Humaniora

Kebaikan Penjual Nasi, Mengantar Aminudin Pulang setelah 13 Tahun Hilang

lintaspriangan.com, HUMANIORA. Setiap pagi di Taman Kota Weleri, Kendal, ada pemandangan kecil yang begitu biasa hingga sering luput dari perhatian. Seorang penjual nasi menyiapkan sebungkus makanan, kemudian memanggil pelan seorang pria yang selalu datang dengan langkah hati-hati. Pria itu bernama Aminudin—warga Bekasi yang selama 13 tahun hidup jauh dari keluarganya tanpa pernah benar-benar punya arah pulang.

Tak banyak orang tahu bagaimana ia sampai di Kendal. Yang jelas, kesehariannya berlangsung dalam ritme sederhana: ia tidur di kebun kosong, bernaung di rumah-rumah terbengkalai, atau sekadar duduk diam di area pemakaman ketika hujan tiba-tiba turun. Hidupnya bukan rangkaian drama besar, melainkan potongan-potongan hari yang dilewati dengan diam dan kesabaran.

Namun meski hidup dalam keterbatasan, satu hal selalu melekat pada dirinya: kesopanannya. Warga mengenalnya sebagai sosok yang tak pernah membuat gaduh, tak pernah meminta sesuatu, apalagi mencuri perhatian. Ia hanya lewat—seperti angin yang tidak menabrak siapa pun—dan mungkin itulah yang membuat banyak orang terdorong untuk peduli.

Termasuk penjual nasi itu. Setiap pagi dan sore, ia selalu menyiapkan satu porsi khusus untuk Aminudin. Tak ada tujuan muluk, tak ada konten pencitraan—sekadar naluri manusia melihat manusia lain yang membutuhkan. Sesekali, ia mengabadikan momen kecil itu di akun Instagram-nya, @nrkitchen_3011. Video-video itu sangat sederhana: hanya dua manusia bertemu, satu memberi, satu menerima dengan senyum kecil yang malu-malu.

Namun dunia digital kadang bekerja seperti keajaiban yang tak direncanakan. Dari postingan sederhana itu, wajah Aminudin melintas di layar ponsel seseorang yang tak asing: keluarganya sendiri. Senyum kaku, cara berjalan, dan tatapan matanya yang khas langsung dikenali. Setelah 13 tahun tanpa kabar, mereka akhirnya menemukan potongan hidup yang hilang.

Keluarga pun segera menjemputnya. Ada tangis, ada pelukan, ada rasa lega bercampur syukur yang tak bisa diukur dengan kata-kata. Menurut mereka, Aminudin memang pernah beberapa kali menghilang sebelumnya, tapi inilah kehilangan terlama. Tiga belas tahun bukan waktu singkat; itu hampir seumur perjalanan seorang anak menuju remaja.

Kepulangan itu bukan hanya kabar bahagia bagi keluarga, tapi juga bagi warga sekitar yang selama ini melihatnya sebagai bagian dari kehidupan mereka. Ada perasaan hangat mengetahui bahwa kebaikan sederhana—yang selama ini diberikan tanpa pamrih—ternyata membuka jalan bagi perjumpaan besar.

Kisah Aminudin mengingatkan kita bahwa dunia ini tak selalu bergerak oleh hal-hal besar. Kadang ia bergerak oleh gesture kecil: seporsi nasi yang dibagikan, senyum yang tidak pernah diminta, perhatian yang tidak pernah diumumkan. Taman Kota Weleri mungkin hanya ruang publik biasa, tapi bagi Aminudin, tempat itu menjadi saksi dari kebaikan yang membawanya pulang.

Sejak kemarin, Minggu (16/11/2025), berita tentang kebaikan penjual nasi di Weleri, Kendal ini viral dan mendapat perhatian dari banyak warganet.

Dari kebaikan penjual nasi itu kita belajar, bahwa kebaikan tidak perlu panggung. Ia cukup dikerjakan pelan-pelan, konsisten, dan tulus—dan entah bagaimana, semesta menemukan cara untuk memperbesar dampaknya. Berkat tangan kecilnya yang memberi tanpa memilih, sebuah keluarga dipertemukan kembali. Mungkin inilah bukti bahwa kadang, pahlawan terbesar adalah mereka yang tak pernah merasa sedang menjadi pahlawan. (GPS)

Back to top button