Dari Acara ke Berita: Mengubah Seremonial Jadi Layak Baca

lintaspriangan.com, KELAS WARTAWAN. Hampir setiap hari ada acara. Dari tingkat desa sampai dinas, selalu ada kegiatan yang bisa diliput. Masalahnya, tidak semua acara otomatis jadi berita. Dan lebih sering lagi, yang ditulis dari sebuah acara terasa seperti laporan panitia, bukan karya jurnalistik.

Polanya hampir selalu sama. Wartawan datang, duduk, mencatat sambutan, lalu pulang. Begitu sampai di depan laptop, yang ditulis ya itu-itu juga: siapa yang membuka acara, siapa yang hadir, dan apa nama kegiatannya. Selesai. Aman. Tapi hambar.

Kalau jujur, tulisan seperti ini tidak salah. Semua faktanya benar. Tapi masalahnya bukan di benar atau salah. Masalahnya: pembaca tidak dapat apa-apa.

- Advertisement -

Coba lihat kalimat di bawah ini:
“Dinas Lingkungan Hidup menggelar kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah di Aula Kecamatan, Senin (…). Kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala Dinas dan dihadiri berbagai unsur masyarakat.”

Rapi, formal, dan terasa “berita”. Tapi setelah dibaca, lalu apa? Kenapa orang harus peduli?

Bandingkan dengan cara lain melihat hal yang sama seperti di bawah ini:
“Pengelolaan sampah di wilayah X masih bermasalah. Volume sampah yang tidak tertangani terus meningkat. Dinas Lingkungan Hidup mulai mendorong perubahan lewat sosialisasi yang digelar Senin (…).”

Acara tetap ada, tapi bukan itu yang dijual. Yang ditawarkan ke pembaca adalah masalah dan upaya memperbaikinya.

Di situ bedanya mulai terasa.

Sering kali kita terlalu terpaku pada acara, padahal acara itu cuma bungkus. Yang penting justru isi di dalamnya. Kenapa acara itu diadakan? Apa yang sedang tidak beres? Siapa yang terdampak? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang seharusnya muncul sebelum mulai menulis.

Masalah lain yang sering muncul ada di kalimat pembuka. Banyak tulisan langsung dimulai dengan “telah dilaksanakan kegiatan…”. Ini kalimat yang aman, tapi juga membosankan. Begitu pembaca melihat itu di awal, mereka sudah bisa menebak ke mana arah tulisan akan berjalan.

Bandingkan dengan kalimat seperti ini:
“Pelatihan ini digelar setelah banyak pelaku usaha kesulitan menjual produknya secara online.”

Nada tulisannya langsung beda. Lebih hidup, lebih masuk akal, dan terasa ada alasan kenapa tulisan itu ada.

Hal serupa juga terlihat di bagian kutipan. Tidak sedikit berita yang dipenuhi kalimat-kalimat normatif seperti:
“Kami berharap kegiatan ini berjalan dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat”.

Kalimat seperti ini terdengar sopan, tapi tidak menjelaskan apa pun.

Bandingkan dengan kutipan yang lebih jujur, misalnya:
“Sejak diluncurkan, program ini tidak berjalan optimal karena sosialisasi belum sampai ke tingkat desa”.

Ini baru terasa seperti informasi. Ada penjelasan, ada konteks.

Tanpa data, tulisan juga gampang terasa tipis.
“Seperti kopi tanpa kafein,” kata Kang Hasan, Pemred Lintas Priangan.

Maksudnya, pahit, tapi teu matak cenghar!

Pernyataan seperti “kesadaran masyarakat masih rendah” terlalu umum. Tapi begitu ditambahkan angka, kesannya langsung berubah.

Misal:
“Hanya sekitar 35 persen warga yang rutin mengelola sampah rumah tangga.”

Angka sederhana, tapi cukup untuk membuat pembaca paham situasinya.

Kesalahan lain yang sering tidak disadari adalah mengikuti alur acara secara mentah. Dari pembukaan, sambutan, sampai penutup. Padahal pembaca tidak butuh susunan acara. Mereka butuh inti cerita secepat mungkin.

Contoh paling sederhana:
“Pemerintah desa menggelar musyawarah pembangunan desa yang dihadiri tokoh masyarakat.”

Kalimat di atas hanya memberi tahu bahwa kegiatan berlangsung. Tidak lebih.

Coba tulis ulang jadi:
“Sejumlah usulan pembangunan desa belum terealisasi, sehingga pemerintah desa kembali menggelar musyawarah untuk menentukan prioritas tahun ini.”

Rasanya langsung berbeda. Lebih jelas, lebih punya arah.

Cara paling gampang untuk mengecek tulisan sendiri sebenarnya sederhana. Coba hapus kata “kegiatan” dari tulisan. Kalau setelah itu kalimatnya terasa kosong, berarti dari awal memang belum ada isi yang kuat. Atau coba hilangkan nama pejabatnya. Kalau tidak ada informasi lain yang tersisa, berarti tulisan itu masih bergantung pada formalitas, bukan pada makna.

Pada akhirnya, menulis berita itu bukan soal hadir di acara. Itu bagian paling mudah. Yang lebih sulit adalah menemukan apa yang layak diceritakan dari acara tersebut.

Wartawan bukan MC yang diberi tugas menulis. Tugasnya bukan membacakan urutan acara dalam bentuk paragraf. Tugasnya adalah mencari apa yang penting, lalu menyampaikannya dengan cara yang masuk akal bagi pembaca.

Karena pada akhirnya, orang tidak benar-benar peduli siapa yang membuka acara. Mereka lebih peduli kenapa acara itu perlu ada.


[Redaktur Lintas Priangan]

Abiba Guard
Produk Digital

Abiba Guard

Abiba Guard adalah plugin keamanan WordPress yang menggabungkan pembatasan percobaan login, kendali mode darurat Cloudflare, perlindungan konten premium,…

Rp198.999Beli Sekarang
Abiba Booster
Produk Digital

Abiba Booster

Abiba Booster adalah plugin optimasi WordPress yang membantu mengelola cache halaman, mengonversi gambar JPG dan PNG ke WebP,…

Rp199.000Beli Sekarang
WAStore
Produk Digital

WAStore

WASTore – Bikin Toko Online Profesional, Terima Pesanan Langsung via WhatsApp! Punya produk tapi belum punya toko online…

Rp240.000Beli Sekarang

PRIANGAN TIMUR

Nasabah BMT Miftahussalam Ciamis Mengeluh, Puluhan Spanduk Tuntut Kepastian Dana Rp8,5 Miliar

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Ketidakpastian pengembalian dana sekitar Rp8,5 miliar...

Festival Payung Geulis 2026 Digelar 30–31 Oktober di Taman Kota Tasikmalaya

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Festival Payung Geulis 2026 dijadwalkan berlangsung...

24 Atlet SD Ciamis Ikuti Invitasi Olahraga Tradisional Jawa Barat

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Sebanyak 24 siswa sekolah dasar (SD)...

Futsal Kabupaten Tasikmalaya Tantang Kota Bandung di Laga Perdana PORPROV Jabar 2026

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Kabupaten Tasikmalaya akan menghadapi Kota Bandung...

180 Guru dan Siswa SMK LPT Ciamis Tak Terima Jatah MBG, Ini Kata Pihak Dapur

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. CIAMIS, LINTASPRIANGAN.COM – Sebanyak 180 guru...

JAWA BARAT

Pengendalian Inflasi Kota Sukabumi, TPID Sepakati Empat Langkah

lintaspriangan.com, BERITA SUKABUMI. Pengendalian inflasi Kota Sukabumi menjadi fokus...

Festival Literasi Kota Cirebon Digelar hingga 29 Oktober, Ini Agenda dan Tujuannya

lintaspriangan.com, BERITA CIREBON. Festival Literasi Kota Cirebon 2026 resmi...

Job Fair Kabupaten Bekasi 2026, Tawarkan 1.313 Lowongan Kerja

lintaspriangan.com, BERITA BEKASI. Job Fair Kabupaten Bekasi 2026 menawarkan...

Lomba Toilet Bersih Sekolah Kota Bandung, Ini 8 Kriteria Penilaiannya

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Lomba toilet bersih sekolah Kota Bandung...

Pilkades Digital Sumedang Digelar Hari Ini, Keamanan Suara Jadi Sorotan

lintaspriangan.com, BERITA SUMEDANG. Pemilihan kepala desa (Pilkades) digital Sumedang...

Kota Bekasi VS Kabupaten Bogor di PORPROV Jabar 2026, Misi Emas Langsung Diuji!

lintaspriangan.com, BERITA BEKASI. Futsal Kota Bekasi VS Kabupaten Bogor...

Futsal Purwakarta VS Bekasi di PORPROV Jabar 2026, Ambisi Emas Bertemu Tantangan Grup C

lintaspriangan.com, BERITA PURWAKARTA. Tim Futsal Purwakarta VS Bekasi menjadi...

Futsal Kota Cirebon Hadapi Kabupaten Bandung, Misi Emas Dimulai dari Laga Pembuka PORPROV Jabar 2026

lintaspriangan.com, BERITA CIREBON. LINTAS PRIANGAN – Futsal Kota Cirebon...

Olahraga

Kategori Populer