Tiga Tahun PAPERA: “Tetap Menjadi Api, Meski Kadang Berjalan Sendiri”

lintaspriangan.com, OPINI. Hari ini, 8 Agustus, Pedagang Pejuang Indonesia Raya (PAPERA) genap berusia tiga tahun. Memang bukan waktu atau usia yang panjang, tapi cukup untuk menguji apakah sebuah gerakan sekadar menjadi nama di atas kertas atau benar-benar menjejak di tanah perjuangan. Bagi PAPERA, usia muda ini justru menjadi cambuk untuk terus mengasah diri, memperkuat akar, dan memperjelas arah.
Sejak lahir, PAPERA membawa beban dan harapan besar: membangun tatanan masyarakat yang merdeka, berdaulat, bersatu, demokratis, adil, makmur, dan beradab dengan berketuhanan, berlandaskan Pancasila. Sebuah cita-cita yang diwariskan para pendiri bangsa, dan seharusnya menjadi kompas bersama. Namun, realitas hari ini mengajarkan bahwa cita-cita itu kerap tergeser oleh kepentingan jangka pendek, oleh penguasaan sumber daya ekonomi yang hanya menguntungkan segelintir pihak, dan oleh kebijakan yang tidak selalu berpihak.
PAPERA lahir sebagai respon terhadap kenyataan pahit, yang kerap menempatkan pedagang hanya sebagai objek kebijakan. PAPERA hadir, agar pedagang juga menjadi subjek yang diperjuangkan. Ia hadir untuk memastikan bahwa kesempatan berusaha, akses terhadap sumber daya, dan perlindungan hukum bagi para pedagang tidak menjadi wacana kosong. Tiga tahun ini, langkah PAPERA mungkin tidak selalu dilihat, tetapi pasti dirasakan oleh mereka yang benar-benar berada di lapangan.
Namun, di tengah komitmen itu, ada ironi yang patut direnungkan. Hari ini, momen kelahiran PAPERA, tidak diingat oleh semua yang seharusnya peduli. Tidak semua yang pernah menerima manfaat dari kehadiran PAPERA, mengucapkan selamat. Ada yang sibuk menghitung untung rugi politik, ada yang tenggelam dalam urusan pribadinya, dan ada pula yang sengaja mengalihkan pandangan seakan-akan organisasi ini tak pernah ada. Mungkin mereka lupa. Atau sengaja melupakan.
Ironi ini mengajarkan satu hal: perjuangan sejati tidak boleh menggantungkan diri pada ingatan orang lain. Api perjuangan tidak boleh padam hanya karena lilin-lilin di sekitarnya memilih redup. Justru ketika banyak cahaya yang temaram, PAPERA harus memastikan menjadi sinar yang benderang.
Tiga tahun perjalanan ini telah membuktikan bahwa PAPERA bukan gerakan yang lahir untuk mencari tepuk tangan. Ia hadir untuk bekerja, melindungi, membina, dan memberdayakan pedagang dari ujung pasar tradisional hingga ke pelaku usaha menengah. Ia hadir untuk menegakkan kedaulatan ekonomi, memperjuangkan regulasi yang adil, dan melawan monopoli yang menggerus hak rakyat.
Perjalanan ke depan tak akan mudah. Jalan yang ditempuh mungkin sepi, kadang gelap, dan tak selalu disambut karpet merah. Tetapi, selama ada pedagang yang dipinggirkan, selama masih ada ketidakadilan dalam sistem ekonomi, PAPERA akan tetap berdiri, dengan atau tanpa mereka yang memilih lupa. Sebab, perjuangan bukan tentang siapa yang memberi ucapan, melainkan tentang siapa yang tetap berjuang, bahkan saat ia sendirian.
Dhany Tardiwan Noor
Ketua PAPERA Kota Tasikmalaya



