Berita Itu Bukan Sekadar Informasi

lintaspriangan.com, KELAS WARTAWAN. Pernahkah kita bertanya: mengapa berita yang kita tulis sepi pembaca, sementara berita media lain bisa viral, ramai dibicarakan, bahkan dikutip ulang di berbagai platform?
Jawabannya sederhana: karena berita bukan sekadar informasi.
Menulislah untuk Sebanyak-banyaknya Pembaca, Bukan untuk Narasumber
Banyak wartawan terjebak pada rutinitas: meliput seminar, rapat, peresmian, atau seremonial. Memang tidak salah, tapi coba kita renungkan: apakah benar itu yang pembaca kita butuhkan?
Ingat, wartawan menulis bukan untuk menyenangkan pejabat atau panitia acara, melainkan untuk memenuhi rasa ingin tahu masyarakat. Kalau yang kita tulis hanya laporan kegiatan tanpa nilai tambah, maka berita kita tidak lebih dari pengumuman.
Laporan Acara vs Berita: Apa Bedanya?
Contoh 1: Seminar Pendidikan
Laporan Acara: “Seminar pendidikan bertema ‘Meningkatkan Literasi Digital’ digelar di Hotel X, dihadiri 200 peserta dari berbagai sekolah. Narasumber utama adalah Kepala Dinas Pendidikan.”
Berita: “Studi terbaru: 60% siswa SMA di daerah kita kecanduan ponsel lebih dari 6 jam sehari. Fakta ini terungkap dalam seminar literasi digital di Hotel X. Kepala Dinas Pendidikan menegaskan perlunya aturan sekolah yang lebih ketat.”
Bedanya jelas: laporan acara hanya mendeskripsikan kegiatan, sementara berita mengangkat isi penting yang bermanfaat untuk publik.
Contoh 2: Peresmian Jembatan
Laporan Acara: “Bupati meresmikan Jembatan Baru di Desa Karangjaya, ditandai dengan pemotongan pita dan doa bersama.”
Berita: “Jembatan Baru di Desa Karangjaya akhirnya bisa digunakan setelah warga bertahun-tahun terisolasi karena jembatan lama ambruk. Bupati menyebut jembatan ini akan mempermudah akses 5.000 warga ke pusat kota.”
Lagi-lagi, yang membuat orang mau membaca adalah dampak dan maknanya, bukan sekadar prosesi potong pita.
Antara Nilai Berita dan Nilai Perut
Kita juga harus jujur: profesi wartawan sering berbenturan dengan kebutuhan hidup. Menulis berita bernilai, penuh konflik, unik, dan menggugah, memang seru dan diminati pembaca. Tapi kadang—jujur saja—itu tidak menghasilkan apa-apa selain kepuasan batin.
Sementara, meliput kegiatan seremonial biasanya lebih “aman”. Minimal dapat snack atau makan siang gratis, bahkan kadang ada uang transport dari panitia atau pejabat. Itu realita di lapangan yang hampir semua wartawan tahu.
Namun, di sinilah tantangannya: bagaimana wartawan bisa tetap menyeimbangkan?
Satu sisi: kebutuhan hidup memang tidak bisa ditawar.
Sisi lain: wartawan sejati ingin diingat bukan karena sering hadir di acara seremonial, melainkan karena tulisannya menggugah publik.
Menulis berita bernilai itu seperti menanam pohon: hasilnya mungkin tidak instan, tapi akan membekas lebih lama. Publik akan mengenang media kita sebagai sumber informasi penting, bukan sekadar buku tamu acara.
Kembali ke Esensi Jurnalisme
Media akan tumbuh kalau bisa menghadirkan berita yang membuat pembaca merasa: “Wah, ini penting buat saya.”
Bukan berita yang membuat pejabat merasa: “Syukurlah saya diberitakan.”
Jurnalisme sejati selalu berpihak pada publik. Karena pada akhirnya, yang membuat media hidup bukanlah banyaknya pejabat yang senang, tetapi banyaknya pembaca yang merasa tercerahkan.
(Materi Pelatihan Wartawan Lintas Priangan)



