Beranda blog Halaman 56

Pasangan di Garut Ini Sangat Berharap Bantuan Kang Dedi

lintaspriangan.com, BERITA GARUT. Di teras rumah yang sederhana, sepasang suami istri duduk berdampingan. Bukan sedang menunggu tamu, bukan pula menikmati sore. Wajah mereka terlihat lelah—lelah yang tidak selesai hanya dengan tidur semalam. Di depan kamera ponsel, mereka mengucapkan salam, lalu sang suami mulai bicara dengan suara pelan, nyaris bergetar.

Pesan itu ditujukan khusus untuk satu nama: Kang Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat.

Sebagai warga Jawa Barat, mereka tidak meminta banyak. Tidak juga berpanjang kata. Mereka hanya ingin menyampaikan satu kenyataan pahit yang sudah lama mereka pikul: anak mereka sakit, dan mereka mulai kehabisan tenaga untuk bertahan sendiri.

Sang suami bernama Pirman, usianya diperkirakan sekitar 50 tahun. Ia duduk di samping istrinya, Isoh Nurjanah, yang sejak awal lebih banyak terdiam. Tatapannya kosong, seperti orang yang sudah terlalu sering berharap, lalu belajar menahan kecewa.

Dalam video berdurasi 1 menit 18 detik itu, Pirmansyah menjelaskan bahwa anak mereka saat ini mengalami gangguan kejiwaan. Sudah lama. Sudah dicoba berbagai cara. Sudah dibawa berobat ke sana kemari. Namun hingga hari ini, kondisi sang anak belum juga membaik.

Masalahnya bukan hanya soal sakit. Hidup ikut goyah.

Pirmansyah sehari-hari bekerja sebagai pasapon, tenaga kebersihan di SMA 23 Pakenjeng, Kabupaten Garut. Penghasilannya tidak besar. Cukup untuk makan, cukup untuk bertahan—asal semua berjalan normal. Tapi ketika perhatian harus tercurah penuh pada anak yang sakit, pekerjaan pun sering terganggu. Hari-hari menjadi serba sulit. Pilihannya tidak pernah mudah: bekerja atau mendampingi anak.

Video itu bukan dibuat oleh mereka sendiri. Yang mengirimkannya ke redaksi Lintas Priangan adalah tetangga mereka. Seorang warga yang melihat dari dekat bagaimana pasangan ini berjuang dalam diam. Bukan hari ini saja. Sudah lama.

Alamat mereka jelas:
RW 10 Kampung Dandeur, Desa Jatiwangi, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut.
Bukan cerita tanpa jejak. Bukan kisah anonim di kolom komentar media sosial.

Tak berhenti di satu video, warga tersebut juga mengirimkan video kedua. Isinya lebih sunyi, tapi justru lebih menyesakkan. Video itu memperlihatkan kondisi sang anak—seorang remaja perempuan, masih belasan tahun. Tatapannya kosong. Gerakannya tidak seperti anak seusianya. Dari sana, publik bisa memahami: ini bukan cerita yang dibesar-besarkan. Ini kenyataan yang sedang dihadapi sebuah keluarga kecil di sudut Garut selatan.

Dalam video pertama, Pirmansyah tidak marah. Tidak menyalahkan siapa pun. Ia hanya menyampaikan satu kalimat yang terasa sederhana, tapi berat maknanya: meminta tolong.

Nama Kang Dedi Mulyadi disebut bukan tanpa alasan. Banyak warga Jawa Barat tahu, di luar protokoler dan seremoni, ada seorang kepala daerah yang kerap hadir ketika jalur-jalur resmi terasa buntu. Harapan itulah yang ingin mereka titipkan—lewat media, lewat kepedulian publik.

Berita ini ditulis bukan untuk mengundang iba semata. Ini adalah jembatan.
Jembatan antara suara warga kecil dan telinga pengambil kebijakan.
Jembatan agar jerih payah Pirmansyah dan Isoh Nurjanah tidak berhenti di teras rumah mereka sendiri.

Jika negara hadir untuk warganya, maka cerita seperti inilah yang seharusnya sampai. Dan bila satu video sederhana bisa membuka pintu pertolongan, maka menyebarkannya adalah bentuk empati paling berarti—tanpa gaduh, tanpa sensasi.

Kadang, yang dibutuhkan warga hanya satu tangan yang mau menolong, sebelum mereka benar-benar kehabisan harapan. (AS)

DPR Jepang Dibubarkan!

lintaspriangan.com, BERITA DUNIA. DPR Jepang resmi dibubarkan. Keputusan politik besar ini diumumkan langsung oleh Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang menandai dimulainya tahapan pemilu sela atau snap election. Pembubaran parlemen ini sekaligus mengakhiri masa kerja majelis rendah sebelum periode regulernya berakhir dan membuka jalan bagi kontestasi politik nasional dalam waktu singkat.

Langkah pembubaran DPR Jepang tersebut dijadwalkan berlaku Jumat, 23 Januari 2026, dengan pemungutan suara nasional ditetapkan berlangsung pada 8 Februari 2026. Seluruh 465 kursi majelis rendah parlemen Jepang akan diperebutkan dalam pemilu sela ini, menjadikannya salah satu pertarungan politik paling menentukan dalam beberapa tahun terakhir.

Keputusan ini langsung menyedot perhatian publik dan media internasional. Pasalnya, pemilu sela ini akan menjadi ujian elektoral pertama bagi Sanae Takaichi sejak ia dilantik sebagai perdana menteri pada Oktober 2025. Takaichi bahkan secara terbuka menyatakan siap mempertaruhkan masa depan politiknya dalam pemilu tersebut, sebuah sinyal bahwa pembubaran DPR Jepang bukan sekadar prosedur administratif, melainkan taruhan kekuasaan yang serius.


Tunjangan DPRD Kota Banjar Dipangkas, Daerah Lain?

lintaspriangan.com, BERITA KOTA BANJAR. Pemangkasan Tunjangan DPRD Kota Banjar menandai satu hal penting dalam pengelolaan keuangan daerah: krisis fiskal mulai diperlakukan sebagai kenyataan bersama, bukan sekadar beban birokrasi di level bawah. Ketika ASN dan P3K lebih dulu merasakan penyesuaian lewat pemotongan TPP, langkah serupa terhadap pimpinan DPRD Banjar menjadi sinyal bahwa kebijakan efisiensi tidak berhenti pada barisan yang paling lemah.

Keputusan ini memang belum menyentuh seluruh anggota dewan. Namun secara politik dan moral, ia sudah membuka pintu diskusi yang selama ini cenderung dihindari: sejauh mana wakil rakyat bersedia ikut merasakan konsekuensi krisis yang juga menimpa rakyat dan aparatur yang mereka wakili. Dalam konteks ini, pemangkasan tunjangan bukan semata soal angka, melainkan soal keteladanan.

Di tengah situasi darurat fiskal, publik Kota Banjar tentu berhak bertanya lebih jauh. Jika pimpinan DPRD sudah mengalami pemangkasan signifikan, apakah keadilan fiskal akan berhenti di situ, atau justru dilanjutkan ke seluruh anggota DPRD? Pertanyaan ini menjadi relevan, mengingat kebijakan efisiensi telah lebih dulu menyasar penghasilan ASN dan P3K tanpa banyak ruang tawar.

“Supaya berkeadilan, seharusnya anggota DPRD pun dikurangi tunjangannya, malahan seharusnya inisiatif itu datang dari mereka sendiri,” tegas Mantan Wakil Wali Kota Banjar, drg. Darmadji Prawirasetia, Kamis (15/1/2026), sebagaimana dilansir Jabar Ekspres.

Banjar kini berada di titik penting. Apa yang terjadi bukan sekadar penyesuaian anggaran, melainkan ujian sense of crisis para pengambil keputusan. Dan dari Kota Banjar, pertanyaan yang sama bergema ke daerah lain: ketika tunjangan DPRD dipangkas di satu kota, apakah wilayah lain masih akan berdiri di luar lingkaran pengorbanan?

Halaman berikutnya: Besaran Tunjangan DPRD Kota Banjar


Info Orang Hilang: Remaja Cantik Asal Ciamis. Bantu, Yuk!

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Informasi orang hilang kembali beredar di Kabupaten Ciamis. Seorang remaja perempuan berusia 18 tahun dilaporkan tidak diketahui keberadaannya. Informasi tersebut disampaikan melalui unggahan media sosial dan dilengkapi dengan lembar informasi resmi berlogo kepolisian, yang menandakan bahwa laporan kehilangan telah tercatat secara formal.

Remaja yang dilaporkan hilang tersebut bernama Irma Rahmawati, warga Dusun Cicanar Landeuh RT 022 RW 007, Desa Sindanglaya, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis. Berdasarkan dokumen yang beredar, laporan orang hilang ini tercatat dengan Dasar STPLOH-02/I/2026/Sektor, tertanggal 19 Januari 2026.

Beredar dari Media Sosial

Informasi ini dibagikan oleh akun Facebook Putera Panjalu sekitar 12 jam sebelum berita ini disusun. Dalam unggahannya, Putera Panjalu mengajak masyarakat untuk ikut membantu menyebarkan informasi tersebut, dengan harapan apabila ada warga yang melihat atau menemukan orang yang dimaksud, dapat segera mengambil langkah pengamanan dan menghubungi pihak terkait.

Dalam caption unggahannya, Putera Panjalu secara khusus menyebut wilayah Bandung dan sekitarnya sebagai area yang perlu mendapatkan perhatian lebih, apabila ada masyarakat yang melihat sosok dengan ciri-ciri yang sesuai.

Unggahan tersebut juga menegaskan bahwa informasi ini bukan sekadar kabar dari mulut ke mulut, melainkan merujuk pada poster informasi orang hilang yang memuat identitas, ciri fisik, serta kontak yang bisa dihubungi.

Identitas dan Ciri-ciri

Berdasarkan informasi yang tercantum dalam lembar resmi yang disebarkan, berikut data Irma Rahmawati:

  • Nama: Irma Rahmawati
  • Jenis kelamin: Perempuan
  • Umur: 18 tahun
  • Agama: Islam
  • Alamat: Dusun Cicanar Landeuh RT 022 RW 007, Desa Sindanglaya, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis

Adapun ciri-ciri fisik yang dicantumkan antara lain:

  • Tinggi badan sekitar 150 sentimeter
  • Rambut lurus, hitam, dan panjang
  • Mata sipit
  • Warna kulit langsat terang
  • Pakaian terakhir diketahui mengenakan setelan busana muslim bercorak batik

Imbauan kepada Masyarakat

Dalam poster dan unggahan yang beredar, masyarakat yang melihat atau menemukan orang dengan ciri-ciri tersebut diminta untuk tidak mengambil tindakan sendiri, melainkan segera:

  • Menghubungi nomor kontak keluarga: 0878 1471 8562, atau
  • Menghubungi kantor kepolisian terdekat.

Imbauan ini disampaikan sebagai bentuk kehati-hatian dan untuk memastikan proses penanganan dilakukan sesuai prosedur.

Ajakan Sebarkan Informasi

Pihak yang menyebarkan informasi ini berharap dukungan masyarakat, khususnya warga Ciamis dan daerah sekitar, untuk ikut membantu dengan cara menyebarkan ulang informasi secara bertanggung jawab, tanpa menambah atau mengurangi data yang telah disampaikan.

Berita Info Orang Hilang Ciamis ini akan terus diperbarui apabila terdapat informasi lanjutan dari pihak keluarga atau aparat berwenang. (HS)

Gibran ke Cipasung, Bupati Tasikmalaya “Titip” 3 Proyek Strategis

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (20/01/2026). Bagian puncak agenda ini adalah kunjungan ke Pondok Pesantren Cipasung, salah satu pesantren besar di wilayah Priangan Timur yang menjadi sorotan publik setelah sejumlah persiapan intens dilakukan untuk menyambut kedatangan Wapres.

Kedatangan Gibran ke Cipasung merupakan bagian dari rangkaian kegiatan kerja pemerintah pusat di Tasikmalaya, setelah kunjungan ke beberapa titik seperti Pasar Cikurubuk, RSUD dr. Soekardjo, dan SMAN 2 Tasikmalaya. Agenda ini dipandang sebagai upaya memastikan program-program prioritas nasional berjalan sejalan dengan kebutuhan daerah sambil memperkuat hubungan pusat–daerah.

Sesampainya di pesantren, rombongan disambut hangat oleh para pengurus, santri, serta unsur Forkopimda Kabupaten Tasikmalaya. Kunjungan tidak hanya bersifat simbolis; Wapres juga menyaksikan langsung presentasi karya teknologi santri — mulai dari kecerdasan buatan (AI) hingga robotik — sebagai bagian upaya mendorong generasi muda pesantren mengikuti perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional.

Menurut laporan langsung wartawan Lintas Priangan, Deni Heryanto, kunjungan Gibran ke Cipasung disambut antusias masyarakat karena ini menjadi momentum penting bagi Tasikmalaya dalam menghadapi era digital dan inovasi pendidikan di lingkungan pesantren.

Halaman berikutnya: Bupati Tasikmalaya Titip 3 Proyek Strategis


Ternyata Ini Misi Gibran ke Cipasung

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka hari ini melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (20/1/2026). Salah satu agenda utamanya adalah bersilaturahmi ke Pesantren Cipasung, sebuah pesantren besar yang memiliki pengaruh historis dan sosial kuat di wilayah Priangan Timur.

Kunjungan Gibran ke Tasikmalaya ini menjadi perhatian publik, tidak hanya karena posisi Gibran sebagai wapres termuda dalam sejarah Indonesia, tetapi juga karena Ponpes Cipasung bukan sekadar pesantren biasa. Lembaga pendidikan keagamaan ini telah lama menjadi simpul pertemuan nilai keislaman, kebangsaan, dan dinamika sosial-politik di Jawa Barat.

Berdasarkan laporan langsung wartawan Lintas Priangan, Deni Heryanto, kunjungan ini dikemas dalam suasana silaturahmi yang hangat dan bernuansa kekeluargaan. Panitia menyebut agenda utama bersifat terbuka dan dialogis, dengan melibatkan santri, asatiz, serta pengurus pesantren.

Secara umum, kunjungan kerja Wapres ke daerah memang kerap diisi agenda strategis, mulai dari peninjauan program nasional hingga dialog dengan tokoh lokal. Namun, dalam konteks Gibran ke Cipasung, suasananya terasa berbeda. Ada sinyal kuat bahwa kunjungan ini tidak sekadar seremonial, melainkan membawa pesan masa depan tentang peran pesantren di tengah perubahan zaman.

Pesantren, yang selama ini identik dengan metode pendidikan klasik dan tradisi keilmuan kitab kuning, kini berada di persimpangan era digital. Tantangannya bukan hanya mempertahankan nilai, tetapi juga menyiapkan santri menghadapi dunia yang semakin digital. Di titik inilah publik mulai bertanya-tanya: apa sebenarnya misi utama Gibran ke Cipasung?

Halaman berikutnya: Ternyata Ini Misi Gibran ke Pesantren Cipasung


Komunitas Wartawan Apresiasi SE Bupati Tasikmalaya Nomor 0044/2025

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Kebijakan pemusatan kerja sama media yang tertuang dalam SE Bupati Tasikmalaya Nomor 0044/2025 mendapat respons positif dari kalangan pengelola media lokal. Sejumlah pengelola media yang tergabung dalam komunitas SWAKKA (Sawala Wartawan dan Konten Kreator Aspiratif) menilai kebijakan tersebut sebagai langkah penataan yang logis dan sesuai dengan prinsip tata kelola pemerintahan.

SE Bupati Tasikmalaya Nomor 0044/2025 mengatur, salah satunya, pemusatan kerja sama pemerintah daerah dengan media cetak dan elektronik melalui Bidang Komunikasi dan Informatika. Kebijakan ini mulai diarahkan untuk ditindaklanjuti pada Tahun Anggaran 2026.


Media Lokal Menilai Arah Kebijakan Lebih Jelas

Wakil Sekretaris SWAKKA Diki Samani, yang juga pengelola media Albadarpost.com yang berdomisili di Kabupaten Tasikmalaya, memandang pemusatan urusan media di Kominfo sebagai langkah yang seharusnya. Menurut dia, dalam struktur pemerintahan, setiap urusan memang memiliki leading sector, dan urusan komunikasi publik serta media secara kelembagaan berada di bawah Kominfo.

Diki menilai, dengan satu pintu yang jelas, pengelola media tidak lagi harus berhadapan dengan banyak OPD yang memiliki standar dan mekanisme berbeda-beda. Kondisi ini dinilai justru mempermudah kerja media lokal dalam mengakses informasi dan menjalin komunikasi dengan pemerintah daerah secara lebih tertib.

Ia mencontohkan, dalam praktik sebelumnya, terdapat sejumlah program yang bersumber dari pokok-pokok pikiran DPRD yang telah diserap secara resmi, namun pengelolaannya tidak terintegrasi. Akibatnya, realisasi kerja sama justru hanya dinikmati oleh media-media yang memiliki kedekatan personal dengan anggota dewan pengusung pokok pikiran tersebut, sementara media lain tidak memiliki akses yang sama. Situasi semacam ini, menurutnya, dapat ditekan jika pengelolaan komunikasi dan kerja sama media berada dalam satu koordinasi yang jelas.

“Di DPRD Kabupaten Tasikmalaya bahkan pernah ada indikasi anggaran iklan jadi bancakan. Kami pernah surati DPRD untuk mendapatkan informasi sebenarnya, tapi DPRD memilih bungkam,” tegas Diki.

Halaman berikutnya: Mengurani Ketimbangan Akses


Dari Sekolah, Bupati Tasikmalaya Perkuat Swasembada Pangan

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Upaya Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dalam memperkuat swasembada pangan terus digerakkan dari berbagai lini. Kali ini, pendekatan yang dipilih bukan lewat proyek besar atau wacana elit, melainkan dari ruang yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: sekolah.

Senin (19/1/2026), Bupati Tasikmalaya H. Cecep Nurul Yakin menerima kunjungan kerja Yayasan Swatantra Pangan Nusantara (YSPN) di halaman SDN Cijulangadeg, Kecamatan Cikalong. Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan peluncuran program swasembada pangan berbasis sekolah sekaligus gerakan satu siswa satu pohon.

Berita lainnya: 9 Perintah Bupati Tasikmalaya, Terbit Demi Dongkrak Layanan Publik

Program ini tidak hanya bersifat simbolik. Empat sekolah di wilayah selatan Tasikmalaya ditetapkan sebagai titik awal pelaksanaan, yakni SDN Cijulangadeg, SMPN 1 Cikalong, SMPN 2 Cikalong, dan SDN Kalapagenep. Sekolah-sekolah ini dipilih sebagai bagian dari upaya menanamkan kesadaran pangan dan lingkungan sejak dini.

Sekolah Jadi Basis Swasembada Pangan

Dalam sambutannya, Bupati Cecep menegaskan bahwa program tersebut selaras dengan arah kebijakan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, khususnya dalam menjaga ketahanan dan stabilitas pangan daerah.

Menurutnya, gerakan satu siswa satu pohon bukan sekadar kegiatan penghijauan, melainkan bagian dari pembiasaan jangka panjang agar generasi muda Tasikmalaya memiliki kedekatan dengan alam dan proses produksi pangan.

Berita lainnya: 9 Perintah Bupati Tasikmalaya, Terbit Demi Dongkrak Layanan Publik

“Hari ini bukan sekadar hadir, ini adalah launching program satu siswa satu pohon. Setidaknya kami ingin mengajarkan pembiasaan agar anak-anak cinta tanaman dan cinta pohon. Lebih dalam lagi, ini juga membantu menjaga agar harga-harga pangan tetap stabil,” ujar Bupati Cecep.

Pendekatan berbasis sekolah dinilai strategis karena menyentuh dua aspek sekaligus: pendidikan karakter dan ketahanan pangan. Anak-anak tidak hanya dikenalkan pada pentingnya menanam, tetapi juga memahami bahwa pangan tidak lahir di pasar, melainkan dari proses yang panjang dan harus dijaga bersama.

Selaras dengan Program Tasik Hejo

Lebih lanjut, Bupati Cecep menyebut bahwa program swasembada pangan berbasis sekolah ini menjadi bagian dari Tasik Hejo, program daerah yang fokus pada penghijauan, kelestarian lingkungan, serta keberlanjutan pangan di Kabupaten Tasikmalaya.

Gerakan satu siswa satu pohon juga sejalan dengan Instruksi Bupati Tasikmalaya tentang Penghijauan dan Kelestarian Lingkungan Sekolah, yang mendorong setiap satuan pendidikan berperan aktif menjaga lingkungan sekitar.

Dalam konteks daerah agraris seperti Tasikmalaya, kebijakan ini dinilai relevan. Selain menjaga keseimbangan ekosistem, langkah tersebut diharapkan berdampak pada ketersediaan pangan dan pengendalian harga di tingkat lokal.

Kolaborasi Lintas Sektor

Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Bupati Tasikmalaya, unsur Forkopimda Kabupaten Tasikmalaya, pendiri dan pengurus Yayasan Swatantra Pangan Nusantara, serta perwakilan dari PT Nusantara Pertanian Indonesia dan PT Formula Top Indonesia.

Hadir pula jajaran perangkat daerah, Kepala UPTD PSDA WS Ciwulan Cilaki Provinsi Jawa Barat, Camat Cikalong beserta unsur muspika, para kepala desa, kepala sekolah, dan tamu undangan lainnya.

Berita lainnya: 9 Perintah Bupati Tasikmalaya, Terbit Demi Dongkrak Layanan Publik

Kolaborasi lintas sektor ini menunjukkan bahwa upaya memperkuat swasembada pangan Tasikmalaya tidak bisa berjalan sendiri. Pemerintah daerah, dunia pendidikan, yayasan, dan sektor swasta didorong untuk berjalan beriringan.

Dengan memulai dari sekolah, Pemkab Tasikmalaya menaruh harapan besar pada tumbuhnya kesadaran kolektif generasi muda. Dari kebiasaan sederhana menanam pohon, diharapkan lahir fondasi kuat bagi ketahanan pangan daerah di masa depan.

9 Perintah Bupati Tasikmalaya, Terbit Demi Dongkrak Layanan Publik

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya mulai mengunci arah baru penyelenggaraan layanan publik. Melalui Surat Edaran Bupati Tasikmalaya Nomor 0044 yang terbit pada November 2025. Bupati Tasikmalaya, Cecep Nurul Yakin, mengeluarkan 9 Perintah Bupati Tasikmalaya yang wajib ditindaklanjuti seluruh perangkat daerah mulai Tahun Anggaran 2026. Isinya tidak normatif, melainkan teknis dan menyentuh langsung cara kerja birokrasi sehari-hari.

Perintah Pertama menyoal pengelolaan jaringan internet di lingkungan pemerintah daerah. Seluruh layanan internet dan bandwidth OPD dialihkan pengelolaannya secara terpusat ke Dinas Komunikasi dan Informatika. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan efisiensi anggaran sekaligus memastikan kualitas layanan jaringan dapat dimonitor dan dialokasikan sesuai kebutuhan masing-masing ASN dan perangkat daerah.

Halaman berikutnya: Perintah Kedua


Ada yang Tak Biasa dengan Hujan di Tasikmalaya Sabtu Lalu

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Sabtu, 17 Januari 2026, hujan turun tanpa basa-basi di Kota Tasikmalaya. Intensitasnya tinggi, areanya merata, dan angin ikut menyertai. Dalam ingatan kolektif warga, kombinasi seperti ini biasanya punya satu akhir: air meluap ke jalan, laporan berdatangan, media sosial riuh oleh keluhan, lengkap dengan sorotan tajam puluhan media online.

Di ruang redaksi, kewaspadaan pun terpasang penuh. Pengalaman bertahun-tahun mengajarkan, hujan deras 20–30 menit saja kerap cukup untuk memicu genangan di banyak titik. Namun sore itu berjalan di luar kebiasaan. Hujan reda, waktu berlalu, dan yang ditunggu justru tak muncul. Nyaris tidak ada laporan banjir.

Keheningan ini terasa janggal—sekaligus menarik. Apakah ini pertanda intensitas genangan air berkurang meski kota ini diguyur hujan deras? Kalau tidak percaya, silahkan bukan mesin pencarian google, lalu ketik kata kunci: “Tasikmalaya Banjir”, patok waktu pencarian ke tanggal 17 – 20 Januari 2026. Hasilnya? Hampir nihil!

Kok Bisa Tiba-Tiba Hening?

Mungkin, genangan air terjadi dimana-mana, tapi masyarakat sudah bosan bikin konten atau ngasih kabar wartawan? Sepertinya tidak. Rasanya itu bukan karakter kita, apalagi kalau tiba-tiba kompak sekota.

Penelusuran redaksi mengarah pada aktivitas yang berlangsung sepekan sebelum hujan deras tersebut. Dinas PUTR dan Bidang Pengelolaan Sampah di Dinas LH Kota Tasikmalaya melakukan langkah yang relatif berbeda dari praktik lazim penanganan banjir.

Mereka tidak hanya membersihkan titik-titik yang sudah tersumbat, petugas menyusuri aliran air secara utuh—dari ujung hilir hingga ke hulu. Logikanya sederhana: banjir di hilir sering kali bukan lahir di sana, melainkan dikirim dari atas.

Dalam penyisiran itu, petugas menemukan sejumlah titik pembuangan sampah sembarangan yang selama ini luput dari perhatian. Setiap menemukan tumpukan sampah, langkah yang diambil tidak berhenti pada pengerukan. Dialog langsung dilakukan dengan warga sekitar. Edukasi diberikan di tempat, di lokasi yang sama di mana sampah itu berulang kali muncul.

Pendekatan ini membuat penanganan tidak lagi bersifat reaktif. Bukan sekadar membersihkan akibat, tetapi mencoba memutus sebab.

Upaya ini menegaskan satu hal yang kerap diabaikan dalam diskusi banjir: persoalan air tidak hanya soal beton, saluran, dan alat berat. Ia juga soal kebiasaan. Saluran irigasi yang rapi hari ini bisa kembali bermasalah esok hari jika perilaku buang sampah sembarangan tetap dibiarkan.

Hujan deras Sabtu lalu mungkin belum cukup untuk menjadi kesimpulan akhir. Namun setidaknya, ia memberi isyarat awal bahwa ketika aliran air dipahami sebagai satu sistem utuh—dan masyarakat diajak terlibat—dampaknya bisa terasa nyata.

Takdir yang Terlanjur Dikunci Beton

Namun tidak semua titik punya perubahan yang sama. Pada kawasan tertentu, seperti irigasi yang tertutup bangunan permanen di area Asia Plasa, persoalannya sudah melampaui soal sampah atau perilaku. Di sana, jalur air sejak awal ditutup oleh keputusan tata ruang.

Saluran yang dikubur di bawah bangunan bukan sekadar menyimpan potensi genangan, tetapi seperti mengunci takdir banjir permanen sejak awal. Seberapa rajin pun penyisiran dilakukan, seberapa sadar pun masyarakat diajak berubah, air tetap akan mencari ruang, dan ketika ruang itu tak tersedia, jalanlah yang menjadi korban.

Di titik inilah Kota Tasikmalaya diingatkan: banjir bukan hanya soal hari ini dan hujan kemarin, tetapi juga tentang keputusan lama yang masih harus ditanggung hingga sekarang. (AS)