Penguasa Lelang yang Gemar Bikin Lubang

Saudaraku,
Pernahkah kita duduk sendirian, tanpa sorotan, tanpa jabatan, tanpa seragam, lalu bertanya dengan jujur kepada diri sendiri:
“Apakah amanah ini sedang menyelamatkanku… atau justru sedang menjerumuskanku?”
Karena tidak semua dosa berwajah kasar.
Sebagian dosa justru halus, rapi, legal, dan tersenyum.
Amanah Tidak Selalu Dicuri, Kadang DILUBANGI
Ada amanah yang tidak dicuri terang-terangan.
Ia dilubangi pelan-pelan.
Aturan tetap ada.
Sistem tetap berjalan.
Dokumen tetap lengkap.
Namun di balik itu:
ada bisik-bisik,
ada pengaturan halus,
ada “celah kecil” yang sengaja dicari,
ada kesepakatan diam-diam yang tidak pernah tertulis.
Dan kita berkata dalam hati:
“Ini masih aman.”
“Ini tidak melanggar secara formal.”
“Semua orang juga begitu.”
Padahal justru di situlah amanah mulai dirusak.
Allah sudah mengingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan pula mengkhianati amanah-amanah kalian, sementara kalian mengetahui.”
(QS. Al-Anfal: 27)
Perhatikan kalimat terakhirnya:
“sementara kalian mengetahui.”
Bukan orang awam yang diperingatkan di sini,
tetapi orang yang paham sistem, paham aturan, paham celah.
Ilmu yang Tidak Dijaga, Menjadi Alat Kejahatan
Saudaraku,
Tidak semua orang tahu cara memainkan sistem.
Tidak semua orang paham di mana titik lemahnya.
Justru orang dalam,
yang mengerti mekanisme,
yang hafal prosedur,
yang bersertifikat ahli,
yang paham bagaimana sistem bisa “diatur” tanpa terlihat melanggar.
Dan di situlah ujiannya.
Karena ilmu bisa menjadi:
jalan pahala,
atau
senjata yang menikam diri sendiri di akhirat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ
“Sesungguhnya jabatan itu adalah amanah, dan pada hari kiamat ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan.”
(HR. Muslim)
Bukan hari ini.
Bukan di ruang sidang.
Bukan di hadapan auditor.
Tapi di hari ketika tidak ada sistem yang bisa dimanipulasi.
Legal di Mata Aturan, Tapi Gelap di Mata Allah
Saudaraku,
Islam mengajarkan satu kaidah yang menakutkan:
Yang dinilai Allah bukan sekadar bentuknya, tapi tujuannya.
Maka:
Lelang bisa sah secara administratif
Prosedur bisa terlihat rapi
Tanda tangan bisa lengkap
Namun bila niatnya:
menguntungkan kelompok tertentu,
mematikan yang jujur,
berdampak pada kerugian publik,
maka halal di kertas, haram di langit.
Allah berfirman:
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
“Janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan cara yang batil.”
(QS. Al-Baqarah: 188)
Batil itu tidak selalu kasar.
Kadang batil itu rapi, formal, dan beraroma kewenangan.
Jangan Tunggu Alam dan Rakyat Menjadi Saksi
Saudaraku,
Setiap keputusan yang kita tanda tangani:
berdampak pada uang negara,
kualitas proyek,
keselamatan masyarakat,
masa depan generasi.
Dan semua itu akan bersaksi.
Tanah akan bersaksi.
Anggaran akan bersaksi.
Rakyat yang dirugikan akan bersaksi.
Dan saat itu, tidak ada kalimat:
“Saya hanya mengikuti sistem.”
Karena justru kita adalah penjaga sistem itu.
Sebelum kita mengoreksi bawahan,
sebelum kita menyalahkan keadaan,
sebelum kita merasa aman karena belum tertangkap,
mari bertanya pelan-pelan pada hati:
“Jika hari ini Allah memanggilku,
amanah mana yang akan paling memberatkan langkahku?”
Karena jabatan tidak akan menolong,
tetapi kejujuran bisa menjadi cahaya.
Semoga Allah menyelamatkan kita
dari amanah yang berubah menjadi petaka,
dan memberi kita keberanian untuk lurus
meski sendirian.
اللهم إنا نعوذ بك من خيانة الأمانة
Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari pengkhianatan amanah.



