5. Meksiko Masih Dibayangi Masalah Chant Diskriminatif
Sebagai tuan rumah laga pembuka, Meksiko juga membawa pekerjaan rumah lain: perilaku sebagian suporternya. Reuters melaporkan, Court of Arbitration for Sport atau CAS menguatkan denda FIFA terhadap Federasi Sepak Bola Meksiko terkait chant homofobik dalam sejumlah pertandingan persahabatan internasional pada 2024.
CAS mempertahankan dua denda, masing-masing 60.000 dan 80.000 franc Swiss. Namun, CAS membatalkan hukuman penutupan sebagian stadion yang sebelumnya dijatuhkan FIFA. Meski begitu, putusan ini tetap menjadi peringatan keras bagi Meksiko, terutama karena negara tersebut akan membuka Piala Dunia 2026 melawan Afrika Selatan pada 11 Juni.
Isu ini penting karena FIFA sedang mendorong turnamen yang aman, inklusif, dan bebas diskriminasi. Jika chant serupa kembali muncul saat Piala Dunia, dampaknya bisa jauh lebih besar, baik bagi citra Meksiko maupun atmosfer turnamen. Jelang Piala Dunia 2026, urusan suporter tidak lagi dianggap sekadar warna tribun. Salah sedikit, nyanyian bisa berubah menjadi sanksi.
6. Aturan Baru Sepak Bola Akan Diuji di Piala Dunia 2026
Kabar terakhir yang tak kalah penting datang dari aturan permainan. Reuters melaporkan, IFAB menyiapkan sejumlah perubahan hukum sepak bola yang akan diterapkan pada Piala Dunia 2026 dan musim 2026/2027. Perubahan ini menyasar diskriminasi, buang-buang waktu, protes berlebihan terhadap wasit, prosedur pergantian pemain, VAR, hingga jeda hidrasi.
Beberapa aturan yang mencuri perhatian antara lain kartu merah untuk pemain yang menutup mulut dalam insiden konfrontatif terkait kekhawatiran diskriminasi, sanksi bagi pemain atau ofisial yang meninggalkan lapangan untuk memprotes keputusan wasit, serta hitungan lima detik untuk lemparan ke dalam dan tendangan gawang. Jika terlalu lama, penguasaan bola bisa berpindah atau berujung sepak pojok untuk lawan.
Aturan pergantian pemain juga diperketat. Pemain yang diganti harus keluar dalam 10 detik melalui garis terdekat. Jika tidak, pergantian bisa ditunda. Selain itu, jeda hidrasi juga distandarkan, sesuatu yang sangat relevan karena cuaca panas menjadi salah satu tantangan besar turnamen. Pelatih Inggris Thomas Tuchel bahkan menyebut panas dan kelembapan sebagai rintangan yang harus diatasi timnya jelang Piala Dunia 2026.
Dengan enam kabar panas ini, Piala Dunia 2026 sudah terasa riuh sebelum peluit pertama berbunyi. Turnamen ini bukan hanya soal siapa yang akan menjadi juara dunia, tetapi juga tentang bagaimana FIFA, tuan rumah, tim peserta, aparat keamanan, dan jutaan fans mengelola panggung sepak bola terbesar di bumi. (AS)
Sumber:
























