Kinerja Optimal Siapapun Bos-nya

Optimal Meski Tidak Diistimewakan
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian bekerja, ia menyempurnakannya.”
(HR. Al-Baihaqi, hasan)
Hadis ini tidak mensyaratkan harus dipuji pimpinan, harus dekat atasan, atau harus berada di posisi strategis. Cukup satu kata kunci: itqan — bekerja dengan sungguh-sungguh dan berkualitas.
Profesional sejati adalah mereka yang tetap disiplin meski tidak disorot, tetap melayani meski tidak diistimewakan, tetap menjaga standar meski situasi berubah.
Refleksi untuk Kita Semua
Pergantian pimpinan adalah keniscayaan organisasi, bukan ancaman pribadi.
Ia bisa menjadi ujian keikhlasan, pengingat untuk meluruskan niat, sekaligus momentum untuk bertumbuh secara profesional.
Bekerja dengan baik bukan karena siapa bos-nya,
tetapi karena kita tahu apa yang sedang kita emban.
Baca artkel kultur lainnya: Amanat Ali: “Pemimpin Tak Boleh Berjarak dengan Rakyat”
Energi Positif yang Perlu Dijaga
Mungkin hari ini kita sedang: menyesuaikan diri dengan pimpinan baru, kehilangan kenyamanan lama, atau menghadapi ketidakpastian suasana kerja. Namun satu hal yang tidak boleh ikut berganti adalah etos kerja dan integritas.
Karena pada akhirnya,
Allah tidak menilai siapa atasan kita,
tetapi bagaimana kita menjaga amanah di posisi kita.
Semoga setiap perubahan tidak melemahkan semangat,
tetapi justru meneguhkan profesionalisme:
kinerja optimal, siapapun bos-nya.



