lintaspriangan.com, NASIONAL. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah terus menimbulkan ancaman kesehatan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan jumlah pasien di RSUD dr. Doris Sylvanus, Palangka Raya, meningkat hingga tiga kali lipat. Pemerintah daerah juga mencatat ratusan sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh untuk melindungi peserta didik dari paparan asap.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena penanganan kebakaran harus berjalan bersamaan dengan perlindungan warga. Dalam laporan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah pada 24 Oktober 2026, sebanyak 16.387 personel gabungan dikerahkan untuk menangani karhutla. Pada periode laporan harian yang sama, tercatat 8.048 titik panas dan 55 kejadian kebakaran, dengan luas lahan terbakar mencapai 139,81 hektare dalam 24 jam.
Kabut Asap Karhutla Tingkatkan Beban Pelayanan Kesehatan
Dalam keterangan resmi yang diterbitkan pada 23 Oktober, Kemenkes menyebut penyaluran tambahan 137 ribu masker N95 untuk warga terdampak di Palangka Raya. Pemerintah juga memperkuat layanan di puskesmas dan rumah sakit, termasuk pemenuhan kebutuhan alat kesehatan untuk menangani gangguan pernapasan.
Kemenkes mencatat jumlah pasien di RSUD dr. Doris Sylvanus meningkat hingga tiga kali lipat berdasarkan laporan rumah sakit. Meski kapasitas pelayanan masih tersedia, lonjakan pasien perlu diantisipasi agar penanganan tetap berjalan baik. Pemerintah pusat juga mempercepat pemenuhan ventilator dan peralatan kesehatan lain, terutama bagi rumah sakit kabupaten dan kota yang menangani pasien dengan kondisi lebih berat, termasuk anak-anak.
Asap kebakaran mengandung partikel halus PM2.5 yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan hingga paru-paru. Paparan ini berisiko memperburuk gangguan pernapasan, khususnya pada anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang yang memiliki penyakit paru atau gangguan kesehatan lain.
Kabut Asap Karhutla Ganggu Aktivitas Sekolah dan Warga
Dampak karhutla juga menjalar ke sektor pendidikan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melaporkan 223 sekolah di tingkat kabupaten dan kota menerapkan pembelajaran jarak jauh. Selain itu, sebanyak 253 lokasi rumah oksigen disiagakan untuk membantu warga yang membutuhkan layanan akibat paparan kabut asap.
Pemerintah pusat dan daerah turut memperkuat distribusi masker, pelayanan kesehatan, operasi pemadaman darat, serta dukungan udara. Operasi modifikasi cuaca juga dilakukan untuk meningkatkan peluang hujan dan membantu mengurangi dampak kekeringan. Namun, api di lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan tanah sehingga proses pemadaman perlu disertai pendinginan dan pemantauan berulang.
Kemenkes mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Jika terpaksa keluar, warga disarankan menggunakan masker N95 dengan pemasangan yang rapat. Bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta perlu mendapat perhatian khusus.
Warga yang mengalami sesak napas atau gejala yang memburuk perlu segera mencari pertolongan medis. Puskesmas menjadi tempat pemeriksaan awal, sedangkan pasien dengan kondisi berat dapat dirujuk ke rumah sakit. Perlindungan kesehatan tetap diperlukan selama asap masih mengganggu kualitas udara dan aktivitas masyarakat.
(AA)







