Berita CiamisBerita Kota BanjarBerita Tasikmalaya

Unjuk Rasa di Tasik, Ciamis & Banjar Polanya Sama. Siapa Mereka?

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Dalam sepekan terakhir, Priangan Timur diguncang aksi unjuk rasa yang melonjak menjadi anarkis di tiga kota berbeda. Meski terjadi di lokasi yang terpisah, pola peristiwa di Tasikmalaya, Ciamis, dan Banjar menunjukkan kesamaan yang mencolok.

Rangkaian Kejadian di Tiga Kota

Tasikmalaya

Pada Jumat (29/8/2025) sore, massa merusak Gedung DPRD Kota Tasikmalaya. Pagar dibobol, kaca jendela pecah, hingga bagian dalam gedung ikut rusak. Polisi menyebut massa berpakaian serba hitam dan sulit diidentifikasi.

Ciamis

Sehari setelahnya, Sabtu (30/8/2025), giliran Gedung DPRD Ciamis menjadi sasaran. Pos satpam dilempari batu dan kaca gedung pecah. Polisi mengamankan 38 orang, dengan 16 di antaranya ditetapkan tersangka. Fakta mencolok: 11 tersangka masih berusia 14–16 tahun, serta ada peserta aksi yang berasal dari luar Ciamis, termasuk Tasikmalaya, Banjar, dan Pangandaran.

Banjar

Kasus di Kota Banjar mengungkap wajah lain dari gejolak ini. Pada Kamis, 28 Agustus 2025, tujuh pelajar SMP terbukti terlibat dalam perusakan Gedung DPRD, yang jelas merupakan aset negara. Aksi yang awalnya digagas mahasiswa sebagai solidaritas isu tertentu justru disusupi remaja anarkis. Akibatnya, gedung dewan rusak, menambah daftar panjang kerusakan fasilitas publik.


Pola yang Sama di Priangan Timur

Berdasarkan penelusuran Lintas Priangan, setidaknya ada empat kesamaan menonjol dari aksi di tiga daerah ini:

1. Berujung Anarkis

Ketiganya diawali aksi protes, namun berakhir dengan perusakan fasilitas umum. Gedung DPRD jadi target utama, mulai dari pagar, pos satpam, hingga kaca jendela dan interior gedung.

2. Pelaku Bukan Aktivis Mapan

Mayoritas pelaku bukan berasal dari jaringan aktivis atau organisasi yang biasanya menggelar aksi. Di Banjar, pelakunya pelajar SMP; di Ciamis, banyak yang datang dari luar daerah dan tidak dikenal sebagai aktivis lokal. Di Kota Banjar, meski awalnya yang menggelar aksi adalah mahasiswa, namun yang melakukan perusakan ternyata sekelompok remaja dengan motor berknalpot bronk. Mereka datang setelah massa mahasiswa meninggalkan Gedung DPRD.

3. Tanpa Atribut Organisasi

Tidak ada bendera, spanduk, maupun tanda organisasi. Massa bergerak tanpa identitas jelas, bahkan di Tasikmalaya hanya disebut berpakaian hitam. Hal ini membuat arah dan tujuan aksi sulit dipetakan.

4. Didominasi Remaja

Fakta paling mencolok: pelaku aksi sebagian besar remaja. Tujuh pelajar SMP di Banjar, 11 anak usia 14–16 tahun di Ciamis, dan di Tasikmalaya juga terlihat massa berusia muda. Ini menunjukkan pergeseran karakter demonstrasi yang biasanya diisi mahasiswa atau aktivis senior.


Pertanyaan yang Menggantung

Siapa sebenarnya mereka? Dari fakta yang ada, jelas bahwa pelaku bukan jaringan aktivis senior, atau organisasi yang selama ini eksis. Demonstran didominasi usia pelajar setingkat SMA. Minimnya atribut organisasi memperkuat kesan bahwa aksi ini tidak mengatasnamakan elemen tertentu.

Fenomena ini membuka pertanyaan lebih luas: mengapa remaja bisa begitu mudah terlibat dalam aksi destruktif? Siapa di belakang mereka sehingga mereka terlihat begitu berani bertindak anarkis?


Rangkaian peristiwa di Tasikmalaya, Ciamis, dan Banjar bukan sekadar unjuk rasa biasa. Tiga kota ini menunjukkan pola yang sama: aksi dengan komando yang samar, identitas organisasi yang dikaburkan, didominasi remaja, dan berakhir anarkis.

Bukan mustahil, ada agenda khusus di balik aksi unjuk rasa di atas. Para aktivis tentu harus terus menyuarakan perbaikan, namun harus lebih waspada agar tak disusupi pihak-pihak yang punya kepentingan terselubung. (Lintas Prianga/AC)

Related Articles

Back to top button