Puasa Ayyamul Bidh: Mengapa Dilakukan di Tengah Bulan?

lintaspriangan.com, BERITA NASIONALUmat Islam mulai menunaikan Puasa Ayyamul Bidh bulan Safar 1448 Hijriah pada Selasa (28/7/2026). Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia Kementerian Agama dan penetapan Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, puasa sunah tersebut berlangsung selama tiga hari hingga Kamis (30/7/2026).

Namun, terdapat perbedaan satu hari dalam penanggalannya. Kalender Hijriah Global Tunggal Muhammadiyah menempatkan 13–15 Safar 1448 H pada 27–29 Juli 2026. Karena itu, sebagian umat Islam telah memulainya sejak Senin, sedangkan sebagian lainnya baru mulai berpuasa pada Selasa.

Perbedaan tersebut berasal dari metode penetapan awal bulan Hijriah. Ia tidak mengubah pokok ibadahnya: Ayyamul Bidh merupakan puasa sunah tiga hari setiap bulan kamariah, terutama pada tanggal 13, 14, dan 15.

Mengapa harus di tengah bulan? Apakah karena Bulan sedang purnama, atau terdapat alasan lain di balik pemilihan tiga tanggal tersebut?

Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Safar 1448 H

Mengacu pada Kalender Hijriah Indonesia Kementerian Agama dan penetapan awal Safar oleh Lembaga Falakiyah PBNU, jadwal Puasa Ayyamul Bidh Safar 1448 H adalah:

  1. Selasa, 28 Juli 2026 atau 13 Safar 1448 H;
  2. Rabu, 29 Juli 2026 atau 14 Safar 1448 H;
  3. Kamis, 30 Juli 2026 atau 15 Safar 1448 H.

NU Online menyebut awal Safar 1448 H jatuh pada Kamis, 16 Juli 2026. Oleh sebab itu, tanggal 13 Safar bertepatan dengan 28 Juli.

Sementara itu, Kalender Hijriah Global Tunggal Muhammadiyah menetapkan 1 Safar pada 15 Juli 2026. Menurut kalender ini, pelaksanaannya berlangsung pada:

  1. Senin, 27 Juli 2026 atau 13 Safar 1448 H;
  2. Selasa, 28 Juli 2026 atau 14 Safar 1448 H;
  3. Rabu, 29 Juli 2026 atau 15 Safar 1448 H.

Masyarakat dapat mengikuti kalender dan panduan organisasi keagamaan yang menjadi rujukannya. Perbedaan sehari tidak perlu berubah menjadi selisih paham berhari-hari.

Apa Arti Ayyamul Bidh?

Istilah Ayyamul Bidh berasal dari bahasa Arab. Kata ayyam berarti hari-hari, sedangkan bidh berarti putih atau terang. Secara sederhana, Ayyamul Bidh dapat diterjemahkan sebagai “hari-hari putih”.

Sebutan itu bukan berkaitan dengan warna pakaian, makanan, ataupun keadaan orang yang berpuasa. Kata “putih” merujuk pada malam-malam pertengahan bulan Hijriah yang diterangi cahaya Bulan.

Pada sekitar tanggal 13, 14, dan 15 bulan kamariah, permukaan Bulan yang menghadap Bumi tampak hampir sepenuhnya tersinari Matahari. Malam pun terlihat lebih terang dibandingkan awal dan akhir bulan.

Masyarakat Arab pada masa lalu hidup dengan penanggalan yang sangat dekat dengan perubahan fase Bulan. Ketika malam pertengahan bulan menjadi terang, tiga hari tersebut kemudian dikenal sebagai hari-hari putih.

Mengapa Dilakukan pada Tanggal 13, 14, dan 15?

Alasan utama Puasa Ayyamul Bidh dilaksanakan pada tanggal 13–15 bukan semata-mata karena cahaya purnama. Pelaksanaannya didasarkan pada tuntunan Nabi Muhammad SAW.

Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dzar, Rasulullah bersabda bahwa apabila seseorang berpuasa tiga hari dalam sebulan, hendaknya ia berpuasa pada tanggal 13, 14, dan 15. Hadis tersebut tercantum dalam Jami’ at-Tirmidzi Nomor 761 dan dinilai sebagai hadis hasan.

Dengan demikian, cahaya Bulan menjelaskan asal penamaannya, sedangkan hadis menjadi landasan pelaksanaan ibadahnya.

Pembedaan tersebut penting. Puasa tidak dilakukan karena Bulan dipercaya memiliki kekuatan gaib, memengaruhi pahala, atau secara otomatis membersihkan tubuh. Umat Islam berpuasa karena mengikuti anjuran Rasulullah.

Mengapa Tiga Hari Setiap Bulan?

Anjuran berpuasa tiga hari setiap bulan juga terdapat dalam sejumlah riwayat. Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah mewasiatkan tiga amalan kepadanya: berpuasa tiga hari setiap bulan, melaksanakan salat Duha, dan mengerjakan salat Witir sebelum tidur.

Tiga hari mungkin tampak singkat. Namun, apabila dilakukan secara ajek setiap bulan, ibadah tersebut membentuk irama pengendalian diri yang berulang sepanjang tahun.

Dalam ajaran Islam, satu kebaikan memperoleh balasan sepuluh kali lipat. Dengan perhitungan nilai pahala tersebut, puasa tiga hari dipandang setara dengan berpuasa selama 30 hari. Jika dikerjakan setiap bulan, pahalanya diibaratkan seperti berpuasa sepanjang tahun.

Kesetaraan itu berbicara mengenai pahala, bukan berarti Puasa Ayyamul Bidh dapat menggantikan puasa wajib Ramadan. Kewajiban tetap kewajiban; puasa sunah tidak dapat diam-diam mengambil alih jabatannya.

Apakah Harus Tepat Tanggal 13–15?

Tanggal 13, 14, dan 15 merupakan waktu yang paling dikenal dan dianjurkan untuk melaksanakan Puasa Ayyamul Bidh. Namun, terdapat pula hadis yang menunjukkan keluwesan dalam pelaksanaan puasa tiga hari setiap bulan.

Aisyah pernah ditanya apakah Rasulullah berpuasa tiga hari setiap bulan. Ia menjawab bahwa Rasulullah melakukannya tanpa mempersoalkan pada hari apa puasa tersebut dijalankan.

Muhammadiyah menjelaskan bahwa tanggal 13–15 lebih utama karena terdapat anjuran khusus. Akan tetapi, puasa tiga hari tetap dapat dikerjakan pada hari lain apabila seseorang menghadapi halangan.

Karena itu, perlu dibedakan antara waktu utama dan satu-satunya waktu yang diperbolehkan. Tanggal 13–15 merupakan pilihan yang dianjurkan, tetapi ajaran puasa tiga hari setiap bulan memiliki ruang pelaksanaan yang lebih lentur.

Pengecualian berlaku ketika tanggal tersebut bertepatan dengan hari yang dilarang untuk berpuasa, seperti Idulfitri, Iduladha, atau hari Tasyrik. Larangan berpuasa pada hari-hari tersebut harus didahulukan.

Tengah Bulan yang Dimaksud Bukan Kalender Masehi

Sebutan tengah bulan dalam Puasa Ayyamul Bidh merujuk pada pertengahan bulan Hijriah, bukan tanggal 13–15 dalam kalender Masehi.

Kalender Hijriah mengikuti peredaran Bulan dan terdiri dari 29 atau 30 hari. Sementara kalender Masehi bertumpu pada perjalanan Bumi mengelilingi Matahari dengan panjang bulan antara 28 hingga 31 hari.

Akibatnya, tanggal Puasa Ayyamul Bidh dalam kalender Masehi selalu bergeser. Dalam satu bulan dapat jatuh pada akhir bulan Masehi, sedangkan pada kesempatan lain berlangsung pada awal atau pertengahannya.

Tanggal Hijriah juga dimulai sejak Matahari terbenam. Meski demikian, pelaksanaan puasanya tetap dimulai sejak terbit fajar dan berakhir saat Magrib, sebagaimana puasa pada umumnya.

Apakah Selalu Bertepatan Persis dengan Purnama?

Tanggal 13–15 Hijriah memang berada di sekitar fase purnama. Namun, puncak purnama secara astronomis terjadi pada satu waktu tertentu dan tidak selalu tepat bersamaan dengan seluruh tiga hari tersebut.

Fase Bulan merupakan proses yang berlangsung terus-menerus. Pada tanggal 13, Bulan dapat masih menuju purnama. Pada tanggal 14 atau 15, Bulan dapat mencapai atau baru melewati puncak pencahayaannya.

Karena itu, istilah hari-hari putih menggambarkan keadaan umum malam pertengahan bulan yang terang. Ia bukan penetapan bahwa Bulan harus tepat 100 persen purnama selama tiga malam berturut-turut.

Dalam konteks Safar 1448 H, puncak purnama secara astronomis diperkirakan terjadi pada Rabu, 29 Juli 2026 malam. Waktunya berdekatan dengan pelaksanaan Ayyamul Bidh menurut kalender yang digunakan di Indonesia.

Niat dan Tata Cara Puasa Ayyamul Bidh

Niat pada dasarnya berada di dalam hati. Seseorang cukup menyadari bahwa dirinya akan melaksanakan puasa sunah karena Allah. Tidak ada keharusan melafalkan niat dalam bahasa Arab.

Bagi yang ingin melafalkannya, salah satu bacaan yang umum digunakan adalah:

Nawaitu shauma ayyamil bidhi sunnatan lillahi ta‘ala.

Artinya: “Saya berniat puasa Ayyamul Bidh, sunah karena Allah Taala.”

Niat sebaiknya dilakukan sejak malam hari. Dalam puasa sunah, sebagian ulama membolehkan seseorang berniat pada pagi hari sebelum tergelincir Matahari selama sejak fajar belum makan, minum, atau melakukan perkara yang membatalkan puasa.

Tata caranya sama dengan puasa lain. Orang yang berpuasa dianjurkan makan sahur, menahan diri sejak terbit fajar, menjaga ucapan dan perilaku, kemudian berbuka ketika Matahari terbenam.

Puasa bukan hanya memindahkan jadwal makan. Menahan lapar tetapi membiarkan lisan melukai orang lain membuat ibadah kehilangan banyak makna.

Tidak Perlu Memaksakan Diri

Puasa Ayyamul Bidh berstatus sunah, bukan wajib. Orang yang sedang sakit, menjalani pengobatan, hamil, menyusui, lanjut usia, atau mempunyai kondisi kesehatan tertentu tidak perlu memaksakan diri.

Seseorang yang memiliki penyakit kronis, terutama diabetes atau gangguan yang membutuhkan obat teratur, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum berpuasa.

Perempuan yang sedang haid atau nifas tidak menjalankan puasa. Setelah masa tersebut berakhir, ia tidak dibebani kewajiban mengganti Puasa Ayyamul Bidh karena ibadah ini bukan puasa wajib.

Keluwesan tersebut tidak mengurangi nilai ibadah. Dalam Islam, kesungguhan berjalan beriringan dengan kemampuan. Tubuh bukan musuh yang harus dikalahkan, melainkan amanah yang perlu dijaga.

Kesempatan Melatih Keajekan

Puasa Ayyamul Bidh menghadirkan jeda di tengah kesibukan setiap bulan. Selama tiga hari, seseorang diajak kembali mengatur keinginan, memperhatikan perkataan, dan merasakan keadaan mereka yang tidak selalu memiliki makanan.

Nilainya tidak hanya berada pada rasa lapar, melainkan pada latihan yang dilakukan berulang. Ibadah kecil yang dijaga dengan ajek sering kali lebih membentuk diri dibandingkan semangat besar yang hanya datang sesekali.

Jadi, Puasa Ayyamul Bidh dilakukan di tengah bulan karena tanggal 13–15 Hijriah merupakan waktu yang dianjurkan Rasulullah sekaligus bertepatan dengan malam-malam terang di sekitar purnama. Cahaya Bulan memberi nama, tetapi tuntunan Nabi memberikan makna. (NS/AS)

PRIANGAN TIMUR

Warga Purbaratu Kelola Air Bersih Secara Swadaya, 150 KK Tetap Nikmati Pasokan Saat Musim Kemarau

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Saat sejumlah wilayah mulai menghadapi ancaman...

Wakil Wali Kota Banjar Bantu Korban Kebakaran, Lansia di Neglasari Terima Bantuan Pascamusibah

lintaspriangan.com, BERITA BANJAR. Dua hari setelah rumahnya hangus dilalap...

Ini Alasan Kenapa Langit Papandayan Cocok untuk Festival Layang-Layang Dunia

lintaspriangan.com, BERITA GARUT. Langit Papandayan akan memasuki babak yang tidak...

Cuaca Priangan: Kemarau tapi Hujan, Apa yang Terjadi?

lintas priangan.com, BERITA PRIANGAN. Cuaca Priangan memasuki akhir Juli...

Hujan Meteor Akhir Juli 2026, Bisakah Terlihat dari Wilayah Priangan?

lintas priangan.com, BERITA PRIANGAN TIMUR. Langit penghujung Juli 2026 menawarkan peristiwa...

JAWA BARAT

Job Fair Bandung Barat: Ada Lowongan Kerja Dalam dan Luar Negeri

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG.  Job Fair Bandung Barat digelar di Aula...

Sekolah Nasional Terintegrasi, Apa Bedanya dari Sekolah Biasa?

Kabupaten Cianjur menjadi salah satu daerah yang mulai menjalankan...

Nyuhun Buhun Tiba di Ujung Genteng Sukabumi Hari Ini

lintaspriangan.com, BERITA SUKABUMI. Semangat pelestarian tradisi Sunda bertajuk nyuhun buhun...

Ribuan Buruh Bekasi Konvoi ke Kemendagri Hari Ini

lintaspriangan.com, BERITA BEKASI. Ribuan buruh Bekasi dijadwalkan menggelar konvoi sepeda...

Mengenal Jagawana: Penjaga Sunyi di Tepi Hutan Jabar

lintaspriangan.com, BERITA JABAR. Setiap 31 Juli, dunia memperingati Hari Jagawana Sedunia...

Hari Persahabatan: Masih Relevankah Silih Asah, Asih, Asuh?

lintaspriangan.com, BERITA JABAR. Hari Persahabatan Internasional akan diperingati pada Kamis, 30...

Dago Tea House: Jejak Panjang Panggung Seni Jawa Barat

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Nama Dago Tea House kembali bergema sepanjang...

TPPO Mengincar Jabar, Kenali Modusnya

lintaspriangan.com, BERITA JABAR. Menjelang Hari Dunia Menentang Perdagangan Orang pada...

Olahraga

Popular Categories