Jadi Indonesia Itu Bahagia, Miskin atau Salah Ukur?

Bahagia Versi WHR
Laporan World Happiness Report 2025 membawa kita ke realitas yang lebih dingin. Indonesia berada di peringkat 83, dengan skor 5,617. Jauh di bawah Finlandia (7,736) dan negara-negara Nordik langganan podium.
Indeks ini menilai hal-hal struktural: pendapatan per kapita, dukungan sosial, harapan hidup sehat, kebebasan menentukan hidup, dan kepercayaan pada institusi. Di sini, senyum dan rasa syukur tidak cukup. Sistem diuji, bukan sekadar perasaan.
Maka paradoksnya jelas: Indonesia bisa sangat bahagia menurut hati, tapi biasa saja menurut sistem. Kita unggul dalam ketahanan psikologis, tertinggal dalam kenyamanan struktural.
Jadi, Indonesia itu bahagia, miskin, atau salah ukur? Jawaban paling jujurnya: semuanya benar, tergantung alat ukurnya. Rakyatnya pandai bertahan, bahkan tertawa di tengah keterbatasan. Tapi jika kebahagiaan ini dijadikan alasan untuk berhenti berbenah, di situlah masalah bermula.
Karena bangsa yang sehat bukan hanya yang rakyatnya pandai bersyukur,
melainkan yang tidak memaksa rakyatnya kuat setiap waktu.
Statistik boleh membuat kita tersenyum, tapi ia juga seharusnya membuat kita berpikir.
Penulis: Hasan Soleh
Pemred Lintas Priangan



