Jadi Indonesia Itu Bahagia, Miskin atau Salah Ukur?

Bahagia Versi Gallup
Laporan Global Flourishing Study 2025 (Gallup–Harvard) menempatkan Indonesia di peringkat 1 dunia dengan skor 8,47. Mengalahkan Meksiko (8,19), Filipina (8,11), bahkan Amerika Serikat (7,18). Indeks ini mengukur flourishing: makna hidup, relasi sosial, optimisme, dan nilai spiritual.
Di sinilah Indonesia bersinar. Rakyatnya dikenal religius, komunal, dan punya jurus pamungkas bernama “ya sudah, disyukuri saja”. Dalam ukuran ini, hidup tidak harus kaya dulu untuk terasa berarti. Bahkan, ketika dompet tipis, hubungan sosial masih tebal. Secara psikologis, kita juara.
Masalahnya, flourishing ini bukan ukuran kesejahteraan ekonomi. Ia lebih mirip termometer hati ketimbang neraca keuangan. Maka wajar kalau Indonesia bisa terlihat “bahagia”, sambil tetap ngos-ngosan secara material. Senyum tetap ada, meski saldo sering menipis.



