Kelas Wartawan

Data Journalism: Mengubah Angka Jadi Cerita yang Bermakna

lintaspriangan.com, KELAS WARTAWAN. Di era digital seperti sekarang, informasi berserakan di mana-mana. Setiap instansi punya data, setiap peristiwa punya angka, setiap kebijakan punya laporan. Tapi tidak semua orang mampu membaca apa yang sesungguhnya tersembunyi di balik angka-angka itu.
Nah, di sinilah wartawan data atau data journalist berperan. Wartawan harus punya skil, mengubah kumpulan angka kering menjadi cerita yang hidup, bermakna, dan bermanfaat bagi publik.

Apa Itu Jurnalisme Data

Secara sederhana, data journalism adalah jurnalisme yang menggunakan data untuk menemukan, membuktikan, dan menjelaskan berita.
Artinya, wartawan tak hanya meliput peristiwa, tapi juga membaca data, menganalisis tren, dan menarasikan fakta dengan konteks yang kuat.

Contoh paling sederhana misalnya, ketika wartawan menulis tentang kenaikan harga beras, ia tidak hanya mengutip pedagang dan pembeli, tetapi juga memeriksa data harga dari Badan Pusat Statistik (BPS) atau Dinas Perdagangan. Atau ketika berita menyoroti pengadaan barang dan jasa di sebuah SKPD, ia tidak hanya berisi asumsi, tapi membongkar data-data dari sumber-sumber yang valid.
Dengan begitu, beritanya menjadi lebih kokoh, kredibel, dan berimbang.

Mengapa Wartawan Perlu Melek Data

Jurnalisme data membantu wartawan melawan dua musuh besar: asumsi dan disinformasi. Kedua musuh ini sering menjelma menjadi makhluk berjuluk hoaks.
Dengan data, kita bisa menulis berdasarkan bukti, bukan sekadar dugaan, apalagi sekadar perasaan.
Selain itu, pembaca sekarang semakin kritis. Mereka ingin tahu “dari mana angkanya?”, “apa buktinya?”, dan “mengapa bisa begitu?”.

Contoh paling relevan di tingkat lokal: data BPS tentang pengangguran bisa diolah menjadi liputan tentang nasib lulusan SMK, atau laporan APBD bisa membuka pembahasan soal efektivitas program bantuan sosial dan mubazirnya anggaran perjalanan dinas yang fantastis.
Semuanya bermula dari kemampuan membaca data.

Sumber Data Terbuka untuk Wartawan

Banyak sumber data resmi yang bisa diakses gratis:

  • SIRUP, untuk mengidentifikasi pengadaan apa saja yang akan dilaksanakan oleh sebuah lembaga pemerinah
  • LPSE, untuk mengetahui proses pengadaan
  • Data.go.id – portal data terbuka pemerintah.
  • Laporan Keuangan Daerah – APBD, APBDes, dan realisasi anggaran.
  • Kementerian dan lembaga riset publik – misalnya KPU, Kemenkes, atau Kemendikbud.
  • dan masih banyak lagi

Bahkan pemerintah kota dan kabupaten pun kini mulai membuka data dalam format digital. Wartawan hanya perlu lebih rajin “menggali” dan mengonfirmasi.

Dari Angka ke Cerita

Bagaimana cara mengubah data menjadi berita?

  1. Kumpulkan data mentah – bisa dari situs resmi, laporan PDF, atau hasil wawancara.
  2. Bersihkan data – buang duplikasi, samakan format tanggal, periksa satuan.
  3. Cari pola dan anomali – tren naik-turun, wilayah dengan angka ekstrem, atau data yang tak lazim.
  4. Tafsirkan makna – tanya “apa arti perubahan ini bagi masyarakat?”.
  5. Buat narasi manusiawi – padukan angka dengan kisah nyata di lapangan.

Sebuah grafik bisa menceritakan arah ekonomi daerah, tapi tanpa cerita warga, datanya akan tetap dingin.
Sebuah tabel bisa menunjukkan angka pengangguran, tapi tanpa wajah-wajah di balik angka itu, berita terasa hampa.

Visualisasi: Saat Grafik Bicara

Jangan takut bermain dengan visualisasi. Kini banyak alat sederhana yang bisa dipakai wartawan tanpa perlu jadi desainer: Canva, Datawrapper, Flourish, atau bahkan Excel biasa.
Infografik yang menarik bisa membantu pembaca memahami informasi yang kompleks hanya dalam sekali pandang.
Ingat, pembaca lebih mudah memahami grafik dibanding deretan angka, terlebih barisan kata-kata.

Etika dan Kejujuran dalam Mengolah Data

Namun, ada satu hal yang tak boleh dilupakan: kejujuran.
Jangan pernah mengubah atau memelintir data agar sesuai dengan opini pribadi.
Pastikan berasal dari sumber secara jelas, dan berikan konteks yang cukup agar pembaca tidak salah tafsir.
Karena pada akhirnya, kredibilitas wartawan lahir dari integritasnya terhadap fakta.

Jurnalisme data bukan berarti wartawan harus jadi ahli statistik.
Yang dibutuhkan hanyalah rasa ingin tahu, ketelitian, dan kemauan untuk belajar.
Setiap angka menyimpan cerita, dan tugas wartawan adalah menemukan makna di baliknya.

Seperti kata pepatah baru di ruang redaksi Lintas Priangan:

“Berita yang baik lahir dari observasi yang tajam.
Tapi berita yang kuat lahir dari data yang jujur.”


Related Articles

Back to top button