Sudah Bekerja Setulus Hati, tapi Dicurigai

lintaspriangan.com, KULTUR. Ada rasa yang sulit dijelaskan ketika seseorang sudah bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga niat, menahan emosi, dan berusaha adil—namun tetap disambut dengan kecurigaan.
Bukan karena salah prosedur, bukan karena lalai, tetapi karena zaman telah mengajarkan manusia untuk curiga lebih dulu sebelum percaya.
Di dunia hari ini, ketulusan sering kalah cepat dari prasangka.
Yang bekerja diam-diam dianggap bermain di balik layar.
Yang tidak banyak bicara dicurigai menyimpan agenda.
Bahkan niat baik pun bisa dibaca negatif, hanya karena publik telah terlalu sering dikecewakan.
Lalu, di mana posisi seorang hamba ketika ketulusan tidak lagi dipercaya?
Islam ternyata sangat realistis menghadapi keadaan semacam ini.
Selalu Ingat: Penilaian Manusia Bukan Ukuran Utama
Al-Qur’an sejak awal telah menegaskan satu prinsip yang menenangkan hati orang-orang yang berbuat baik, tetapi tidak selalu dipahami.
Allah berfirman:
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ
Laisa ‘alaika hudāhum wa lākinnaLlaha yahdī man yasyā’. Wa mā tunfiqūna min khairin falianfusikum, wa mā tunfiqūna illā ibtighā’a wajhiLlāh.
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk siapa yang Dia kehendaki. Dan apa pun kebaikan yang kamu lakukan, maka itu untuk dirimu sendiri, dan kamu melakukannya hanyalah untuk mencari rida Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 272)
Ayat ini seperti menurunkan beban dari pundak orang-orang yang tulus.
Bahwa meyakinkan hati manusia bukanlah tugas kita.
Wilayah kita hanyalah niat dan amal; selebihnya adalah urusan Allah.
Ini Jauh Lebih Penting: Allah Itu Melihat
Dalam dunia yang sibuk dengan citra dan persepsi, Al-Qur’an mengajak orang beriman untuk kembali pada pusat ketenangan: pengawasan Allah.
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
Wa quli‘malū fasayarallāhu ‘amalakum wa rasūluhū wal-mu’minūn.
“Katakanlah: bekerjalah kalian, maka Allah akan melihat pekerjaan kalian, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang beriman.”
(QS. At-Taubah: 105)
Ayat ini bukan janji bahwa semua orang akan memuji.
Tetapi jaminan bahwa tidak ada amal jujur yang luput dari penglihatan Allah.
Ketika niat lurus dan usaha dilakukan dengan benar, penilaian manusia—baik atau buruk—tidak lagi menjadi penentu nilai amal.
Ketulusan Tidak Rusak karena Disalahpahami
Rasulullah ﷺ telah meletakkan satu kaidah agung yang menjadi pondasi seluruh amal:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Innamal a‘mālu binniyyāt.
“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya.”
(HR. Bukhari no. 1, Muslim no. 1907 — shahih)
Hadis ini memberi kelegaan luar biasa:
amal tidak gugur hanya karena disalahpahami.
Selama niatnya benar dan caranya halal, Allah menilai dengan keadilan yang sempurna.
Bahkan, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa apa yang disembunyikan di dalam hati, Allah sendirilah yang akan menampakkannya—tanpa perlu kita membela diri berlebihan.
مَنْ أَسْرَرَ سَرِيرَةً أَلْبَسَهُ اللَّهُ رِدَاءَهَا إِنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ وَإِنْ شَرًّا فَشَرٌّ
Man asarra sarīratan albasahullāhu ridā’ahā, in khairan fa khair, wa in sharran fa sharr.
“Barang siapa menyembunyikan sesuatu di dalam hatinya, Allah akan menampakkannya sebagai pakaian baginya: jika baik maka akan tampak baik, jika buruk maka akan tampak buruk.”
(HR. Ahmad — hasan)
Ketulusan tidak butuh panggung.
Ia hanya butuh kesabaran dan konsistensi.
Tidak Terkenal, Tidak Dipercaya, Bukan Masalah
Dalam dunia yang mengagungkan popularitas dan validasi, Rasulullah ﷺ justru menyebut tipe manusia yang sering luput dari sorotan.
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْخَفِيَّ
Innallāha yuḥibbul ‘abdat-taqiyy al-khafiyy.
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa dan tidak terkenal.”
(HR. Muslim no. 2965 — shahih)
Hadis ini menampar logika dunia:
bahwa dicintai Allah tidak selalu sejalan dengan dipercaya manusia.
Dan tidak semua kebaikan harus dipahami pada waktunya.
Menjaga Ketulusan di Tengah Kecurigaan
Para ulama menyadari satu bahaya halus:
ketulusan sering rusak bukan karena dicurigai, tetapi karena sibuk membersihkan citra diri.
Imam Al-Ghazali menulis:
“Ikhlas adalah ketika pujian dan celaan manusia sama saja di hatimu.”
(Ihya’ Ulumuddin, Kitab Ikhlas)
Ketika celaan membuat kita gelisah, dan pujian membuat kita lega—di situlah niat mulai goyah.
Namun ketika keduanya terasa sama, di situlah ketulusan mulai matang.
Tetap Tulus, Meski Tak Selalu Dipercaya
Sejarah Islam menunjukkan bahwa ketulusan tidak selalu disambut dengan kepercayaan. Rasulullah ﷺ—yang sejak muda dikenal sebagai Al-Amīn—justru dituduh pendusta ketika membawa kebenaran. Umar bin Khattab r.a., pemimpin yang berjalan di malam hari demi rakyatnya, tetap dicurigai. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal memilih diam ketika difitnah, karena yakin bahwa kebenaran tidak membutuhkan pembelaan berlebihan. Dari mereka, kita belajar: bukan ketulusan yang gagal, tetapi manusia yang belum siap menerimanya.
Mungkin inilah ujian paling berat bagi orang yang bekerja dengan hati:
berbuat baik tanpa jaminan dipercaya.
Tetapi Islam mengajarkan satu keyakinan yang kokoh:
bahwa amal tidak pernah sia-sia hanya karena salah dibaca manusia.
Jika hari ini ketulusan kita dicurigai,
jangan buru-buru patah.
Jangan pula tergoda mengorbankan niat demi citra.
Sebab pada akhirnya,
yang paling berbahaya bukanlah ketika manusia tidak percaya pada ketulusan kita—
tetapi ketika kita sendiri berhenti menjaga ketulusan itu karena manusia.
Dan di saat itulah, bekerja kembali menjadi ibadah,
bukan karena dipuji,
tetapi karena Allah Maha Melihat.



