan dan sumber penghasilan yang wajar, atau justru menyisakan tanda tanya?

Jawabannya: Simak terus berita Lintas Priangan! (AS)